
"Rencana apa yang sudah kamu pikirkan?"
Puri tersenyum miring kemudian ia mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Vivian.
"Kalau gue kasih tau lo. Lo mau bantu apa?" tanya Puri. Vivian menatap Puri dengan senyum miringnya.
"Mau kamu, saya bantu apa?" Bukannya menjawab Vivian malah balik bertanya.
"Cari orang kepercayaan untuk menghancurkan Edrea," ucap Puri. Vivian langsung mengulurkan tangannya dan segera di balas oleh Puri.
"Deal. Katakan sekarang apa yang kamu rencanakan selanjutnya!" Puri tampak menatap ke sekelilingnya, memastikan bahwa semuanya aman, dan tak ada orang yang menguping pembicaraannya nanti. Setelah di rasa aman, Puri menyuruh Vivian agar mendekat kepadanya menggunakan jari telunjuk yang ia gerak-gerakan. Untung saja Vivian peka akan sinyal itu dan ia segera mendekati wajah Puri, setelah itu sang empu membisikkan rencana selanjutnya kepadanya.
Vivian terus mendengarkan secara detail rencana jahat itu dengan sesekali kepalanya mengangguk untuk menimpali ucapan Puri.
"Boleh juga rencana kamu," ucap Vivian setelah Puri menjauh dari dirinya.
"Gue gitu lho. Oh ya jangan lupa cari orang yang profesional. Secara jika di lihat dari tampilan Lo aja Lo termasuk orang kaya. Jadi gak akan sulit untuk mencari dan membayar pembunuh bayaran bukan?"
"Kamu tak perlu memikirkan hal itu. Cukup berdiam diri dan menggiring Edrea dalam perangkap saat rencana ini di mulai," ujar Vivian. Puri tambah tersenyum lebar. Mimpi apa dia semalam sampai ia bertemu dengan orang yang dengan senang hati membantu dirinya untuk melenyapkan Edrea. Terlebih lagi ia hanya duduk manis tanpa mengeluarkan tenaga dan uang sepeserpun. Sungguh beruntungnya dirinya saat ini, sekarang ia hanya menunggu waktu itu tiba dan sebentar lagi tubuh Edrea yang sudah pucat dan tak bernyawa akan ia lihat didepan matanya langsung. Membayangkan saja sangat menyenangkan apalagi itu terjadi sungguhan, pasti dirinya akan mengadakan syukuran.
Bayangan Puri akan kehancuran Edrea buyar seketika saat dering ponselnya berbunyi. Ia segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja setelah itu ia melihat orang yang tengah menghubunginya. Ia berdecak kesal saat tau siapa gerangan yang meneleponnya, kemudian ia mematikan sambungan telepon tersebut tanpa mengangkatnya terlebih dahulu.
"Gue cabut dulu. Oh ya sebelumnya gue minta nomor telepon lo, biar kita gampang komunikasi untuk melakukan rencana ini lebih lanjut," ucap Puri sembari menyodorkan ponselnya dan tanpa pikir panjang Vivian mengambil ponsel tersebut dari tangan Vivian, lalu sang empu langsung menuliskan nomor teleponnya di ponsel Puri. Setelah selesai ia mengembalikan kembali ponsel tersebut ke tangan sang pemilik.
Puri menatap deretan nomor tadi sembari tersenyum kemudian ia menepuk pundak Vivian sebelum ngacir pergi dari cafe tersebut, meninggalkan Vivian yang menatap kepergiannya dengan senyum misteriusnya.
__ADS_1
"Bodoh," tutur Vivian sebelum akhirnya ia beranjak keluar dari cafe tersebut.
Saat sudah berada di luar ia menatap ke sekeliling sebelum dirinya merogoh ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Semuanya beres. Aku akan ke markas nanti malam, untuk bicara masalah ini dengan kamu dan yang lainnya," ucap Vivian saat sambungan telepon terhubung dengannya. Setelah mengucapkan hal itu Vivian mematikan ponselnya dan segera masuk kedalam mobilnya.
...****************...
Disisi lain Edrea tengah merengek layaknya anak kecil ke kedua orangtuanya yang tadinya tengah bermesraan dan karena gangguan dari Edrea membuat kemesraan Mommy Della dan Daddy Aiden hancur seketika.
"Dad, Mom please bujuk bang Az sama bang Er biar mereka gak nyita mobil Rea lagi," rengek Edrea yang duduk di tengah-tengah Mommy dan Daddynya.
