The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 29


__ADS_3

Kini Edrea keluar dari kelasnya setalah jam belajar mengajar telah usai bersama dengan kedua temannya.


"Ke mall yuk," ajak Yesi.


"Ayo lah gabut juga nih gue," jawab Resti.


"Gue kayaknya gak bisa ikut deh," ucap Edrea.


"Ih gak seru ah kalau lo gak ikut."


"Sebenarnya gue pengen banget ikut tapi gue lagi dihukum sama Abang gue dan mobil gue juga lagi disita," tutur Edrea lesu. Dia juga sebenarnya suntuk di rumah apalagi Mommy Della lagi sama Daddynya ke luar negeri buat nemenin Daddy Aiden kerja. Kalau Mommynya itu ada di rumah kan dia bisa jalan-jalan sama Mommynya tanpa harus merengek manja tak seperti saat ini, dia hanya keluar ke mini market tak jauh dari rumahnya saja kedua Abangnya langsung tak mengijinkannya apa lagi ini pasti sudah ditolak mentah-mentah saat dirinya nanti izin kepada mereka.


"Di hukum? kok bisa?" tanya Yesi penasaran.


Edrea menghela nafas.


"Ya bisa lah, Yes. Apa sih yang gak bisa Abang gue lakuin ke gue?" jawab Edrea.


"Ya maksud gue tuh alasan kenapa mereka hukum lo?"


"Gue tau, pasti gara-gara kemarin kan? Lo di tinju sama Zico itu?" timpal Resti.


Dengan lesu Edrea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Resti tadi.


"Ish, tuh orang juga kenapa sih pakai bogem lo segala. Kasar banget sama cewek," tutur Yesi tak terima. Sebenarnya kemarin kedua teman Edrea itu saat mengetahui Edrea terluka, mereka langsung mencecar Edrea hingga si empu bercerita tentang kejadian itu dan membuat keduanya naik pitam. Jika Edrea tak mencegah keduanya untuk membalas perbuatan Zico kemarin, sudah dipastikan Zico mungkin akan mendapatkan pukulan oleh dua teman Edrea itu.


"Itu juga gak sengaja, Yes," tutur Edrea.


"Belain aja terus. Udah tau kemarin digituin masih aja dibelain. Pokoknya mulai hari ini lo gak boleh berjuang buat dapetin cinta Zico. Cari yang lain aja," ucap Yesi.


"Iya-iya Yes, gue juga udah sadar kok dan kemarin juga gue udah berniat menjauhi dia," tutur Edrea yang membuat Yesi dan Resti saling pandang kemudian keduanya tersenyum.


"Nah gitu dong," tutur Yesi.


Tak berselang lama, ponsel milik Edrea berbunyi. Ia pun langsung merogoh saku baju seragamnya dan segera mengangkat panggilan dari Erland.


"Halo," ucap Edrea.


📞 : "Udah bel pulang kan?" tanyanya dari sebrang.

__ADS_1


"Udah."


📞 : "Kalau udah buruan keluar, gue udah di depan gerbang sekolah lo."


"Ck iya-iya gue kesana sekarang," tutur Edrea. Setelah itu sambungan telepon ia tutup.


Ia pun kini melihat kearah kedua temannya yang masih berada di sampingnya.


"Gue pulang duluan ya. Abang gue udah di depan masalahnya," pamit Edrea.


"Ya udah hati-hati," ucap Resti dan juga Yesi berbarengan dan dijawab anggukan kepala oleh Edrea.


Setelah kepergian Rea, kedua orang tersebut juga tengah berjalan santai menuju parkiran sekolah.


"Abangnya Rea gimana ya mukanya? pasti ganteng, secara kan Rea cantiknya kayak gitu ah jadi pengen ketemu sama Abangnya Rea. Penasaran gue sama mukanya," tutur Resti.


"Gue juga penasaran. Secara kan Rea gak pernah tuh cerita dan nunjukin muka Abangnya. Aish bikin penasaran memang keluarga Edrea itu," ucap Yesi.


Mereka berdua terus saja mengobrol hingga sampai di parkiran sekolah.


Dan disisi lain, Edrea sudah berada di luar sekolah menuju kearah mobil Erland yang kebetulan berada di sebrang jalan.


