
Hampir satu jam mereka melihat adegan yang tak sepantasnya mereka lihat, akhirnya adegan itu selesai juga dan hal itu membuat Azlan juga Erland yang tadi melihat dengan sesekali menutup matanya kini menghela nafas lega sedangkan temannya yang lain selain Septian tengah berebut kamar mandi. Taulah apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar mandi itu.
Dan hal itu berhasil membuat Septian tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha makanya kalau burung perkutut kalian suka baperan jangan aneh-aneh pakai lihat begituan segala lagi. Kalau sudah jadi begini kalian sendiri yang repot kan. Hahahaha untung gue tadi udah stop duluan," tutur Septian sembari mengejek teman-temannya tersebut.
"Bacot lo," ucap Odi yang tengah berdiri didepan pintu kamar mandi tersebut menunggu giliran dirinya untuk masuk kedalam.
Tapi sayangnya perkataan dari Odi tadi tak membuat Septian takut sama sekali, malah justru semakin membuat Septian tertawa semakin kencang.
Hingga tawa Septian terhenti saat terdengar suara ketukan pintu di kamar tersebut.
Dan hal itu membuat semua orang yang ada di dalam kamar tersebut menatap satu sama lain. Sebelum ketukan itu kembali mereka dengar.
"Siapa sih njir, gue jadi merinding disko gini. Mana sekarang udah jam setengah satu lagi," ucap Odi.
"Sama, gue juga merinding ini. Takutnya penunggu kamar ini lagi yang tadi ngetuk pintu," timpal Septian yang semakin ngaco saja.
Dan hal tersebut membuat Azlan juga Erland kini saling memberikan kode lalu tanpa rasa takut sama sekali, Erland kini melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama kamar tersebut.
"Lho lho Er, jangan di buka pintunya, bisa-bisa kita dijadikan makanan oleh penunggu kamar ini lagi," cegah Septian yang membuat Erland kini memutar bola matanya malas.
"Syukurlah kalau memang penunggu sini mau sama lo, gue ikhlasin. Biar populasi orang penakut seperti lo ini berkurang," ujar Erland.
"Ck, tega banget sih lo,Er sama gue," tutur Septian yang hanya mendapatkan gedikkan bahu oleh Erland. Dan setelah itu ia meneruskan niatnya tadi untuk membuka pintu kamar tersebut.
Dan saat pintu itu sedikit terbuka, Erland langsung menatap kearah seseorang dengan pakaian serba hitam dihadapannya tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Cari siapa?" tanya Erland dengan ekspresi wajah datar.
"Eh, ini bukannya kamar yang di tempati Odi?" tanya orang tersebut yang merasa heran sekaligus tak enak jika dirinya ternyata salah kamar.
Erland yang mendengar kata Odi pun dirinya kini langsung membuka pintunya sedikit lebar.
"Masuk," perintah Erland dengan tegas dan hal itu membuat orang tadi langsung masuk kedalam tanpa bantahan sedikitpun.
Dan setelah orang tersebut masuk, Erland menyempatkan dirinya untuk menatap ke sekelilingnya, takut-takut jika ada anak buah dari Virgon melihat dirinya.
"Aman," gumam Erland sebelum dirinya masuk kedalam kamar lagi.
Dan saat dirinya memutar tubuhnya, hampir saja ia mencium orang tadi karena saat ia mengintip area luar kamar ternyata, dia juga mengikuti apa yang Erland lakukan.
"Astaga. Ngapain di belakang saya?" geram Erland.
__ADS_1
"Saya juga ingin mematikan jika tidak ada seseorang yang mengikuti saya kesini," jawab orang tersebut.
"Haishhhhh, sudahlah. Ikut saya!" perintah Erland dan tanpa menunggu persetujuan dari seseorang tadi, ia kini melangkahkan kakinya semakin masuk kedalam kamar itu dengan di ikuti orang tadi.
Dan saat mereka sampai di ruang utama kamar tersebut, tatapan semua orang yang ada disana langsung tertuju kearah seseorang yang berada di belakang Erland.
"Od, ada orang yang nyariin lo," ucap Erland yang membuat Odi kini tampak kebingungan tapi akhirnya ia mendekati Erland dan sesoarng tadi.
Dan seperti yang Erland lakukan sebelumnya Odi pun kini mengulangi untuk menatap kearah orang tersebut. Dan perlakuannya itu membuat seseorang tadi kini menarik lengan Odi dan menjauh dari Erland.
"Jangan natap gue kayak gitu sebelum gue colok tuh mata," ujar orang tadi.
"Heh kita berdua gak saling kenal ya. Mau main nyolok-nyolok mata segala, gak sopan," tutur Odi tak terima.
"Ohhh jadi sama sepupu sendiri gak kenal nih?" ucap orang tersebut.
"Sepupu? Ck, mending lo jangan ngaku-ngaku deh sebelum gue gibeng nih," tutur Odi yang membuat orang tersebut tampak geram. Dan karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi, ia kini menjewer telinga Odi sembari melepas masker dan topi yang ia kenakan agar Odi bisa melihat siapa dirinya.
"Buka mata lo! Masih mau punya niatan buat gibeng gue hah?" ucap orang tersebut. Odi yang sudah melihat wajah yang sangat familiar di otaknya pun ia kini menepuk keningnya sendiri.
