The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 229


__ADS_3

Setelah makan malam di rumah keluarga Abhivandya, Zea dan Azlan kini telah pergi menuju ke rumah Kayla. Dan saat mereka berdua tiba di rumah tersebut, bertepatan dengan itu pula ada sebuah mobil yang baru keluar dari pekarangan rumah Kayla.


"Mobil itu sepertinya aku pernah lihat," ucap Zea yang membuat Azlan kini mengalihkan pandangannya kearah sang kekasih.


"Dimana? Apa kamu tau pemilik mobil itu?" tanya Azlan.


"Tidak, aku tidak tau pemilik mobil itu siapa. Tapi aku pernah lihat mobil itu saat aku ke restoran milik Erland yang dimana restoran itu juga tempat kerja Kayla. Saat itu memang sudah waktunya Kayla pulang kerja dan aku lihat dia masuk kedalam mobil itu. Entah mau kemana aku juga tak tau karena aku waktu itu belum mengenal Kayla," ujar Zea.


"Haish rumit sekali masalah Erland kali ini. Ya sudahlah biar dia yang menyelesaikan permasalahannya itu sendiri. Sekarang kamu beres-beres sana, mau aku temani masuk kedalam atau tidak?" tanya Azlan sembari mengelus rambut Zea.


Zea menggelengkan kepalanya sebagai tanda jika Azlan tidak perlu mengikutinya masuk kedalam rumah tersebut.


"Ya sudah kalau gitu, aku tunggu disini. Kalau ada apa-apa didalam nanti langsung teriak atau kalau tidak langsung telepon aku," ujar Azlan yang diangguki oleh Zea dan setelahnya Zea bergegas keluar dari mobil milik Azlan lalu ia segera masuk ke dalam rumah yang ternyata terkunci. Tapi untungnya, Zea memiliki kunci candangan yang membuat dirinya tak kebingungan untuk mencari cara masuk kedalam rumah tersebut.


Saat dirinya masuk kedalam rumah tersebut, Zea mengedarkan pandangannya, takut-takut ada seseorang yang tengah bersembunyi dan berakhir akan mencelakai dirinya.


"Aman," gumamnya setelah memastikan jika didalam rumah tersebut hanya ada dirinya saja. Lalu kemudian ia menuju ke kamar Kayla untuk mengambil barang-barang miliknya.


Beberapa menit telah berlalu, akhirnya Zea telah selesai berkemas. Dan sebelum dirinya benar-benar keluar dari rumah tersebut, ia menyempatkan dirinya untuk menulis sebuah surat untuk Kayla tentang kepindahannya itu dan tentang Edrea. Dan apa yang ia lakukan itu, semata-mata agar hatinya sedikit tenang sekaligus membantu Erland untuk menyelesaikan kesalahan pahaman diantara mereka berdua. Ya walaupun nantinya Kayla mau meresapi atau tidak ucapan dari Zea yang tertuang didalam surat itu, setidaknya Zea sudah berusaha.

__ADS_1


"Semoga kali ini lo dengerin apa kata gue, Kay. Sebelum lo nyesel nantinya. Tapi jika lo benar-benar udah punya pengganti Erland, rasa kecewa gue ke lo akan semakin bertambah," gumam Zea sembari menatap surat yang ia tulis tadi. Lalu tangannya kini merogoh dompet yang berada di dalam tas kecilnya, dan kemudian ia mengeluarkan uang seratus ribuan beberapa lembar dan menaruhnya tepat diatas surat tadi.


"Maaf gue cuma bisa ngasih uang 500 ribu aja buat ganti biaya selama gue disini. Dan jika kurang, lo sewaktu-waktu bisa nagih ke gue, gue bakal lunasin kekurangannya," gumam Zea sembari menambahkan tulisan di surat tadi.


Dan setelah memastikan semuanya selesai dan tidak ada yang tertinggal, Zea kini melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.


Azlan yang melihat Zea kesusahan membawa barang-barangnya pun dengan sigap ia membantu kekasihnya tersebut.