Semua gerak-gerik Edrea tadi tak lepas dari perhatian Zico yang sedari tadi sengaja menunggu Edrea di dalam mobil Lamborghininya.


"Apa hubungan mereka berdua sebenarnya?" gumamnya dengan penuh penasaran. Entah apa yang membuat dirinya kini penasaran dengan Edrea padahal sebelum-sebelumnya ia enggan untuk bertatap muka dengan wanita itu namun sekarang setelah perbuatannya kemarin dan melihat Edrea diantara jemput oleh laki-laki lain, hatinya terasa tak ikhlas hal itu terjadi.


"Arkh, kenapa gue malah mikirin cewek itu sih? sial," geramnya dengan memukul setir mobil didepannya.


...*****...


Kini Edrea dan juga Erland sudah sampai di rumah dan tak mereka sadari ternyata sang aunty Airen dan uncle Dion tengah berkunjung ke rumah tersebut.


"Assalamualaikum," ucap keduanya dengan kompak saat menginjakkan kaki mereka di dalam rumah tersebut.


"Waalaikumsalam," jawab seisi rumah tersebut.


Kini Erland dan Edrea segera menuju kamarnya dan saat keduanya melewati ruang keluarga, mata mereka langsung terbuka lebar.


"Aunty, Uncle," panggil Edrea yang membuat kedua orang yang merasa dipanggil pun mengalihkan pandangan mereka berdua dari televisi di depan ke arah Edrea dan juga Erland.

__ADS_1


"Huwaaaaa keponakan Aunty," tutur Aunty Airen dengan heboh.


Edrea dan Erland pun segera menghampiri kedua orang tersebut. Dan dengan segera tubuh keduanya di sambar oleh aunty Airen untuk ia peluk.


"Aunty rindu," ucap aunty Airen di sela pelukannya.


"Rea juga rindu sama aunty," tutur Edrea.


Kini pelukan dari aunty Airen terlepas. Ia pun menatap Edrea dan juga Erland dari atas sampai bawah.


"Kenapa kalian semakin besar gak ada mirip-miripnya sama sekali sih?" tanya aunty Airen heran. Dan di jawab gidikan bahu dari keduanya.


"Oh ya Azlan mana?" tanyanya.


"Tadi katanya dia mau mampir ke toko buku," jawab Erland sembari mendekati uncel Dion.


Uncle Dion pun juga langsung memeluk tubuh keponakannya itu sesaat.


"Uncel sama aunty kesini berdua aja?" tanya Erland yang sudah duduk di sofa ruangan tersebut.


"Enggak, sama gue juga," tutur Zelfix yang baru bergabung dari mereka dan sudah dipastikan bahwa dia tadi dari dapur terbukti dengan berbagai makanan ringan ditangannya sekarang.


"Woah si bule ternyata udah besar juga ya," tutur Edrea sembari menatap wajah Zelfix.


Zelfix mencebikkan bibirnya kemudian ia langsung nyelong begitu saja menuju sofa disebelah Erland.


"Ck, sombong sekali wahai dirimu tuan bule," geram Edrea yang ucapannya tadi hanya dianggap angin lalu oleh Zelfix.


Kini Edrea pun mendekati Zelfix yang sudah fokus dengan makanannya. Saat ia sudah sampai di samping sepupunya, Edrea langsung memeluk leher Zelfix dengan sangat erat.


"Uhuk, astaga lepasin gak," ucap Zelfix yang hampir tersedak karena ulah Edrea tadi.


"Gak. Siapa suruh sombong kayak tadi, gak say hello lagi sama Kakaknya sendiri. Gak sopan tau," geram Edrea.


"Astaga, iya-iya gue say hello nih sama lo tapi lepasin dulu," tutur Zelfix. Edrea pun tersenyum dan melepaskan tangannya dari leher Zelfix.


Zelfix kini mengelus lehernya yang terasa sakit sembari menatap Edrea. Dan dengan tiba-tiba Zelfix menerjang tubuh Edrea untuk ia gelitiki.


"Rasain!" tutur Zelfix penuh dengan kobaran api balas dendamnya kepada Edrea.

__ADS_1


__ADS_2