The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 47


__ADS_3

"Cepat banget ya lo move on dari Erland. Malah udah ada yang baru lagi," tutur Azlan tiba-tiba.


Zea yang tadinya sudah bersiap memasukkan makanan ke mulutnya, jadi ia urungkan.


"Itu tadi cuma bercanda Az. Tapi kalau benar juga gak papa, toh dia juga udah kerja. Cukuplah kalau buat kasih uang makan buat gue dan dia doang mah," jawab Zea dan melanjutkan memasukkan makanannya tadi.


"Emang ortu lo bakal setuju?"


"Entahlah gue juga gak tau. Lagian kan gue belum ngenalin dia ke ortu gue, siapa tau ortu cocok sama dia dan kasih restu buat kita nikah," tutur Zea dengan mulut penuh dengan makanan.


Azlan terdiam, tak menimpali ataupun tak merespon ucapan dari Zea tadi walaupun hanya dengan gelengan atau anggukan saja, ia tak lakukan. Dan kini ia memilih untuk menyantap makanan hingga tuntas.


"Gue udah selesai. Lo lanjutin aja makan lo, gue mau bayar dulu," tutur Azlan dan diangguki oleh Zea.


Kini perlahan Azlan menuju ke pria yang tadi sempat bercengkrama dengan Zea.


"Ehem," dehem Azlan untuk mengalihkan perhatian dari pria itu.


"Eh, masnya mau pesan lagi?" tanya pria tadi dengan takut karena tatapan tajam nan dingin dari Azlan.


"Gak. Gue mau bayar semua yang di pesan Zea tadi," jawab Azlan.


Pria itu mengangguk dan menota semua pesanan Zea tadi.


"Semuanya 100 ribu," ucapnya dan dengan segera Azlan mengeluarkan dompetnya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang 100 ribu dan memberikannya ke pria tersebut.


"Eh mas ini kelebihan," ucapnya.


"Itu buat lo, asal lo gak ganggu dan gak macam-macam sama Zea lagi. Paham?"


"Pa---paham," jawab pria tadi dengan gugup bahkan salivanya saja sangat sulit ia telan.


Azlan tersenyum smirk sembari menepuk bahu pria tadi. Setelah itu ia berjalan ke meja yang masih terdapat Zea disana.


"Mengerikan. Zea kenal orang modelan kayak gitu dimana sih? Apa gak takut dia kalau seandainya laki-laki itu menginginkan lebih dan mengarah ke negatif?" gumam pria tadi dengan bergidik ngeri.


"Jangan sampai terjadi apa-apa kepada Zea, ya Allah. Lindungi anak baik itu," pintanya dengan sungguh-sungguh.


Sedangkan Azlan, ia kini sudah sampai kembali di depan Zea yang masih sibuk dengan mengunyah makanan di depannya.


"Mau nambah?" tanya Azlan.


"Gak usah. Ini aja udah cukup," jawab Zea sedikit tak jelas.


"Telan dulu makanannya," tutur Azlan yang mendapat cengiran kuda oleh Zea.

__ADS_1


Azlan menggeleng, kemudian ia mengambil ponsel milik Zea yang masih setia berada digenggamannya. Melihat-lihat isi ponsel tersebut lebih tepatnya isi galeri milik perempuan di depannya saat ini.


Saat tengah mengamati foto Zea dengan berbagai gaya, Azlan dengan terpaksa harus menghentikan kegiatannya itu ketika suara Zea terdengar.


"Az," panggil Zea.


"Hmm."


"Gue udah selesai makan nih. Kita masih mau disini atau lanjut kemana lagi?" tanyanya.


"Langsung pulang aja. Udah mau jam 7 juga ini," jawab Azlan yang nampaknya membuat Zea sedikit kecewa. Ia tadi sempat berharap jika Azlan mengajaknya jalan-jalan malam walaupun tanpa tujuan, hanya sekedar keliling kota itu, melihat gemerlap lampu di pinggir jalan atau sekedar menikmati jagung bakar saja yang penting ia bisa merasakan malam tanpa kesunyian lagi. Tapi harapan hanya lah harapan saja karena Azlan sudah memutuskan untuk mengantarnya kembali kerumah tanpa kehangatan itu.


"Ze," panggil Azlan yang sudah berdiri dari duduknya.


"Eh ah kenapa Az?" tanyanya dengan menengadahkan kepalanya.


"Mau pulang apa gak?" bukannya menjawab pertanyaan dari Zea tadi, ia malah bertanya balik.


