
Seperti yang diperintahkan oleh tuannya tadi, Laili kini melangkahkan kakinya menuju kamar yang awalnya milik tuannya itu dan sekarang kamar itu ditempati oleh gadis cantik yang ia tak tau dari mana asalnya, nama dan kenapa bisa gadis itu di sekap oleh tuannya. Tak lupa tangannya kini membawa makanan berat, buah, susu serta puding yang ia buat sendiri.
Dan saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar tersebut, ia menyuruh salah satu bodyguard untuk membantu dia membuka pintu tersebut. Awalnya bodyguard itu enggan karena tak ada perintah langsung dari bosnya dan mereka juga takut jika Laili tengah berkerja sama untuk membantu gadis itu keluar dari rumah tersebut. Tapi setelah Laili menjelaskan semuanya ditambah bodyguard tadi sudah memastikan secara langsung bahwa yang dikatakan oleh Laili tadi benar lewat telepon dengan bos mereka pun akhirnya salah satu bodyguard kini sudah berani untuk membukakan pintu kamar tersebut.
Laili yang sangat kesal pun hanya menatap tajam kearah dua bodyguard tadi yang seperti tak merasa bersalah karena membuat dirinya berdiri layaknya patung selama hampir satu jam. Padahal sudah jelas apa yang ia katakan tadi, jika dia hanya menyelesaikan tugas yang diberikan oleh tuannya. Tapi bodyguard itu masih kekeuh untuk tak mempercayai. Huh buang-buang waktu saja dan sangat-sangat menyebalkan.
Saat pintu kamar tersebut sudah terbuka lebar, Laili langsung saja masuk kedalam tanpa berucap terimakasih terlebih dahulu dengan dua bodyguard tadi.
Tapi tatapan tajam ditambah wajah yang cemberut kini tergantikan dengan mata yang teduh dan ekspresi wajahnya tadi sudah berganti menjadi lebih banyak tersenyum saat melihat tubuh Edrea yang sepertinya habis mandi karena terlihat dari rambut yang masih basah, riasan wajah natural tadi sudah tergantikan menjadi wajah Edrea yang sangat alami, dan ditambah baju Edrea yang terakhir kali ia lihat sudah berganti dan gadis itu tampaknya tengah memakai baju milik tuannya yang tampak kebesaran di badan mungil gadis tersebut.
Edrea yang melihat Laili disana pun hanya menatap datar wanita tersebut tanpa membalas senyum yang selalu Laili lemparkan kearahnya.
Laili yang ditatap seperti itu oleh Edrea pun mendadak takut seketika, kemudian ia langsung menundukkan kepalanya tak berani adu tatap dengan gadis didepannya.
"Emmm. Maaf telah mengganggu waktu istirahat nona. Tapi saya disini hanya menjalankan tugas saya untuk mengantarkan makan malam untuk nona," ucapnya.
Edrea melirik ke meja di depan sofa di kamar tersebut yang sudah banyak makanan yang terletak disana. Edrea tersenyum miring melihat itu semua.
"Cih, ternyata bos kalian punya otak juga," tutur Edrea tanpa rasa takut sedikitpun.
Laili yang mendengar hal tersebut pun hanya bisa terdiam. Tak berani untuk membela tuannya karena aura membunuh Edrea tiba-tiba dapat ia rasakan.
"Jika kamu tak ada niatan untuk membantu saya keluar dari sini maka keluarlah!" gertak Edrea. Untuk saat ini ia tak ingin diganggu oleh siapapun. Biarkan dia sendiri dengan pikiran yang masih menyusun sebuah rencana untuk melarikan dirinya nanti pagi. Karena jika sekarang ia melakukan aksi tersebut, sudah dipastikan semuanya akan sia-sia karena ia tak tau sekarang dirinya ada dimana dan mungkin disekitar rumah itu jarang sekali ada taksi atau kendaraan warga yang lewat. Dan jika ia kabur di pagi hari setidaknya pada waktu subuh, orang-orang pasti akan lengah dan mungkin mudah baginya untuk melemahkan mereka semua.
Laili kini dengan secepat kilat keluar dari kamar tersebut setelah menggedor beberapa kali pintu kamar itu yang sialnya sempat di kunci oleh bodyguard laknat tadi.
Setelah kepergian dari Laili dan pintu kamar tersebut kembali terdengar terkunci, Edrea berdecak sebal kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa di kamar tersebut.
__ADS_1
Sudut bibirnya kini bergerak yang langsung mencetak sebuah senyum menyeramkan di bibirnya.
