The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 328


__ADS_3

Untuk mendukung aktingnya tadi Edrea kini berdehem sesaat sebelum ia memberontak untuk melepas pelukan dari Leon.


"Ngapain lo peluk-peluk gue. Kita saling kenal kah? Gue rasa enggak. Jadi lepasin gue, gue gak mau di peluk sama orang yang sama sekali gak gue kenal," ucap Edrea yang justru membuat Leon semakin mengeratkan pelukannya.


"Sesak napas woy," batin Edrea menjerit.


"Ih kok gitu sih. Kita itu saling kenal lho, by. Kita itu pacaran dari kecil sampai sekarang. Masak kamu lupa gitu aja sih. Ih gak mau di lupain sama kamu. Dan kenapa manggilnya pakai lo-gue lagi. Ahhhhh sayang mah gitu. Aku gak like," rengek Leon. Dan benar bukan tebakan dari Edrea tadi jika kekasihnya itu akan seperti anak kecil, padahal dia sendiri tadi yang mancing Edrea untuk bersikap seperti itu ya walaupun hanya akting saja.


"Apa sih orang kita gak kenal. Lepas. Jauh-jauh dari gue," ucap Edrea sembari mendorong tubuh Leon dengan cukup keras hingga pelukan dari laki-laki itu terlepas. Dan setelah melakukan hal tersebut, Edrea segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Leon. Tapi baru saja dirinya ingin membuka pintu kamar tersebut, Leon berteriak.


"Awwww sakit by. Dada aku sakit, aw," keluh Leon sembari memegangi dada sebelah kirinya. Dan apa yang dilakukan oleh Leon itu tadi hanya mendapat lirikan mata dari Edrea. Dan tanpa peduli sedikitpun karena Edrea tau jika Leon tengah sandiwara saja agar dirinya merasa kasihan dan menolongnya, perempuan itu kini benar-benar keluar dari kamar tersebut meninggalkan Leon yang tengah mengacak rambutnya frustasi.


Tapi tak berselang lama ia berlari menyusul Edrea.


"By, tungguin!" teriak Leon yang hanya di abaikan begitu saja oleh Edrea.


"By, jangan diemin El gitu dong," ucap Leon saat laki-laki itu sudah bisa menyamai langkah Edrea. Dan lagi-lagi ucapannya hanya dianggap angin lalu oleh Edrea. Bahkan perempuan itu dengan santainya mengambil susu kotak dari lemari pendingin dan berbagai makanan ringan tanpa menanggapi ucapan Leon yang terus saja mengoceh tanpa henti.


Edrea kembali melangkahkan kakinya, kini tujuannya ke ruang keluarga. Dan langkahnya itu selalu di ikuti oleh laki-laki tersebut. Sampai-sampai apa yang dilakukan Leon saat ini membuat beberapa art dan bodyguard dirumah tersebut menatap heran kearah seorang laki-laki yang tampak dingin itu yang sekarang terlihat seperti anak kucing yang habis kejebur got.


"By, ihhh," sebal Leon sembari mencekal lengan Edrea.


"Ba bi ba bi, gue bukan babi," ucap Edrea sembari menyentak tangan Leon hingga cekalan tadi terlepas. Kemudian ia melanjutkan langkahnya hingga ia duduk di salah satu sofa di ruang keluarga tersebut dan dengan segera ia menyalakan televisi agar semua ucapan kekasihnya yang sekarang sudah duduk disampingnya itu tak terdengar olehnya. Bahkan volume televisi itu benar-benar sangat kencang hingga memenuhi ruangan tersebut.


Leon yang tadinya ingin mengucapkan kata-katanya pun bibirnya kembali mengatup saat mendengarkan betapa kerasnya suara televisi itu. Tapi jangan harap Leon akan menyerah begitu saja, Leon justru kini juga mengencangkan volume suaranya.


"Sayang ih. Didiemin terus tuh gak enak tau," rengek Leon sembari mengguncang-guncangkan lengan Edrea.


"Bodoamat deh," balas Edrea dalam hati.


"Sayang!" teriak Leon yang sama sekali benar-benar tak mendapat tanggapan apapun dari Edrea bahkan suara saja hampir habis karena sedari tadi terus berbicara dan berteriak. Hingga saat Leon sudah benar-benar geram, Leon kini mengambil remote televisi dan segera mematikan televisi tersebut yang seketika membuat telinga Leon terasa lega kembali.


