
Zico kini telah sampai tempat tujuannya pertama kali saat berada di negara kelahirannya itu yaitu berkunjung ke rumah mewah yang sudah lama tak ia kunjungi. Ia menghela nafas saat dirinya melihat pagar rumah tersebut. Dan setelah memastikan jika dirinya benar-benar siap untuk mengulang masa lalunya, tangan Zico kini bergerak untuk menekan bel yang terletak di samping gerbang tadi.
Ting Tong!
Satu kali ia membunyikan bel tersebut dan beberapa saat setelahnya terlihat gerbang tersebut bergeser dan menampilkan seorang satpam yang tampak terkejut melihat kedatangan Zico.
"Tu---tuan muda," ucap satpam.
"Selamat sore Pak Li. Apa kabar?" ucap Zico hanya sekedar basa-basi saja dengan senyum yang mengembang.
"Selamat sore juga tuan muda. Kabar saya baik bahkan sekarang jauh lebih baik saat melihat tuan muda kembali. Tuan muda kemana saja selama ini?" ujar satpam tadi dengan menghapus air mata yang mulai merembes di ujung matanya.
"Saya tidak kemana-mana sebenarnya Pak. Hanya lagi mendinginkan otak saya saja. Btw Pak, saya boleh masuk?" tanya Zico pasalnya kakinya sudah kram karena tadi kelamaan di dalam mobil taksi dan pesawat.
"Eh aduhhh sampai lupa. Silahkan masuk tuan." Satpam tadi menggeser tubuhnya memberikan ruang agar Zico bisa masuk kedalam lingkungan rumah tersebut.
"Terimakasih Pak," ucap Zico yang diangguki satpam tadi.
"Oh ya apa dia ada di rumah?" tanya Zico yang membuat satpam tadi mengerutkan keningnya. Tak tau siapa yang dimaksud oleh Zico tadi.
Tapi sesaat setelahnya, satpam tadi mengangguk-anggukkan kepalanya sepertinya ia paham siapa yang dimaksud Zico tersebut.
"Oh beliau masih kerja tuan. Mungkin beberapa menit lagi pulang," ujar satpam tadi.
"Begitu rupanya. Baiklah saya akan masuk dulu. Jangan beritahu dia kalau saya ada disini," ucap Zico yang lagi-lagi mendapat anggukan dan sikap hormat dari satpam tadi.
Ia mengulas sebuah senyuman kepada satpam itu sebelum dirinya beranjak dari depan satpam menuju ke pintu utama rumah tersebut.
__ADS_1
Dan seperti sebelumnya, ia kini mengetuk pintu tersebut beberapa kali sebelum akhirnya pintunya itu terbuka lebar. Dan reaksi dari seseorang yang membukakan pintu untuknya tadi tak jauh berbeda dengan reaksi dari satpam tersebut.
"Ya Allah tuan!" teriak art tadi yang masih berdiri di depan pintu tersebut. Dan teriaknya itu membuat semua temannya berlari kearah sumber suara. Dan saat mereka melihat wajah Zico, lagi-lagi mereka terkejut dengan pancaran bahagia yang terpatri jelas di dalam raut wajah mereka. Kecuali beberapa art yang memang baru dan belum pernah melihat wajah Zico sama sekali yang hanya menatap teman-temannya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Zico tersenyum kearah mereka semua dengan mata yang menelusuri wajah para pekerja rumah tersebut sebelum penglihatannya berhenti di salah satu wanita paruh baya yang sekarang justru menangis dengan mulut yang ia tutup menggunakan kedua tangannya.
Zico yang melihat hal tersebut pun ia menaruh koper serta buket bunganya tadi sebelum dirinya berjalan menuju wanita tersebut.
"Ibu, tidak rindu sama Jio kah?" ucap Zico saat ia sudah berada di depan wanita tersebut. Dan hal itu justru membuat wanita dihadapannya langsung berhambur ke pelukan Zico.