"Biar aku aja. Kamu tutup pintu ini dan jangan lupa di kunci lagi," ucap Azlan yang diangguki oleh Zea. Dan saat Azlan mulai menjauh sembari membawa barang bawaannya tadi, Zea mulai menutup dan mengunci pintu rumah tersebut, lalu setelahnya ia menaruh kunci yang selama ini ia bawa di bawah karpet tepat di depan pintu tersebut.


Setelah semuanya aman, Zea menghampiri Azlan yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.


"Sudah semua kan? Gak ada yang ketinggalan?" tanya Azlan memastikan.


"Uang yang aku kasih ke kamu tadi udah kamu taruh di tempat yang sering Kayla lihat kan?" tanya Azlan.


"Udah sayang. Semuanya sudah aman. Dan terimakasih karena udah bantuin aku buat pindahan dan mengganti biaya di rumah Kayla selama ini," ujar Zea.


Azlan tersenyum sembari tangannya menggenggam erat tangan Zea.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu berterimakasih. Karena apa yang aku lakukan itu semua sudah menjadi kewajibanku sebagai kekasih kamu. Yang paling penting dan yang paling aku harapkan, kamu akan selalu disampingku. Entah itu dalam keadaan susah ataupun senang. Jangan pernah ada niatan mendua. Karena aku paling tidak suka jika di duakan. Dan jika hal itu terjadi, maka jangan salahkan aku jika laki-laki yang menjadi sainganku itu akan hancur di tanganku. Kamu mengerti, sayang?" Zea menelan salivanya dengan susah payah saat melihat tatapan mata Azlan yang tiba-tiba berubah menjadi serius.


"Me---mengerti. Aku juga tidak mungkin melakukan hal itu. Karena aku juga paling benci dengan perselingkuhan," ujar Zea dengan menundukkan kepalanya.


"Aku tidak ingin hubunganku sekarang ataupun nanti akan berujung seperti hubungan kedua orangtuaku. Apalagi saat aku nanti berumah tangga, aku tidak ingin anakku kelak merasakan apa yang aku rasakan saat ini," sambung Edrea yang langsung membuat Azlan bergerak memeluknya.


"Hey stop, jangan mengingat-ingat hal yang buat kamu sedih begini. Dan aku tidak mau berjanji sama kamu tapi aku bisa membuktikan jika apa yang kamu rasakan saat ini tidak akan terulang di masa depan jika kamu menikah denganku. Walaupun aku yakin didalam hubungan rumah tangga pasti ada kerikil kecil yang akan memicu pertengkaran kita nantinya. Dan aku juga yakin jika setiap kerikil kecil itu bisa kita lalui jika kita selalu menyelesaikan permasalah itu dengan kepala dingin dan memikirkan solusinya secara bersama-sama," tutur Azlan dengan di akhir ia mengecup kepala Zea.


Zea yang mendengar kata-kata manis dari Azlan pun kini tersenyum.


"Aduh, mulutnya manis sekali ya, mas. Sampai madu saja insecure sama kata-kata kamu tadi," tutur Zea setelah melepaskan pelukan Azlan tadi.


"Ini tuh bukan sekedar kata-kata manis saja sayang. Tapi akan aku buktikan. Makanya ayo nikah sekarang biar aku bisa membuktikan perkataanku tadi," ujar Azlan.


"Tuh kan pasti ujung-ujungnya ngajak nikah. Izin sama orangtua aku aja kamu belum berani," ucap Zea.


"Kata siapa gak berani hmmm? Mau aku buktikan sekarang juga?" tantang Azlan yang Zea anggap hanya gurauan semata.


"Buktikan saja kalau berani. Jangan cuma ngomong mau nikahin doang tapi gak pernah bergerak meminta restu sama orangtua kita berdua," ucap Zea sembari menatap manik mata Azlan.

__ADS_1


"Oke baiklah. Kita pending dulu ke apartemennya. Kita sekarang langsung menuju ke rumah kamu buat minta izin ke orangtua kamu, jika aku ingin serius dengan anaknya. Dan untuk urusan Daddy sama Mommy, itu urusan gampang," tutur Azlan. Bahkan kini ia sudah mulai menjalankan mobilnya ke arah rumah Zea.


Zea yang tadinya menganggap semuanya hanya gurauan saja kini ia mulai panik sendiri dibuatnya.


__ADS_2