
Saat laki-laki berbadan tinggi tadi sudah keluar dari ruangan tersebut, laki-laki berambut gondrong menatap Zea seolah-olah ia sudah siap untuk memakannya. Dan saat laki-laki itu mulai mencondongkan tubuhnya ingin mencium Zea, Zea lebih dulu menghindari ciuman tersebut.
"Bukankah aku tadi sudah bilang kalau kita mau memulai berhubungan badan semua tali yang ada di tubuhku harus di hilangkan dulu," ujar Zea tanpa menatap wajah laki-laki tersebut. Namun ia masih bisa mendengar decakan kesal dari laki-laki tersebut sembari menjauhkan wajahnya dari depan wajah Zea.
Dan setelahnya terlihat tangan laki-laki itu bergerak untuk melepaskan semua ikatan di tubuh Zea mulai dari kaki hingga tangannya.
Zea yang sudah tak merasakan sakit akibat tekanan dari tali tersebut, ia kini bisa menghela nafas lega.
"Sekarang sudah siap bukan?" ucap laki-laki tersebut sembari membuka bajunya.
"Tentu saja. Tapi kejar aku dulu. Wleee," tutur Zea yang sudah berdiri dari duduknya dan kini ia mulai berlari dengan sesekali menjulurkan lidahnya kearah laki-laki tadi.
Laki-laki tersebut yang melihat hal itu tampak tersenyum, "Sepertinya kamu mau melakukan pemanasan dulu. Baiklah aku akan menurutinya. Tapi jika aku berhasil menangkap kamu, siap-siap saja kamu tidak bisa berjalan setelahnya," tuturnya.
"Siapa takut. Wleee," ucap Zea yang seakan-akan menantang laki-laki tersebut hingga akhirnya laki-laki itu mengejar dirinya.
Dan terjadilah kejar-kejaran diantara dua manusia berbeda usia itu hingga laki-laki tersebut berhasil menangkap Zea dan mendorong pelan tubuh Zea hingga terpentok di tembok ruangan tersebut.
"Kamu tidak akan bisa lari lagi dariku," ujar laki-laki tersebut sembari mendekati Zea.
Zea yang melihat hal tersebut tampak menelan salivanya dengan susah payah. Namun sesaat setelahnya senyuman terukir indah di bibirnya dan saat wajah keduanya hampir saja bersentuhan Zea lebih dulu meluruhkan tubuhnya. Lalu ia keluar dari kuncian laki-laki tersebut. Dan hal tersebut justru membuat laki-laki itu merasa semakin tertantang.
__ADS_1
Tapi saat dirinya baru saja memutar tubuhnya, kepalanya langsung merasakan hantaman benda dengan cukup keras hingga membuat dirinya ambruk seketika dengan mata yang sudah mulai tak bisa melihat apapun.
Zea yang merupakan pelaku dari pemukulan tersebut pun ia kini tersenyum tapi untuk memastikan jika lawannya itu sudah benar-benar tak sadarkan diri. Zea kembali mengayunkan sebuah linggis besi tepat di kepala laki-laki tersebut yang mengakibatkan darah segar kini keluar dengan begitu deras.
Setelahnya Zea kini menjongkokan tubuhnya untuk memeriksa denyut nadi dari orang yang telah ia pukul tadi.
"Huh aman, setidaknya dia tidak mati di tempat. Lagian enak aja mau nikmatin tubuh gue, emang lo pikir gue wanita murahan apa? Huh menyebalkan," ucap Zea dengan omelan yang terus terucap di bibirnya sembari tangannya kini bergerak mencari sesuatu yang di bawa oleh laki-laki tersebut.
"Selain pistol apa tidak ada yang lain? Terus terang aja nih ya, gue gak bisa pakai beginian," gumam Zea.
Namun hal tersebut tak membuat Zea menyerah, ia justru semakin gencar mencari benda yang bisa ia bawa kemana-mana karena tidak mungkin ia membawa linggis besi itu kemana-mana nantinya.
Dan pencariannya kini terhenti saat ia melihat sesuatu yang sangat familiar dengannya di balik baju yang sudah tergeletak ditempatnya di ikat tadi. Ia segera bergerak menghampiri baju tersebut untuk mengambil senjata tajam itu dari balik baju tersebut.
Lalu setelahnya, ia segara berjalan menuju pintu keluar.
