The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 341


__ADS_3

Zico kini telah berada didalam kamar seseorang yang kini telah ia tunggu kedatangannya. Hingga beberapa saat terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah pintu kamar tersebut. Zico yang tadinya berada tepat di depan kamar, ia bergegas mematikan lampu kamar tersebut sebelum dirinya berlari kearah ranjang kembali.


Bahkan saat ia mendengar pintu yang tadinya ia kunci, kini kembali terbuka dadanya terasa berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Hingga saat pintu itu terbuka dan menampilkan seseorang yang tengah ia tunggu-tunggu, senyum simpul terukir di bibirnya.


"Ck, gelap banget sih," gerutu orang tersebut dengan berjalan sembari meraba-raba tembok untuk menemukan letak saklar.


Dan baru saja dirinya menemukan saklar tadi, tiba-tiba pinggangnya terasa di peluk seseorang dari belakang. Dan hal tersebut membuat dirinya langsung was-was seketika.


"Sialan, siapa kamu! Lepas. Kurang ajar!" geram dirinya dengan mencoba melepaskan pelukan dari seseorang di belakangnya itu.


"Lepas gak!" teriaknya lagi. Tapi percuma saja teriakan dan pemberontakannya sama sekali tak mendapat pelukan itu terlepas, bahkan sekarang justru semakin erat saja.


"Sialan!" umpatnya dan tanpa rasa kasihan lagi ia dengan cepat menyikut perut seseorang yang berani-beraninya memeluk dirinya. Tak hanya sekali saja ia menyikut orang tersebut melainkan berkali-kali hingga pelukan itu akhirnya terlepas dibarengi dengan suara rintihan dari orang tadi.


Dan saat dirinya ingin kembali memberikan pelajaran kepada seseorang yang telah lancang kepadanya. Orang itu lebih dulu berteriak.


"Stop Kak! Ini Jio!" ucapnya yang membuat orang yang Zico panggil Kakak itu kini menghentikan niatannya tadi dan dengan cepat ia menekan saklar yang tadi sempat tertunda.


Saat semua lampu di kamar tersebut menyala, orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Vivian melebarkan matanya saat melihat sang adik telah terduduk di lantai dengan memegangi perutnya sembari sesekali merintih kesakitan.


"Ya ampun Jio!" heboh Vivian dengan menjongkokan tubuhnya di hadapan Jio.


"Maaf, Kakak gak sengaja. Kakak pikir tadi orang brengsek yang mau melecehkan Kakak. Lagian kamu juga kenapa pakai peluk-peluk Kakak disaat lampu di sini gak nyala. Mana tadi saat Kakak tanya gak jawab lagi," omel Vivian lebih tepatnya ia tak mau disalahkan atas apa yang telah ia perbuat kepada adiknya itu.


Zico yang mendengar omelan dari bidadari yang selalu ia rindukan itu pun ia mencebikkan bibirnya.


"Bisa gak Kakak jangan ngomel-ngomel dulu. Bantuin Jio berdiri kek atau kalau tidak ya tanggungjawab atas apa yang Kakak lakukan tadi. Bukannya malah Jio di omelin tanpa di tolong," ucap Zico dengan wajah masam.


"Ish untuk apa Kakak tanggungjawab? Orang yang salah itu Jio bukan Kakak," ujar Vivian sembari membantu Zico untuk berdiri dari duduknya.


"Tapi yang nyikut perut Jio kan Kakak," ucap Zico tak mau kalah.


"Ya iya. Tapikan Jio yang ngagetin Kakak. Jadi yang salah tetap Jio bukan Kakak. Titik gak pakai koma," ujar Vivian dengan membantu Zico duduk di salah satu sofa di kamar tersebut.


Zico yang mendengar kata legend dari sang Kakak itu pun ia hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Iyain aja biar cepat. Emang perempuan itu gak pernah salah. Cowok terus yang salah pokoknya," dumel Zico yang justru membuat Vivian terkekeh dibuatnya.


"Nah itu tau. Jadi jangan harap kamu menang dari Kakak." Zico menghela nafas kasar dengan melirik sinis kearah Vivian.


Beberapa saat setelahnya keduanya saling terdiam sebelum Vivian menyadari sesuatu hingga membuat matanya terbelalak lebar. Bahkan ia kini memutar tubuhnya hingga menghadap kearah Zico.


