
Leon terus mencoba menenangkan Callie yang semakin meraung-raung dalam tangisnya dengan terus menerus memanggil nama Mommy yang ia tujukan untuk Edrea.
"Sayang! Bantu aku!" teriak Leon yang sudah kewalahan. Bahkan ia sudah melakukan berbagai cara supaya anak perempuannya itu menghentikan tangisannya. Namun semua cara itu tak mempan untuk meredam tangis Callie.
"Ogah, urus sendiri. Siapa suruh dia tadi kurang ajar sama aku," balas Edrea dari balkon kamar tersebut.
"Mommy hiks!" teriak Callie dengan suara sesegukan yang kembali terdengar di telinga Edrea.
"Sayang, ayolah. Kesampingkan rasa marah kamu sama Callie. Memangnya kamu tidak kasihan sama dia yang seperti ini?" bujuk Leon.
"Aku tidak peduli El. Biarkan saja dia menangis. Nanti kalau dia capek ya berhenti sendiri," ujar Edrea.
"Dia gak akan berhenti nangis kalau kamu tidak turun tangan buat nenangin dia," ucap Leon yang masih berusaha meluluhkan hati Edrea supaya kekasihnya itu mau membantu dirinya.
"Ck, sebelum dia ketemu sama aku, siapa yang bisa menenangkan dia?" tanya Edrea.
"Mommy Della sama baby sitternya," jawab Leon dengan jujur.
"Nah kalau kamu tau orang yang bisa menjinakkan dia, kasih saja sama salah satu dari dua orang yang kamu sebutkan tadi. Kalau Mommy jauh dari jangkauan, pilihan baby sitter dia. Dan biarkan baby sitternya itu bekerja," tutur Edrea.
Leon yang mendengar penuturan dari Edrea tadi ia tampak menghela nafas sebelum dirinya membawa tubuh Callie keluar dari kamar tersebut. Tapi saat baru beberapa langkah saja, dirinya di buat kesakitan saat Callie memberontak dan tak sengaja kaki anak itu menendang aset berharganya. Dan hal tersebut mau tak mau ia harus menurunkan tubuh Callie dari gendongannya.
"Arkhhhh!" desis Leon yang sudah tak mempedulikan Callie yang sekarang tengah berlari masuk kedalam kamarnya kembali dan tujuan utama anak itu adalah ke arah Edrea yang masih menikmati pemandangan yang memanjakan matanya itu.
Callie yang sudah semakin mendekati tubuh Edrea pun ia semakin menambah kecepatan larinya hingga berakhir ia melingkarkan tangannya di kaki jenjang Edrea.
Edrea yang tadi tak menyadari keberadaan Callie pun ia sempat terperanjat kaget dan hampir saja dirinya terjatuh kebelakang jika saja ia tadi tak memegang pembatas balkon tersebut.
Dan setelah ia menyadari jika pelaku yang menyebabkan dirinya terkejut pun ia berdecak sebal.
"Ngapain kamu disini? Ikut sama Daddy sana, jangan ikut sama aku," ucap Edrea diakhiri dengan ia mengerucutkan bibirnya.
"Hiks tidak mau. Callie tidak mau sama Daddy. Callie maunya sama Mommy," tutur Callie.
"Tapi Mommy tidak mau sama kamu. Kamu nakal soalnya. Udah mengurung Mommy di kamar ini, ditambah memukul tubuh Mommy dan juga melawan sama Mommy. Satu lagi kamu tidak menurut sama sekali dengan Mommy," ujar Edrea yang sebenarnya tak tega melihat Callie seperti saat ini. Tapi yang ia lakukan ini semata-mata untuk memberikan hukuman kepada anak perempuannya itu agar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama dengannya ataupun dengan orang lain disekelilingnya.
"Hiks maafkan Callie, Mommy. Callie menyesal telah melakukan semua itu. Hiks Mommy tolong maafin Callie," ucap Callie sembari menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Edrea.
Edrea tampak terdiam untuk memikirkan apakah dirinya harus memaafkan Callie di waktu itu juga atau ia perlu mengulur waktu agar Callie benar-benar kapok.
