
Malam harinya setelah Edrea kembali ke dalam pelukan keluarganya, setelah makan malam ini dengan sengaja Mommy Della dan Daddy Aiden meminta anak-anaknya untuk berkumpul seperti biasa tapi untuk hari ini lebih lama lagi tak seperti biasa bahkan ada salah satu hal yang memang harus di beritahukan oleh mereka berdua kepada triplets.
Dan kini lima orang itu sudah berkumpul di ruang keluarga. Tak ada yang membuka pembicaraan hingga Daddy Aiden menghela nafas dan segera berucap.
"Kalian gak tau bukan kenapa kalian kita suruh lebih lama berkumpul di sini?" tutur Daddy Aiden.
Triplet menghela nafas, apakah Daddynya itu tak bisa langsung to the point saja? Mereka bertiga benar-benar lelah hari ini dan sebisa mungkin mereka akan lebih awal untuk tidur. Tapi jika mereka tak menuruti ucapan kedua orangtuanya untuk tetap tinggal di ruang tamu sudah di pastikan mereka akan mendapat siraman rohani oleh Mommy Della dan kemungkinan ia akan di geprek sama Daddy Aiden. Dan untuk kedamaian bersama akhirnya secara terpaksa mereka menurutinya saja walaupun lelah dan mata mereka sudah mulai sayu.
"Kenapa diam saja? jawab pertanyaan Daddy tadi!" perintah Daddy Aiden.
"Kita gak tau Dad," jawab mereka bertiga dengan kompak bahkan ketiganya sekarang tengah duduk disatu sofa panjang yang dimana Edrea lah yang berada di tengah-tengah dua jagoan.
"Nah gitu kek dari tadi," ucap Daddy Aiden.
"Ayolah Dad langsung ngomong ke intinya saja," rengek Erland. Daddy Aiden tampak mendengus mendengar ucapan dari Erland tadi. Tidak bisa kah anaknya itu mendengarkan kata sambutan darinya terlebih dahulu? batin Daddy Aiden.
Tapi tak urung tangan Daddy Aiden kini meraih sesuatu yang berada di samping istrinya. Setelah itu ia mengeluarkan tiga kotak yang dimana kotak tersebut sudah tertera nama tiga anaknya lalu menyerahkannya kepada mereka.
Triplets mengerutkan keningnya saat kotak dari sang Daddy sudah berada di tangan mereka masing-masing.
"Apa ini Dad?" tanya Azlan dengan menggoyang-goyangkan kotak tersebut berharap ada suara yang muncul di dalam kotak tersebut tapi sayang kotak itu mau dia goyangkan hingga tangannya pegal pun tak akan menimbulkan suara apapun.
"Kalau kamu goyang-goyangkan gitu keburu rusak barangnya Az," tutur Mommy Della sembari mendelik kearah anak pertamanya itu.
__ADS_1
"Hehehe ya maaf Mom, Azlan penasaran soalnya," ucap Azlan dengan cengiran tak berdosanya.
"Kalau penasaran buka aja sih Az, gak perlu kamu goyang-goyangkan gitu," tutur Daddy Aiden.
Azlan pun mengangguk kemudian tangannya berusaha untuk membuka kotak yang berada di tangannya itu begitu pula dengan Erland dan Edrea yang kini juga tengah berusaha membuka kotak yang sama dengan milik Azlan.
Saat kotak itu sudah bisa terbuka ketiganya lagi-lagi mengerutkan keningnya.
"Apa ini?" tanya Erland sembari mengambil barang yang berada di kotak tersebut.
"Bentuknya sih kayak anting tapi kenapa hanya satu?" ujar Edrea yang juga penasaran dengan benda yang berada di tangannya sekarang.
"Memang benar itu anting tapi itu anting khusus buat kalian. Dan anting itu seluruh keluarga besar kita hampir memiliki itu. Bahkan anak aunty Airen juga punya. Daddy baru bisa kasih kalian itu karena Daddy sering lupa ditambah Dad juga akhir-akhir ini sangat sibuk dengan urusan kantor. Dan lagi di dalam anting itu Dad tambahkan sesuatu yang mungkin akan melindungi kalian saat kejadian Edrea kembali terulang. Hanya untuk jaga-jaga saja. Sekaligus itu menjadi lambang kalau kalian merupakan keturunan dari keluarga Abhivandya," jelas Daddy Aiden kepada ketiga anaknya yang terlihat tak paham tadinya tapi setelah ia jelaskan tampak ketiganya sudah mulai memahami manfaat dan fungsi dari anting yang hanya sebelah itu.
"Nanti kalian Daddy tindik dulu," ucap Daddy Aiden yang membuat mata kedua putranya langsung melotot.
"Gak mau ya Dad. Enak aja mau di tindik segala. Mana katanya tindik itu sakit lagi. Gak ya Azlan gak mau. Kita juga masih sekolah. Gak baik anak sekolah udah tindikan," tolak Azlan dan diangguki setuju oleh Erland.
