
Setelah sampai di depan Azlan, Zea menatap wajah tampan tersebut dan setelah itu ia langsung memeluk tubuh Azlan dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
"Az, bawa gue pergi. Gue gak mau disini lagi, hiks," ucap Zea dengan sesegukan.
"Kita masuk ke mobil dulu ya. Habis itu cerita semua yang sedang lo alami ke gue." Zea melepaskan pelukannya dan segera masuk kedalam mobil tersebut saat Azlan sudah membukakan pintu untuknya.
"Lo yakin mau pergi dari rumah lo?" tanya Azlan saat dirinya juga sudah duduk manis di kursi kemudi.
Zea mengangguk mantap tanpa menoleh ke arah Azlan.
"Terus tujuan lo sekarang kemana?" Zea menggelengkan kepalanya. Ia juga tak tau harus pergi kemana, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah keluar dari rumah itu dan tak lagi mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya.
Azlan menghela nafas. Dia juga sebenernya tak berani membawa Zea pergi dari rumah tersebut. Tapi jika melihat raut wajah ketakutan dari Zea membuatnya berpikir seribu kali lagi.
"Apa lo yakin orangtua lo gak cariin lo nanti?"
"Gue yakin 100% mereka gak bakalan cariin gue Az. Mereka gak akan pernah peduli sama gue. Mau gue masih hidup atau udah mati sekalipun. Mereka gak akan peduli semua tentang gue, hidup gue dan masa depan gue," tutur Zea dengan kepala menunduk.
Azlan mengangguk. Ia paham masalah apa yang sedang dialami oleh Zea sekarang walaupun ia tak mendengarkan cerita yang lebih detail lagi, setidaknya dengan cerita singkat tadi, Azlan sudah tau bahwa Zea sekarang tengah mengalami yang namanya broken home dan hal itu juga bisa membuat mental Zea perlahan menjadi terganggu. Padahal jika dilihat dari luar Zea selalu menyebar senyum kepada setiap orang, bisa membuat orang lain juga ikut tertawa akan tingkahnya tapi ternyata dibalik senyum itu terdapat luka yang sangat dalam.
Azlan kini menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan depan rumah Zea. Entah mau kemana dia juga tak tau. Dia ajak saja gadis itu jalan-jalan dulu sebentar dan saat hati Zea sudah kembali membaik, dia akan membujuk gadis itu untuk kembali pulang ke rumahnya.
Tak ada percakapan dari keduanya, hanya ada kesunyian yang menemani perjalanan mereka hingga akhirnya mobil tersebut berhenti.
Azlan keluar dari mobil tersebut dan membukakan pintu mobil di samping Zea.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Zea keluar dari mobil tersebut dan saat dirinya sudah benar-benar keluar, dirinya langsung bisa merasakan angin sepoi-sepoi dengan suara desiran ombak yang sudah dipastikan bahwa dirinya sekarang tengah berada di sekitar pantai di kota itu.
__ADS_1
Setelah Azlan menutup kembali pintu tadi, tanpa rasa segan, Azlan meraih tangan Zea dan membawa tubuh gadis tersebut mendekati tepi pantai dengan pencahayaan yang sangat minim tapi setidaknya mereka masih bisa melihat wajah satu sama lain.
"Teriak lah kalau lo mau teriak biar beban yang ada di hati lo setidaknya sedikit berkurang," ucap Azlan.
Zea menghela nafas beberapakali sebelum akhirnya ia berteriak sekencang-kencangnya. Dan benar saja setelah ia berteriak, emosi dan kesedihannya sedikit berkurang.
Setelah itu ia duduk dengan kepala yang disembunyikan di sela-sela kaki yang ia tekuk dan lengannya.
Sedangkan Azlan, ia juga ikut duduk disamping Zea.
"Hiks, kenapa hidup gue bisa kayak gini Az? Hiks, gu---gue cuma mau kedua orangtua gue akur sama kayak orangtua pada umumnya. Gue gak butuh semua harta yang mereka miliki, gue hanya butuh mereka selalu ada disamping gue. nemenin gue saat gue terpuruk dan senang. Mau dengarin keluh kesah dan cerita gue. Tapi apa yang gue inginkan dari dulu sampai sekarang tak pernah tersampaikan. Apa gue ini tak diinginkan oleh mereka? Apa gue cuma di lahiran di dunia ini untuk mendengarkan pertengkaran mereka? Gue capek Az. Gue capek dengan semua yang ada di dunia ini. Gue capek dengan kehidupan gue, Az. Gue benar-benar capek. Hiks," ucap Zea tanpa menegakkan kepalanya.