Namun setelah beberapa saat ia memikirkan hal tersebut, Edrea sepertinya telah memutuskan jika ia akan memaafkan Callie di waktu itu juga. Karena ia benar-benar sudah tak tega melihat Callie ditambah ia juga tak kuasa melihat wajah Callie yang sekarang dipenuhi dengan air mata dan cairan lain yang berasal dari hidungnya itu. Benar-benar persis seperti dirinya yang menangis tadi.
"Oke, baiklah Mommy akan maafin kamu. Tapi ingat, kamu tidak boleh mengulanginya lagi. Karena perlu Callie tau, apa yang dilakukan Callie tadi itu tidak baik sama sekali. Dan itu juga bisa membuat dosa Callie bertambah," ucap Edrea yang sekarang menjongkokan tubuhnya tepat di depan Callie.
"Dan jika Callie mengulanginya lagi, Mommy tidak akan mau lagi berbicara sama kamu sampai kapanpun. Apa Callie mengerti?' tutur Edrea yang diangguki oleh Callie bahkan anak perempuan tersebut kini memeluk tubuhnya.
"Mommy, lutut Callie sakit," ucap Callie disela pelukannya tadi dengan suara sesegukan.
Edrea yang merasa ada yang tidak beres dengan pengakuan dari Callie tadi pun ia segera melepas pelukannya lalu ia menyingkap dress yang di gunakan Callie hingga memperlihatkan lutut anak perempuannya itu.
"Astaga," kaget Edrea saat ia melihat ada darah yang cukup banyak keluar dari lutut Callie.
Kemudian tanpa banyak bicara lagi Edrea langsung menggendong tubuh Callie untuk masuk kedalam kamar Leon kembali.
__ADS_1
"Duduk dulu disitu. Mommy carikan kotak P3K untuk kamu dulu," tutur Edrea sembari bergerak menuju ke sebuah lemari kecil yang berada di dalam kamar tersebut. Lalu setelahnya ia kembali menghampiri Callie.
"Tahan sebentar, oke?" ucap Edrea saat ia ingin memulai mengobati luka tersebut.
Dan saat ia membersihkan luka itu, terdengar rintihan Callie dengan air mata yang kembali menetes. Dan hal tersebut membuat Edrea menyesali perbuatannya tadi yang harus mendiamkan Callie tanpa adanya rasa peka jika anaknya itu tengah terluka.
Sedangkan Leon yang rasa sakitnya perlahan menghilang, ia kini segera masuk kembali kedalam saat mendengar rintihan dari Callie.
"Astaga, dia kenapa?" tanya Leon yang tampak khawatir setelah melihat keadaan Callie saat ini.
"Aku juga tidak tau. Kenapa dia bisa terluka seperti ini," balas Edrea yang membuat mata Leon kini langsung mengarah ke Callie.
"Callie, katakan sama Daddy. Luka ini Callie dapatkan dimana dan karena apa?" tanya Leon.
"Hiks Cal---Callie tadi terjatuh saat Callie mau menangkap kupu-kupu di kebun belakang. Dan lutut Callie tidak sengaja terkena batu. Hiks lutut Callie sakit Daddy hiks," adu Callie.
Leon yang membayangkan betapa kerasnya Callie terjatuh hingga menimbulkan luka seperti yang ia lihat sekarang, Leon tampak bergidik ngeri.
"Callie anak hebat, anak kuat. Jadi harus tahan sampai Mommy selesai mengobati Callie. Callie bisa menahannya kan?" tutur Leon yang dibalas anggukan kepala oleh Callie
Dan beberapa saat setelah Edrea berkutat dengan aktivitasnya itu di temani Leon yang hanya menatapnya dan juga tangisan Callie, akhirnya tugasnya kini telah selesai.
"Sudah selesai. Luka ini besok akan sembuh. Jadi Callie berhenti menangis ya," tutur Edrea yang merubah posisi duduknya di samping Callie lalu setelahnya ia memeluk tubuh anak perempuannya itu untuk memberikan ketenangan kepadanya.
Dan karena pelukan dan elusan di tangan Edrea, Callie perlahan tenang kembali bahkan anak itu terlihat mengantuk hingga berakhir ia menutup matanya.