"Bentar deh. Kakak baru ngeh. Kapan kamu pulang? Jam berapa sampainya? Kenapa gak ngabarin Kakak dulu? Kalau kamu ngabarin Kakak, waktu kamu sampai di bandara Kakak jemput. Dan gimana keadaan kamu? Baik-baik saja kan? Gak ada yang kurang sedikitpun?" tanya Vivian beruntun yang lagi-lagi membuat Zico menghela nafas. Kalau Vivian sudah mode kepo maksimal seperti ini jangan harap Zico bisa menjawab satu-satu pertanyaan yang terlontar dari bibir Vivian itu. Dan saat Vivian sudah kembali membuka bibirnya dan ingin kembali berucap, Zico langsung memeluk erat perempuan itu.

__ADS_1


"Isttttt, Kakak jangan banyak tanya dulu deh. Jio lagi gak mood buat jawab semua pertanyaan Kakak itu. Jio moodnya mau manja sama Kakak dulu. Jio rindu sama Kakak," ujar Zico dengan menyembunyikan wajahnya di leher Vivian, menghirup wangi tubuh Kakaknya yang selalu ia rindukan itu. Walaupun sekarang ada bau kecut-kecutnya sedikit. Tapi tak apa, bagi Zico itu adalah nikmat dunia yang jarang ia dapatkan.


Vivian yang mendapat pelukan manja dari adiknya itu ia kini tersenyum sembari tangannya membalas pelukan dari Zico.


"Kakak juga rindu sama Jio," balas Vivian dengan memberikan kecupan beberapa kali di pipi Zico.


Untuk beberapa saat keduanya menikmati pelukan kerinduan satu sama lain hingga Zico melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata Vivian.


"Jio punya sesuatu untuk Kakak," ujar Zico yang membuat Vivian mengerutkan keningnya.


"Apa tuh?" tanya Vivian penasaran.


"Ada deh, Jio akan kasih tau Kakak setelah Kakak mandi. Soalnya badan Kakak bau, ishhh," ucap Zico dengan mencapit hidung mancungnya.


"Masak sih?" Vivian mencoba mencium kedua ketiaknya.


"Masih wangi ih. Kamu mah cuma ngasal aja ngomongnya. Ishhh menyebalkan," ucap Vivian sembari berdiri dari duduknya. Dan dengan menghentak-hentakkan kakinya ia berjalan menuju kearah kamar mandi di dalam kamar tersebut meninggalkan Zico yang tengah cekikikan melihat Vivian tengah merajuk.


Dan saat pintu kamar mandi itu telah tertutup rapat, Zico segera berjalan keluar dari kamarnya menuju ke arah kamar pribadinya untuk mengambil sesuatu yang akan ia berikan kepada Vivian nantinya. Dan setelah ia mengambil barang tersebut ia segara kembali ke kamar Vivian.


Butuh 30 menit Vivian membersihkan dirinya, perempuan itu kini sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya karena saat Zico tadi sudah keluar, ia justru kembali membuka pintu kamar mandi untuk mencari pakaian gantinya.


Ia kini mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Zico yang entah kemana anak itu sekarang berada hingga saat dirinya menolehkan kepalanya kearah kanan ia terperanjat kaget saat satu buket bunga langsung tersodor tepat di depan wajahnya bahkan beberapa bunga sudah menghantam wajahnya.


"Astaga Jio. Ishhh bisa gak sih kalau mau ngasih bunga itu jangan di depan muka Kakak. Kamu ini bukannya kasih surprise Kakak biar Kakak seneng, eh ini malah bikin Kakak emosi jadinya," geram Vivian yang justru mendapat cengiran di bibir Zico. Dan hal tersebut hanya bisa membuat Vivian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi btw makasih bunganya," ucap Vivian dengan mengambil buket bunga tadi dari tangan Zico.


"Kakak suka?" tanya Zico sembari melihat Vivian yang tengah menghirup wangi dari bunga tersebut.


"Suka. Bahkan suka banget. Terimakasih adik kesayangannya Kakak. Sini kiss dulu." Vivian mendekatkan dirinya kepada Zico dan memberikan kecupan di kedua pipi laki-laki tersebut.


"Sama-sama Kakakku yang paling cantik. Tapi Jio masih punya yang lain. Kakak mau lihat tidak?" Dengan penuh antusias, Vivian menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu, kita duduk dulu. Pegel juga kalau kelamaan berdiri." Zico kini berjalan menuju kearah ranjang di kamar tersebut diikuti oleh Vivian dibelakangnya.


"Ngadep belakang," perintah Zico saat Vivian sudah duduk di sampingnya. Dan tanpa bantahan, Vivian langsung memutar tubuhnya membelakangi Zico.


Beberapa saat setelahnya, ada sebuah kalung yang melingkar di lehernya. Dan hal tersebut membuat Vivian menundukkan kepalanya untuk melihat kalung yang dipakaikan oleh Zico tadi.