Tapi apa yang dilakukannya tadi justru mendapat tatapan tajam dari Edrea.


"Lo apa-apaan sih! Bisa gak kalau gak ganggu gue! Pergi sana jauh-jauh dari gue! Kita gak saling kenal!" bentak Edrea sebelum dirinya beranjak dari duduknya.


Tapi baru beberapa langkah saja dirinya meninggalkan ruangan tersebut, ia mendengar isak tangis dari Leon.


"Halah palingan juga akting. Maaf ya say, gue gak akan termakan sama akting murahan Lo itu. Biar tau rasa siapa suruh tadi ngambek tanpa alasan sama sekali mana pakai bentak-bentak segala lagi. Emang dia pikir gue juga gak bisa marah sama dia gitu, oh ya tentu saja tidak. Kalau gue sampai gak bisa marah sama dia yang ada gue yang akan terus mengalah nanti. Bodoamat kalau gue dicap egois, gue gak peduli. Karena apa yang gue lakuin ini juga biar buat dia sadar jika seseorang itu tak pantas untuk di bentak dan di perlakukan semau dirinya sendiri," batin Edrea tanpa menolehkan kepalanya kearah Leon berada saat ini. Ia justru kini melanjutkan langkah kakinya tadi menuju ke kamar pribadinya.


...****************...


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang dimana sudah 4 jam lebih setelah kejadian tadi berlalu. Bahkan Edrea yang benar-benar berniat menghukum Leon pun ia sama sekali tak melihat kondisi laki-laki itu. Mungkin dia sekarang lagi tidur siang sama Callie, pikir Edrea karena memang di jam-jam itu waktunya para penghuni rumah termasuk bodyguard dan art tengah mengistirahatkan dirinya dan di wajibkan untuk tidur siang, karena itu perintah dari Daddy Aiden langsung yang tidak boleh dibantah oleh siapapun.


Dan Edrea yang baru bangun siang pun ia kini berjalan menuju ke lantai satu karena tiba-tiba saja perutnya itu keroncongan karena sedari pagi ia tak makan sama sekali hanya makan makanan ringan saja yang sama sekali tak bisa mengganjal perutnya itu.


Tapi sebelum Edrea menuju ke dapur, Edrea berniat untuk mengambil ponselnya yang tadi tertinggal di ruang tamu.


Saat Edrea sudah sampai di ruang tamu dan sudah menemukan kembali ponselnya, remang-remang Edrea mendengar suara orang tengah menangis dan suara itu mengarah ke ruang keluarga.


"Jangan bilang kalau itu suara El," ucap Edrea dan dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju ke ruang keluarga.


Ia menatap ke sekeliling ruangan tersebut hingga matanya kini menangkap seseorang yang tengah menelungkupkan wajahnya di balik lipatan tangannya, dan tangan itu ia sandarkan di antara kedua kaki yang tertekuk dan posisi orang itu tengah terduduk di pojok ruangan tersebut.


Edrea yang tau jika orang itu adalah Leon pun ia berdecak. Tapi karena ia tak tega melihat kondisi Leon yang tampak nelangsa, ia segera menghampiri Leon.


"Berdiri!" perintah Edrea yang membuat Leon menggelengkan kepalanya tanpa merubah posisinya saat ini.

__ADS_1


"Gue bilang berdiri sekarang ya berdiri," ucap Edrea dengan galaknya dan hal tersebut berhasil membuat Leon kini menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Edrea.


Edrea yang melihat wajah Leon yang memerah, mata yang sudah mulai bengkak, pipi yang penuh dengan air mata, hidung yang sudah mengeluarkan cairan bening itu membuat Edrea tersentak melihat kondisi Leon yang benar-benar sangat berantakan itu.


Tapi Edrea harus tetap stay cool walaupun sebenarnya ia tak tega melihat Leon seperti saat ini.


"Berdiri!" perintah Edrea yang lagi-lagi mendapat gelengan kepala dari Leon.


"Hiks, g---gak ma---mau, hiks," ucap Leon sesegukan.


"Oh gak mau berdiri. Oke kalau gitu gue tinggal," ujar Edrea dan saat dirinya ingin beranjak dari tempatnya tadi Leon justru memeluk kakinya.


