The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 38


__ADS_3

Saat pulang sekolah, Edrea kebetulan berjalan sendiri ke arah parkiran mobil tanpa kedua sahabatnya yang lebih dulu pulang kerumah merek masing-masing. Dan setelah 1 minggu penuh mobilnya disita oleh kedua saudara kembarnya, akhirnya mulai hari ini ia sudah diperbolehkan untuk menyetir mobil sendiri kesekolah.


Dengan santai ia berjalan hingga akhirnya ia sampai di parkiran sekolah yang masih beberapa unit mobil saja disana. Edrea pun bergegas mendekati mobilnya yang sudah tertangkap matanya sedari tadi.


Saat dirinya sudah sampai di samping mobilnya dan ingin membuka pintu mobil tersebut, tiba-tiba saja tangannya di pegang oleh seseorang dari samping. Edrea awalnya kaget dan langsung menoleh ke arah seseorang tersebut yang tengah menatap dirinya.


Edrea menghela nafas saat mengetahui orang tersebut adalah Zico.


"Lepasin Zic," ucap Edrea sembari mencoba melepaskan genggaman tangan Zico di pergelangan tangannya.


"Ikut gue sekarang," tutur Zico penuh dengan perintah dan tanpa aba-aba ia langsung menarik tubuh Edrea menjauh dari parkiran mobil dan menuju taman di belakang sekolah.


Setelah sampai di taman tersebut, tangan Zico akhirnya terlepas dari pergelangan tangan Edrea yang sudah memerah.


"Lo mau ngapain ngajak gue kesini?" tanya Edrea yang tiba-tiba takut jika Zico akan menyerangnya nanti.


"Duduk dulu. Gue mau bicara sama lo."


Edrea menghela nafas namun akhirnya ia menuruti ucapan dari Zico. Ia duduk di kursi yang lumayan jauh dari Zico.


"Kalau lo disitu gue ngomongnya gimana?"


"Ya tinggal ngomong aja."


Zico menggelengkan kepalanya.


"Deketan sini," tutur Zico sembari menepuk-nepuk kursi yang berada tepat di sebelahnya.


"Gak, disini aja. Gue gak mau kalau orang lain lihat kita duduk bersebelahan terus nantinya akan berasumsi yang tidak-tidak. Terutama gue gak mau hubungan lo dan Puri rusak karena kesalahpahaman nanti," ucap Edrea dan saat mengucapkan hubungan antara Zico dan wanita itu, lidahnya terasa kelu bahkan ia menggenggam tangannya sendiri untuk mengalihkan rasa sakit hatinya.


Sedangkan Zico, ia sudah mengepalkan tangannya kala mendengar nama Puri di lontarkan dari mulut Edrea.


"Gue sama dia gak ada apa-apa," ucapnya sembari meredam emosi.


"Gue gak percaya sama omongan lo, Zic. Semua orang aja udah tau kalau lo sama Puri udah lama jadian," timpal Edrea.


"Jadi lo percaya sama omongan orang lain dari pada gue?"


"Kenapa gue harus percaya sama omongan lo? kalau mata gue sendiri juga sering lihat kalian berduaan. Udah lah Zic, kalau gak ada hal yang penting yang perlu lo omongin sama gue, gue balik dulu," tutur Edrea sembari berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Rea," panggil Zico dengan berlari menyusul langkah Edrea.


Hingga dirinya bisa meraih tangan Edrea setelah itu ia menarik tangan tersebut hingga membuat tubuh Edrea terhuyung dan jatuh ke dalam pelukannya.


"Lo salah paham, Rea," ucap Zico.


"Lepasin Zic," berontak Edrea hingga pelukan Zico terlepas. Ia pun segera menatap dingin wajah laki-laki di depannya itu.


"Mau itu salah paham atau gak. Apa hubungannya sama gue, Zic? Lo bukan siapa-siapa gue. Jadi kalau lo mau pacaran dan dekat dengan siapa aja itu hak lo. Gue gak ada hak apa-apa atas diri lo. Udah ya Zic, gue mau pulang," tutur Edrea.


Zico terdiam, ia mencerna setiap ucapan dari Edrea tadi. Apa yang dikatakan oleh Edrea tadi memang benar kalau dia bukan siapa-siapanya tapi kenapa tingkahnya tadi seolah-olah dirinya takut jika Edrea akan salah paham kepadanya?


Namun ia segera menggelengkan kepalanya dan menatap Edrea yang semakin menjauh dari dirinya.


"Edrea!" teriak Zico.


"Gue suka sama lo!" sambungnya yang membuat Edrea menghentikkan langkahnya. Ia tercengang dengan perkataan Zico tadi. Apakah pendengarannya masih normal? apakah Zico benar-benar menyatakan perasaannya saat ini?


