
Saat Leon di buat pusing dengan kejadian tadi dan berusaha untuk segera memecahkan masalah tersebut, berbeda dengan dua perempuan kesayangannya itu yang sekarang tengah berbaring bersama di lantai ruang keluarga dengan nafas yang memburu.
"Hufttt capek sekali. Callie capek tidak?" tanya Edrea sembari menolehkan kepalanya kearah Callie.
"Callie juga capek sekali Mom. Permainan tadi sangat seru hingga buat kita kelelahan seperti ini," ujar Callie dengan tangan yang mengusap keringatnya.
"Tuh sampai keringat Callie saja keluar semua," sambung Callie sembari menunjukkan tangan yang penuh dengan cairan bening itu. Lalu setelahnya ia kini menegakkan tubuhnya.
"Callie mau kemana?" tanya Edrea saat ia melihat Callie mulai melangkahkan kakinya.
"Callie mau mandi Mom," jawab Callie.
"Eh, Callie tidak boleh mandi," ucap Edrea sembari mendudukkan tubuhnya.
"Memangnya kenapa Callie tidak di perbolehkan untuk mandi Mom? Badan Callie kan bau, lengket pula. Kalau Callie tidak mandi mau jadi apa tubuh Callie nanti?" ujar Callie.
"Bukan begitu maksud Mommy, sayang. Kamu boleh mandi jika ditubuh kamu tidak ada keringat lagi. Jika kamu masih kekeuh mau mandi dengan keadaan tubuh yang masih lelah dan keringat di tubuh kamu itu belum hilang, kamu nanti akan berakhir sakit sayang. Bahkan banyak beberapa kasus orang meninggal karena melakukan hal yang sama persis seperti yang ingin Callie lakukan sekarang. Mandi disaat tubuh lelah dan berkeringat," tutur Callie.
"Benarkah?" tanya Callie.
"Apa yang dikatakan sama nyonya Edrea tadi benar nona. Bahkan tetangga mbak juga ada yang mengalami hal itu," timpal salah satu art di rumah tersebut yang sekarang tengah berjalan kearah Edrea sembari membawa minuman dan makanan ringan untuk kedua perempuan tersebut.
"Tuh dengarkan apa yang di ucapkan mbak. Mommy tidak berbohong Callie," ujar Edrea.
"Makasih mbak," sambungnya saat art tadi menaruh barang bawaannya tepat didepan tubuh Edrea. Dan ucapan terimakasihnya tadi diangguki oleh art tersebut dengan senyum manisnya.
"Dan untuk menunggu tubuh kita sudah tidak berkeringat lagi, mending kita menikmati hidangan ini dulu," ucap Edrea dengan mencomot satu gelas air putih dan setelah ia memium air tersebut, ia langsung memakan cookies yang tersaji di sana dengan pergerakan yang ia perlambat supaya Callie tertarik dan mengurungkan niatnya tadi.
Dan sepertinya usaha Edrea tak sia-sia, pasalnya Callie kini perlahan mendekati dirinya lalu duduk di samping Edrea saat ia sudah bergabung dengan Mommynya dan art tadi.
Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, tangan Callie kini bergerak untuk mengambil air putih dan makanan yang menarik perhatiannya.
...****************...
Beberapa saat telah berlalu, tubuh Callie maupun Edrea sudah berada di suhu normal bahkan keringat di tubuh mereka juga sudah hilang semua.
"Cal, mandi yuk," ajak Edrea.
Tapi sayangnya ucapannya tadi tak mendapat respon apapun dari Callie pasalnya anak perempuannya itu tengah asik menonton sebuah kartu kesukaannya dilayar televisi di ruangan tersebut.
"Cal," panggil Edrea yang sama sekali tak membuat Callie merubah posisinya saat ini.
"Callie," panggilnya kembali sembari mencolek lengan anak angkatnya itu.
"Ada apa sih Mom? Jangan ganggu Callie dulu," ucap Callie yang ketenangannya mulai terusik.
__ADS_1
"Ayo kita mandi dulu. Nontonnya di sambung nanti," ajak ulang Edrea.
"Tidak mau. Callie tidak mau mandi," tolak Callie.