"El!" kaget Edrea dengan apa yang dilakukan oleh Leon saat ini.


"Hiks, ja---jangan tinggalin aku, hiks," tangis Leon.


"Kalau gak mau di tinggal, makanya berdiri," ucap Edrea dengan tegas dan hal tersebut membuat Leon menatap takut-takut kearah Edrea sebelum akhirnya dirinya berdiri dari posisi duduknya tadi. Tapi air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya.


"Ikut gue," ucap Edrea, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kearah dapur. Leon yang sudah tak berani melawan Edrea pun ia langsung mengekor di belakang Edrea dengan kepala tertunduk. Persisi sekali seperti anak kecil yang telat pulang kerumah dan habis kena marah orang tuanya.


"Duduk," perintah Edrea saat mereka berdua telah sampai di ruang makan.


Tanpa bantahan Leon mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Edrea.


Edrea tampak terdiam sesaat sebelum senyum tipisnya ia perlihatkan tanpa sepengetahuan Leon tentunya karena laki-laki itu terus menunduk.


"Ya ampun anak itik gue, gemesin banget sih," teriak Edrea dalam hati.


Tapi beberapa saat setelahnya, ekspresi wajahnya kembali datar lagi.


"Lihat sini," perintah Edrea yang dijawab gelengan kepala dari Leon.


Edrea berdecak saat melihat wajah tampan kekasihnya itu benar-benar berantakan. Dan dengan pergerakan yang cepat Edrea mengambil tisu yang berada di atas meja makan itu.


"Kayak anak kecil banget sih. Nangis sampai keluar ingusnya," ucap Edrea sembari menghapus air mata Leon dan cairan bening di hidung laki-laki tersebut.


"Maaf," ucap Leon saat Edrea selesai menghapus air matanya. Dan saat mengucapkan hal tersebut Leon kembali meneteskan air matanya.


"Maaf untuk apa? Memangnya lo punya salah sama gue? Bukannya kita gak saling kenal ya," ucap Edrea yang kembali membuat Leon menegakkan kepalanya dan menatap wajah Edrea.


"Kita saling kenal lho. Kita kenal satu sama lain. Sayang mah ihhh," ucap Leon sembari menghentak-hentakkan kakinya untuk menyalurkan kekesalannya itu.


"Oh jadi kita kenal?" Leon tampak menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Baiklah kalau gitu, Lo minta maaf buat apa?" tanya Edrea.


"Hiks buat semuanya yang buat kamu marah. Hiks udah sayang marahnya, aku takut hiks," tangis Leon.


"Ngapain takut? Memangnya gue gigit gitu?" Leon menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu tapi aku takut kamu bentak kayak tadi," ujar Leon dengan suara lirih diakhir kalimat. Bahkan laki-laki itu kini kembali menundukkan kembali kepalanya.


Sedangkan Edrea, ia kini malah manggut-manggut saja.


"Oh jadi lo takut gue bentak?" Leon menganggukkan kepalanya.


"Terus gue gak boleh bentak lo?" lagi-lagi Leon menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ohhhh gitu ya, berarti yang boleh bentak orang itu hanya lo aja? Gue gak boleh gitu." Leon tampak menganggukkan kepalanya tapi beberapa saat setelahnya ia menggelengkan kepalanya saat mengetahui ia salah menjawab.


"Bu---bukan begitu sayang. Aku tadi kelepasan bentak kamu. Maaf," ucap Leon sembari takut-takut menatap wajah Edrea.


"Oh kelepasan? Tapi sayangnya gue tadi bentak lo juga kelepasan, gimana dong?" Leon tampak terdiam tak bisa menjawab ucapan dari Edrea tadi, tapi di dalam hatinya kini ia tengah merutuki dirinya sendiri yang tadi sempat marah tak jelas kepada Edrea dan berakhir ia dengan lancangnya membentak kekasihnya itu.


"Jadi gimana rasanya dibentak sama orang? Enak gak?" Leon lagi-lagi terdiam.


"Jawab El, enak gak dibentak sama orang lain apalagi ini yang bentak orang yang lo sayangi? Enak gak?" tanya ulang Edrea.


"Gak enak," ucap Leon dengan suara lirihnya.


"Gak enak kan? Sama El, gue juga ngerasain apa yang lo rasain saat ini, saat lo bentak gue tadi. Benar-benar gak enak, sakit banget tau gak," ujar Edrea yang sepertinya tak bisa melupakan kejadian tadi.


