The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 251


__ADS_3

Setelah kepergian Edrea dari kelas tersebut, tampak ekspresi wajah Azlan dan Erland seketika berubah ke mode serius lagi.


"Mau cari Mr. Misterius itu?" tanya Azlan.


"Kita coba," jawab Erland yang diangguki oleh Azlan. Karena sebentarnya bukan hanya Edrea saja yang penasaran dengan seseorang yang selalu melindungi Edrea dan selalu tak terima jika Edrea terluka sedikitpun, tapi dua orang laki-laki itu sama keponya dengan Edrea.


Dan hal itu membuat kedua laki-laki itu akan mencoba mencari tau sosok Mr. Misterius itu sebenarnya siapa.


Saat mereka berdua terus menebak-nebak sosok Mr. Misterius itu, disisi lain Edrea yang sudah sampai di kamar mandi khusus laki-laki yang tadi di masuki oleh Leon pun kini ia tampak bingung ingin masuk kedalam atau menunggu Leon di luar kamar mandi tersebut. Tapi kalau dirinya menunggu di luar, berarti saat Leon pingsan didalam, dia tak mengetahuinya dong. Tapi jika dia masuk, pasti orang-orang di dalam kamar mandi itu akan berpikir yang tidak-tidak lagi. Dan hal itu benar-benar membuat Edrea dilema.


"Mau gimana ini? Masuk apa gak? Mana gue dari tadi telepon gak diangkat-angkat lagi. Udahlah gue tunggu 5 menit lagi," putus Edrea.


Edrea terus menunggu Leon di depan kamar mandi tersebut hingga 5 menit telah berlalu dan orang yang ia tunggu tak kunjung muncul juga di hadapannya.


"Arkhhhh, dahlah masuk aja. Gue takut dia benar-benar sekarat di dalam," ujar Edrea dan sebelum dia masuk kedalam kamar mandi tersebut, ia menyempatkan untuk melihat situasi di sekitarnya. Dan setelah ia merasa aman, ia kini membuka pintu utama kamar mandi tersebut. Tapi baru saja dirinya ingin melangkah masuk, tubuhnya tak sengaja menubruk tubuh laki-laki yang sekarang berdiri di depannya.


"Lo mau ngapain?" suara laki-laki tersebut membuat wajah Edrea yang tadinya tertunduk perlahan ia menengadahkan kepalanya agar ia bisa menatap laki-laki tersebut.


Dan saat ia melihat wajah laki-laki itu, Edrea kini menghela nafas lega. Setidaknya ia tak ketahuan akan menyusup masuk ke toilet pria oleh siswa lainnya disekolah itu, karena orang yang Edrea tabrak tadi adalah Leon, laki-laki yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya.


"Jawab, Lo mau ngapain buka pintu ini segala hmm? Lo mau ngintip cowok lain disini?" tanya ulang Leon dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya bahkan tatapan mata Leon kini menajam.

__ADS_1


"Ck, gue buka pintu ini tuh mau cariin lo. Gue takut lo sekarat didalam. Kalau lo sekarat kan gue juga yang repot nanti. Dan tuduhan lo tadi tuh sama sekali tidak benar. Eh tapi kalau cowoknya mau gue lihatin sih, gue mah hayuk aja," tutur Edrea yang membuat senyum Leon yang tadinya mengembang karena senang Edrea telah mengkhawatirkan dirinya, kini senyuman itu hilang saat ia mendengar kalimat terakhir yang Edrea ucapkan tadi.


Dan baru saja ia mau menimpali ucapan dari Edrea tadi, ia melihat siswa yang baru keluar dari kamar mandi tersebut sembari membenarkan resleting celananya dan yang dilakukan oleh siswa tadi tak luput dari pandangan Edrea.


Leon yang melihat Edrea tak berkedip melihat laki-laki tadi pun dengan cepat tangannya bergerak untuk menutup kedua mata Edrea dan setelahnya ia membawa tubuh Edrea menjauh dari kamar mandi tersebut.


"Ish, Lo apa-apaan sih El. Ganggu tau," ucap Edrea yang sudah berhasil melepaskan tangan Leon dari matanya.


"Lo yang apa-apaan Rea. Sudah tau laki-laki tadi tengah membenarkan celananya, lo malah lihatin dia sampai gak kedip gitu. Gak mikir perasaan calon suami lo apa?" geram Leon.


