
Paginya setelah mereka mengisi energi untuk kemungkinan akan bertarung lagi, kini mereka kembali menggerakkan mobilnya meneruskan perjalanan yang sempat tertunda semalam.
Perjalanan kali ini tak ada lagi penghalang seperti kemarin, itu membuat Daddy Aiden dan kedua jagoannya sempat curiga. Tapi mereka tak akan memikirkan lebih dalam akan hal apa yang akan mereka hadapi kedepannya yang mereka pikirkan kali ini adalah sampai di suatu titik dimana titik itu adalah tempat bersembunyi Zico sekarang.
Dan sesuai apa yang diperkirakan oleh Azlan kemarin, setalah menempuh perjalanan 5 jam kini beberapa mobil yang ikut dalam perjalanan itu kini telah berhenti tak jauh dari sebuah rumah di alamat yang kemarin mereka dapatkan dari nomor anak buah Zico.
"Kalian jangan ada yang keluar dulu. Biar Vivian sendiri yang mendekat kesana," ujar Vivian lewat alat earpiece yang menempel di telinganya yang ia dapatkan dari Azlan mungkin laki-laki itu juga mendapatkan alat itu dari Daddy Aiden supaya memudahkan mereka berkomunikasi tanpa telepon lagi.
Tanpa persetujuan dari siapapun bahkan saat Azlan ingin angkat suara Vivian lebih dulu keluar dari mobil dan kini perempuan itu perlahan mendekati rumah tersebut dengan jalan santai tanpa menimbulkan kecurigaan dari orang-orang yang menjaga rumah tersebut di depan pagar.
"Vivian bergerak mendekati rumah itu Dad. Bagimana ini?" tanya Mommy Della yang cukup parno akan kemungkinan Vivian mendapat serangan tak terduga dari orang-orang disana.
"Diam dulu sayang. Kita akan awasi setiap gerak-gerik Vivian dan para orang-orang disana. Jika nanti ada tanda-tanda bahaya baru kita ikut bergerak. Dan perlu kamu ingat, Vivian itu bukan perempuan yang lemah yang bisa dilumpuhkan begitu saja hanya dengan dua orang berbadan kekar itu," tutur Daddy Aiden sembari menujuk kearah dua penjaga rumah.
Mommy Della menghela nafas, ia benar-benar khawatir walaupun ia yakin Vivian bisa menangani mereka semua tapi namanya juga manusia mau sehebat apapun pasti ada saatnya lengah dan sebagainya. Apalagi melawan manusia yang berjenis kelamin laki-laki yang memiliki tenaga jauh lebih besar dari perempuan walaupun laki-laki itu lemah sekalipun.
Tapi ia juga tak bisa gegabah ikut turun dari mobil dan menemani Vivian. Dan mungkin dengan Vivian yang masuk terlebih dahulu bisa memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi situasi didalam terlebih dahulu tanpa ada yang menyerang mereka nanti. Karena Zico tak mungkin kan menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Vivian yang notabenenya Kakak dia sendiri. Jika memang dia berniat menghabisi Vivian juga berarti otak dia sudah terganggu.
Kedua penjaga kini menoleh kearah Vivian saat sang empu sudah berdiri didepan pagar rumah tersebut.
"Permisi Om, saya mau tanya boleh," ucap Vivian sekedar basa-basi.
__ADS_1
Kedua orang tadi saling pandang sebelum mereka merapatkan tubuh mereka kearah Vivian.
"Tanya apa ya?" tanyanya sembari menatap Vivian dari atas sampai bawah.
Vivian yang di tatap seolah-olah dirinya itu sekarang menjadi makanan lezat bagi hewan buas pun ingin sekali ia melayangkan pukulan tepat di mata mereka berdua. Tapi untuk melancarkan aksinya tak mungkin jika ia melakukan hal itu saat ini juga.
"Awas aja nanti. Akan aku habisi kalian," batin Vivian.
Dengan senyum terpaksa Vivian menjawab pertanyaan dari salah satu orang itu.
"Jadi gini. Saya tengah mencari adik saya yang sudah lama menghilang dan kemarin teman saya ada yang melihat dia disekitar sini. Siapa tau Om-om sekalian pernah melihat orang ini dan bisa membantu saya untuk bertemu lagi dengannya." Vivian menunjukkan ponselnya yang menampilkan wajah Zico dan dirinya dilayar ponsel itu yang ia ambil beberapa tahun yang lalu sebelum hubungannya dengan adiknya itu merenggang.