"Ibu kangen. Ibu rindu sama kamu, nak. Hiks kamu kemana aja selama ini? Ibu khawatir sama kamu," ucap wanita paruh baya tersebut. Zico yang membalas pelukan wanita itu pun ia mengelus punggung wanita tersebut dengan sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Maafkan Jio, Bu yang sudah bikin ibu khawatir. Jio pergi hanya untuk mencari ketenangan saja. Maaf waktu itu Jio tidak pamit sama ibu. Maaf," ujar Zico penuh dengan penyesalan.
Wanita itu kini melepaskan pelukannya.
Hingga beberapa saat kemudian, pelukan itu terlepas.
"Jio sudah makan?" tanya wanita tersebut yang sudah berhenti menangis. Dan pertanyaannya tadi mendapat gelengan kepala dari Zico sebagai jawabannya.
"Ya sudah kalau gitu. Jio istirahat dulu biar ibu buatin Jio makanan. Jio mau makan apa hmm?" Zico tampak berpikir sejenak.
"Hmmmm apa aja deh. Jio akan suka jika ibu yang memasak," ucap Zico yang membuat wanita itu terkekeh.
"Baiklah kalau begitu ibu akan masak sekarang. Dan Jio sekarang istirahat dulu sama bersih-bersih badan kamu. Nanti kalau makanannya sudah siap, ibu panggil Jio," ucap wanita tersebut yang membuat Zico kini memberikan hormat kepada wanita di hadapannya.
"Siap, sayangnya Jio," ucap Zico yang lagi-lagi membuat wanita tersebut terkekeh.
__ADS_1
"Oh ya Jio masih punya kunci kamarnya kan?" tanya wanita tersebut yang diangguki Zico.
"Ya udah kalau gitu istirahat sana. Kasihan pasti anak gantengnya ibu kecapekan sekarang," ucapnya dengan mengelus pipi Zico.
"Iya ibu, Jio akan istirahat sekarang. Tapi sebelumnya Jio mau minta kunci kamarnya bidadari tak bersayap dong," ujar Zico.
"Mau buat apa? Jangan bilang kamu mau berantakin kamarnya?" Zico mencebikkan bibirnya tak terima dengan tuduhan dari wanita tersebut.
"Ibu mah negatif thinking dulu sama Jio."
"Hehehe ya maaf. Kan kamu dulu kalau pinjam kunci cadangan kamar dia pasti ujung-ujungnya buat kamarnya berantakan. Dasar jahil."
"Tapi kali ini Jio lagi gak mood buat berantakin kamar orang. Tapi Jio mau kasih surprise ke bidadari Jio. Makanya Jio mau pinjam kunci cadangan. Boleh ya, please." Zico memohon dengan wajah memelasnya yang membuat wanita didepannya itu gemas sendiri di buatnya.
"Baiklah-baiklah. Ibu pinjamin kuncinya tapi janji kamarnya jangan di buat berantakan," ujarnya yang diangguki penuh semangat oleh Zico.
Wanita paruh baya itu tampak beranjak dari tempatnya tadi menuju ke tempat penyimpanan kunci di rumah mewah itu hingga beberapa saat wanita itu kembali dengan membawa kunci yang di inginkan oleh Zico tadi. Lalu setelahnya ia menyerahkan kunci tersebut ke tangan Zico yang langsung di terima dengan senang oleh sang empu.
"Terimakasih, sayangnya Jio. Jio istirahat dulu," ucap Zico dengan mengecup singkat pipi wanita paruh baya tersebut sebelum dirinya berjalan menuju koper dan buket bunganya tadi dan pergi dari hadapan para art di rumah tersebut menuju ke lantai dua.
Zico terus melangkahkan kakinya hingga ia sampai di salah satu pintu kamar di lantai dua. Dan dengan helaan nafas, ia membuka kunci pintu tersebut sebelum akhirnya ia membuka lebar pintu kamar yang gelap itu.
Ia berjalan perlahan menuju saklar lampu dan saat lampu di kamar tersebut menyala, kedua sudut bibir Zico langsung terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Masih sama dengan yang dulu," ujarnya.
Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuh sebentar untuk menghilangkan rasa penat di tubuhnya. Hingga saat ia merasa sudah cukup istirahat, Zico kembali bangkit dari rebahannya lalu segera membersihkan tubuhnya sebelum dirinya nanti memberikan surprise kepada seseorang yang sangat-sangat ia rindukan.
__ADS_1