"Ya kan calon suami gue gak tau apa yang gue lakuin tadi. Hitung-hitung pemandangan yang gue lihat tadi buat vitamin mata gue nih," ujar Edrea yang tak menyadari jika tangan Leon kini tengah terkepal erat.


"Lo bilang apa tadi? Calon suami lo gak lihat? Dan apa yang lo lakuin tadi semata-mata buat manjain mata lo, gitu?" tanya Leon dengan suara rendah sembari ia terus berjalan mendekati Edrea.


"Stop El," ucap Edrea yang kini merasa takut dengan Leon. Apalagi kondisi disekitarnya kini benar-benar kosong tak ada satupun siswa ataupun siswi disana.


Ucapan Edrea tadi tampaknya hanya dianggap angin lalu saja oleh Leon, pasalnya laki-laki itu kini sudah berada di depan Edrea dengan jarak satu jengkal dari tubuh Edrea.


"Gue tanya sekali lagi. Lo pikir calon suami lo gak lihat apa yang lo lakuin tadi? Dan apa yang lo lakuin itu hanya semata-mata buat manjain mata lo aja gitu? jawab, Edne!" ulang Leon penuh dengan penekanan.


Edrea yang baru melihat ke garangan dari Leon pun ia kini tampak kesusahan menelan salivanya bahkan keringat dingin kini membasahi keningnya.

__ADS_1


"Edne, jawab!" perintah Leon yang kini menaruh satu tangannya disamping kepala Edrea.


Dan hal tersebut membuat Edrea terkejut sesaat.


"Edne!" panggil Leon.


"Jawab!" sambungnya.


"I---Itu anu hmmm masalah tadi tuh sebenarnya gue hanya khilaf aja lihatnya eh taunya keterusan. Dan untuk masalah calon suami, kan memang benar dia gak lihat. Karena gue aja belum tau calon suami gue siapa. Jadi gue anggap dia gak tau aja masalah tadi," jawab Edrea yang memaksa memberanikan diri menatap mata Leon.


Leon yang mendengar jawaban dari Edrea tadi tampak tersenyum miring.


"Tapi sayangnya calon suami lo lihat dengan mata kepalanya sendiri atas apa yang lo lakuin tadi," ujar Leon dengan membalas tatapan mata Edrea.


"Eh, iya kah? kok lo tau calon suami gue? kalau lo tau dia, kasih tau dong, gue penasaran soalnya," ucap Edrea yang sepertinya sudah tak takut lagi dengan Leon.


"Lo yakin mau tau calon suami lo?" tanya Leon memastikan. Dan pertanyaannya tadi diangguki oleh Edrea dengan penuh keantusiasan.


Dan bukannya Edrea langsung mendapatkan jawaban dari Leon atas pertanyaannya sebelumnya, ia sekarang justru membuat Leon semakin merapatkan jarak keduanya. Bahkan kepala Leon kini sudah berada di samping kepala Edrea.


"Calon suami lo itu gue. Gak ada yang lain, selain gue. Dan apa yang sudah lo lakuin tadi suatu saat akan gue balas dengan cara gue sendiri. Tapi yakinlah, balasan gue tidak akan melukai hati lo, tapi mungkin melukai aset berharga lo. Dan jika niat lo buat ngintip di kamar mandi pria, gue saranin lo jangan berbuat ataupun berniat seperti itu. Kalau lo pengen lihat, kasih tau gue, gue siap jadi bahan tontonan dan vitamin mata lo," ucap Leon yang sedikit terbuka dan diakhiri dengan ia mengecup pipi Edrea sebelum ia menjauhkan kepalanya tadi dari samping Edrea.

__ADS_1


Sedangkan Edrea yang mendengar penuturan dari Leon tadi, pipinya tampak bersemu merah. Hingga akhirnya ia kini mendorong tubuh Leon agar laki-laki itu menjauh darinya juga tak melihat keadaan wajahnya saat ini. Dan setelah ia merasa ada celah untuknya kabur, Edrea langsung berlari menjauhi Leon dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menyembunyikan semu merah itu di pipinya itu.


Sedangkan Leon yang sudah tau wajah Edrea seperti kepiting rebus pun, ia tak kuat lagi jika harus menahan tawanya. Hingga akhirnya ia kini tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Edrea tadi yang tampak menggemaskan untuknya.


__ADS_2