"Mari kita mulai permainan ini," ucap Edrea dengan mengambil sebuah pisau buah yang terletak di atas meja di depannya.
Edrea mengamati pisau tersebut dengan tangan yang menyentuh pinggiran pisau, memastikan jika pisau itu masih tajam.
"Hmmm lumayan. Setidaknya masih bisa untuk merobek perut orang-orang tak ada kerjaan di luar sana," tutur Edrea. Setelah puas memandangi pisau tadi, mata Edrea menatap ke arah garpu yang tadinya terletak di samping pisau. Dan tangannya kini bergerak untuk mengambil garpu tersebut.
"Buat nyongkel mata orang masih bisa lah," sambungnya. Lalu mata tajam dan mengerikan tadi kini berubah menjadi binar saat melihat berbagai hidangan di depannya. Dan tanpa pikir panjang ia langsung menyendok makanan tadi dan saat sendok yang sudah terisi makanan tadi hampir masuk kedalam mulutnya, tiba-tiba saja pergerakan tangannya terhenti.
"Ini makanan dikasih racun gak nih. Kalau di kasih kan entar mati gue jatuhnya gak estetik dong. Ya kali tiba-tiba gue di temuin dengan mulut penuh busa kan gak banget," gumamnya. Dan untuk memastikan itu semua aman, Edrea kini mendekatkan hidungnya ke mangkuk yang berisi sup ayam. Ia menajamkan indra penciumannya itu, mencari bau yang aneh dari setiap makan dan minuman dihadapannya saat ini. Tapi semuanya tampak aman, tak ada bau yang aneh sedikitpun. Namun bukan Edrea kalau harus percaya begitu saja, ia kini mulai menjulurkan lidahnya untuk menyicip sedikit, ingat hanya sedikit makanan itu dan rasanya masih normal tak ada rasa pahit atau apapun yang mencurigakan.
"Oke semuanya aman," gumam Edrea dan setelahnya ia langsung menyantap satu persatu makanan dihadapannya tersebut dengan nikmat.
Beberapa menit kini telah berlalu, bahkan makan malam Edrea pun telah habis tak tersisa sedikitpun.
Edrea tersenyum puas dengan mengelus perutnya yang terasa sangat kencang karena kekenyangan itu. Dan berkat hal itu, membuat mata Edrea mulai merasakan kantuk yang melanda dirinya. Ia pun meregangkan tubuhnya sesaat sebelum dirinya mulai beranjak dari sofa tersebut menuju ranjang di kamar tersebut.
Edrea kini melangkahkan kakinya menuju lemari yang terkunci tersebut dan mengingat ia masih mempunyai sebuah jepit rambut, Edrea langsung melancarkan aksinya untuk membuka lemari tersebut dengan tangan yang gesit dan cepat.
Hanya butuh 5 menit akhirnya lemari tersebut terbuka yang membuat matanya langsung berbinar. Ya siapa tak berbinar ketika melihat dihadapannya banyak sekali harta karun yang memanjakan matanya. Mulai dari berbagai macam perhiasan yang sudah dipastikan jika perhiasan itu dilapisi dengan berlian dan juga terdapat beberapa gepok uang berwarna merah yang di tengah-tengah uang itu dililit oleh sebuah kertas yang bertuliskan angka 10 juta di setiap gepokan uang tersebut.
"Ngerampok kuy. Mayan lah buat nambah-nambah tabungan gue," gumam Edrea.
"Tapi kalau kayak begini gue butuh tas." Edrea tampak berpikir, dimana ia akan mendapatkan tas untuk membantunya membawa harta tersebut. Dan senyum di bibirnya kembali terlihat saat ia ingat jika diruang walk in closed tadi ia sempat melihat berbagai deret tas. Bahkan berbagai tas perempuan pun juga ada disana tadi. Tak hanya tas saja sebenarnya, ada juga baju wanita dan beberapa dress yang Edrea tau harganya pasti selangit. Dan hal itu mampu membuat Edrea tadi sempat heran, jika dirumah ini hanya ditinggali oleh seorang laki-laki lalu barang-barang itu milik siapa? oh ya, mungkin barang milik ibunya yang tertinggal di rumah tersebut, pikir Edrea. Tapi sayangnya ia tak ingin memakai pakaian itu, ia malah memilih sebuah kaos yang kebesaran yang sudah ia pastikan jika kaos itu baru karena masih ada label di kaos tersebut dan masih terbungkus rapi di sebuah paper bag, bahkan wangi dari kaos tersebut sangat khas wangi baju baru. Dan untuk bawahnya ia memilih menggunakan celana pendek yang ia gunakan tadi saat dirinya memakai seragam sekolah.
