
Edrea geram saat tak ada jawaban dari Zico, ia kini mencabut pisau tadi yang masih menancap di perut Zico. Kemudian ia mengarahkan pisau itu ke leher laki-laki yang sudah ia benci.
"Jawab bajingan! Apa motivasi lo nyulik gue? gue salah apa hah sama lo? Jika lo hanya risih karena gue sering ganggu lo, gue dulu juga udah mundur dan lo sendiri yang mau baikan sama gue. Gue gak maksa itu semua Zic. Kalau lo gak suka ya udah gue mudur! bukan lo tiba-tiba baik sama gue tapi ada maksud tertentu di dalamnya. Gue benci orang yang seperti itu. Dan mulai hari ini di hati gue gak ada lagi rasa cinta dan sayang ke lo tapi rasa benci yang akan terus menyelimuti di diri gue!" geram Edrea penuh penekanan.
Zico yang sudah luka parah dan melihat pisau sudah di depan lehernya pun menanggapi ucapan Edrea tadi dengan senyum miringnya. Tak lupa ia menatap remeh ke arah Edrea dengan mata yang mulai sayu.
"Lo mau tau motivasi gue ngelakuin ini?" Diam, Edrea diam karena diamnya berarti mengiyakan.
"Gue benci keluarga lo! Terutama orangtua lo! Mereka udah tega bunuh orang yang sangat berarti di hidup gue. Keluarga lo harus hancur dengan lenyapnya semua keluarga lo termasuk saudara kembar yang selalu lo sembunyikan identitasnya bahkan lo juga sembunyiin identitas asli lo, Edrea Dwyne Abhivandya. Gue benci marga yang ada di belakang nama lo!" sentak Zico dengan lantang. Untung saja kamar itu dilengkapi oleh fasilitas kedap suara. Maka dari itu setiap kebisingan dari keduanya tak terdengar sampai luar kamar. Dan hal itu membuat Edrea lebih leluasa lagi menyiksa Zico.
Tapi sayang saat Zico mengucapkan bahwa orangtuanya seorang pembunuh, tubuh Edrea tiba-tiba menegang. Ia tak pernah tau bahwa orangtuanya melakukan hal itu.
Dan saat dirinya lengah dengan pikirannya, Zico berhasil membanting tubuh Edrea hingga sekarang posisi mereka terbalik, Edrea berada di bawah tubuh Zico.
"Tapi buat lo, gue masih punya hari nurani buat gak matiin lo. Karena gue akan jadiin tubuh lo ini sebagai pundi-pundi rupiah gue. Tapi gue yang akan bobol status prawan lo terlebih dahulu," ucap Zico.
Edrea tersentak. Gila, benar-benar gila manusia yang berada di atasnya itu. Bisa-bisanya saat tubuhnya sudah mulai melemah karena darah yang terus keluar, otaknya masih memikirkan hal tak senonoh seperti itu.
__ADS_1
Edrea terkekeh geli untuk menanggapi ucapan Zico tadi.
"Cih, sok-sokan mau merawani anak orang. Lo ngukung gue kayak gini aja butuh tenaga yang ekstra. Gue yakin kalau lo mau enak-enak sama gue, belum juga goyang pargoy lo udah tumbang," ejek Edrea.
Zico mengepalkan tangannya, ia tak suka jika kejantanan dan kekuatannya di rendahkan oleh orang lain apalagi seorang wanita.
Ia yang sudah kembali geram pun akan membuktikan hal tersebut ke Edrea. Dan dengan secepat kilat tangannya menyibak kuat baju yang di kenakan oleh Edrea.
"Lo ngelakuin hal itu, jangan harap selamat dari gue Zico!" peringat Edrea.
Edrea terkekeh saat Zico tak kunjung bisa mencopot celananya. Ya gimana mau bisa, jika resleting celana itu ada di belakang dan celana itu merupakan model celana yang pas di tubuhnya dan akan sangat sulit di lepaskan.
"Sekali lagi gue kasih peringatan ke lo, Zico. Jangan macam-macam sama gue!"
Zico masih tak perduli dan kini ia menyerah membuka celana tersebut. Tapi ia tak akan menyerah untuk menyentuh tubuh sensitif Edrea yang lain. Jika ia tak bisa menggunakan yang bawah untuk saat ini maka masih ada yang atas.
