
Butuh waktu 1 jam masalah yang menimpa SMA Balerix dan SMA tetangga akhirnya usai saat para pelaku telah ditemukan dan akan segera diurus ke pihak yang berwajib untuk mendapatkan pelajaran buat pelaku agar jera.
"Thanks atas bantuan lo," ucap laki-laki yang bersama dengan Erland tadi yang ia kenal dengan nama Andi.
"Hmmm. Untuk lain kali kalau ada masalah yang berkaitan dengan sekolah ini, jangan asal keroyokan kayak gini. Kasih tau gue, sebisa mungkin gue bantu lo," tutur Erland yang sudah mengantar Andi bergabung lagi dengan para teman-teman satu sekolahannya.
"Oke. Sekali lagi thanks," ucapnya dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Erland. Setelah itu semua siswa yang tadi berada di sekolah Balerix kini berhamburan pergi dari sekolah tersebut yang membuat Erland bisa bernafas dengan lega setidaknya ia tak jadi menghabiskan tenaganya untuk hari ini.
Dan saat dirinya ingin beranjak dan kembali masuk kedalam area sekolah menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk kedalam area sekolah tersebut, harus terurungkan kala matanya tak sengaja menatap wanita yang tengah berlari menghampiri gerbang sekolah tersebut.
"Jangan ditutup dulu!" teriak wanita tersebut dari kejauhan.
Erland menajamkan penglihatannya saat mendengar suara yang nampak tak asing ditelinganya.
"Astaga wanita itu lagi," gumam Erland saat wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Kayla itu semakin dekat dengan tempatnya berdiri sekarang.
"Huft, akhirnya sampai," ucap Kayla saat sudah berada di depan tubuh Erland yang tengah menyilangkan kedua tangannya dan menatap tajam kearah Kayla.
"Ini jam berapa?" tanya Erland berlagak seolah-olah dirinya adalah guru BK atau ketua OSIS yang selalu bertanya seperti itu saat ada siswa yang telat datang ke kelas atau sekolah.
Kayla yang tadi membungkukkan badannya kini mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Erland.
"Eh kok lo ada diluar sih?" bukannya menjawab pertanyaan dari Erland tadi, ia malah bertanya balik.
Erland tak menjawab dan pertanyaannya tadi ia ulangi lagi.
"Gue tanya jam berapa ini? kenapa baru sampai sekolah jam segini?"
Kayla kini menegakkan tubuhnya sembari mengigit bibir bawahnya.
"Sekarang hmmm jam 8," jawab Kayla.
"Tadi di jalan ada kendala sedikit dan jadinya gue telat masuk deh," sambung Kayla dengan menatap ke sekitarnya.
__ADS_1
"Apapun alasannya. Lo telat ya tetap telat, ikut gue keruang BK sekarang," ucap Erland.
"Ck, jangan dong. Kita kan sama-sama telat nih jadi boleh lah gak saling mengadu. Kayak waktu itu lho, kita kan kerja sama menghindari hukuman guru BK ya walaupun akhirnya ketahuan dan dihukum juga sih," tutur Kayla.
"Siapa yang bilang gue telat?"
"Ya gak ada yang bilang sih, tapi kan lo aja masih di luar sekolah berarti kan lo juga telat sama kayak gue."
"Sok tau ya lo. Kalau gue telat, tas gue masih gue bawa sekarang."
Kayla pun tampak berpikir sejenak.
"Benar juga sih. Tapi kenapa lo masih di luar gerbang kalau lo gak telat?" tanya Kayla yang malah kepo dengan Erland.
"Kepo," tutur Erland sembari melangkahkan kakinya menuju ke gerbang sekolah yang memang sengaja tak ditutup karena petugas disana sudah memberikan kunci gembok ke Erland untuk mengatasi semua masalah tadi.
"Eh eh eh tunggu," ucap Kayla sembari berlari dan mencekal lengan Erland. Erland pun menghentikan langkahnya dan menatap tangan Kayla yang menempel di lengannya.
"Eh ah maaf," tutur Kayla sembari melepaskan tangannya tadi.
Erland berdecak setelah itu ia memutar tubuhnya menghadap Kayla.
"Apa?" tanya Erland ketus.
"Bantu gue masuk kedalam dong," pinta Kayla.
"Gak. Suruh siapa tadi telat," tolak Erland.
