The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 160


__ADS_3

Kini triplets tengah berkumpul di ruang keluarga dengan kesibukan masing-masing dan tatapan mata mereka yang tadinya fokus ke ponselnya kini setelah mendengar ucapan dari Edrea, kedua laki-laki itu juga ikut menolehkan kearah sumber suara.


"Abang mau kemana?" tanya Edrea sedikit berteriak saat dirinya melihat Adam baru turun dari anak tangga dengan tampilan yang begitu rapi.


Adam mendengus kemudian ia mendekati triplets.


"Abang ada urusan sebentar. Kalian jangan kemana-mana, ini udah sore. Kalau ada keperluan yang mengharuskan kalian keluar, telepon Abang dulu nanti," ujar Adam yang diangguki oleh Azlan dan Erland.


"Urusan sama siapa?" kepo Edrea.


"Kamu mau tau?" Dengan polosnya Edrea menganggukkan kepalanya.


"Kepo!" Edrea mencebikkan bibirnya saat Adam tak menjawab dengan serius pertanyaannya tadi.


"Emang Abang udah sembuh?" tanya Erland.


"Udah. Tadi kan cuma kecapekan lagian Abang juga udah minum obat. Jadi sakitnya sekarang udah hilang," jawab Adam


"Ya udah, Abang pergi dulu. Ingat jangan kemana-mana!" lagi-lagi mereka hanya menganggukkan kepalanya selain Edrea yang masih mengerucutkan bibirnya.


"Assalamualaikum," pamitnya.


"Waalaikumsalam." Kini Adam benar-benar menjauh dari ketiga adiknya itu dan menuju ke pintu utama. Dan saat dirinya membuka pintu utama tersebut, bertepatan dengan itu pula dari luar terdapat seorang perempuan yang juga tengah mendorong pintu tadi.


Dan saat pintu itu benar-benar terbuka, Adam mengerutkan keningnya begitu juga dengan perempuan itu yang tak lain adalah Vivian.


"Maaf cari siapa ya?" tanya Adam. Vivian yang tadinya terbengong melihat Adam pun kini mengerjabkan matanya.


"Ahhhh itu saya---" belum sempat ucapannya tadi selesai, suara Edrea dari belakang Adam terdengar nyaring yang membuat keduanya langsung menoleh kearah sang empu.

__ADS_1


"Itu Kak Vivian, bang," tutur Edrea. Adam yang masih tak tau dan mengenali wajah baru itu pun lagi-lagi ia mengerutkan keningnya.


"Teman kamu?" tanya Adam.


"Hmmmm bisa dibilang begitu tapi Rea lebih menganggap Kak Vivian tuh Kakak Rea sendiri," jawab Edrea yang membuat Adam mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh ya. Kak Vi, kenalin ini bang Adam. Anak tertua dari keluarga Abhivandya. Dan bang Adam, ini Kak Vivian yang bantu kita memecahkan masalah selama ini," ucap Edrea mengenalkan keduanya. Adam maupun Vivian kini mengulurkan tangannya dan saling berkenalan satu sama lain walaupun hanya senyum yang mereka lemparan satu sama lain tanpa berucap sepatah katapun dari bibir mereka masing-masing.


Tapi Vivian lagi-lagi terbengong dengan pikirannya.


"Apa ini Kakak yang dimaksud sama triplets? yang kamarnya gak boleh dimasuki itu? Tapi kenapa namanya beda? Dan nama yang disebut triplets waktu itu kalau gak salah Aila, dan Aila tuh nama buat anak perempuan. Ya kali mereka typo bicara, Adam sama Aila tuh jauh banget lho. Tapi jika yang dimaksud triplets itu beda dengan orang yang aku lihat sekarang, berarti mereka masih punya Kakak lainnya dong. Tapi kenapa dia gak pernah muncul atau mungkin dia lagi kerja kalau gak kuliah diluar negeri kali ya. Hmmm bisa jadi," batin Vivian.


"Tapi tunggu sebentar, wajah laki-laki ini terlihat sangat familiar. Apa aku pernah ketemu sama dia? tapi dimana? kenapa aku gak ingat sama sekali?" Sambungnya sembari terus melihat ke wajah Adam.


"Kak Vi. Hey!" Edrea melambai-lambai tangannya tepat didepan wajah Vivian.