"Rea, gue benar-benar suka sama lo entah dari kapan perasaan ini ada," tutur Zico yang perlahan mendekati Edrea.


Edrea sekarang sudah memastikan jika pendengaran masih normal dan apa yang ia dengar tadi memang tak salah. Ia tersenyum senang namun beberapa saat senyuman itu kini hilang lagi saat dirinya ingat bahwa Zico sudah memiliki pasangan.


"Maaf Zic, gue gak bisa jadi selingkuhan lo. Semuanya udah telat untuk kita menjalin hubungan," tutur Edrea dan setelah mengucapkan perkataan tadi ia langsung berlari menjauhi Zico.


"Rea, lo salah paham. Gue gak ada hubungan apa-apa sama wanita yang lo maksud itu," teriak lantang Zico namun sepertinya Edrea sudah tak bisa mendengar teriakkan tadi karena sang empu sudah hilang dari pandangannya.


"Arkh!" erang Zico sembari mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa saat gue suka sama lo. Lo malah jauhin gue, Rea," gumamnya frustasi. Ia menyesal dulu pernah bersikap kasar dengan Edrea bahkan ia pernah meninju wajah cantik itu walaupun tak di sengaja olehnya tapi rasa bersalahnya terus menghantui pikirannya.


Ia kini menatap tangan yang pernah ia gunakan untuk memukul Edrea, lalu ia meninjukan tangan tersebut ke pohon yang kebetulan berada disampingnya dengan cukup keras.


"Gue nyesel, Rea. Gue benar-benar nyesel udah pernah bersikap kasar sama lo," gumamnya penuh dengan penyesalan.


Dan tanpa mereka sadari bahwa di sekitar mereka tadi ada seseorang yang telah menguping semua pembicaraan dari keduanya. Ia pun mengepalkan tangannya saat Zico dengan lantang menyatakan perasaannya kepada Edrea dan saat ia mendengar penyesalan yang keluar dari mulut seksi milik Zico itu.


"Jangan harap lo dapati Zico, Rea," gumam orang tersebut.


"Kalau gue gak bisa dapatin hati Zico. Lo juga gak akan bisa. Zico milik gue sampai kapanpun," sambungnya lagi. Setelah itu ia keluar dari persembunyiannya dan mendekati Zico yang sekarang terduduk dibawah pohon tadi dengan pandangan kosong menatap ke depan.

__ADS_1


Ia berjalan dengan melenggak-lenggok dan bersikap seolah ia tak mendengarkan percakapan tadi.


"Lho, kamu belum pulang, Zic?" tanya orang tadi.


Zico melirik sekilas kearah orang yang sekarang duduk di sampingnya. Ia menghela nafas kasar setelah itu ia beranjak untuk berdiri.


"Kamu mau kemana?"


"Bukan urusan lo," tutur Zico dengan dingin. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju parkiran sekolah.


Namun saat dirinya ingin masuk kedalam, orang tadi menghadangnya bahkan menutup pintu mobil itu.


"Minggir!" usir Zico pada orang tadi yang masih berdiri didepannya.


"Gak," tuturnya dengan senyum.


"Gue bilang minggir ya minggir," geram Zico.


"Aku bilang gak ya enggak," tuturnya dengan meniru perkataan dari Zico tadi.


"Mau lo apa sih, Puri?" tanya Zico yang benar-benar sudah tak tahan dengan sikap orang didepannya itu.


Puri tersenyum penuh arti.


"Anterin aku pulang," ucapnya.


"Pulang sendiri bisa kan."


"Aku gak bawa mobil, Zic. Ayolah anterin gue toh biasanya kamu juga mau antar jemput aku," tutur Puri.


"Gue ngelakuin itu karena disuruh Mama lo. Dan gue tegasin mulai sekarang gue gak akan lagi mau antar jemput lo dan menuruti apa aja yang lo mau," ucap Zico kemudian ia mendorong pelan tubuh Puri agar minggir dari depannya dan tak lagi menutupi pintu mobilnya.


"Sial, sial, sial. Lo gak akan bisa lepas dari tangan gue, Zic. Gak akan ada wanita lain yang bisa dapetin lo selain gue. Gue akan hancurin wanita yang berani mendekati lo termasuk Edrea," teriaknya saat mobil Zico sudah tak ia lihat lagi.


...****************...


Happy reading semuanya 🤗 jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara Like, komen, vote dan juga kasih hadiah, biar author semakin semangat nulisnya 😚


Jangan lupa juga untuk kasih tau author jika ada kesalahan dalam penulisan 🤗

__ADS_1


Stay safe and stay healthy 🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋


__ADS_2