"Ck, ayo lah Er, bantu gue kali ini aja ya please."
"Sekali gak ya gak." Erland kini benar-benar masuk ke dalam sekolah tersebut dan segera menutup pintu gerbang bahkan menguncinya.
"Erland please jangan ditutup dong. Biarin gue masuk dulu," tutur Kayla yang masih memohon ke Erland namun tampaknya Erland acuh kepadanya dan kini Erland malah meninggalkan dirinya sendiri di luar gerbang sekolah.
__ADS_1
"Erland!" teriak Kayla yang tak digubris oleh Erland.
Kayla pun berdecak dan mengigit jari-jemarinya untuk memikirkan gimana caranya ia bisa masuk kedalam area sekolah itu.
Beberapa saat kemudian matanya melebar sempurna.
"Ah gue tau. Lewat gerbang belakang," gumamnya setelah itu ia berlari menuju gerbang yang waktu itu ia dan Erland gunakan saat mereka berdua telat kesekolah.
Setalah berlari sedikit jauh, akhirnya Kayla sudah berada di tempat tersebut, ia pun segera mendekati gerbang tersebut yang kebetulan tak terkunci.
Ia tak akan membuang-buang waktu lagi, ia sekarang memasuki area sekolah tersebut dengan mata yang aktif melihat ke kanan dan kiri.
"Huh aman," gumamnya lirih. Ia kini bisa bernafas lega setidaknya masih aman untuk sekerang.
Masih dengan langkah mengendap-endap, Kayla semakin memasuki lingkungan sekolah tersebut tapi saat dia melewati lorong kosong, tubuhnya tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan tak lupa mulutnya juga dibekap oleh orang tersebut.
Kayla pun meronta untuk dilepaskan dari kuncian tangan kekar yang menyekapnya itu.
"Stttt diam, kalau lo gak mau ketauan sama Pak Bokir!" bisik orang yang menarik paksa tubuh Kayla tadi tepat ditelinga Kayla. Kayla yang tadinya terus memberontak pun kini membeku ditempat. Wangi parfum dan suara berat dari laki-laki itu benar-benar sangat familiar untuknya. Apakah orang di pikirannya itu sama dengan orang yang tengah membekap mulutnya saat ini? entahlah Kayla tak tau karena di lorong tersebut hanya ada sedikit cahaya yang menjadi penerangan mereka.
Laki-laki itu tampak melihat kearah sekitar dan saat sudah dipastikan aman ia melepaskan tangannya dari mulut Kayla.
"Sekarang udah aman," ucapnya.
Kayla yang penasaran dengan laki-laki tadi, ia memutar tubuhnya dan langsung menyorot wajah laki-laki tersebut dengan flash ponselnya dan betapa kagetnya dia saat tau bahwa laki-laki itu adalah Erland dan orang yang sama dengan yang ada di pikirannya tadi.
"Ck apa-apa sih lo?" geram Erland dengan menyilangkan tangannya untuk melindungi matanya dari cahaya flash tadi.
"Eh maaf maaf," tutur Kayla dan dengan cepat ia mematikan flash tersebut.
"Lo ngapain disini tadi?" tanya Kayla yang mode kepo kembali ia aktifkan.
"Main petak umpet," jawab Erland kesal padahal ia tadi yang sengaja menunggu Kayla disana karena ia tau kalau pak Bokir selaku guru BK tadi tengah berdiri di ruang kelas yang tak jauh dari lorong tersebut sekaligus kelas para pelaku yang bersangkutan dengan pelecehan pada siswi sekolah sebelah. Dan ditambah lagi, ia yang tadi membukakan kunci gerbang belakang sekolah tersebut untuk memudahkan Kayla masuk kedalam.
__ADS_1
"Hah?" tanya Kayla bingung.
"Ck. Gak usah banyak tanya. Sekarang kita pergi dari sini," ucap Erland kemudian ia menarik tangan Kayla untuk mengikuti langkahnya menjauh dari lorong tersebut menuju kelas Kayla yang kebetulan hari ini setiap kelas tengah free dengan pelajaran karena para guru tengah menangani kasus tadi. Tapi walaupun begitu para siswa/siswi tak di izinkan untuk pulang kerumah atau keluar dari kelas mereka masing-masing jika ada yang melanggar berarti bersedia untuk menerima hukuman dari pak Bokir, guru BK yang paling killer.