Zea mengangguk dan segera memakai sepatunya, lalu berdiri. Dan kini dua orang tersebut dengan beriringan berjalan mendekati mobil Azlan.


Saat sudah sampai di depan mobil tersebut, Azlan tak langsung menuju pintu sebelah kemudi melainkan ia membukakan pintu mobil untuk Zea. Hal itu membuat Zea heran. Ada angin apa Azlan bisa sebaik ini dengannya? batin Zea.


Namun tak urung, Zea masuk juga kedalam mobil tersebut dan saat dirinya sudah duduk dan memasang seat belt, Azlan tak kunjung menutup pintu tersebut yang membuat Zea semakin keheranan.


"Kapan-kapan kalau ada waktu senggang, gue ajak lo menikmati keindahan malam," tutur Azlan yang sepertinya paham dengan kemurungan dari Zea tadi.


"Janji," ucap Zea sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


"Gue gak bisa janji sama lo. Tapi gue pastiin ucapan gue tadi gue lakuin," tutur Azlan.


"Tapi gue gak percaya. Karena kata pepatah laki-laki tuh gak bisa di pegang ucapannya," cemberut Zea.


"Lo dapat kata pepatah kayak gitu dari mana coba?"


"Dari cewek-cewek yang kena trend ghosting," jawab Zea dengan lugu.


Azlan terkekeh gemas sembari mengacak rambut Zea.


"Ada-ada aja," tutur Azlan sebelum menutup pintu mobil tersebut.


Berbeda dengan Azlan yang tadi terkekeh karena keluguannya, Zea justru terpanah dengan senyum tampan Azlan.


"Masyaallah, sungguh kenikmatan yang mana lagi yang hamba sempat lewati, ya Allah. Hingga saat hamba melihatnya sampai terpanah akan keindahan yang engkau ciptakan," batin Zea.


"Jangan ngalamun, kesambet tar baru tau rasa," ucap Azlan yang tanpa disadari oleh Zea, ia sudah berada di kursi kemudi.

__ADS_1


Zea mengerjabkan matanya berkali-kali, lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Azlan yang tengah fokus menyetir mobilnya.


"Az."


"Kenapa?"


"Coba lo ketawa atau kalau gak bisa, senyum aja gak papa," pinta Zea.


"Kan lo tadi udah lihat gue ketawa," jawab Azlan.


"Ck, gue tadi gak lihat sepenuhnya."


"Suruh siapa gak lihat sepenuhnya tadi."


"Azlan, ayolah. Sekali lagi please," mohon Zea.


"Gak. Senyum dan tawa gue mahal harganya," tutur Azlan bercanda.


"Ya elah pelit amat sama teman sendiri," sebal Zea.


"Emang lo teman gue?"


"Lah emang lo gak menganggap gue teman lo?" Azlan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak ada gunanya gue temenan sama lo," tutur Azlan.


"Sakit Az, sakit," ucap Zea penuh dramatis.


Azlan yang mendengar rintihan dari Zea tadi tampak khawatir bahkan ia sudah meminggirkan mobilnya.


"Katakan dimana yang sakit?" tanya Azlan dengan panik.


"Disini sakit banget," jawab Zea sembari memegang dadanya.


"Rasa sakitnya gimana?"


"Rasanya tuh kayak di tusuk pakai belati. Perih, nyeri dan linu jadi satu. Mana tuh belati tajam banget," tutur Zea.


"Ze, ngomong yang jelas."


"Ini udah jelas Az. Hati gue sakit saat dengar ucapan lo tadi yang tajam kayak belati." Azlan yang tadi terlihat panik pun kini mendengus kesal, kemudian ia kembali menjalankan mobilnya tanpa berbicara sedikitpun.


"Lo marah ya Az?" tanya Zea hati-hati.


"Az, jawab dong. Gue minta maaf deh sama candaan gue tadi," tutur Zea sendu.

__ADS_1


"Udah dua kali gue buat lo marah hari ini. Gue emang gak pantes jadi teman siapapun, Az. Dan benar apa yang lo katakan tadi kalau gue jadi teman lo, gak akan ada manfaatnya sama sekali yang ada gue malah bikin lo marah terus karena tingkah gue ini. Sekali lagi gue minta maaf dan terimakasih buat hari ini," sambung Zea dengan menundukkan kepalanya sembari memainkan rok sekolahnya untuk sedikit mengurangi rasa sedihnya.


__ADS_2