
Edrea yang sudah selesai menyiapkan perlengkapan untuk mengobati luka Leon pun kini ia bergegas menuju ke kamar laki-laki itu dengan membawa kunci cadangan karena ia yakin jika ia mengetuk pintu kamar itu, Leon tidak akan membukakannya.
Dan saat ia berhasil membuka pintu kamar tersebut, tampak Leon tak ada di dalam kamar tersebut.
"El," panggil Edrea sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tersebut. Tapi panggilannya tadi tak dijawab oleh sang kekasih hingga membuat dirinya kini mulai menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam kamar tersebut, sampai akhirnya saat dirinya berada di depan kamar mandi, ia mendengar suara gemericik air. Dan hal tersebut membuat Edrea kini bisa menghela nafas, kekhawatiran mengenai Leon kabur dari rumah itu sekarang sudah hilang di gantikan dengan kelegaan.
Lalu setelahnya kakinya bergerak menuju ke balkon kamar tersebut untuk menghirup udara segar di malam itu. Tapi saat dirinya melewati meja rias di kamar tersebut, ada satu benda yang menarik perhatiannya. Hingga akhirnya niatnya untuk ke balkon ia urungkan dan lebih baik ia melihat benda yang ada diatas meja rias tersebut.
"Kacamata minus? Sejak kapan El pakai kacamata? Perasaan penglihatan dia normal-normal saja. Disekolah atau dimanapun gue juga gak pernah lihat dia pakai kacamata ini. Tapi kalau ini bukan punya dia terus punya siapa? Ya kali punya Callie, gak mungkin lah. Tuh anak penglihatannya masih jernih kok," gumam Edrea sembari menelisik kacamata tersebut dengan sesekali melihat deretan benda-benda di meja tersebut.
Sampai saat dirinya sudah mulai kepo dengan benda-benda yang dimiliki oleh Leon dan dirinya juga berniat untuk membuka laci meja tersebut, aksinya itu terpaksa harus terhenti saat suara seseorang masuk kedalam indra pendengarannya.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk? Dan apa yang sedang kamu lakukan?" suara bariton dari Leon membuat Edrea kini memutar tubuhnya hingga menghadap kearah kekasihnya yang tengah berdiri tegap dengan pakaian santainya ditambah rambut yang terlihat basah dan itu membuat Edrea tampak melongo menatap kekasihnya itu.
"Alamak, ganteng banget sih pacar gue. Duh kalau tau modelan aslinya begini mah dari dulu gue mau sama dia. Ehh tapi kan emang udah dari kecil kita saling suka. Uhhhh emang pintar banget gue cari pasangan dari dulu," batin Edrea menggebu-gebu. Bahkan saking asiknya ia menatap Leon sampai ia tak sadar jika dirinya tak menjawab pertanyaan dari Leon. Hingga akhirnya Leon kembali angkat suara.
"Jika tidak ada hal yang penting, silahkan keluar," usir Leon yang membuat Edrea kini mengerjabkan matanya berkali-kali untuk mengembalikan kesadarannya..
"Ck, ayang mah galak ih. Gak boleh galak-galak tau sama pacar sendiri tuh. Dan daripada marah-marah dari tadi mending ayang duduk sini deh," ucap Edrea sekaligus untuk mencairkan suasana yang tadinya memanas.
Leon yang mendapat ajakan itu sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
"Haish ayang mah lama," ujar Edrea dan dengan cepat ia menarik paksa tangan Leon. Tapi sayangnya tangannya itu terlepas saat Leon menghempaskan tangannya dengan sangat kasar.
"Aws," rintih Edrea sembari memegangi pergelangan tangannya.
"Hiks sakit," sambungnya dengan air mata yang mulai keluar.
Leon yang sepertinya tadi masih terbawa emosi hingga membuat dirinya bersikap kasar pun kini hatinya mulai melunak kembali bahkan kini ia sangat khawatir dengan keadaan Edrea.
__ADS_1
"Mana yang sakit hmmm? katakan?" tanya Leon sembari mencoba memegang tangan Edrea tapi kini giliran Edrea yang menghindari sentuhan tangan Leon.
"Menjauhlah dariku. Aku tidak mau berdekatan dengan laki-laki kasar seperti kamu, hiks aws," tutur Edrea diakhiri dengan rintihannya.
"Maaf, bukan maksudku bersikap kasar tadi," ucap Leon dengan melangkahkan kakinya mendekati Edrea..
"Aku bilang jangan mendekatiku, menjauhlah dariku!" teriak Edrea dengan sangat keras dan untungnya kamar tersebut kedap suara jadi kegaduhan yang mereka ciptakan tak bisa didengar oleh orang-orang di luar kamar tersebut.