"Ah eh ya ada apa?" tanya Vivian gelagapan.


"Abang pergi dulu," timpal Adam mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Hati-hati," tutur Edrea yang dibalas senyuman oleh Adam.


Mereka berdua terus melihat kearah Adam hingga sang empu masuk kedalam mobil dan mobil itu telah pergi dari pekarangan rumah tersebut.


"Masuk Kak. Kakak bersih-bersih dulu habis itu nanti makan, oke." Vivian tersenyum kemudian mengangguk lalu mereka berdua masuk kedalam rumah tadi.


Sedangkan Adam yang tengah berada didalam perjalanan menuju ke suatu tempat pun kini tampak memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Wajah perempuan itu seperti sangat familiar. Terutama matanya sama seperti mata dia. Arkhhhh." Adam memijit pangkal hidungnya dengan tangan yang satunya ia gunakan untuk menyetir mobilnya.

__ADS_1


Hingga tak berselang lama dirinya telah sampai disalah satu cafe yang dulu sering ia kunjungi bersama dengan seseorang yang setiap hari selalu ia rindukan kehadirannya.


Adam menghela nafas sebelum dirinya masuk kedalam cafe tersebut yang akhir-akhir ini sangat jarang ia kunjungi dan cafe itu ternyata tak banyak yang berubah.


Adam kini bergegas menuju lantai dua setelah ia memesan satu buah minuman dan dessert.


Saat sudah berada dilantai dua, ia mendekati salah satu bangku yang masih kosong dan bangku tersebut kebetulan menghadap kearah jalan raya yang begitu ramai. Ia menghela nafas saat kenangan manis di masa lalunya itu berputar di otaknya.


Rindu? jelas. Jika tidak rindu kenapa dia harus kesini dan mengenang masa-masa 8 tahun yang lalu saat dia masih menjadi anak SMA yang tentunya masa-masa itu juga adalah masa dimana dirinya bertemu dengan perempuan yang membuatnya jatuh cinta hanya dalam pandangan pertama.


Dan gambaran akan masa lalu itu kini terpecah saat pelayan cafe mengantarkan pesanannya.


"Terimakasih," ucap Adam dengan senyumnya.


"Selamat menikmati," tutur pelayanan tersebut yang diangguki oleh Adam. Dan setelah pelayan tadi pergi, Adam menatap ke sebuah dessert yang berada di depannya.


"Dulu kamu sangat suka makanan ini dan saking sukanya, kamu dulu tidak mau memesan makanan lain dan akan memenuhi perut kamu dengan dessert ini. Tapi sekarang, tak ada lagi yang merengek kepadaku hanya karena aku tidak mengizinkan kamu memakan terlalu banyak makanan manis. Aku rindu kamu, Sha. Kamu dimana sekarang? please kembali lah," tutur Adam dengan air mata yang kembali menetes tapi dengan cepat ia menghapusnya lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Hingga beberapa saat kemudian, tepukan di bahunya membuat Adam melepaskan tangannya yang tadi ia gunakan untuk menutup wajahnya.


"Benarkan tebakanku. Kok sendiri aja bang, gak sama teman atau Azlan, Erland," sapa seseorang sembari duduk di kursi tepat didepan Adam.


"Lagi pengen sendiri aja tadi. Oh ya kamu juga kesini sendiri. Mana tuh teman-teman kamu yang selalu ngikutin kamu kemana aja?" tanya Adam sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Mereka lagi sibuk. Aku ganggu gak nih kalau ikut duduk disini?"


"Tenang aja. Kamu gak ganggu sama sekali Leon," tutur Adam.


"Bukannya tadi mau menyendiri?" goda Leon.

__ADS_1


"Itu kan tadi. Sekarang acara menyendirinya batal karena ada kamu. Kasih juga kan kalau aku usir, tempat disini juga udah penuh semua. Kamu mau duduk dimana coba kalau aku usir kamu? ya kali kamu duduk lesehan. Jadi berhubungan aku ini baik hati, maka aku izinkan kamu bergabung di meja ini dan membatalkan rencanaku tadi," ujar Adam yang membuat Leon terkekeh kecil. Entah apa yang lucu hingga membuat laki-laki yang terkenal dingin itu menampakkan tawanya begitu saja.


__ADS_2