"Ck, gue benar-benar gak ngeh kalau itu lo, Kak Brin. Maaf-maaf deh," ujar Odi dengan tangan yang ia satukan untuk memohon ampun ke arah sepupunya tersebut.
"Lo ini ya, udah gue bantu dan bela-belain buat kesini malah gak menghargai sama sekali," tutur orang tersebut sembari melepaskan tangannya tadi dari telinga Odi.
"Ck, ini belum lebaran. Maaf-maafannya nanti aja. Sekarang gue tanya sama lo, lo jadi gak lihat fotonya?" tanya orang tersebut.
"Eh kalau itu sih jadi lah. Oh ya, lo udah nyetak fotonya juga kan?" tanya Odi.
"Hmmm," jawab orang tadi hanya dengan deheman saja. Lalu setelahnya ia kini berjalan menuju kearah sofa di kamar tersebut dan tanpa memperdulikan semua orang di kamar itu, ia sekarang tengah mendudukkan tubuh di salah satu sofa disana.
Dan setelah ia terduduk dan dikuti Odi di sampingnya, ia kini merogoh sesuatu dari balik jaketnya tersebut lalu setelahnya ia melempar sebuah amplop coklat di depan Odi.
"Semua yang lo mau ada di situ," ucap orang tersebut.
Tangan Odi kini bergerak untuk membuka amplop tadi dan mengeluarkan isi didalamnya.
Dan saat ia melihat isi didalam amplop tadi ia tampak kesusahan menelan salivanya sendiri.
Setiap perubahan ekspresi wajah dari Odi tadi tak luput dari pandangan para teman-temannya itu yang sekarang tengah merapat kearah Odi dan sepupunya tadi karena rasa kepo mereka terlalu tinggi untuk mereka biarkan begitu saja.
"Uwow," satu kata yang mewakili ucapan orang-orang yang sekarang tengah melihat isi amplop tadi yang ternyata merupakan foto Kayla dan Virgon dari pertama mereka masuk sampai beradegan panas di atas ranjang.
"Kak," panggil Odi sembari mengalihkan pandangannya kearah orang disampingnya tersebut.
__ADS_1
"Hmmm."
"Foto yang ini gimana caranya lo dapetinnya? Jangan-jangan lo ngikutin mereka masuk ke dalam kamar lagi dan menyaksikan secara live tadi?" tanya Odi dengan curiga.
"Ck, teknologi sekarang tuh canggih-canggih semua. Gue gak perlu ikut masuk kedalam kamar, tapi dengan satu kamera yang remote kontrolnya ada di tangan gue, gue bisa ambil foto dia secara diam-diam," ujar orang tersebut.
Dan hal itu membuat Odi kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iya juga sih," ujar Odi.
"Eh ya sampai lupa gue. Guys, kenalin dia adalah Kakak sepupu gue, namanya Zabrina. Dia juga yang menjadi fotografer handal kita hari ini," ucap Odi.
Dan ucapan dari Odi kini membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka kearah satu perempuan di samping Odi tersebut.
"Dan maaf ternyata yang gue tunjuk tadi tuh bukan dia tapi orang lain," ujar Odi diakhiri dengan cengiran kudanya.
"Kebiasaan salah orang," timpal Hito.
"Ya kan gue gak tau," ucap Odi mencoba membela dirinya sendiri.
"Sudah-sudah jangan ribut," perintah Azlan yang langsung membuat dua orang tadi kini mengatupkan mulut mereka.
Dan setelah mengatakan hal tadi Azlan kembali menatap kearah perempuan tersebut.
"Thanks atas bantuannya," ucap Azlan yang ditanggapi dengan anggukan saja oleh orang tadi.
Dan baru saja ia selesai mengucapkan hal tadi, Erland langsung menyodorkan ponselnya kearah perempuan tersebut.
"Tulis nomor rekening lo. Gue kirim biaya untuk semua yang telah lo lakuin tadi," ujar Erland saat ia tau jika ekspresi wajah perempuan itu tampak kebingungan. Tapi saat Erland mengucapkan hal tadi, ponsel Erland langsung di terima oleh perempuan tersebut kemudian dengan cepat perempuan itu mengetikan nomor rekeningnya di ponsel Erland. Lalu setelah selesai ia baru mengembalikan ponsel tadi ke Erland.
"Gue tunggu transferan lo masuk ke rekening gue," tutur Zabrina sembari berdiri dari duduknya.
"Urusan gue sama kalian sudah selesai. Gue pergi dulu," ucap Zabrina sembari memakai topi tanpa masker.
"Eh eh eh pergi kemana? Ini udah jam segini lho Kak. Jangan pulang dulu tar kalau ada apa-apa gue yang merasa bersalah nanti," ujar Odi tak tega.
"Gue gak pulang. Gue mau ke kamar yang udah gue pesan," ucap Zabrina.
"Owh gitu. Eh tapi lo sama siapa di kamar? Jangan aneh-aneh," peringat Odi.
"Gue masih bisa jaga diri gue kali, Od. Gue sendiri di kamar. Jangan berpikir negatif mulu," geram Zabrina.
"Hehehe ya maaf. Ya udah gih, pergi sana. Hati-hati takutnya mereka ada yang lihat," ujar Odi yang membuat Zabrina memutar bola matanya malas sebelum akhirnya ia berjalan menuju pintu utama kamar tersebut tanpa mengucapkan kata pamit ke pada orang-orang didalam kamar tadi.
__ADS_1