The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 100


__ADS_3

Kini ujian akhir semester untuk kenaikan kelas telah selesai hari ini. Semua orang selama satu minggu di repotkan dengan acara belajar itu pun, kini bisa bernafas lega begitu juga dengan Edrea yang kini bisa keluar rumah lagi tanpa harus mendengarkan ceramah Mommy Della yang selalu saja mengintrogasinya saat ingin keluar. Padahal ia keluar hanya ingin membeli cemilan untuk menemaninya belajar. Toh jika dia ambil cemilan milik Mommy Della, sang empu juga tak akan pernah ngasih ke anaknya sendiri. Pelit memang, tapi itulah Mommy Della. Apalagi dengan cokelat-cokelatnya, hilang satu biji saja akan menghebohkan seluruh keluarga.


"Kalian udah cari keperluan untuk kunjungan alam belum?" tanya Resti tiba-tiba.


Edrea dan juga Yesi secara bersamaan menengok kearah Resti yang berada di tengah-tengah mereka berdua.


Setelah itu Edrea memutar bola matanya malas.


"Ck, belum ada pengumuman yang berkaitan dengan kunjungan alam. Jangan heboh dulu deh. Toh kita juga baru selesai mengikuti ujian. Ya masak langsung di suruh kunjungan alam, harusnya kan ada jeda beberapa hari setelah ujian selesai. Sama seperti kakak kelas dulu," ucap Edrea.


"Iya juga sih. Tapi gue gabut nih di rumah mulu seminggu full, berasa gue di pingit tau gak," keluh Resti. Nah kan bukan Edrea sendiri yang mengeluh di kurung di rumah saat ujian berlangsung, pasalnya Resti pun merasakan hal yang sama seperti dirinya.


"Ke mall kuy," ajak Yesi tiba-tiba yang membuat kedua temannya langsung mengeluarkan binar bahagia.


"Kuy lah," ucap Edrea juga Resti bersamaan.


Kini mereka bertiga berjalan beriringan menuju parkiran mobil di sekolah tersebut. Mereka berniat ke mall memakai mobil Yesi karena mobil Resti tadi pagi mogok, alhasil sang empu berangkat sekolah menggunakan taksi online. Sedangkan Edrea, jangan ditanya lagi. Mobilnya masih di sita oleh kedua Abangnya itu. Entah sampai kapan mereka akan mengembalikan mobilnya, Edrea hanya bisa pasrah saat ini. Karena memberontak, merengek bahkan sampai nangis darah pun kedua Abangnya tak akan pernah luluh dengannya.


Saat mereka bertiga sudah berada di area parkiran, mata Edrea tak sengaja melihat seseorang yang sangat mencurigakan tengah menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Kalau suka tuh ngomong. Jangan ngelihatin gue sampai tuh mata mau keluar," teriak Edrea yang ditujukan kepada seorang laki-laki yang tadi menatapnya dengan intensitas.


Yesi dan Resti yang tadinya sudah masuk kedalam mobil pun kini keluar kembali setelah mendengar teriakan dari Edrea tadi.


"Rea, kenapa teriak-teriak gak jelas kayak tadi. Ini masih di area sekolah bukan hutan," tegur Yesi yang sudah berada di samping Edrea.


"Iya ih. Malu tar kalau guru ada yang dengar. Kalau lo mau teriak-teriak tunggu bentar lagi lah. Saat kita kunjungan alam lo bisa teriak sesuka hati lo, sekaligus juga buat menyapa spesies lo," timpal Resti.


"Your eyes. Lo kira gue monyet apa. Kurang ajar banget jadi orang. Toh gue tadi teriak juga ada alasannya." Resti dan Yesi saling pandang dan sedetik kemudian mereka berdua menggedikkan bahunya.


"Ck, dari tadi saat kita sampai di parkiran ada orang yang merhatiin gue terus. Makannya gue teriak gitu tadi," tutur Edrea yang tau bahwa kedua temannya tadi tak paham ucapannya.


Resti dan Yesi dengan reflek menatap ke sekelilingnya. Sepi, gak ada orang sama sekali selain mereka bertiga. Ya gimana tak sepi, jika ketiganya pulang paling akhir. Hanya tersisa 3 mobil saja disana.