"Kedua Abang kamu melakukan hal itu juga pasti ada alasannya Rea. Mom gak bisa bujuk mereka, kamu tau sendiri kan, kalau Abang kamu itu sudah memutuskan sesuatu tak bisa di ganggu gugat. Toh mereka juga gak keberatan buat antar jemput kamu. Kamu harusnya senang dong diantar sekolah sama Abang sendiri, dan menurut Mom langkah yang diambil mereka berdua memang ada manfaatnya juga," ucap Mommy Della.
"Manfaat apaan coba? gak ada manfaatnya sama sekali Mom, ih," sebal Edrea.
"Mom, selama ini Rea juga gak ada yang gangguin lho. Aman-aman aja tuh walaupun gak diantar jemput sama mereka berdua. Jadi Rea mohon lah, bujuk mereka biar mobil Rea bisa Rea gunakan lagi," ucapnya sembari menyatukan kedua telapak tangannya.
"Mom gak bisa bujuk mereka, Rea." Edrea mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia merubah posisi duduknya menjadi menghadap kearah Daddy Aiden.
"Dad," ucap Edrea memelas.
Daddy Aiden yang tak tega dengan anak perempuan satu-satunya itu hanya bisa menghela nafas berat.
"Biar Dad coba dulu ya sayang," tutur Daddy Aiden sembari mengelus rambut Edrea.
__ADS_1
Edrea kini tersenyum lebar, lalu ia berhamburan kedalam pelukan Daddy Aiden.
"Uhhhh emang Daddy paling pengertian. Terima Daddy. Love you," ucap Edrea.
"Heh, gak usah pakai love you love you segala. Love you-nya Daddy cuma buat Mommy doang. Kamu jangan harap mendapatkan kata-kata itu dari Daddy kamu," sensi Mommy Della.
"Ih biarin lah. Daddy tuh punya Rea tau, bukan punya Mommy. Mommy itu hanya dijadikan perantara saja biar lahiri Rea dan Rea lah yang sebenarnya menjadi Queen-nya Daddy. Bukan Mommy," tutur Edrea tak terima.
"Heh, kata siapa itu? Enak saja. Sayang, kamu gak mau belain aku gitu!" Mommy Della menatap tajam kearah Daddy Aiden.
Sedangkan Daddy Aiden hanya bisa memutar bola matanya malas. Kedua perempuannya ini memang hobi sekali merebutkan dirinya. Memang berat ya menjadi orang tampan, batin Daddy Aiden penuh percaya diri.
"Sudah-sudah gak perlu bertengkar. Kalian berdua tuh perempuan yang paling spesial yang Daddy miliki di dunia ini ditambah Oma Yoona tentunya," ucap Daddy Aiden.
"Yang satunya princess yang satunya lagi queen," sambung Daddy Aiden.
"Rea yang jadi Queen-nya. Gak ada yang boleh protes," ucap Edrea saat melihat Mommy Della ingin membuka suaranya.
"Astagfirullah, ini kenapa rumah kayak kebun binatang sih. Ribut mulu," geram Erland yang baru turun kebawah setelah mendengar keributan dari orangtuanya dan juga adik perempuannya itu.
"Dad," ucap Edrea sembari mengkode Daddy Aiden agar sang empu segera berbicara dengan Erland.
Daddy Aiden menganggukkan kepalanya setelah itu ia melepaskan pelukannya dari tubuh Edrea kemudian ia menatap Erland yang sudah duduk di sofa samping Mommy Della. Malah si anak keduanya itu tengah bergelayut manja dengan istrinya.
"Hey anak durhaka. Jauh-jauh sana dari Istri Daddy," geram Daddy Aiden.
__ADS_1
"Istri Daddy adalah Mommy Erland. Erland juga berhak manja sama Mommy Erland sendiri. Ya, masak Erland harus manja sama Mommynya orang lain kan gak banget," jawab Erland yang mendapat pelototan dari Daddy Aiden.
"Dad, bukan waktunya marah sama bang Er." Daddy Aiden tampak menghela nafas dan mengelus dadanya agar diberi kesabaran yang lebih lagi. Tapi lihat saja kalau dia sudah berbicara mengenai keinginan Edrea, ia pastikan anak keduanya itu akan mendapatkan pelajaran darinya nanti.