
Kini Erland dan Azlan mulai mengikuti pergerakan dari Kayla. Sedangkan teman-teman mereka berdua, sekarang tengah menyiapkan semua keperluan yang nantinya akan membantu mereka mendapatkan bukti yang kuat atas kelakuan Kayla. Bahkan mereka tak segan-segan untuk memasang sebuah kamera tersembunyi di salah satu kamar di club milik teman Odi dan Odi juga sudah berkomunikasi jika Kayla atau Virgon memesan kamar, maka dia meminta untuk memberi kamar yang sama seperti yang mereka pesan sekarang. Dan hal tersebut disetujui oleh pemilik club tersebut walaupun harus memberitahu masalah yang tengah mereka hadapi saat ini kepada pemilik club tersebut.
Dan saat mereka telah selesai memasang kamera tadi, Odi langsung merogoh ponselnya dan segera memberikan informasi mengenai kesiapan di lokasi utama kepada Azlan.
📨 To : Azlan Delbert
"Disini sudah beres semuanya. Tinggal nunggu mangsa masuk kedalam perangkap."
Sebuah pesan singkat ia kirimkan kepada Azlan dan tak berselang lama, pesan itu terkirim, dering ponselnya berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan yang masuk kedalam ponselnya itu.
📨 : Azlan Delbert
"Oke, mangsa belum ada pergerakan sama sekali. Mungkin kita harus nunggu sampai pukul 8 malam nanti. Dan kalau kalian sudah selesai dan mau pulang, silahkan. Tapi kalau masih mau disana dan ikut mantau pergerakan mangsa nanti, juga silahkan."
Balasan dari Azlan tadi dibaca cukup keras oleh Odi agar teman-temannya yang lain tau perintah dari Azlan tadi.
"Jadi bagaimana? Apa kalian masih mau disini atau pulang? Kalau gue sih masih mau disini. Ya walaupun harus nunggu sekitar 3 jam lagi. Tapi tak apa lah, daripada di rumah juga gabut nanti," ujar Odi.
"Gue juga masih mau disini," tutur Hito.
"Gue juga," timpal Septian.
"Karena gue juga kepo sama goyangan Kayla. Jadi gue memutuskan untuk ikut lihat perkembangan masalah ini," ucap Galuh yang langsung mendapat geplakan dari teman-temannya tersebut.
"Pikiran lo negatif mulu. Insyaf woy," tutur Septian.
"Ck, maksud gue tuh goyangan dia saat nari disko bukan goyangan diatas ranjang. Anjir, kalian yang justru otaknya ngeres semua. Mana geplakan kalian keras juga, jadi sakit kan nih tubuh gue," keluh Galuh.
"Sama aja woy, mau itu goyangan yang mana kek, sama aja bisa bikin tuh burung lo bangkit dari sarangnya," ujar Odi.
__ADS_1
"Astagfirullah ya akhi, mulutnya frontal sekali," ucap Galuh dramatis.
"Sudah-sudah bahas yang gak pentingnya. Sekarang lo balas tuh pesan dari Azlan, kasih tau ke dia kalau kita akan tetap disini ikut mengawal mereka sampai masalah yang menimpa mereka terselesaikan," ujar Hito yang merupakan salah satu orang yang selalu berpikir positif daripada ketiga temannya yang lain.
Dan ucapannya tadi langsung dituruti oleh Odi, buktinya sekarang jari laki-laki tersebut tengah menari diatas layar ponselnya.
📨 To : Azlan Delbert
"Kita semua akan tetap disini. Ngawal kalian sampai masalah kalian selesai."
Tak berselang lama, balasan dari Azlan kembali masuk kedalam ponsel milik Odi.
📨 : Azlan Delbert
"Baiklah kalau begitu, gue kirim uang buat makan malam kalian. Dan sewa satu kamar lagi untuk istirahat kalian sekaligus untuk tempat memantau kegiatan Kayla nanti," balas Azlan.
Dan tak berselang lama setelah itu terdapat notifikasi masuk yang menandakan transfer uang dari Azlan telah Odi terima.
"Lo ngapain jingkrak-jingkrak kayak gitu?" tanya Hito heran.
Odi yang sedari tadi melompat-lompat kegirangan, kini ia menghentikan aksinya tadi lalu memperlihatkan bukti transferan tadi kearah teman-temannya.