Back to topik. Edrea kini berlari untuk mengambil salah satu ransel yang sekiranya cukup buat menampung semua harta tersebut. Setelah itu ia segera kembali dan mulai memasukkan harta-harta disana kedalam tas tadi.
__ADS_1
"Berhubung gue dalam mode baik hati dan tidak sombong, jadi gue tinggalin 10 juta sama kalung ini deh buat dia. Itung-itung gue juga sedekah buat tuh orang," ujar Edrea. Setelah selesai dengan aktivitasnya, Edrea mulai menutup resleting tas tersebut dan mulai menaruh tas tadi tepat di samping tempat tidurnya.
"Lumayan berat juga ternyata. Tapi tak apalah yang penting berat harta dari pada dosa," tutur Edrea setelah itu ia mulai merebahkan tubuhnya lalu menutup matanya dan tak berselang lama Edrea sudah masuk kedalam alam mimpinya.
...****************...
Paginya, Edrea mengerjabkan matanya tepat pada pukul 4 pagi. Hari ini adalah hari dimana dirinya akan melarikan diri dari rumah menyeramkan itu. Edrea meregangkan otot-ototnya terlebih dahulu sebelum beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah saja. Tapi baru saja ia ingin turun tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka hal itu membuat Edrea mengurungkan niatnya dan ia sekarang justru kembali menutup matanya.
Sesekali matanya terbuka sedikit untuk melihat pergerakan orang yang masuk kedalam kamar tersebut yang memang tak ia matikan lampu utamanya dan jelas matanya sekarang bisa menangkap sosok yang sangat ia benci. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang menculiknya. Tapi sayang wajah laki-laki itu lagi-lagi tak bisa ia lihat walaupun sekarang laki-laki tersebut sudah mendekat dengan tubuhnya.
Mata Edrea kembali tertutup rapat saat tangan kekar dari laki-laki itu dengan lancangnya mengelus pipinya dan tanpa ia sangka setelah itu pipinya itu kini dicium oleh laki-laki itu yang membuat Edrea mengepalkan tangannya di balik selimut.
"Berani-beraninya lo cium gue. Sialan," umpat Edrea dari dalam hatinya.
Tubuh laki-laki itu kini bergerak, mengukung tubuh Edrea di bawah tubuhnya. Masker yang ia gunakan untuk menutupi mulutnya, kini sudah ia buka dan perlahan wajah itu ia dekatkan kewajah Edrea. Ia berpikir bahwa pagi ini mungkin saatnya menghancurkan mental Edrea dengan merusak gadis itu. Tapi sayang saat bibirnya kurang satu jengkal saja mendarat di bibir Edrea, mata Edrea langsung terbuka dan tangannya yang tadi ia sembunyikan di selimut pun dengan cepat melayangkan sebuah bogeman yang cukup keras di pipi laki-laki tersebut sampai wajah laki-laki itu menoleh kesamping bahkan cairan merah pun keluar dari ujung bibir laki-laki tersebut.
"Kurang ajar!" murka Edrea. Saat Edrea ingin meloloskan dirinya dari kungkungan laki-laki tadi, ia kalah cepat alhasil pergerakan tubuhnya kembali terkunci.
...****************...
Hai kesayangan, apa kabar? harus baik dong ya. Jangan sampai sakit oke, jaga kesehatan kalian.
Oh ya author absurd mau minta maaf karena ceritanya terlalu bertele-tele. Walaupun itu emang author sengaja sih biar bikin kalian marah π
Wkwkwk, gak papa kali lah sekali-kali bikin kalian gemes sama cerita ini. hehehe.
Satu lagi, di eps hari ini author udah nulis hampir 2000 kata lho. Jadi hari ini jangan minta double up ya. Karena eps ini sebenarnya udah bisa buat 2 eps, tapi berhubung author lagi baik hati maka dari itu di jadiin satu aja dah biar enak juga bacanya.
__ADS_1
Btw spoiler buat besok. Bahwa orang yang nyulik Edrea akan terungkap. Tapi untuk nasib Edrea hmmmm entahlah author tak tauπ
Udah dulu ya bacotan dari author ini.. Jangan lupa buat Like, Vote, komen, dan kasih hadiah π See you next eps bye π