
Zea terdiam, entah apa yang ada di pikirannya saat ini yang ia tau, otaknya tak bisa ia ajak untuk berkerjasama. Ia juga bingung mau menanggapi ucapan Azlan tadi dengan bagaimana?
"Ze," panggil Azlan sembari meraih tangan Zea dan ia genggam tangan itu dengan sangat erat.
Zea yang tadinya terbengong pun kini mengerjabkan matanya.
"Hmm?"
"Mau kan nikah sama aku? kamu gak perlu mikir masalah ekonomi dan sebagainya. Insyaallah aku punya itu semua untuk menghidupi kamu dan baby kita nanti," tutur Azlan secara gamblang.
Zea menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa pikiran Azlan sampai dengan hal baby segala, membuat Zea merinding seketika.
"Ze," panggilnya lagi. Dan beberapa detik setelahnya, terdengar bel masuk berbunyi. Mungkin hal itu bisa membuat Zea terlepas dari ajakan konyol dari Azlan tadi.
"Udah bel Az. Aku ke kelas dulu, takut ada mata pelajaran yang harus aku ulang. Sampai nanti bye," ucap Zea dengan melepas genggaman tangan dari Azlan tadi secara paksa kemudian ia berlari meninggalkan Azlan yang tadi ingin mencegahnya.
Zea bisa menghela nafas lega, saat sudah turun dari rooftop tadi dan ketika menoleh ke arah belakang tak ada Azlan yang mengikutinya.
"Huh aman, selamat, sehat dan sentosa," gumam Zea. Perkara dengan ucapan Azlan tadi, ia sebenarnya juga ingin menikah di usia muda tapi di usianya yang masih menginjak 17 tahun ia belum siap. Ia ingin menikah di usia 20 tahun, usia dimana dia sudah lulus sekolah dan menjauh dari orangtuanya atau setidaknya dia sudah bisa menghidupi dirinya sendiri nanti dengan bekerja paruh waktu. Dan untuk masalah kuliah dia akan memperjuangkan beasiswa, ia sudah bertekad bulat untuk tak merepotkan kedua orangtuanya nanti.
Zea kini berjalan santai menuju kelasnya dan saat ditengah jalan ia melihat Erland dan Kayla dengan romantisnya berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam. Membuat para pemuja visual Erland iri dengan Kayla, kecuali Zea yang sudah hilang perasaan dengan laki-laki tampan itu yang merupakan sahabatnya.
"Aduh aduh, romantisnya," ucap Zea tepat berada di belakang mereka berdua.
__ADS_1
Erland dan juga Kayla menghentikan langkahnya kemudian mereka menoleh ke arah belakang. Mereka memutar bola mata malas saat melihat cengiran dan alis Zea yang naik turun seperti menggoda kedua orang di depannya itu.
"Apa? Lo iri?" tanya Erland ngegas.
"Anjir biasa ae lah. Gak udah ngegas mulu tuh mulut. Gak malu apa sama Kayla, ya gak Kay?" Kayla mengerutkan keningnya lalu menggedikkan bahunya untuk menanggapi ucapan dari Zea tadi.
"Jangan bawa-bawa bini gue anjir. Ngapain juga harus malu sama dia, sedangkan dia aja udah tau luar dalamnya gue," ucap Erland santai.
"Sejak kapan kalian nikah? kok gak ngundang? wah keterlaluan ya kalian berdua. Dan apa tadi Kayla udah tau luar dalamnya lo? ehemmm berarti ponakan gue bentar lagi otw jadi nih." Lagi-lagi Zea menaik-turunkan alisnya.
Kayla yang tampaknya belum paham arah dan tujuan dari percakapan antara Erland dan Zea pun hanya menatap secara bergantian kedua orang yang berada disamping dan depannya itu.
"Lo gak tau gue nikahnya kapan? Ck Ck Ck tak patut tak patut. Makanya update berita terbaru dong. Kalau masalah ponakan lo, doain aja." Erland dengan lancang dan tanpa melihat situasi di sekitarnya, ia kini meletakan tangannya di perut Kayla dan mengelus perut itu dengan lembut.
Sedangkan Kayla yang sedari tadi masih bingung pun kini terperanjat kaget dan mulai tau arah perkataan mereka berdua tadi.