Tangan Zico kini berpindah menyelusup kedalam kaos Edrea tapi lagi-lagi tangannya harus terhenti ketika bogeman dari Edrea ia rasakan.
__ADS_1
"Bajingan!" umpat Edrea sembari tangannya yang terus membogem wajah tampan yang sayangnya sudah membuat Edrea muak hanya memandangnya saja. Berkali-kali bogeman itu ia layangkan hingga tubuh Zico tumbang ke samping tubuhnya dan laki-laki itu sudah tak sadarkan diri.
Edrea kini bangkit dari rebahannya dan memandang sinis kearah Zico.
"Gue dulu sayang banget sama lo, Zic. Bahkan sampai beberapa menit yang lalu. Tapi entah ada dendam apa yang ada di diri lo hingga menginginkan keluarga gue hancur dan berakhir lo ngelakuin hal seperti ini." Edrea menghela nafas. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Dan lo tadi bilang kalau orangtua gue udah bunuh orang yang berharga di hidup lo. Gue yakin mereka gak ngelakuin hal itu jika mereka tak di pancing terlebih dahulu." Satu tetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Gue benci sama lo, Zic. Gue benci hiks." Edrea mengusap air matanya dengan kasar. Dirinya benar-benar kecewa dengan laki-laki yang sudah tak sadarkan diri di samping saat ini. Mungkin jika Zico bisa terbuka dengannya. Ia pasti akan membantu memecahkan masalah yang tengah menimpa Zico. Entah bagaimana caranya sebisa mungkin ia akan membantu walaupun hanya akan bertanya kepada orangtuanya alasan dibalik mereka membunuh seseorang dan ia juga akan menemukan orang-orang terkait untuk membicarakan hal itu dengan kepala dingin. Tanpa ada dendam diantara orang-orang itu sehingga tak akan ada lagi nyawa yang akan melayang.
"Gue pulang Zic. Dan jika lo mau kembali balas dendam suatu saat nanti silahkan, tapi secara terang-terangan jangan menghancurkan secara diam-diam. Gue gak suka cara lo seperti ini. Gue juga akan menjadi tameng bagi keluarga gue. Kalau lo mau bunuh mereka berarti lo harus bunuh gue dulu. Gue kasih kesempatan lo buat hidup, supaya lo sadar apa yang lo lakuin sangat-sangatlah murahan," ucap Edrea diakhiri dengan ia menjambak rambut Zico dengan kuat. Walaupun ia tak bisa mendengar rintihan dari mulut laki-laki itu setidaknya ia menyalurkan emosinya yang masih menggebu-gebu.
Sebenarnya bisa saja ia membunuh Zico saat ini juga tapi hati nurani dan ucapan orangtuanya yang mengajarkan dirinya untuk tak membunuh musuh dan hanya melumpuhkannya saja, selalu terngiang-ngiang di otaknya. Maka dari itu ia mengurungkan niatnya tapi jika Zico akan bertindak lagi suatu saat nanti yang membahayakan keluarganya, bisa jadi dengan tangannya sendiri ia membunuh laki-laki yang dulunya menjadi pujaan hatinya itu.
Edrea kini berdiri dari lantai kamar tersebut dan menghampiri tas yang di dalamnya penuh dengan harta yang tadi malam ia curi. Dan dengan sigap ia memakai tas tersebut, lalu setelahnya ia menghampiri Zico kembali.
"Thanks buat uang sama perhiasannya Zic. Anggap aja ini sebagai tebusan ke keluarga gue karena lo udah culik gue selama satu hari penuh. Toh ini semua juga gak berati buat lo. Lo bisa beli lagi, ya gak? ya iya lah, karena black card lo belum gue curi. Sekali lagi, thanks Zic dan bye, gue harap lo insyaf deh sebelum lo mati nanti. Tapi kalau hari ini lo mati karena kehabisan darah, ya udah nasib lo berarti," ujar Edrea diakhiri dengan tendangan di tubuh Zico sebelum dirinya akan keluar dari kamar tersebut yang pastinya akan mendapatkan serangan dari anak buah Zico. Tapi tenang saja pisau dan garpu masih di tangannya. Setidaknya buat bantu dirinya nanti jika kewalahan menghadapi para orang-orang berbadan kekar itu.
__ADS_1