"Halusinasi gimana sih. Coba kalian lihat baik-baik di dalam mobil hitam itu." Edrea menujuk mobil yang ia maksud tadi. Kedua sahabatnya kini mengikuti arah pandang Edrea dan betapa terkejutnya mereka berdua saat tatapan tajam dari orang di dalam mobil hitam itu mengarah ke mereka bertiga.


"Gue takut anjir," gumam Resti dengan bergidik ngeri kemudian ia bersembunyi di balik badan Edrea.


"Gak beres ini. Gue jamin kita dalam bahaya," ucap Yesi lirih. Ia sama takutnya dengan Resti tapi ia sangat pintar menyembunyikan hal itu. Jika ia sama-sama takut, bagaimana nasib Edrea nanti. Padahal tatapan laki-laki itu dengan terang-terangan menatap kearah Edrea bukan kearahnya ataupun kearah Resti walaupun tadi mereka berdua sempat di lirik sekilas.

__ADS_1


"Kalian berdua mending masuk dulu deh," ucap Edrea. Ia harus segera menghampiri orang tersebut dan mengintrogasi dia.


"Kalau kita masuk, lo mau kemana?" tanya Yesi yang sebenarnya sudah bisa menebak jalan pikiran Edrea. Tapi ia sengaja bertanya seperti itu untuk memastikannya saja.


"Gue mau nyamperin dia," ucap Edrea dengan enteng.


"Heh enak aja. Gak akan gue biarin lo nyamperin dia ya," ucap Resti sembari menyembulkan kepalanya. Takut-takut gini dia masih mengkhawatirkan sahabatnya itu.


"Gue cuma bentar doang nyamperin dianya. Gak akan lama dan gue pastiin, gue akan baik-baik saja," tutur Edrea menenangkan kedua sahabatnya itu.


"Masuk sana gih," sambungnya. Dan saat dirinya sudah melangkahkan kakinya menuju mobil hitam itu tanpa bisa dicegah lagi oleh Yesi dan Resti, tiba-tiba saja mobil itu bergerak dan meninggalkan area parkir sekolah tersebut sebelum Edrea sampai di mobil tadi.


"Lha kabur," gumam Edrea dengan menggaruk tengkuknya bingung. Belum juga ia bertanya dan mengeluarkan taringnya, eh laki-laki itu sudah pergi duluan.


Resti dan Yesi yang turut mengamati mobil itu hingga menghilangkan dari pandangan mereka, kini keduanya berlari menghampiri Edrea yang masih mematung di tempat.


"Kok dia kabur sih Re?" tanya Resti. Emang ya sahabat Edrea yang satu ini. Tadi saja ia melarang Edrea untuk tidak mendekat laki-laki misterius itu, eh sekarang malah bertanya seakan-akan ia mendukung sahabatnya itu tadi.


"Gue juga gak tau. Mungkin dia berpikir gak akan tahan dan berujung pingsan saat lihat kecantikan gue dari jarak dekat nanti." Apapun keadaannya kepercayaan diri nomor satu untuk Edrea.

__ADS_1


Yesi dan Resti memutar bola matanya malas. Untung saja apa yang dikatakan Edrea benar adanya karena banyak adik kelas yang secara terang-terangan menatap kagum ke Edrea tapi saat Edrea mendekati mereka, eh mereka pingsan.


"Dahlah gak usah di pikirin lagi. Paling cowok tadi salah satu fans gue. Kita lanjut jalan aja yuk keburu malam tar," ucap Edrea sembari menggandeng lengan kedua sahabatnya menuju mobil Yesi. Setelah itu mereka bertiga kini benar-benar masuk kedalam mobil itu dan melanjutkan rencana awal mereka tadi yaitu mengunjungi mall yang sudah lama tak mereka kunjungi. Walaupun tak ada niat untuk membeli sesuatu disana tapi setidaknya dengan mereka pergi ke mall itu, otak mereka yang tadinya mengebul akan menjadi dingin dan fresh lagi.


__ADS_2