
Edrea mengerjabkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Dan saat mata indah itu terbuka hal pertama yang Edrea lihat adalah dirinya tengah tiduran di kamar yang sangat asing buatnya. Kamar yang di penuhi oleh warna hitam disetiap sudutnya, mirip dengan kamar Azlan dan Erland tapi yang membedakan kamar itu adalah barang-barang yang ada di dalam, juga warna hitam di kamar itu lebih pekat dari pada kamar kedua saudaranya yang lain. Jika di kamar Azlan masih ada sedikit warna putih dan Erland ada sedikit warna abu-abunya bukan seperti di kamar ini yang seluruh tembok, perabotan, ranjang, sprei, bahkan sampai lantainya pun mempunyai warna yang sama.
"Wanjir nih kamar kalau mati listrik gimana jika cuma ngandelin flash hp doang. Gak kebayang gimana gelapnya. Dan apa gak nabrak-nabrak secara kan semuanya hitam. Jadi penasaran siapa orang pemilik kamar ini. Seberapa mistisnya dia? atau jangan-jangan si pemilik kamar ini punya ilmu hitam jadi ya semuanya harus didasari dengan warna itu. Ck entahlah," gumam Edrea. Ia pun segera mendudukkan tubuhnya dan bersandar di sandaran ranjang tersebut. Pikiran dan hatinya masih tenang hingga ia benar-benar sadar. Mungkin beberapa saat yang lalu nyawanya belum terkumpul semua jadinya dia masih santai-santai tanpa berpikir kedepannya.
"Bentar deh kayaknya tadi gue lagi di taksi otw mau pulang. Tapi kok..." ucapnya menggantung.
"Astaga baru sadar kalau gue lagi di culik. Pantesan aja gue gak kenal tempat ini," sambung Edrea dengan suara lirih. Ia harus waspada siapa tau ada yang mendengar suaranya dan mengetahui dirinya sudah sadar hingga nanti mereka malah masuk kedalam kamar itu dan berniat menyiksa Edrea. Kan gak seru kalau dirinya harus melawan beberapa orang dengan badan kekar seperti kedua orang sebelumnya, pikir Edrea.
Ia terus terdiam untuk memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari kamar tersebut. Kalau mau lompat dari balkon kamar, tak mungkin karena ia yakin kamar ini berada di lantai paling atas rumah tersebut. Kalau sampai ia nekat nyawanya yang menjadi taruhannya. Dan jika ia lewat pintu normal sudah di pastikan jika di depan pintu kamar tersebut sudah banyak orang berbadan kekar menunggu setiap sudut rumah ini. Jadi ia harus berpikir dalam-dalam untuk keluar rumah tersebut dengan cara melawan atau dengan cara mengendap-endap.
Tak lupa matanya pun terus menyusuri setiap sudut kamar tersebut siapa tau ia bisa menemukan sesuatu yang bisa menjadi bukti penculikan nanti atau setidaknya ia tau siapa pemilik rumah ini. Tapi setelah ia meneliti setiap sudut, tak ada satupun tanda-tanda bukti itu. Bahkan foto pemilik rumah tersebut tak ia lihat. Jadi tambah membuat Edrea penasaran, siapa orang yang menginginkan dirinya.
"Hufttt, gak ada bukti apapun disini buat gue bawa pulang sebagai bukti ke Daddy nanti saat ditanya kenapa pulang telat," tutur Edrea.
"Oh ya, apa gue kabarin Daddy atau bang Er dan bang Az. Siapa tau kan mereka punya hati nurani buat bantu gue keluar dari sini. Ya ya ya gue harus telepon mereka," ucap Edrea. Dan saat dirinya ingin mengambil ponsel yang seingatnya ia taruh di saku baju seragamnya, ternyata ponselnya sudah tak ada di tempat itu.
__ADS_1
"Lho kok ilang sih. Atau udah diambil sama mereka. Arkhhhh sialan," geram Edrea.