Edrea yang melihat hal tersebut pun ia tersenyum. Tapi setelahnya tatapan matanya beralih kearah Leon yang masih berdiri di hadapan Edrea.
"Haishhh," decak Leon saat ia melihat noda di bajunya tersebut.
"Udah sana mandi. Habis itu gantiin aku buat jaga Callie karena aku juga mau membersihkan tubuhku," ujar Edrea.
Leon yang mendapat perintah langsung dari calon ibu negaranya itu pun ia kini bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.
Dan disaat Edrea menunggu Leon selesai dengan aktivitasnya itu, Edrea yang sudah pegal menahan tubuh Callie akhirnya perlahan, ia memindahkan tubuh anak perempuannya itu keatas ranjang.
"Eh sebentar, ini anak udah mandi belum tadi? Kalau belum mandi bisa ada drama baru lagi nanti," gumam Edrea sembari menatap lekat tubuh serta pakaian Callie yang berbeda dari sebelumnya dan berakhir ia mencium tubuh Callie.
"Oke, dia sudah wangi berarti dia sudah mandi. Huh syukurlah," ucap Edrea dengan helaan nafas lega sebelum dirinya ikut berbaring di samping Callie.
...****************...
Hampir setengah jam Leon berada didalam kamar mandi tersebut, kini laki-laki itu sudah memperlihatkan batang hidungnya lagi.
Edrea yang melihat kekasihnya itu sudah keluar, awalnya ia menutup matanya karena ia takut Leon akan menguji imannya dengan memperlihatkan sebagian tubuhnya. Tapi saat ia mengintip sekilas penampilan Leon, ia bisa bernafas lega dan kembali membuka matanya karena Leon keluar bukan menggunakan handuk biasa melainkan ia menggunakan handuk kimono.
Sedangkan Leon yang kini sudah berada di walk in closet untuk berganti pakaian, ia di buat terkejut dengan penampilan ruang gantinya itu yang terakhir kali ia tinggalkan dengan keadaan rapi tapi justru sekarang sangat kacau dengan beberapa barang yang tergeletak di atas lantai. Dan ia tau siapa pelaku yang melakukan semua ini.
"Sayang!" panggil Leon yang membuat Edrea berdecak sebal. Tapi tak urung ia turun dari ranjang dan menghampiri Leon.
"Ck, jangan teriak-teriak bisa kali El. Gak sadar apa teriakan kamu itu kayak toa. Dan ingat Callie sekarang lagi tidur, dia bisa kebangun dan rewel karena terganggu dengan teriakanmu itu," omel Edrea.
Tapi omelannya itu terhenti saat Leon sudah memutar tubuhnya menghadap kearahnya.
__ADS_1
"Sudah ngomelnya?" tanya Leon yang di jawab anggukan kepala oleh Edrea.
"Kalau sudah, giliran aku yang akan mengomeli kamu," ujar Leon dengan ekspresi wajah serius dan hal tersebut membuat tubuh Edrea menegang.
"Coba kamu lihat di ruangan ini, apa ada yang salah?" tanya Leon dengan menggeser tubuhnya disamping Edrea agar kekasihnya itu melihat dengan jelas kondisi ruang gantinya itu.
Edrea yang melihat dan sadar jika penyebab ruangan itu sekarang seperti kapal pecah pun ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Aku tau, selama kamu terkunci disini, kamu pasti mencari bukti untuk menguatkan dugaanmu jika Mr. Misterius itu adalah aku dan berakhir kamu mengetahuinya sekarang. Tapi sayang, apa di saat kamu mencari bukti itu, kamu tidak mencarinya dengan perlahan? Hingga membuat ruangan ini seperti kapal pecah seperti ini?" tanya Leon yang mencoba menahan emosinya saat ia melihat salah satu guci yang ia beli dengan nominal yang fantastis dan juga merupakan benda antik itu, kini telah hancur berserakan di lantai ruangan tersebut.
Edrea yang terkena omelan dari Leon pun ia menundukkan kepalanya.
"Maaf," ucap Edrea dengan suara lirih.
