The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 277


__ADS_3

Setelah kejadian dini hari tadi yang menyebabkan keributan kecil diantara sepasang kekasih itu, Edrea sama sekali tak melihat Leon di sekitar rumah keluarga Abhivandya hingga langit sudah malam kembali. Dan hal tersebut membuat Edrea dilanda kecemasan terlebih ponsel Leon tak bisa ia hubungi sama sekali.


"Ck, tuh orang kemana sih?" geram Edrea saat ia kembali mencoba menghubungi Leon tapi hasilnya masih saja nihil.


"Masak iya dia semarah ini gara-gara tadi. Padahal menurut gue hal yang gue bicarakan sama dia tadi pagi itu wajar-wajar saja. Toh wanita mana sih yang gak penasaran sama keluarga pacarnya sendiri, apalagi kan gue juga pengen deket sama mereka biar saat kita nikah nanti gak ada kecanggungan lagi," gumam Edrea sembari mondar-mandir di ruang tamu.


Dan saat dia masih menggerutu, terdengar pintu utama rumah tersebut terbuka lebar dan tak berselang lama, seseorang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya datang juga.


Dan hal tersebut membuat Edrea langsung berlari kearah Leon yang sama sekali tak memperlihatkan senyumannya walaupun ia melihat Edrea disekitarnya.


"Kamu darimana saja sih, El? Pergi dari pagi tanpa kabar sama sekali dan baru pulang jam segini. Lain kali kalau mau pergi tuh kasih tau aku bisa kan? Khawatir tuh gak enak tau El," ucap Edrea yang diabaikan begitu saja oleh Leon. Bahkan laki-laki itu terus melangkahkan kakinya hingga sampai di depan kamarnya.


"El," panggil Edrea dan dengan sekuat tenaga ia menarik Leon hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah. Sedangkan Edrea yang mendapat kesempatan pun dengan cepat ia berdiri di depan Leon, menatap lekat wajah tampan yang sekarang penuh lebam itu.


"Astaga, wajah kamu kenapa?" tanya Edrea sembari tangannya bergerak menuju ke pipi Leon. Tapi sayangnya belum sempat tangannya itu menyentuh kulit wajah Leon, laki-laki itu lebih dulu mencekal tangan Edrea.


"Bukan urusanmu," ucap Leon tanpa menatap wajah Edrea sedikitpun. Dan setelahnya ia melepaskan tangan Edrea dari genggamannya, lalu kemudian ia bergegas masuk kedalam kamarnya, tak lupa ia juga mengunci pintu kamar tersebut.


Sedangkan Edrea yang baru mendapatkan perlakuan yang jauh berbeda dari Leon pun ia terbengong dengan tatapan mata lurus kearah pintu didepannya tersebut.

__ADS_1


Cukup lama Edrea terbengong hingga ada seorang pekerja di rumahnya yang menyadarkan dirinya kembali.


"Non Rea," panggil art tadi sembari menepuk pelan bahu Edrea.


"Eh ah ya mbak? kenapa?" tanya Edrea kebingungan.


"Seharusnya yang tanya kenapa tuh bukan Nona tapi saya. Non Rea kenapa bengong disini? Apa Den Leon belum pulang? Kalau belum mending Non coba hubungi teman-temannya, siapa tau mereka sedang bersama Den Leon," ucap art tadi.


"Dia sudah pulang mbak. Dia juga sudah masuk kedalam kamarnya," ujar Edrea.


"Syukurlah kalau Den Leon sudah pulang. Terus kalau begitu kenapa Non Rea masih disini? Kenapa gak nemuin den Leon?" tanya art tersebut yang masih kepo.


"Dianya lagi marah sama Rea, Mbak," tutur Edrea.


"Eh lah lagi marahan ternyata. Pantesan saja seharian ini saya tidak melihat adegan romantis dari Nona sama Aden," ujar art tadi.


"Kalau boleh tau penyebab Den Leon marah kenapa?"


