
Adam terus mengelus punggung Edrea, mencoba memberikan ketenangan untuk gadis yang berada di dekapannya itu.
"Kenapa nangis hmmm?" tanyanya.
"Hiks Mommy bang," jawab Edrea yang membuat Adam mengerutkan keningnya bahkan tiba-tiba perasaan menjadi tak tenang. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Mommy Della? Tapi perasaan beberapa menit yang lalu sebelum dirinya ke kamar Edrea, dia dan Mommy Della juga tengah berbincang-bincang seperti biasa lewat telepon. Dan tak ada hal aneh dari percakapan itu. Tapi kenapa Edrea sekarang menyebut nama Mommy Della dengan tangis sesegukan? atau jangan-jangan Mommy Della sebenarnya menyembunyikan sesuatu darinya yang tak ingin Adam mengetahui hal itu? Jika benar, Adam akan sangat menyesal karena kurang peka terhadap apa yang tengah menimpa Mommy Della sekarang.
"Mommy kenapa?" tanya Adam dengan mengigit bibir bawahnya guna untuk menyembunyikan rasa khawatirnya.
Edrea melepaskan pelukannya dan menatap wajah Adam.
"Mommy marah sama Rea, bang. Hiks," jerit Edrea histeris yang membuat Adam dengan reflek menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Lagi nangis, masih aja bisa teriak-teriak gak jelas. Jangan gitu nanti kalau teman kamu yang menginap disini dengar kamunya sendiri yang malu," ucap Adam. Edrea kembali mengerucutkan bibirnya kedepan lalu ia kembali memeluk tubuh Adam.
Sedangkan Adam, ia sekarang menghela nafas lega saat mendengar alasan Edrea menangis bukan karena Mommynya tengah kenapa-napa tapi menangis karena habis kena marah oleh ibu negara.
"Hiks bantu Rea buat bujuk Mommy, bang," pinta Edrea.
"Sebisa mungkin Abang bantu kamu. Tapi kita duduk dulu yuk, pegal nih kalau kelamaan berdiri begini." Edrea melepaskan pelukannya lalu ia mendudukkan tubuhnya diatas kasur dikamar tersebut diikuti oleh Adam yang juga terduduk disampingnya.
"Coba cerita alasan kenapa Mommy bisa marah sama kamu?" Edrea tampak terdiam sesaat dengan pandangan lurus kedepan.
__ADS_1
"Jika kamu gak mau cerita, Abang gak akan bantuin kamu buat baikan sama Mommy," tutur Adam sembari berdiri dari duduknya dan berniat pergi dari kamar Edrea. Tapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, pergelangan tangannya di cekal oleh Edrea.
"Rea akan cerita. Tapi Abang harus bantuin Rea sampai Mommy maafin Rea." Adam menghela nafas kemudian ia menganggukkan kepalanya lalu ia duduk lagi.
"Jadi Rea tadikan lagi nonton film di laptop nah berulangkali ponsel Rea tuh bunyi dan beberapa kali Rea abaikan begitu saja hingga akhirnya Rea yang merasa terganggu dengan suara dering telepon, Rea langsung angkat telepon itu tanpa melihat nama dari si penelepon. Dan dengan lancangnya Rea marah-marah sama penelepon yang ternyata adalah Mommy," ucap Edrea dengan kepala yang tertunduk.
"Lebih parahnya lagi, Rea ngatain Mommy pengganggu," lanjutnya sembari mengusap air matanya yang kembali menetes.
Adam yang mendengar cerita dari Edrea pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Pantas saja Mommynya itu marah dengan si bontot. Jika dirinya berada di posisi Mommy Della, dia juga akan marah karena Edrea telah mengatainya pengganggu.
Tangan Adam kini menangkup kedua pipi Edrea yang membuat kepala sang empu kembali tegak dan matanya kini saling beradu pandang dengan mata Adam.