Dan hal tersebut membuat Leon semakin tak tega lagi untuk memarahi Edrea. Hingga untuk meredam rasa kesal dan marahnya ia melampiaskannya dengan menggigit pipi Edrea dan diakhiri ia memeluk tubuh kekasihnya itu.
"Jangan bergerak. Biarkan aku memelukmu sebentar," ucap Leon sembari menyembunyikan wajahnya di leher Edrea.
Sedangkan Edrea yang sedari tadi sudah siap mendapatkan hukuman dari Leon pun dahinya dibuat mengkerut saat melihat Leon bukannya menghukum dirinya justru malah bergelayut manja di tubuhnya.
"El, kamu tidak mau menghukumku?" tanya Edrea penasaran. Dan pertanyaan tadi di jawab gelengan kepala oleh kekasihnya tersebut.
"Aku tidak akan menghukummu, karena mau semarah apapun aku, kalau ini semua sudah terjadi ya sudah mau bagaimana lagi, toh tidak akan mengembalikan barang-barangku yang rusak dengan cara memarahimu. Nanti kalau aku punya uang lebih, bisa buat beli yang baru," ujar Leon.
"Tapi aku mau kamu nanti bertanggungjawab untuk membersihkan semua kekacauan yang kamu sebabkan tadi," sambung Leon yang membuat Edrea berdecak.
"Ck, itu sama saja kamu memberi hukuman ke aku dengan cara menyuruhku untuk membersihkan semua kekacauan ini," tutur Edrea.
"Kata siapa? Ini tuh bukan hukuman sayang. Tapi aku mau kamu bertanggungjawab atas apa yang kamu lakukan tadi," ujar Leon.
"Haish ya sudahlah terserah kamu saja mau menganggap itu sebagai hukuman atau justru hanya tanggungjawab saja," tutur Edrea pada akhirnya.
"Tapi apa aku yang harus mengerjakan semua ini sendiri tanpa bantuan dari art kamu?" tanya Edrea sembari membayang seberapa lelahnya dia nanti membersihkan itu semua dengan sendiri. Terlebih saat ia melihat baju-baju Leon dalam beberapa lemari terlihat acak-acakan. Sudah dipastikan tangannya nanti akan pegal karena terlalu banyak melipat baju milik kekasihnya itu.
"Iya lah. Kamu sendiri yang membereskan semua ini sendiri. Memangnya kamu tadi saat mengobrak-abrik ruangan ini minta bantuan orang lain?" Edrea tampak menggelengkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari Leon tadi.
"Nah, kamu sudah mengakuinya sendiri kan. Jadi jangan harap kamu mendapat bantuan dari siapapun saat mempertanggung jawabkan perbuatan kamu ini," tutur Leon sembari melangkahkan kakinya menuju ke salah satu lemari yang berisi pakaian santainya.
"Sayang, apa kamu tidak berniat meringankan bebanku dengan cara memberiku seseorang yang bisa membantuku nanti?" ucap Edrea sembari mengikuti langkah Leon dari belakang.
"Tidak," jawab Leon dengan tegas.
"Tapi sayang, aku tidak sanggup kalau harus membereskan kekacauan ini sendiri," ujar Edrea dengan tubuh lemasnya.
"Sanggup tidak sanggup kamu harus melakukannya sendiri. Dan anggap saja apa yang kamu lakukan tadi sekaligus untuk latihan saat kita sudah menikah nanti," ucap Leon.
"Karena belum tentu saat kita menikah nanti aku menggunakan jasa art dan belum tentu juga kita akan tinggal disini. Jadi berlatihlah mulai dari sekarang untuk menjadi istri cekatan," ujar Leon yang membuat Edrea mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Leon yang sudah mengambil baju gantinya dan kini sudah memutar tubuhnya pun ia menatap lekat kearah Edrea.
"Apa kamu masih mau disini dan melihatku berganti baju?" tanya Leon sekaligus menggoda Edrea.
Sedangkan Edrea yang baru ingat Leon belum memakai pakaian pun ia kini meninggalkan laki-laki itu untuk keluar dari ruangan tersebut dengan kaki yang ia hentak-hentakkan.
__ADS_1