"Aku benci kamu," sambung Edrea dan setelahnya ia dengan cepat berjalan menuju pintu kamar tersebut tapi saat dirinya hampir saja meraih kenop pintu, pergerakannya terhenti saat ia merasakan dekapan erat dari belakang tubuhnya.
"Lepas!" berontak Edrea mencoba melepaskan pelukan dari Leon tersebut.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan pelukan ini jika kamu tidak mau memaafkanku," tutur Leon.
"Aku benar-benar tidak sengaja bersikap kasar seperti tadi. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku," sambung Leon.
"Maaf, aku benar-benar khilaf sayang. Aku tidak bermaksud melukai kamu, aku tidak bermaksud bersikap kasar seperti tadi. Aku mohon sayang maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi bahkan tidak akan pernah melakukannya sampai kapanpun. Sayang maafkan aku," tutur Leon dengan tatapan tulusnya.
"Hiks tapi ini sakit banget," rengek Edrea sembari menunjukkan tangannya.
"Disebelah mana yang sakit hmmm?" tanya Leon dengan khawatir.
"Disini," ucap Edrea sembari menujuk kearah pergelangan tangannya. Leon yang sudah mengetahui titik kesakitan yang dirasakan oleh Edrea pun dengan perlahan ia memegang tangan Edrea lalu ia mengecup pergelangan tangan tersebut diakhiri dengan ia mengelus lembut tangan Edrea.
"Maaf," ucap Leon kembali.
"Aku maafkan kamu tapi jangan kasar lagi seperti tadi dan jangan marah-marah lagi," ujar Edrea dengan kerucutan di bibirnya.
Dan hal tersebut membuat Leon kini tersenyum kemudian ia memeluk tubuh Edrea.
__ADS_1
"Iya sayang, aku janji," ucapnya dengan memberikan kecupan hangat di pelipis Edrea.
Sedangkan Edrea yang tadinya menangis bombay kini ia justru tersenyum sangat lebar.
"Yessss, berhasil," batinnya setelah ia berhasil menipu Leon dengan berpura-pura kesakitan hanya untuk melunakkan hati laki-laki tersebut. Padahal apa yang di lakukan Leon tadi sama sekali tak memberikan dampak sedikitpun ke tubuh Edrea. Tapi justru dengan kejadian tadi, ia bisa memanfaatkannya hingga membuahkan hasil yang memuaskan.
"Masih sakit tangannya?" tanya Leon saat pelukan mereka sudah terlepas.
"Tanganku sudah baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang sekarang tengah tidak baik-baik saja," ucap Edrea.
"Dan hal itu adalah diri kamu yang sekarang penuh luka. Tapi tenang saja aku sudah bawakan kamu Kompresan dan P3K buat ngobatin luka kamu," ujar Edrea dengan senyum lebarnya.
"Jadi niat kamu ke kamarku tadi untuk mengobati lukaku?" tanya Leon yang sekarang mengikuti langkah Edrea.
"Benar sekali," jawab Edrea penuh dengan semangat.
"Sekarang kamu duduk dan biarkan aku yang mengobati luka kamu ini," ujar Edrea sembari mendudukkan tubuh Leon di atas ranjang.
Dan tak berselang lama tangannya dengan cekatan mengobati luka Leon hingga selesai walaupun sesekali Leon merintih kesakitan dengan suara yang terus mengintruksi Edrea agar ia pelan-pelan dalam mengobati lukanya itu.
"Selain diwajah, ada luka lain tidak?" tanya Edrea yang dijawab gelengan kepala oleh Leon.
"Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat gih, pasti tubuh kamu capek hari ini. Aku keluar dulu, good night sayang," ucap Edrea diakhiri dengan memberikan kecupan di dahi Leon. Dan saat dirinya ingin mengambil peralatan yang ia gunakan untuk mengobati laki-lakinya tadi, Leon justru lebih dulu menarik tubuhnya hingga ia kini terduduk di pangkuan Leon.
"Tetap disini, temani aku hingga aku tidur," bisik Leon tepat di telinga Edrea dan hal tersebut langsung membuat bulu kuduk Edrea berdiri. Dan belum sempat ia mensetujui ucapan dari Leon tadi, kekasihnya itu langsung saja memindahkan tubuhnya di atas ranjang kamar tersebut. Bahkan tubuhnya kini menegang saat Leon ikut berbaring disampingnya dengan tangan yang sudah melingkar indah di pinggang Edrea.
"Aku mau di puk-puk sayang sampai aku tidur," pinta Leon kemudian ia menyembunyikan wajahnya di leher Edrea.
Sedangkan Edrea yang sedari tadi hanya diam terpaku dengan merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang pun, ia tak bisa menolak permintaan Leon tadi, hingga kini tangannya bergerak untuk menepuk punggung Leon dan sesekali ia mengelus rambut kekasihnya tersebut.
__ADS_1