The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 280


__ADS_3

Entah karma karena sudah menjahili Edrea tadi, Erland kini dibuat jengkel saat melihat ketiga pasangan didepannya yang tampak memperlihatkan keromantisan mereka dihadapannya tanpa memperdulikan nasib dirinya saat ini.


Hingga akhirnya Erland yang sudah tak sanggup melihat pemandangan di ruang makan itu pun dengan sengaja ia meletakkan sendoknya dengan cukup keras yang berhasil membuat semua orang mengalihkan pandangannya kearah dirinya.


"Lho Er mau kemana? Sarapan kamu belum habis ini. Habisin dulu," ucap Mommy Della saat ia melihat Erland mulai beranjak dari kursinya.


"Erland udah gak mood buat sarapan," ujar Erland.


"Aku berangkat dulu," sambungnya sembari meraih tangan sang Mommy sebelum berpindah ke tangan sang Daddy.


Lalu setelahnya tanpa memberikan kecupan kepada Edrea, ia langsung nyelonong keluar dari ruangan tersebut tanpa memperdulikan teriakan Edrea. Hingga saat dirinya sampai di garasi rumah tersebut, Erland langsung menuju ke motor kesayangan kemudian ia melajukan motor tersebut pergi dari rumah tersebut. Tapi tujuannya kali ini bukan langsung ke sekolah melainkan ke taman untuk merilekskan hatinya.


"Dasar keluarga laknat. Gak tau apa kalau di ruangan tadi tuh ada gue yang notabenenya jomblo. Arkhhhh!" geram Erland hingga ia tak sadar jika laju motornya saat ini benar-benar kencang hingga saat dirinya ingin berbelok arah, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang tadinya berada di depannya mendadak berhenti. Hingga membuat Erland yang terkejut pun dengan spontan ia membanting setir ke sisi kiri jalan yang berakibat ia menabrak pembatas jalan.


"Arkhhhh sial," ucap Erland yang sudah tergeletak di samping motornya sembari merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun rasa sakitnya itu ia abaikan begitu saja. Bahkan ia sekarang telah bangkit dari jatuhnya dan tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya yang perlahan melihat kejadian yang baru saja terjadi, Erland kini melangkahkan kakinya mendekati mobil yang masih berhenti di tempat semula.


"Keluar lo, sialan!" teriak Erland dengan menggedor-gedor kaca mobil tersebut.


"Keluar!" teriaknya lagi saat sang pemilik mobil itu tak kunjung keluar juga dari dalam mobil tersebut.


"Kalau lo gak keluar, gue jamin masalah ini akan sampai di meja hijau," ancam Erland yang kini berhasil membuat sang pemilik mobil keluar.

__ADS_1


"Tidak perlu membawa masalah ini ke kepolisian karena saya yakin bukan hanya saya saja yang salah dalam masalah ini melainkan anda juga salah dalam kecelakaan ini," ucap pemilik mobil tersebut sembari menatap wajah Erland yang masih tertutup helm full facenya.


Sedangkan Erland yang sudah bisa melihat wajah sang pemilik mobil itu, ia kini berdecak sebal sebelum akhirnya ia membuat helmnya hingga membuat orang tadi tampak terkejut sesaat sebelum akhirnya ekspresi wajahnya kembali datar seperti semula.


"Heh ternyata teman Odi. Pantesan bawa motornya kayak berandalan," sindir pemilik mobil tersebut yang tak lain adalah Sabrina.


"Jangan banyak bacot lo. Gara-gara lo berhenti mendadak, gue sampai jatuh dan nabrak pembatas jalan. Jadi sekarang ganti rugi," ucap Erland.


"Gue ganti rugi karena ulah lo sendiri? Mimpi! Lo jatuh sepenuhnya bukan gara-gara gue tapi gara-gara tingkah lo sendiri yang bawa motor ugal-ugalan, melaju dengan kecepatan tinggi yang sebenarnya tidak di perbolehkan. Jangan mentang-mentang lo bawa motor jadi bisa seenaknya saja. Lo juga harus mikirin pengendara lain yang bisa saja lo rugikan karena ulah lo itu. Dan ingat jalanan ini milik umum bukan milik nenek moyang lo!" ujar Sabrina. Dan karena saking geramnya ia sampai menunjuk-nunjuk Erland.


