The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 37


__ADS_3

Saat Erland dan Kayla yang sudah berada di depan kelas Kayla, bertepatan dengan itu pula Zea keluar dari kelasnya yang kebetulan bersebelahan dengan kelas Kayla itu.


Ia tersenyum dan ketika dirinya ingin menghampiri kedua orang tadi, matanya tak sengaja menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Senyum yang tadi mengembang pun kini luntur dan ia pun mengurungkan niatnya tadi untuk menghampiri mereka. Namun ia masih saja menatap kearah dua insan beda jenis kelamin tersebut.


Dan disisi lain juga terdapat Azlan yang baru kembali dari kamar mandi dan kini ia mematung kala melihat apa yang di lihat oleh Zea tadi.


Sedangkan dua orang yang tak menyadari tatapan Azlan dan Zea dari kejauhan pun terlihat biasa saja. Hingga tangan yang saling bertautan tadi terlepas.


"Masuk sana," perintah Erland.


Kayla pun mengangguk dan segera memutar tubuhnya untuk segera masuk kedalam kelas, tapi baru beberapa langkah saja dirinya berhenti dan memutar kembali tubuhnya.


"Er," panggil Kayla.


Erland yang masih di tempatnya tadi, memincingkan alisnya.


"Hmm," jawabnya dengan singkat.


"Makasih udah bantuin gue masuk tadi," ucap Kayla tulus.


"Hmm," jawab Erland dengan deheman.


"Ck, jawab sama-sama gitu kek. Masak jawabnya hmmm terus," protes Kayla.


"Bawel," tutur Erland dan beranjak pergi dari hadapan Kayla.


Kayla mengerucutkan bibirnya dan kembali memutar tubuhnya untuk melanjutkan langkahnya tadi yang sempat terhenti.


Sedangkan disisi lain Azlan menghela nafas saat dadanya begitu sakit kala melihat Kayla bersama dengan Erland. Dia tau jika selama ini perasaannya dengan Kayla tidak hanya sekedar teman, sahabat atau sejenisnya melainkan sudah ketahap ia mencintai gadis itu yang entah sejak kapan perasaan itu tumbuh dihatinya.


Tak berbeda dengan Azlan, Zea pun juga merasakan hal yang sama. Rasa sesak dan sakit di dadanya terasa begitu nyeri melihat laki-laki yang ia cintai bersama dengan wanita lain. Bahkan wajah yang sering terlihat ceria itu kini murung, cairan bening pun ikut keluar dari mata cantiknya itu.


"Sakit," gumamnya sembari memukul-mukul dadanya sendiri. Hal itu ternyata disaksikan oleh Azlan yang tadi hendak masuk kedalam kelas yang sama dengan kelas Kayla tadi.


Azlan kini mengurungkan langkahnya untuk masuk ke kelas melainkan ia membelokkan jalannya kearah Zea yang masih saja memukul-mukul dadanya dengan bersandar di tembok.


"Lo kenapa?" tanya Azlan saat dirinya sudah berada di depan Zea.

__ADS_1


Zea yang tadi menundukkan kepalanya kini mendongak, melihat wajah Azlan. Setelah itu ia menghapus kasar air matanya tadi.


"Ah gak kok gue gak papa," ucapnya berbohong.


Azlan menghela nafas, lalu ia mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Zea.


"Ikut gue," ucap Azlan.


"Kemana?" tanya Zea.


"Nanti juga tau," jawab Azlan. Zea pun hanya terdiam dan mengikuti setiap langkah lebar milik Azlan itu hingga mereka berdua sampai di rooftop sekolah tersebut.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Zea.


"Nenangin pikiran," jawab Azlan setelah itu ia melepas genggaman tangannya dan beranjak ke ujung rooftop tersebut yang terhalang dengan tembok pembatas.


Zea pun juga mengikuti langkah Azlan hingga ia berdiri di samping laki-laki tersebut.


"Lo suka sama Erland kan?" tanya Azlan tiba-tiba.


Zea terdiam sesaat.


Zea pun menghela nafas.


"Kalau lo udah tau kenapa masih nanya?" kesal Zea.


"Sebenarnya kita cuma teman, tapi lo tau sendiri, tak mungkin seorang pria dan wanita yang udah lumayan lama berteman tak akan menimbulkan rasa sayang atau nyaman sedikitpun. Rasa itu pasti akan timbul dari salah satunya atau mungkin juga dua-duanya," sambung Zea sembari membalikan badannya dan bersandar di pembatas rooftop tersebut.