Azlan terdiam, ia juga tak tau harus berbuat apa sekarang. Tapi sedetik kemudian tangannya terulur untuk membawa tubuh Zea kedalam pelukannya.
"Gue rasa gue di dunia ini hanya hidup sebatang kara, Az. Gue masih punya orangtua lengkap tapi gue gak pernah ngerasain keberadaan mereka di samping gue. Gue gak punya siapa-siapa Az. Hiks. Semua keluarga besar gue semuanya memandang gue dengan sebelah mata. Apa mereka sebenci itu dengan gue? Bahkan gue punya pikiran untuk mengakhiri hidup gue yang seperti sampah ini."
"Tenanglah, sekarang gue ada disamping lo. Kalau lo ada masalah dan apapun yang buat lo jadi kepikiran, cerita ke gue semuanya. Jangan lo pendam lagi sampai lo depresi dan stress nantinya. Masih banyak orang yang butuh kebaikan lo didunia ini. Masih banyak orang yang ingin melihat senyum lo dan tingkah konyol lo yang selalu lo perlihatkan ke semua orang. Bukannya Zea yang gue kenal gak lemah seperti ini? Padahal Zea yang selama ini gue kenal anaknya periang, pantang menyerah dan selalu tersenyum penuh semangat. Kenapa sekarang jadi begini? kemana Zea yang gue kenal? Gue tau mungkin masalah yang lo hadapin ini sangat berat tapi dengan lo mengakhiri hidup lo sebelum waktunya itu tindakan yang salah besar. Apa lo pikir dengan cara lo hilang selamanya dari dunia ini masalah lo akan selesai begitu saja? Gak Ze. Justru masalah itu bisa jadi akan semakin besar dan runyam. Hubungan orangtua lo akan semakin renggang dan akan saling menyalahkan satu sama lain nantinya. Dan apa lo udah coba bicarakan masalah yang lo dihadapi ini dengan mereka?"
Zea menggelengkan kepalanya.
"Kalau belum, Lo bisa bicara sama mereka hanya bertiga tanpa ada orang lain diantara kalian setelah keduanya sama-sama tenang dan gak dalam kondisi emosi," tutur Azlan.
"Tapi gue takut mereka akan kembali marah di hadapan gue."
"Jika Lo bicara baik-baik sama mereka, gue jamin mereka gak akan berani marah di depan lo. Tapi jika mereka tetap marah, lo sebaiknya pisah mereka dan ajak salah satu dari mereka keluar agar orangtua lo saling menjauh dan terhindar dari pertengkaran."
Zea kini melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Azlan yang tengah tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Gue gak yakin itu semua akan berhasil," tutur Zea yang tampak masih ragu.
Azlan mengapit kedua pipi Zea menggunakan kedua tangannya sehingga membuat bibir Zea maju beberapa senti kedepan.
"Lo belum coba tapi udah pesimis aja." Zea mendengus kesal lalu melepas kedua tangan Azlan.
"Lo gak tau gimana egoisnya orangtua gue."
"Gue emang gak tau itu. Tapi setidaknya dicoba dulu. Kalau gak berhasil terus semangat dan jangan lupa kalau gue akan tetap di samping lo. Jika lo butuh seseorang buat dengerin keluh kesah lo atau hanya sekedar cerita random lo, cari gue. Gue dengan senang hati akan dengerin semua yang keluar dari mulut lo itu." Zea tersenyum.
"Thanks Az. Lo udah buat gue senyum lagi. Dan maaf udah ganggu istirahat lo tadi," tutur Zea tak enak hati.
Azlan terkekeh kemudian mengalungkan tangannya ke leher Zea.
"Ini semua gak gratis ya," tutur Azlan bercanda.
"Hah?"
"Iya gak gratis. Lo harus traktir gue."
"Baiklah, gue bakal traktir apapun yang lo mau," ucap Zea.
"Eh tapi gue cuma bercanda lo, Ze."
"Mau ucapan lo tadi bercanda kek mau enggak, gue akan tetap traktir lo. Gak ada penolakan," tutur Zea.
Azlan mengangguk sembari tersenyum melihat Zea yang kembali ceria seperti biasanya walaupun ia tak tau didalam hatinya itu apa masih mendung atau sudah cerah kembali. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Zea dan kedua orangtuanya agar gadis itu tak lagi tertekan dan bisa merasakan keharmonisan di dalam keluarga.
__ADS_1