"Lo mau aja di kibulin sama dia sih Ze. Dia tuh orang yang otaknya baru geser. Ngaco mulu ucapannya. Jangan di percaya. Mending kita sekarang ke ruang guru yuk. Bu Siska tadi udah WA gue. Beliau bilang saat gue udah di sekolah, beliau suruh gue ke ruangannya. Dan kebetulan lo ada disini, Lo harus nemenin gue." Tanpa persetujuan dari Zea, Kayla lebih dulu menarik tangan Zea menjauh dari Erland.
"Hey. Kok aku di tinggal sendiri sih sayang. Tega banget sih sama suami!" teriak Erland tanpa rasa malu padahal ucapannya tadi baru saja di tangkis oleh Kayla. Emang dasar udah bucin, halu dan berambisi buat memiliki Kayla seutuhnya dan selamanya ya begini jadinya.
Kayla memejamkan matanya sesaat sebelum menoleh kearah Erland tanpa menghentikan langkahnya dan tangannya masih saja menggandeng tangan Zea agar wanita itu tak kabur darinya dan akan berakhir ngerumpi dengan Erland nantinya.
"Suami gundulmu!" balas Kayla dengan teriakan pula. Tapi hal itu tak membuat Erland sakit hari, ia sekarang justru tertawa terbahak-bahak melihat wajah Kayla yang samar terlihat sangat sebal karena godaan tadi.
__ADS_1
Sedangkan Azlan yang sedari tadi mengamati drama saudara kembarnya dengan Kayla pun kini mendekati sang adik kemudian ia menepuk pundak Erland.
"Ngebet banget lo mau nikah," tutur Azlan. Erland kini meredam tawanya dengan menyeka air mata yang keluar gara-gara ia tertawa tadi.
"Iya lah. Secara gue udah punya semuanya kurangnya emang cuma satu yaitu pasangan hidup yang disebut dengan istri," ucap Erland dengan songongnya.
"Oh ya bang. Lo gak punya niatan buat nikahin Zea gitu?" tanya Erland dengan kepo.
Azlan menghela nafas dan tanpa menjawab ia melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
"Eh eh eh, hobi banget ninggalin gue sih. Tungguin woy." Erland berlari kecil untuk menyamakan langkahnya dengan Azlan.
Saat langkahnya berhasil sejajar dengan langkah Azlan, ia mengubah larinya menjadi jalan santai.
"Main kabur aja lo. Belum juga jawab pertanyaan gue tadi. Buruan jawab, gue udah kepo maksimal lho ini bang. Kalau lo juga punya niatan yang sama dengan gue. Bisa lah kita nanti ngomong sama Mom dan Dad bareng aja biar sekalian," tutur Erland.
"Gue rasa belum waktunya kita mikir kayak gitu. Toh emangnya lo udah tau perasaan Kayla yang sebenarnya udah buat lo atau malah buat orang lain?"
Erland terdiam. Benar juga apa yang di katakan oleh Azlan itu. Kayla belum bersuara tentang perasaannya kepada dia. Walaupun jika dilihat dari perlakuan lembut yang selalu ia dapatkan dari Kayla tapi itu semua belum membuat dirinya puas.
"Nah kan Lo juga bingung. Sama kayak gue. Gue juga bingung sama hubungan ini yang masih aja abu-abu. Toh kalau kita ngajak mereka nikah, pasti jawaban mereka akan sama yaitu dengan alasan masih sekolah," ujar Azlan. Erland mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena Kayla tadi memberikan jawaban sesuai dengan tebakan dari Azlan tadi.
"Terus kita mau bagaimana? gue gak bisa lepasin dia gitu aja bang. Lo tau kan dia cinta pertama gue. Jadi gue gak akan pernah sanggup kalau harus ngelupain dia," tutur Erland dramatis. Dan dua laki-laki tampan itu kini sudah di taman sekolah yang berada di belakang. Tak jadi menuju kelas masing-masing. Sepertinya ngerumpi berdua memang diperlukan oleh dua jagoan Daddy Aiden ini. Apalagi ngerumpinya membahas wanita kesayangan mereka.
__ADS_1
Azlan mendudukkan tubuhnya disusul dengan Erland.
"Siapa juga yang nyuruh lo buat lepasin dia dan ngelupain dia? gue gak bilang begitu tadi. Karena Zea juga cinta pertama gue dan gue pun juga gak mau kehilangan dia. Hanya saja kita perlu memastikan apa mereka membalas perasaan kita atau hanya sekedar ingin berteman aja. Biar kita nantinya gak salah langkah dan akan membuat hati kita sakit dengan luka yang cukup dalam nantinya," ucap Azlan dengan serius.