Setelah mengamati foto tadi keduanya terdiam tapi mata mereka seakan-akan tengah berkomunikasi.
Kedua orang tadi sempat gelagapan. Mereka juga tak tau harus berbuat apa sedangkan orang yang berada didalam foto tadi memang lah orang yang selalu mereka lihat beberapa hari kebelakang itu.
"Sebenarnya kita tau keberadaan adik anda Nona." Mata Vivian melebar.
"Oh ya. Katakan dimana dia sekarang Om. Saya benar-benar ingin bertemu sekarang juga," ucap Vivian dengan mata yang berbinar-binar.
"Hmmm beliau ada didalam."
__ADS_1
"Didalam rumah ini?" Keduanya mengangguk.
"Boleh saya masuk Om, please." Vivian menyatukan kedua telapak tangannya, memohon kepada dua orang tadi dengan ekspresi wajah yang ia buat memelas.
Diam, tak ada yang bergerak dari kedua orang itu hingga Vivian kembali berucap.
"Om belum percaya ya sama saya kalau saya benar-benar Kakak dari orang yang ada difoto tadi. Kalau gitu biar saya kasih tau kalau adik saya itu namanya Zico. Nama lengkapnya, Giorgio Armani Zico. Oh ya saya juga punya foto bertiga eh gak deng berempat sama Mama saya. Tunggu sebentar biar saya carikan dulu fotonya." Tangan Vivian dengan lentik mengotak-atik ponselnya hingga ia mendapatkan apa yang ia perlukan setelah itu ia kembali menyodorkan bukti itu ke dua orang didepannya. Sebuah foto Dirinya, Zico, Ayah mereka berdua juga Cika yang sayangnya wanita itu berada disebuah bingkai foto yang cukup besar dibelakang ketiga orang yang tengah berdiri dengan senyum mengembang.
"Gimana? udah percaya belum?" Lagi-lagi keduanya saling tatap kemudian mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, biar saya bukakan gerbangnya buat Nona." Vivian tersenyum.
Kini kedua orang tadi telah membuka gerbang rumah itu tapi setelahnya mereka kembali menghampiri Vivian yang ingin masuk kedalam.
"Tunggu dulu Nona," cegah salah satu dari mereka. Vivian mengerutkan keningnya.
"Kenapa Om?"
"Senjata Nona harap di tinggal disini," ucapnya sembari melihat sebuah pistol yang berada di balik jaket Vivian yang ternyata terkesiap sedikit. Bahkan pistol itu bukan kehendak dirinya untuk membawa senjata itu melainkan atas rekomendasi Azlan agar dia bisa lebih leluasa lagi untuk membalas serangan lawan dari pada panah yang harus ribet dulu. Keburu ia dihabisi nanti sama mereka sebelum melawan dan dengan senang hati Vivian menerima senjata itu.
"Hmmm jeli juga penglihatan mereka," batin Vivian.
__ADS_1
Dan tanpa ragu Vivian kini mengambil pistol tadi tapi bukan hanya pistol yang ia ambil melainkan ada satu senjata lagi yang juga turut ia ambil secara diam-diam dan saat dirinya ingin menyerahkan pistol tadi dengan gesit Vivian melancarkan aksinya dengan menyalakan alat setrum yang ia bawa tanpa sepengetahuan siapapun bahkan keluarga Daddy Aiden pun juga tak ada yang tau. Dan dengan dua kali gerakan, dua orang itu juga bisa ia lumpuhkan.
"Perfect," gumamnya saat melihat kedua orang itu sudah tak sadarkan diri. Ia kembali mematikan alat setrumnya dan menyimpannya kembali dibalik jaketnya begitu juga pistol yang sempat akan disita oleh dua penjaga tadi. Tapi kali ini ia tak menyimpannya di balik jaket melainkan ia menaruh pistol tadi dibelakang punggungnya. Dan sebelum dia masuk kedalam rumah tadi, ia memberikan kode berupa jari telunjuk yang ia satukan dengan jari jempol membentuk huruf O dan tanpa membalikan badannya, ia acungkan kode itu kearah orang-orang yang mengawasi dirinya dari jauh yang menandakan bahwa ia masih bisa mengatasi itu semua dengan sendiri dan tak perlu bantuan mereka untuk saat ini. Tapi entah untuk nanti, yang pastinya ia akan selalu siap menerima serangan mendadak dari anak buah Zico nanti.