"Lah kok sekarang malah tidak mau mandi sih nak? bukannya tadi Callie sangat menginginkan yang namanya mandi?" tanya Edrea tak habis pikir.
"Itu kan tadi saat Callie merasakan tubuh Callie lengket. Kalau sekarang tubuh Callie sudah tidak lengket lagi, jadinya mandinya nanti saja," jawab Callie tanpa mengalihkan pandangannya dari arah layar televisi didepannya itu.
"Heleh alasan banget sih bocil satu ini," batin Edrea yang sekarang sudah paham alasan utama Callie menolak ajakannya tadi.
"Baiklah kalau Callie tidak mau mandi, Mommy mau mandi dulu," ujar Edrea sembari berdiri dari duduknya. Namun beberapa saat setelahnya tangannya yang membawa remote control langsung menekan tombol power untuk mematikan televisi yang langsung membuat tatapan mata Callie beralih kearahnya.
"Ups, sorry sayang. Mommy sengaja. Karena Callie harus mandi dulu sekarang," ujar Edrea. Dan setelahnya mengucapakan hal tersebut Edrea dengan cepat mengangkat tubuh Callie menjauh dari tempat tersebut.
"Mommy, lepasin Callie. Callie tidak mau mandi! lepasin!" teriak Callie sembari memberontak kepada Edrea dengan memukul-mukul punggung Edrea yang justru membuat sang empu keenakan.
"Pukul terus sayang. Kalau bisa mukulnya ke bawah dikit," ucap Edrea sembari melangkahkan kakinya hingga sampai di lantai atas rumah tersebut.
Dan Callie yang sudah sangat sebal dengan sang Mommy pun kini ia menghentikan pukulannya tadi bahkan ia kini menatap lekat wajah Edrea. Lalu tanpa Edrea duga, tangan Callie kini bergerak dan berakhir menghantam tepat di salah satu buah dada Edrea. Dan hal tersebut berhasil membuat Edrea kesakitan hingga berakhir ia menurunkan tubuh Callie dari gendongnya.
"Rasakan wleee," ledek Callie sembari berlari menjauh dari Edrea.
"Astaga sakit sekali. Mau marah tapi gue ingat kalau dia anak gue sendiri mana masih bocil lagi. Tapi sepertinya gue gak bisa jamin kalau El tau jika salah satu calon aset miliknya di sakiti sama Callie, gue yakin dia pasti marah sih. Jadi fiks gue nanti akan ngadu ke bapak lo," ucap Edrea dengan sebal. Namun setelahnya dengan menahan rasa sakitnya itu, ia bergegas untuk mengejar tubuh Callie yang terus berlari hingga anak itu masuk kesalah satu ruangan di lantai tersebut.
"Awas saja kalau Mommy sampai menangkap kamu, Mommy tidak akan segan-segan memberikan pelajaran buat kamu karena sudah nakal sama Mommy," ucap Edrea sebelum ia membuka pintu ruangan tersebut.
"Mommy tangkap Callie kalau bisa. Wleee," ucap Callie yang membuat Edrea kini mulai mendekati anak perempuan tersebut. Tapi saat jarak mereka mulai menipis, Callie justru kembali berlari menghindari dirinya. Dan hal tersebut membuat Edrea mau tak mau juga ikut lari mengejar tubuh Callie yang bergerak gesit dan membuatnya sangat kewalahan.
"Tidak kena, tidak kena. Wle," ejek Callie yang tengah naik di atas ranjang di ruangan tersebut.
"Callie kesini tidak. Kalau Callie tidak mau menuruti ucapan Mommy, Mommy akan marah sama Callie," ancam Edrea.
"Mommy mau marah sama Callie? Ah tidak mungkin. Itu cuma ancaman saja agar Callie bisa mendekati Mommy dan berakhir Mommy menangkap Callie lagi. Iya kan?" Edrea yang mendengar penuturan dari Callie tadi benar-benar dibuat melongo oleh anak perempuannya itu yang semakin lama semakin pintar saja.
Callie yang melihat keterbengongan dari Edrea pun ia memanfaatkan hal tersebut untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Edrea baru tersadar dari keterbengongannya tadi saat ia mendengar suara pintu yang tertutup begitu keras.