Erland yang sebelumnya sudah emosi, kini tingkatan emosinya bertambah saat melihat jari telunjuk Sabrina mengarah ke wajahnya. Dan tanpa melihat siapa lawannya, Erland kini mengikis jarak antara dirinya dan juga Sabrina. Hingga saat Erland sudah berdiri tepat di depan tubuh Sabrina, dengan tatapan tajamnya, tangannya bergerak untuk menggenggam erat jari telunjuk Sabrina.


"Mobil lo, gue jadikan jaminan. Jika motor gue belum selesai diperbaiki, mobil lo akan tetap gue pegang," tutur Erland sembari memperlihatkan kunci mobil milik Sabrina. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut, Erland segera masuk kedalam mobil Sabrina. Dan tanpa memperdulikan gedoran kaca dari Sabrina, ia langsung melajukan mobil tersebut menjauhi tempat itu.


Sedangkan Sabrina yang hanya bisa melihat mobilnya semakin menjauh pun ia kini mengumpat tanpa habis dan dengan terpaksa ia mendekati motor milik Erland untuk melihat kondisi motor yang tampak rusak parah itu.


"Kenapa tuh orang gak mati sekalian sih tadi. Nyusahin orang mulu kerjaannya. Mana nih motor sekarang gak bisa dipakai lagi. Haishhh merepotkan!" geram Sabrina diakhiri ia menendang motor tersebut sebelum dirinya disibukan dengan ponselnya untuk menghubungi taksi online sekaligus menghubungi mobil derek untuk mengangkut motor Erland.


Dan saat Sabrina di sibukkan dengan permasalahan tadi, disisi lain Erland yang tadinya berniat untuk pergi ke taman pun kini ia urungkan dan sekarang ia justru menghentikan laju mobil tersebut disebuah rumah. Dan tanpa menunggu waktu lama, ia segera masuk kedalam rumah tersebut tanpa permisi terlebih dahulu.


"Eh den Erland kesini. Pasti lagi nyari Nona Vi ya?" tebak salah satu art di rumah Vivian.

__ADS_1


Erland yang awalnya ingin langsung naik ke lantai atas pun dengan terpaksa ia menghentikan langkahnya tersebut.


"Pagi mbok. Iya nih Erland mah ketemu Kak Vi. Dia dirumah kan Mbok?" tanya Erland sekaligus basa-basi sedikit.


"Pas sekali. Nona Vi juga baru pulang dari Singapura beberapa menit yang lalu. Dan kemungkinan Non Vi sekarang lagi santai di kamarnya," ucap art tadi yang diangguki oleh Erland.


"Baik, terimakasih Mbok. Erland izin ke atas dulu ya mau ketemu Kak Vi. Ada sesuatu yang perlu Erland sampaikan ke dia," ujar Erland.


"Silahkan Den. Tapi ingat kalau Non Vi sudah tidur jangan ganggu dia ya, Den. Kasihan kalau diganggu!" teriak art tadi agar Erland yang sudah menjauh dari hadapannya bisa mendengar ucapan itu. Dan ucapan dari art tadi hanya dibalas dengan acungan jempol oleh laki-laki tersebut.


Erland terus berjalan hingga langkahnya terhenti saat dirinya sampai di depan pintu kamar Vivian.


Tok tok tok!!!


"Buka pintunya!" teriak Erland sembari menggedor-gedor pintu tersebut. Tapi aksinya itu sama sekali tak mendapat respon apapun dari sang pemilik kamar tersebut. Hingga Erland yang sudah merasa jengkel pun ia langsung membuka pintu tersebut yang untungnya tak terkunci.


"Kak Vi!" teriak Erland saat ia tak melihat seseorang yang ia cari di dalam kamar tersebut.


Erland terus mencari keberadaan Vivian disekitar kamar tersebut tapi hasilnya tetap saja nihil, ia tak melihat sosok perempuan itu.


"Haish tuh orang kemana sih? Katanya tadi lagi santai di kamar, tapi kamarnya aja sekarang kosong gak ada penghuninya. Arkhhhh kenapa hari ini benar-benar sangat menyebalkan!" geram Erland dengan mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang di kamar itu untuk mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar lelah menghadapi hari sialnya itu.

__ADS_1


__ADS_2