"Kita dapat 10 juta," heboh Odi yang membuat teman-temannya tadi kini ikut tersenyum bahagia.
"Lo yakin 10 juta buat kita aja? Gak buat keperluan yang lain?" tanya Hito.
"Hmmm sebenarnya gak sih. Karena uang 10 juta ini buat pesan satu kamar lagi buat tempat kita istirahat dan juga tempat kita mengawasi pergerakan dari Kayla," ujar Odi yang diangguki oleh Hito.
"Ya sudah kalau begitu kita selesaikan perintah dari Azlan tadi dan barulah sisa uang yang di berikan oleh Azlan, kita bagi rata. Kalian setuju kan?" ucap Hito yang membuat teman-temannya tadi tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mereka menganggukkan kepala mereka.
__ADS_1
Dan setelahnya mereka bergerak menuju ke lantai satu untuk melaksanakan perintah dari Azlan tadi.
...****************...
Kini waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam dan benar saja seperti perkiraan dari Azlan tadi jika saat ini Kayla baru keluar dari rumahnya dengan pakaian yang super seksi.
Dan hal itu membuat Erland menghela nafas.
"Kenapa gue dulu bisa suka sama wanita yang gak bener seperti dia sih? Haish tapi untungnya tuhan masih sayang sama gue dan gak ikhlas kalau gue punya pasangan seperti dia," ucap Erland yang benar-benar menyesali perbuatannya dulu.
"Hemmm, tuhan emang baik sama kita berdua. Karena sebelum lo suka sama dia, gue udah suka duluan sama dia. Tapi karena gue gak mau rebutan sama lo dan gak mau nyakitin lo yang berakhir tali persaudaraan kita putus, gue memutuskan untuk menjauh dan menghilangkan rasa suka gue ke Kayla. Dan lo perlu tau, Zea dulu juga pernah suka sama lo. Tapi karena dia gak mau memaksa orang lain untuk suka balik sama dia, dia juga mengikhlaskan lo untuk seseorang yang lo cintai," ujar Azlan yang membuat Erland kini menolehkan kepalanya kearah Azlan.
"Hah? Kok bisa? Kalau Zea dulu suka sama gue kenapa dia gak bilang langsung sama gue?"
"Bodoh, mana ada seorang perempuan yang berani mengungkapkan cinta mereka. Yang ada mereka gengsi, lebih tepatnya malu jika nanti ungkapan cinta mereka di tolak oleh laki-laki yang mereka sukai. Terlebih kalian dulu kan juga sahabatan, jadinya Zea tidak mau merusak persahabatan kalian kalau sampai lo tau dia suka sama lo dan lo justru ilfil sama dia yang akan menciptakan kecanggungan diantara kalian berdua. Alhasil Zea cuma bisa memendam rasa cinta dia sama lo," ujar Azlan yang juga tengah bersyukur karena ia tak jadi memperjuangkan Kayla dulu.
"Ya ampun kenapa gue baru tau sekarang sih, haish. Tapi kalau gue nembak dia sekarang, Zea bakal nerima gue gak ya, bang?" tanya Erland yang langsung mendapat tatapan tajam dari Azlan.
"Lo gue bunuh dulu baru dia terima lo," ujar Azlan dengan wajah datarnya. Dan hal tersebut membuat nyali Erland kini menciut.
"Ya elah, santai kali bang. Gue tadi cuma bercanda. Gue juga gak akan tega nikung saudara gue sendiri, lebih tepatnya gak mau mati di usia muda," ucap Erland diakhiri dengan suara lirih.
Tapi tatapan tajam Azlan tadi masih saja menatap kearahnya.
"Eh bang lihat tuh Kayla udah dijemput seseorang. Buruan kita ikuti dia," ujar Erland sembari menolehkan kepala Azlan ke arah mobil di depan rumah Kayla.
"Kasih kabar ke Odi jika mangsa sudah mulai bergerak," ucap Azlan yang sepertinya sudah tak marah lagi dengan Erland.
"Ashiap. Laksanakan," ujar Erland. Lalu setelah mengucapkan hal tadi, ia memiringkan tubuhnya kearah jendela dengan helaan nafas lega dan elusan dadanya.
__ADS_1
"Selamat, selamat," gumam Erland disela elusan didadanya tersebut.