"Astaga. Anak itu!" geram Edrea dan dengan cepat ia berniat ingin menyusul Callie untuk keluar dari ruangan tersebut.
Tapi sayangnya saat ia ingin membuka pintu ruangan tersebut, pintu itu tak kunjung bisa ia buka.
"Lho nih pintu kenapa gak bisa di buka?" gumam Edrea yang masih berusaha untuk membuka pintu tersebut. tapi usahanya itu sama sekali tak membuahkan hasil sedikitpun.
"Oke fiks, pintunya di kunci dari luar," ucap Edrea yang sudah mulai panik.
__ADS_1
"Callie buka pintunya!" teriak Edrea dari dalam karena ia yakin anak perempuannya itu sekarang masih berdiri di depan pintu tersebut.
"Tidak mau. Callie tidak mau membuka pintu ini. Kalau Mommy bisa, buka aja sendiri karena Callie mau melanjutkan menonton kartun sekarang," ujar Callie dan setelahnya Edrea mendengar suara langkah kaki yang menjauhi dirinya.
"Callie buka pintunya dulu baru pergi!" teriak Edrea sembari menggedor-gedor pintu tersebut tapi sayangnya gedoran dan teriakkannya tadi tidak mendapatkan respon apapun dari Callie karena anak itu sekarang sudah turun ke lantai bawah.
"Callie!" teriak Edrea yang benar-benar geram.
Dan karena ia sudah mulai lelah berteriak dan menggedor pintu itu, Edrea menghentikan semua aktivitasnya tadi dengan bibir yang masih menggerutu.
"Awas aja ya lo, Callie. Kalau sampai gue nanti berhasil keluar dari ruangan ini, gue akan kasih lo pelajaran yang setimpal. Biar lo tau rasa dan tidak akan pernah berani melakukan hal seperti ini lagi," gumam Edrea dengan memutar tubuhnya berniat untuk mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk beristirahat sebentar.
Tapi niatnya itu sepertinya ia urungkan saat ia baru menyadari jika pintu di ruangan itu tertutup, ruangan tersebut tampak gelap gulita dan hanya ada sedikit pencahayaan yang masuk lewat celah jendela di ruangan tersebut.
"Tenang Rea, ambil nafas, hembuskan," ucap Edrea mencoba untuk menenangkan dirinya yang memang takut dengan kegelapan.
"Tidak boleh panik. Santai dan tetap slow. Lo pasti bisa melawan rasa takut lo ini," tuturnya dengan perlahan mulai melangkahkan kakinya menelusuri tembok di ruangan tersebut untuk mencari saklar lampu di sana.
"Astaga nih saklar letaknya juga dimana sih dari tadi gue gak nemu-nemu. Mana gue juga lupa gak bawa hp lagi. Arkhhhh sial sial sial, ini semua gara-gara Callie!" geram Edrea dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Edrea terus saja berusaha untuk mencari sesuatu yang bisa menghidupkan lampu di ruangan tersebut. Hingga akhirnya ia menemukan keberadaan saklar di ruangan tersebut setelah membuat tubuh Edrea bergetar hebat bahkan keringat dingin keluar deras dari tubuhnya.
Dan saat Edrea menekan tombol saklar tersebut, semua lampu di ruangan tersebut langsung menyala semua dan hal tersebut membuat Edrea kini bisa bernafas dengan lega sembari ia mendudukkan tubuhnya diatas lantai tanpa alas tersebut. Bahkan matanya kini tertutup untuk meredam kepanikan yang sedari tadi melanda dirinya.
Dan beberapa saat setelah dirinya kembali tenang, mata Edrea perlahan ia buka dan betapa terkejutnya dia saat melihat ruangan tersebut yang ternyata adalah sebuah kamar yang di dominasi dengan warna hitam tanpa ada warna lain yang terlihat di kamar tersebut.