Azlan pun ikut memutar tubuhnya dan melakukan hal sama seperti Zea.


"Kalau lo suka sama Erland, kenapa lo gak nyatain ke dia?" tanya Azlan kepo.


"Gue gak berani, Az. Gue takut, saat gue nyatain apa yang gue rasain, Erland akan nolak gue bahkan jauhin gue. Gue gak bisa kalau harus berjauhan dengan dia Az, secara dia teman gue pertama kali saat masuk di sekolah ini," curhat Zea.


Azlan pun mengangguk paham.


"Jadi apa yang mau lo lakuin?" tanya Azlan lagi.

__ADS_1


"Entahlah gue juga gak tau apa yang akan gue lakuin selanjutnya. Mungkin gue akan nyerah dan pendam perasaan ini untuk gue sendiri walaupun itu sakit buat gue. Tapi gue juga gak mau egois, mengedepankan perasaan gue dan memaksa Erland untuk suka sama gue," ucap Zea sendu.


"Gue akan ikhlasin dia untuk wanita lain, Az asalkan dia bahagia," sambungnya dengan air mata yang kembali menetes.


Azlan tersenyum kala Zea berkata seperti itu. Ia bertanya seperti tadi karena ia khawatir kalau Zea akan berbuat nekat dan mencelakai Kayla tapi pikiran negatifnya itu bertolak belakang dengan keikhlasan seorang Zea, wanita dengan ke bar-barannya itu.


Dan ia juga akan berusaha untuk menghilangkan rasa sukanya kepada Kayla dan mengikhlaskan wanita tersebut kedalam pelukan saudara kembarnya sendiri.


"Lo nangis?"


"Gak, gue gak nangis. Gue lagi ketawa. Lo masih aja nanya padahal udah tau kenyataannya," geram Zea.


"Owh ketawa," ucap Azlan.


"Azlan!!!" kesal Zea sembari memukul lengan Azlan beberapa kali.


"Aw. Tenaga lo ternyata kuat juga ya," ucap Azlan sembari memegangi kedua tangan Zea yang digunakan untuk memukul lengannya tadi.


"Lepasin."


"Gak akan. Sebelum gue balas pukulan lo tadi," tutur Azlan hanya untuk menakut-nakuti Zea. Mana mungkin ia berani melakukan hal itu kepada wanita yang nantinya akan membuat dirinya sendiri menyesal ditambah jika Mommy Della tau sudah dipastikan hidupnya tak akan tenang lagi.


Zea membelalakkan matanya. Jangan sampai Azlan melakukan hal itu kepada dirinya, ia harus memikirkan cara agar Azlan tak membalasnya dan juga melepaskan kedua tangannya.


Sesaat setelahnya ide di otak cerdas itu muncul yang membuat Zea tersenyum penuh arti. Dan tanpa basa-basi lagi ia langsung melancarkan idenya dengan menginjak kaki Azlan dengan cukup keras dan menendang tulang kering Azlan yang membuat sang empu langsung menggeram kesakitan tak lupa cekalan tangannya tadi juga terlepas.


"Rasain. Wlekkk," ucap Zea sembari menjulurkan lidahnya, mengejek Azlan sebelum dirinya berlari jauh dari hadapan Azlan.


Azlan yang mendapat serangan tiba-tiba dari Zea pun tak merasa kesal sedikitpun, ia malah tersenyum. Entah apa yang terjadi pada dirinya saat ini, tadi saja ia merasa sakit hati melihat Kayla bersama Erland tapi rasa sakit itu kini hilang saat melihat Zea kembali ceria seperti biasanya. Ahhhh sangat membingungkan sekali memang.


...----------------...


Happy reading semuanya 🤗


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah ya biar author kembali semangat buat nulisnya🤗 Karena akhir-akhir ini mood untuk nulis tiba-tiba down gitu aja apalagi saat lihat likenya semakin hari semakin turun. Huhuhu mengsedih 😭


Dan author ucapkan terimakasih kepada semuanya yang udah setia baca cerita ini 🤗

__ADS_1


Kalau ada typo tolong kasih tau author, oke😗


Stay safe, stay healthy and stay with me 🤗 See you next eps bye 👋


__ADS_2