"Dah selesai," ucap Zico yang membuat Vivian kini memutar tubuhnya kembali menatap Zico.


"Cantik," ujar Zico saat melihat kalung pemberiannya terpasang indah di leher Vivian.

__ADS_1


Vivian yang mendapat dua surprise dari little boy-nya pun ia tak bisa lagi membendung air matanya hingga kini air mata itu turun deras membasahi pipinya. Zico yang melihat itu justru panik dibuatnya.


"Lho lho lho kok malah nangis. Kakak gak suka kalungnya? Kalungnya jelek ya? Kalau gitu mending kalungnya di lepas lagi aja dari pada Kakak nangis gini." Tangan Zico kini bergerak ingin melepas kalung di leher Vivian. Tapi tangannya itu justru di tepis oleh Vivian. Bahkan perempuan itu kini berhambur ke pelukan adiknya itu.


"Hiks Kakak nangis itu bukan karena gak suka sama kalungnya. Justru Kakak suka banget hiks. Kakak nangis itu cuma terharu karena baru kali ini Kakak dikasih hadiah sama adik Kakak sendiri. Huwaaaaa." Tangis Vivian semakin menjadi yang membuat Zico kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Terus terang saja ia paling bingung menghadapi situasi seperti saat ini.


"Aduh Kak. Kalau kalungnya bagus harusnya Kakak gak nangis kayak gini dong. Kalau Kakak nangis justru Jio merasa kalau kalung yang Jio berikan ke Kakak itu sangat jelek. Dan Jio tidak setuju dengan perkataan Kakak yang terakhir. Perlu Kakak ingat ya, waktu kecil saat Kakak ulang tahun Jio udah sering kasih kado tau. Tapi emang kadonya hasil dari uang Papa sih buka uang Jio sendiri hehehe," ucap Zico dengan cengiran di akhir ucapannya.


"Tapi Kakak tenang aja, uang buat beli kado ini bukan uang orang lain melainkan uang dari kerja keras Jio sendiri," sambung Zico yang kini membuat Vivian melepaskan pelukannya.


"Hiks iya-iya Kakak percaya, Jio sekarang sudah menjadi orang sukses. Pemilik Elakshi Company yang masuk dalam jajaran pembisnis dunia." Zico tampak terdiam membeku saat nama perusahaannya di sebutkan oleh sang Kakak. Padahal seingat dia, ia sama sekali tak pernah memberitahu bisnis yang ia rintis dari nol itu kepada orang lain.


"Kok Kakak tau?"


"Iya dong. Kakak gitu lho." Zico mencebikkan bibirnya. Narsis sekali perempuan di depannya itu.


"Kakak tau darimana?" tanya Zico masih penasaran siapa yang membongkar rahasianya selama ini.


"Coba kamu tebak siapa," ucap Vivian dengan menaik-turunkan alisnya.


"Haishhhhh, Jio paling tidak suka tebak-tebakan Kak. Buruan kasih tau," ujar Zico.


"Ck, kamu mah gak seru," gerutu Vivian.


"Kak!"


"Iya-iya. Yang ngasih tau tentang itu adalah Daddy Aiden," ujar Vivian yang membuat Zico kini menghela nafas.


"Sudah ketebak," ucap Zico.


"Btw ngomong-ngomong tentang keluarga Abhivandya. Kita kesana yuk Kak," ajak Zico dengan mata berbinar.


"Besok aja. Sekarang kan udah malam. Udah jam setengah 7 tuh. Kakak juga harus nerusin desain Kakak buat klien untuk pertemuan besok siang. Jadi besok pagi aja ya kita kesananya," ujar Vivian.


"Yahhhh, apa kerjaan Kakak gak bisa di pending sebentar?" Vivian menggelengkan kepalanya.


"Ya udah deh kalau gitu. Kita besok sore aja yang kesana kalau kita kesananya pagi kasihan Kakak pasti nanti buru-buru," ujar Zico yang membuat Vivian tersenyum sembari mengacak-acak rambut Zico.


"Tapi untuk malam ini Jio mau tidur sama Kakak. Gak ada penolak sama sekali," ucap Zico.


"Baiklah. Kakak akan menemani tidur Jio malam ini. Oh ya Jio udah makan?" Zico menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Vivian tadi.


"Kalau gitu kita kebawah yuk. Makan dulu, ibu juga paling udah selesai masaknya," ujar Vivian sembari beranjak dari duduknya dan tanpa menunggu jawaban dari Zico terlebih dahulu, Vivian lebih dulu menggandeng tangan adiknya itu dan membawanya menuju ke lantai bawah dimana ruang makan berada.

__ADS_1


__ADS_2