"Gila, nih kamar jauh lebih mencekam daripada kamar bang Az atau bang Er," ucap Edrea sembari berdiri dari duduknya. Dan dengan mata yang aktif, Edrea mengedarkan pandangannya keseluruhan kamar yang ia yakini adalah kamar pribadi milik Leon, hingga matanya kini tertuju ke sebuah bingkai foto yang menunjukkan sebuah foto dua orang laki-laki yang berbeda usia namun terlihat sama yang sekarang tengah terpajang tepat di dinding belakang ranjang tersebut. Bahkan foto itu memiliki ukuran sangat besar.
"Mereka siapa? Kenapa mirip sekali?" tanya Edrea dengan dirinya sendiri.
"Apa El punya dua saudara? Tapi sepertinya tidak karena didalam ingatan gue, dia hanya memiliki satu saudara saja dan orang itu merupakan ayah kandung dari Callie. Tapi jika cuma satu, kenapa di foto ini ada dua? Yang satunya siapa lagi? Tidak mungkin itu El kan? Gue sih yakin itu bukan El, lagian wajahnya aja beda. Bukan hanya dalam segi wajah saja melainkan ciri-ciri orang didalam foto aja beda jauh sama ciri-ciri El sekarang. Apa jangan-jangan ingatan gue aja yang belum sepenuhnya pulih? Jadi gak ingat dan tidak mengenali siapa saja yang berada di foto ini. Haish sudahlah, gue gak peduli mau dia punya saudara berapa kek, yang penting dia sekarang sudah menjadi milik gue," ucap Edrea dengan senyum manisnya. Dan saat dirinya ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjang di kamar tersebut, mata Edrea tak sengaja menatap meja kecil seperti meja rias di ruangan tersebut.
"Hihihi tenyata cowok seperti El punya juga meja rias di kamarnya. Gue kira cuma bang Az dan bang Er saja yang punya. Ahhh kalau begini gue jadi kepo sama isi di atas meja rias itu," ujar Edrea yang kini mengurungkan niatnya tadi dan kini ia justru melangkahkan kakinya mendekati meja rias milik Leon tersebut. Dan setelah sampai ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi depan meja rias tersebut dengan mata yang terus memandangi deretan parfum dan beberapa skincare milik Leon.
"Pantesan wajah cowok gue ganteng maksimal, orang dia aja tidak lupa untuk skincarean. Kalau kayak gini kan buat gue gak sabar buat hidup sama dia, biar kalau skincare gue habis, gue gak perlu merogoh kocek dan gak perlu menguras tenaga gue buat keluar rumah karena saat gue sudah satu rumah sama dia, gue bisa minta skincare miliknya ini. Mana nih skincare mahal lagi. Skincare gue aja kalah jauh," ucap Edrea sembari melihat-lihat produk perawatan Leon tersebut. Dan setelah puas memandangi skincare yang membuat ia ngiler pun kini matanya kembali aktif.
"Oke di atas meja hanya anda skincare sama parfum doang. Tapi gue juga perlu curiga jangan-jangan El juga menyimpan alat makeup lagi. Wahhhhh gak bisa gue biarkan, jika sampai dia punya, alat makeup dia nanti akan gue sita. Enak saja dia mau menyaingi kecantikan gue, oh tidak semudah itu sayy," ujar Edrea dengan tangan yang aktif membuka setiap laci di meja rias tersebut.
Dan saat dirinya membuka laci yang terakhir, dahinya kini berkerut. Bukan, dia bukan menemukan alat makeup sesuai dengan kecurigaannya tadi melainkan ia justru menemukan satu benda yang benar-benar familiar untuknya.
"Ini," ucap Edrea yang sudah mengambil benda tersebut dari tempatnya bahkan matanya itu sekarang tampak tengah menelisik benda yang berada di tangannya itu.
...****************...
Ck, author males ah, author mau ngambek sama kalian. Likenya kenapa malah turun kalau author banyak double upnya. Tapi kalau sehari satu kali up malah banyak. Kalian ini bikin seperti menginginkan satu hari satu up saja kayaknya. Baiklah author akan berada di mode satu hati satu up mulai besok kalau LIKE DISETIAP EPS TIDAK TEMBUS 500😤
__ADS_1
Gak mau tau pokoknya huh😣 bukan cuma like aja yang di kencengin tapi VOTE, KOMEN, HADIAH juga sama-sama kencengin dong. semangat 💪 bye...