Dengan perlahan, ia membuka pintu ruangan tersebut agar laki-laki berpawakan tinggi tadi tak menyadari jika dirinya akan keluar dari ruangan tersebut. Dan setelah memastikan keadaan luar aman juga laki-laki yang menjaga pintu itu tengah menatap kearah depan, Zea mulai keluar dari ruangan tersebut dan segera mendekati laki-laki itu. Saat ia sudah sampai, ia menutup mata laki-laki tersebut dari belakang.
"God bye Om," bisik Zea sembari menggoreskan pisau tadi tepat di leher laki-laki tersebut dan tanpa menunggu laki-laki itu merintih kesakitan, Zea dengan cepat memindahkan posisi pisau itu kearah ulu hati laki-laki tersebut.
Dan dengan tangan yang bergetar, ia menusuk ulu hati laki-laki itu hingga ia merasakan darah segar mengalir melewati tangannya dibarengi dengan suara rintihan laki-laki tersebut, "Arkhhhh," desisnya sebelum tubuhnya mulai melemas dan bertepatan dengan itu pula Zea melepaskan tangannya dari mata laki-laki tersebut dan ia juga tak lupa mencabut pisau tadi dari ulu hati laki-laki tadi.
__ADS_1
Zea yang tak pernah melakukan hal seperti itu pun ia tampak terbengong sesaat sebelum akhirnya keterbengongan itu tersadar saat ia mendengar suara langkah kaki yang tampak mengarah ke tempatnya saat ini.
Dan hal tersebut membuat Zea dengan secepat mungkin berlari dari tempat tersebut untuk mencari tempat persembunyiannya.
"Apa yang terjadi di sini!" ucap salah satu orang yang baru sampai di tempat tadi. Dan salah satu dari mereka memeriksa denyut nadi dari laki-laki berpawakan tinggi tersebut dan sisanya tanpa di perintahkan mereka langsung bergerak masuk kedalam ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan di dalam ruangan itu.
"Denyut nadinya mulai melemah," ucap orang tersebut sesudah memeriksa denyut nadi laki-laki berpawakan tinggi itu.
Dan tak berselang lama, terlihat orang-orang yang memeriksa ruangan tadi mulai keluar satu persatu dengan membawa tubuh laki-laki gondrong tadi.
"Perempuan yang ada di dalam sudah tidak ada di tempat dan justru kita menemukan Andi sudah tidak bernyawa lagi. Dan sudah bisa dipastikan penyebab semua ini adalah perempuan itu," ujar orang yang tadi masuk kedalam ruangan tersebut.
"Sialan! Cari perempuan itu dan jika kalian menemukannya langsung bunuh saja. Dan aku yakin dia sekarang masih ada disekitar sini," ucap salah satu orang yang sepertinya memiliki jabatan tinggi dari beberapa orang di sekelilingnya itu. Dan perintahnya tadi langsung membuat semua teman-temannya berpencar ke segala penjuru arah untuk mencari keberadaan Zea.
Sedangkan Zea yang mendengar semua percakapan tadi dan sekarang ia tengah bersembunyi di balik tembok ruangan tersebut, ia membungkam mulutnya agar orang-orang disana tak mengetahui dirinya.
"Gue harus bagaimana sekarang? Mau keluar dari sini tapi gue belum nemuin Mommy sekarang ada dimana? Tapi kalaupun gue nemuin Mommy, gue yakin semuanya tidak akan mulus karena pastinya akan banyak orang yang menghalangi jalan kita buat keluar nanti. Dan gue tidak mungkin bisa buat ngelawan mereka sendirian. Walaupun nantinya berhasil membawa Mommy keluar dari ruang penyekapannya, kita mau keluar lewat mana? Karena gue yakin di setiap titik tempat ini pasti ada orang yang menjaganya. Tapi kalau gue terus bersembunyi disini, gak mungkin karena saat matahari nanti muncul, gue akan ketahuan juga. Ya Tuhan, gue harus gimana?" batin Zea yang mulai tak tenang.
Dan saat ia memikirkan bagaimana ia bisa keluar dengan Mommy Della, tiba-tiba suara seseorang terdengar begitu dekat dengan tempatnya berada sekarang.
"Kenapa disini ada bercak darah?" ucap orang tersebut.
__ADS_1
"Dan bercak darah ini jika ditelusuri mengarah ke tubuh teman kita dan berakhir kesini. Eh sebentar, masih ada lagi bercak darahnya. Kita ikuti arah bercak darah ini. Karena aku yakin bercak darah ini lah yang akan mengantarkan kita untuk menemukan perempuan itu," ucapnya. Dan dengan di bekali lampu senter mereka mulai mengikuti arah bercak darah tersebut perlahan tapi pasti.