"Tas gue juga diambil. Wanjir, mati aja kalian siapapun yang ambil barang-barang gue," sambungnya saat ia tak melihat tasnya yang terakhir ia pakai tadi didalam ruangan yang sama dengannya.
Edrea sudah tak bisa meminta bantuan siapapun sekarang yang berarti ia harus mengandalkan dirinya sendiri. Ia pun kini membuka pintu yang menghubungkan antara kamar tersebut dengan balkon, ia sudah membulatkan niatnya untuk keluar dari rumah itu dari balkon. Saat pintu tersebut sudah terbuka lebar, ia langsung berlari hingga sampai di ujung balkon yang terdapat pembatas besi di ujungnya.
Ia meneguk salivanya saat melihat betapa tinggi jarak antara tanah di bawah dengan keberadaannya sekarang. Jika ia nekat untuk terjun sudah dipastikan paginya ia langsung di beritakan meninggal dunia. Dan jika ia menghubungkan antara selimut, sprei dan kain apapun yang ada di dalam kamar tersebut, tak akan bisa membantunya. Paling-paling kain itu hanya akan mentok di pertengahan saja.
"Ini lantai berapa sih tinggi banget?" tanya Edrea.
Tubuh Edrea mematung seketika saat mendengar suara orang tersebut yang terkesan dingin dan mematikan. Tapi wait, sepertinya ia kenal suara itu. Dan dengan keberanian yang telah ia kumpulkan dan didukung dengan rasa penasarannya yang tinggi akhirnya Edrea membalikkan tubuhnya menghadap kearah orang tersebut yang tengah bersandar di pintu balkon. Ia memincingkan alisnya saat melihat penampilan orang tersebut dari atas hingga bawah. Orang itu mengenakan baju hitam, celana hitam dengan topeng di mata dan sebuah masker yang menutup mulutnya bahkan warnanya pun juga sama yaitu hitam. Hal itu membuat Edrea ingin sekali tertawa.
"Ya ampun ini penjahatnya atau gimana sih? kenapa konsep pakaiannya gitu banget. Ya Allah gak kuat gue pengen ketawa tapi kasihan dia tar malah tersungging eh tersinggung maksudnya," batin Edrea.
Edrea berdehem untuk meredam bibirnya yang terus berkedut, menahan tawanya.
__ADS_1
"Lo siapa?" tanya Edrea to the point.
"Lo gak perlu tau gue siapa. Yang harus lo ingat, kalau lo itu punya gue sekarang dan jangan coba-coba untuk pergi dari sini," tuturnya.
"Idih lo siapa ngeklaim gue punya lo? gue punya emak bapak gue lebih tepatnya gue cuma punya Allah. Gue juga harus pulang anjir, gue punya orangtua dan keluarga yang nunggu gue dirumah," balas Edrea tanpa rasa takut sedikitpun.
"Oh ya lo juga kan yang ambil hp sama tas sekolah gue. Balikin sekarang cepetan!" perintah Edrea.
Orang yang Edrea yakini berjenis kelamin laki-laki itu hanya menatap datar Edrea kemudian tanpa menimpali perkataan dari Edrea, ia beranjak dari hadapan Edrea dan keluar dari kamar tersebut diakhiri dengan suara kuncian di pintu kamar itu.
Edrea membelalakkan matanya kemudian ia berlari kearah pintu tersebut.
"Bangsat! bukain gak woy! gue mau pulang anjir. Gue gak mau di sini," teriak Edrea sembari menggedor-gedor pintu itu tapi tak ada satu suara pun yang menyaut teriakannya tadi apalagi untuk menolongnya, jangan harap.
"Anjing, bangsat, babi, bukain gak! kalau lo gak mau bukain pintu ini, gue sumpahin alat vital lo bengkok. Gak bisa pipis selama 2 tahun, gak bisa pup selama 1 tahun dan gue sumpahin lo sakit gigi gak sembuh-sembuh seumur hidup lo. Biar mati sekalian lo, anjing, babi, juwancok!" Teriak Edrea dengan sumpah serapah dan umpatannya.
__ADS_1