"Mau gak mau kalian harus mau. Daddy dulu juga begitu ditindik dulu baru bisa pakai benda ini," ucap Daddy Aiden sembari memperlihatkan anting yang terpasang indah di daun telinga bagian atas di sebelah kanan.
"Lho Daddy juga pakai? Kenapa Rea baru sadar dan tau sekarang sih," tutur Edrea yang baru saja tau kalau sang Daddy punya sebuah anting yang sama modelnya dengan anting yang Daddynya kasih tadi.
Daddy Aiden tampak mendengus. Ternyata anak-anaknya itu tak memperhatikan dirinya selama ini. Huh sangat menyakiti sekali.
__ADS_1
"Dad udah pakai benda ini saat Daddy dulu kelas 3 SD kalau gak salah. Tapi hanya sering di ganti aja modelnya," ujar Daddy Aiden.
Triplets tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mom juga punya?" kini Azlan yang bertanya karena ia penasaran.
Mommy Della mengangguk kemudian menyibakkan rambutnya kebelakang telinga dan memperlihatkan benda yang sama dengan milik mereka dan benda itu juga sudah berada di tempatnya yaitu di daun telinga bagian atas sebelah kanan sama persis dengan posisi punya Daddy Aiden.
"Oh astaga kenapa kita baru sadar sih," tutur Edrea.
"Kalau Mom pakai ini hanya saat keluar rumah aja. Kalau di rumah emang Mom copot. Dan kalau Mom keluar dan lupa pakai itu, Mom gak masalah karena Mom selalu pakai kalung dari Daddy kalian jadi akan aman-aman saja," ucap Mommy Della.
"Kalung snow dengan berlian biru di tengahnya?" tanya Edrea karena setahu dia Mommynya itu tak pernah lepas dari kalung itu bahkan selalu ia pakai. Mommy Della menganggukkan kepalanya.
"Emang ada apa sih Mom di dalam kalung Mommy itu juga didalam benda ini. Kenapa kita harus pakai?" tanya Erland yang tampaknya sudah lupa dengan penjelasan Daddy Aiden tadi.
"Kan Daddy tadi udah kasih tau Er. Kamu gak dengerin Daddy tadi?" tanya Daddy Aiden.
"Hehehe Erland udah lupa Dad," jawab Erland dengan cengengesan. Daddy Aiden hanya bisa menggelengkan kepalanya
"Oke Daddy akan jelaskan lagi gunanya dari benda itu. Yang paling utama benda itu sebagai lambang dari keluarga Abhivandya. Dan Dad nambahin sesuatu disana, kalian gak perlu tau itu apa yang terpenting anting itu juga sebagai jaga-jaga kalau kalian dalam bahaya dan ketika kalian menekan tombol kecil di bagian tengah anting itu anak buah Daddy akan langsung menuju ke lokasi kalian berada. Atau malah Daddy yang akan nyamperin kalian. Ingat kita harus selalu waspada karena semua orang itu punya pemikiran dan kepribadian yang berbeda. Apalagi jika dilihat-lihat Edrea banyak yang gak suka. Benar begitu Rea?" Edrea tertegun dan dengan susah payah ia mencoba untuk menelan salivanya sendiri saat Daddy Aiden mengetahui hal itu dan dengan ragu Edrea menganggukkan kepalanya.
"Nah orang yang benci ke kita juga bisa melakukan hal yang tak terduga mungkin sebagai contohnya kejadian kemarin yang membuat Edrea hilang dari pantauan kita semua. Dan jika menggunakan GPS di ponsel kalian. GPS itu tak akan berfungsi jika ponsel itu mati alhasil kita kemarin kesusahan buat melacak keberadaan Edrea. Dan mungkin dengan benda itu akan semakin memudahkan pencarian jika hal itu terulang lagi. Tapi Daddy harap kemarin itu yang terakhir. Tak ada tragedi penculikan lagi untuk kedepannya," sambung Daddy Aiden.
__ADS_1
Ia sebenarnya trauma dengan hal yang berbau penculikan. Karena istrinya dulu sempat hampir kehilangan nyawanya karena kasus yang serupa dengan Edrea. Dan dari itu ia tak ingin kejadian itu terulang walaupun ia kemarin sempat frustasi dan bayang-bayang penyiksaan Ciara kembali terlintas di pikiran yang membuatnya semakin hampir gila dan pada saat itu pula ia tak bisa mendapatkan lokasi Edrea dan pikir-pikiran negatif terus saja menghantui dirinya tapi untungnya Mommy Della sempat menenangkan dirinya walaupun istrinya itu sama khawatirnya dengannya. Maka dari itu Mommy Della tak mengizinkan suaminya untuk terjun langsung mencari Edrea. Jika sampai ia biarkan sudah tak tau hal apa yang akan laki-laki itu lakukan di luar sana. Tapi untungnya Edrea bisa menangani semuanya dengan sendiri bukan seperti dirinya dahulu yang hanya pasrah saja di hancurkan oleh Cika, si wanita gila yang sangat terobsesi dengan Daddy Aiden dan harta suaminya itu tentunya.