"Maaf," ucap Leon dengan suara teramat lirih.


"Lo juga kalau mau marah tuh pakai alasan yang jelas jangan tiba-tiba marah, ngambek gitu aja. Gue juga manusia El yang gak tau isi hati Lo lagi senang apa sedih, lagi marah atau bahagia. Gue gak tau itu semua El. Gue bukan Tuhan yang tau segalanya di dalam hati Lo! Gue manusia El, gue manusia yang gak bakalan tau kesalahan gue kalau lo gak langsung bilang sama gue, apa yang menyebabkan lo sampai marah kayak tadi!" ucap Edrea yang sepertinya tengah meluapkan emosinya yang sempat tertahan tadi.


Sedangkan Leon yang 100% sadar akan kesalahannya tadi pun ia hanya bisa mengatakan kata maaf saja dengan kepala yang tertunduk dan air mata yang terus mengalir tanpa henti itu.


Sedangkan Edrea yang sudah melupakan kekesalannya tadi ia kini menghela nafas panjang. Sebelum akhirnya ia merentangkan kedua tangannya.


"Mau peluk gak," ucap Edrea yang membuat Leon menatap kearahnya. Tapi Leon yang masih takut dengan Edrea pun ia hanya mematung ditempatnya. Hingga Edrea berdecak.


"Ya udah kalau gak mau gue peluk." Baru saja Edrea mengatupkan bibirnya, tubuh Leon langsung menubruk dirinya hingga hampir saja ia terhuyung kebelakang jika saja kedua tangannya tidak sigap memegang ujung meja dan kursi di kedua sisinya itu.


"Hiks maaf. Maafkan aku, hiks," ucap Leon penuh dengan penyesalan. Edrea yang hampir saja ngomel karena ulah Leon yang hampir membuatnya terjatuh itu pun ia urungkan dan kini tangannya bergerak untuk mengelus rambut laki-laki tersebut.


"Iya gue maafin. Tapi janji jangan di ulangi lagi ya karena gue gak suka dibentak soalnya," ujar Edrea dengan suara yang sudah melembut kembali.


"Gak, gak akan aku ulangi lagi. Maafin aku sayang," ucap Leon.


"Kan tadi udah gue maafin kenapa masih minta maaf lagi," ujar Edrea dengan senyum yang mengembang, ia merasa lucu saat melihat Leon seperti bayi begini.


"Kamu belum maafin aku sepenuhnya," tutur Leon yang membuat senyum Edrea hilang dan tergantikan dengan kerutan di kening perempuan itu. Bahkan ia kini juga melepaskan pelukan dari Leon.


"Kok bisa?" tanya Edrea sembari menatap wajah Leon.


"Ya kalau kamu udah maafin aku sepenuhnya, kamu gak akan manggil aku dengan sebutan Lo-Gue lagi," jawab Leon dengan kerucutan di bibirnya.


Edrea yang melihat hal tersebut pun ia merasa gemas sendiri hingga ia tak bisa menahan senyumnya lagi.


"Oke baiklah, baby El. Maafin Rea juga ya karena udah buat baby nangis kayak tadi. Rea juga udah gak marah sama baby El kok Jadi jangan nangis lagi oke," ucap Edrea yang diangguki oleh Leon.


"Sini peluk lagi," ujar Edrea yang langsung mendapat pelukan erat dari Leon.


"Jangan tinggalin aku," ucap Leon disela pelukannya.


"Gak, gak akan," jawab Edrea dengan tangan yang terus aktif mengelus rambut Leon.


"Janji." Leon kini melepaskan pelukan mereka dan kini ia menyodorkan jari kelingkingnya kearah Edrea.


"Janji," balas Edrea dengan melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Leon. Dan setelahnya Leon kembali memeluk tubuh Edrea dengan menyembunyikan wajah memerahnya karena kebanyakan menangis itu ke ceruk leher kekasihnya itu. Sedangkan Edrea hanya terkekeh melihatnya.


...****************...


Babang Leon gemesin ya, pengen banget author culik🤭

__ADS_1


Oh ya yang kangen double up, author udah kasihnya, jadi giliran kalian buat kasih author LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH.


Author tunggu 😉 terimakasih


__ADS_2