"Lain kali kalau ada telepon lihat dulu namanya walaupun kamu tengah sibuk atau tengah asik-asiknya nonton. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi. Dan jika Abang di posisi Mommy, Abang juga akan marah sama kamu. Apalagi Mommy adalah wanita yang udah melahirkan kamu dan kamu dengan entengnya ngatain beliau seperti itu, Abang yakin pasti Mommy sekarang sakit hati sama perkataanmu itu," tutur Adam yang semakin membuat pikiran Edrea kalut.
Adam melepaskan tangannya dari pipi Edrea.
"Abang juga gak tau. Kalaupun Abang bantu kamu buat bicara sama Mommy, Abang gak yakin kalau bantuan Abang itu berhasil," tutur Adam.
"Abang, Rea mohon bantu Rea buat bujuk Mommy biar maafin Rea." Edrea menyatukan kedua tangannya, memohon agar Adam mau berusaha membantunya.
Adam yang tak tega melihat kesedihan diwajah Edrea pun ia kini menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan dari permohonan dari Edrea tadi. Walaupun ia tak yakin jika itu berhasil tapi setidaknya ia mencobanya dulu.
__ADS_1
Edrea yang melihat persetujuan itu pun kembali memeluk tubuh Adam dengan senyum yang mengembang.
"Terimakasih Abangku yang paling baik dan tampan," ucap Edrea.
"Muji kalau ada maunya aja," sindir Adam.
"Aku bilang fakta tau bang bukan hanya sekedar muji doang," tutur Edrea yang sudah melepaskan pelukannya.
Adam memutar bola matanya malas kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Abang mau kemana?" tanya Edrea.
"Katanya suruh bantu kamu buat bujuk Mommy biar cepat maafin kamu. Ya sekarang Abang mau ke kamar dan telepon Mommy lah. Apa kamu sekarang berubah pikiran untuk tidak melibatkan Abang dalam masalah kamu sama Mommy?" Edrea dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku masih butuh bantuan Abang. Sana gih Abang ke kamar dan telepon Mommy." Edrea mendorong pelan tubuh Adam hingga sampai keluar dari kamar tersebut.
"Semangat Abang. Semoga bisa meluluhkan hati Mommy. Rea juga akan berusaha buat cari cara lain supaya Mommy cepat maafin Rea. Fighting untuk kita berdua," tutur Edrea dengan semangat bahkan tangannya kini mengepal dan ia acungkan ke udara.
Sedangkan Adam, laki-laki itu tak menggubris celotehan dari Edrea tadi dan ia memilih langsung menuju ke kamarnya sebelum gendang telinganya rusak karena mendengar suara teriakan cempreng dari Edrea itu.
Setelah memastikan Adam benar-benar masuk kedalam kamar pribadinya, barulah Edrea kembali masuk kedalam kamarnya. Ia sangat bersyukur karena memiliki seorang Kakak yang selalu mengerti keadaannya dan selalu membantu dirinya saat kesusahan. Walaupun Adam dan dirinya tak memiliki ikatan darah yang sama yang mengalir di tubuh mereka tapi ikatan batin Adam dan dirinya bahkan juga kedua saudara kembarnya itu sangatlah kuat. Maka tak diragukan lagi jika orang awam yang tak mengetahui seluk-beluk keluarga itu, pasti akan menganggap Adam adalah anak kandung pertama dari keluarga Aiden Abhivandya.
__ADS_1
Dan jika saja Edrea tak memiliki Kakak angkat sebaik Adam mungkin dirinya akan kesusahan dalam menghadapi setiap masalah seperti saat ini sendiri. Karena jika ia meminta bantuan dengan kedua kembarannya itu, sudah bisa ia pastikan jika keduanya tak akan membantunya dan dia akan diejek habis-habisan oleh mereka lebih parahnya lagi Azlan dan Erland akan menjadi kompor meleduk yang mempengaruhi Mommy Della supaya semakin marah dengannya. Menyebalkan memang memiliki saudara kandung yang kelakuannya sangat-sangat menyebalkan, tapi dia juga sangat bersyukur karena dibalik kelaknatan Azlan dan Erland, mereka berdua tetap peduli dengan Edrea dan akan menjadi perisai terdepan jika nyawa Edrea terancam.