"Huhhhh, penyebab utama dia marah tuh karena Rea pingin cari tau keluarga dia, Mbak. Rea kan juga mau merasakan seperti pasangan pada umumnya yang di kenalkan dengan keluarga pasangannya. Tapi sayangnya Rea tidak akan bisa merasakan hal itu deh karena Rea yakin sampai kapanpun El gak akan mau ngasih tah Rea tentang keluarganya. Gak ketemu gak papa deh yang penting Rea tau wajah mereka dan tau nama orangtuanya," tutur Edrea yang membuat art tadi kini menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Oh ya Mbak. Apa mbak pernah dengar tentang keluarga El dari orang-orang yang tinggal disini?" tanya Edrea dengan mengalihkan pandangannya dari pintu kamar Leon menjadi kearah art disampingnya.


Tapi pertanyaannya tadi sama sekali tak mendapat jawaban dari art tersebut.


"Mbak," panggil Edrea sembari melambaikan tangannya di hadapan art tadi.


"Ah ya Non?"


"Ck, si mbak mah ngalamun mulu. Jawab dong pertanyaan dari Rea tadi. Apa mbak pernah mendengar ucapan dari orang-orang di rumah ini mengenai keluarga El? Kalau pernah, kasih tau Rea ya. Rea benar-benar sudah kepo maksimal soalnya. Mau tau karakter dan wajah dari calon mertua Rea nanti," ujar Edrea.


"Hmmmm maaf Non, saya tidak pernah mendengar seseorang di rumah ini yang berbicara mengenai keluarga Den Leon. Dan saya juga tidak tau mengenai hal itu. Tapi saya yakin suatu saat nanti Den Leon pasti akan mengenalkan Non Rea dengan keluarganya. Dan saya kasih saran, non Rea jangan cari tau sendiri mengenai keluarga Aden karena jika non Rea masih memaksa untuk mencari tau, bisa-bisa non Rea langsung di coret dari daftar calon menantu oleh orangtuanya jika mereka tau apa yang Non Rea lakukan karena itu merupakan tindak yang negatif, tentang mengorek informasi mengenai orang lain. Lagian itu juga tidak sopan non. Dan lebih baik Non Rea sekarang minta maaf sama Den Leon sebelum permasalahannya semakin rumit nanti dan berakhir non Rea sendiri yang di rugikan," tutur art tadi dengan sebisa mungkin memberikan solusi kepada Edrea.


Sedangkan Edrea yang sedari tadi menyimak setiap perkataan dari art tadi pun tampak terdiam sesaat sebelum dirinya kembali angkat suara.


"Hmmmm sepertinya ucapan mbak tadi ada benarnya juga. Ya sudah lah kalau memang itu yang terbaik untuk kita berdua, Rea gak akan cari tau mengenai keluarga El," ujar Edrea yang diangguki oleh art tadi.


"Kalau Non Rea sudah tidak galau lagi, saya izin permisi ke rumah belakang buat istirahat. Mata saya sudah tidak bisa saya buka lebar lagi soalnya hehehe" ucap art tersebut dengan menampilkan gigi rapinya.


"Silahkan mbak. Istirahat yang nyenyak ya dan terimakasih karena sudah memberi pencerahan di otak Rea tadi yang hampir meledak gara-gara mikirin hal itu," ujar Edrea yang dibalas anggukan dan senyuman dari art tersebut sebelum akhirnya art tadi pergi dari hadapan Edrea.

__ADS_1


Edrea yang sudah tak melihat tubuh art tersebut pun tatap matanya kembali beralih kearah pintu kamar Leon. Dan dengan helaan nafas ia memilih untuk pergi dari depan kamar tersebut. Bukan untuk pergi ke kamarnya dan tidur, melainkan kakinya sekarang bergerak menuju kearah dapur untuk menyiapkan air hangat untuk mengompres luka lebam di wajah Leon sekaligus ia juga menyiapkan P3K untuk mengobati luka robekan di beberapa bagian wajah kekasihnya itu.


__ADS_2