The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 98


__ADS_3

Erland yang masih menyadari perang mata diantara dua manusia yang berada di depannya pun menghela nafas panjang. Dan dengan sengaja ia menggebrak meja agar keduanya melepas tatapan mereka.


Brak!!!


Dan benar saja saat gebrakan meja Azlan lakukan, kedua orang tadi langsung terperanjat kaget dan mengalihkan pandangannya kearah Azlan.


"Sekarang waktunya serius bukan main-main ataupun bertengkar hanya karena hal yang tak penting seperti tadi," ucap Azlan dalam mode garang. Vivian mencebikkan bibirnya sembari memajukan tubuhnya agar mepet ke meja di depannya.


"Jadi apa yang ingin kamu lakukan setelah mengetahui rencana rubah betina itu?" tanya Vivian yang sudah berubah ekspresi menjadi datar kembali.


Azlan menyenderkan punggungnya di kepala kursi yang sedang ia pakai sembari menyatukan kedua telapak tangannya tak lupa tatapannya mengarah ke Vivian juga Erland secara bergantian.


"Sebelumnya apa kamu tau rencana Puri yang pertama sebenarnya sudah berjalan?" tanya Azlan kearah Vivian.


Vivian kini mengerutkan keningnya.


"Direkaman itu bukannya sudah jelas kalau rencana pertama gagal karena orang suruhan Puri tiba-tiba menghilang," ucap Vivian.


"Sebenarnya sebelum menghilang, orang suruhan Puri itu sudah melancarkan aksinya." Vivian kini membelalakkan matanya tak percaya.


"Orang suruhan Puri telah berhasil membuat dompetku kering," tutur Erland yang tiba-tiba saja menjadi kesal saat mengingat biaya yang harus ia keluarkan untuk memperbaiki mobilnya yang cukup mengenaskan itu.


"Maksudnya gimana?" tanya Vivian yang semakin bingung. Apa hubungannya rencana Puri, orang suruhan rubah betina itu dengan dompet Erland. Ia tak mengerti untuk saat ini.


Erland yang tadinya bersender santai di kepala kursi kini menegakkan tubuhnya dan menggeser sedikit posisi kursi tersebut agar bisa berhadapan langsung dengan Vivian yang berada di sampingnya.


"Rea pada malam di mana rencana itu terlaksana dia pergi bawa mobilku dan ya karena dia menghindari tembakan orang tersebut terpaksa di membenturkan mobilku ke mobil yang di bawa orang suruhan Puri. Alhasil dua mobil itu saling beradu, untung saja Rea bisa melawan orang itu jika tidak dia dan mobilku sudah terjun bebas kedalam jurang. Itu pun dia dibantu orang lain yang masih kita selidiki siapa orang yang dengan senang hati menolong Rea," jelas Erland.


Vivian yang mendengar cerita tadi kembali mengeluarkan tatapan membunuh ke arah Erland dan juga Azlan.


"Kenapa kalian gak nolongin Rea? Kemana kalian pada saat itu?" murkanya.

__ADS_1


"Tenang dulu sister. Kita berdua pada saat itu ada urusan dan biasanya Mom sama Dad juga ada dirumah kalau malam. Tapi mungkin malam itu menjadi malam kesialan bagi Rea jadi dia terjebak didalam rencana itu deh," tutur Erland yang tak ada rasa takut sedikitpun dengan tatapan Vivian.


"Kita berdua juga gak tau kalau Rea pada malam itu kena bahaya karena dia gak menghubungi kita sama sekali," ucap Azlan yang menyambung ucapan dari Erland tadi.


Vivian menghela nafas, entah kenapa kalau dia mendengar Edrea dalam masalah hatinya sangat bergemuruh ingin melenyapkan siapapun yang berani menganggu Edrea. Padahal dia bertemu dengan Edrea saja jarang bahkan bisa dihitung dengan jari. Tak seperti kedua saudara Edrea itu yang selalu saja mencarinya.


"Hufttt sudah lah yang penting dia baik-baik saja," tutur Vivian yang mendapat anggukan kedua laki-laki tampan itu.


"Tapi sebentar," ucapnya lagi.


"Apa kalian yakin malam itu memang orang suruhan Puri?" sambungnya memastikan.


"Diantar yakin dan gak yakin," ucap Erland.


"Tapi banyak yakinnya," sambung Azlan.


"Gini ya. Jika di pikir secara logis dan metode cocok logi, kemungkinan insiden pada malam itu memang ulah Puri karena wanita tadi juga berbicara kalau dia gagal saat tak ada kabar sedikitpun dari orang suruhan. Dan bisa disimpulkan bahwa kejadian malam itu memang ulah Puri." Vivian dan Erland saling pandang sesaat kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Bisa juga metode cocok logi yang diucapkan Azlan tadi.


Azlan melemparkan tatapannya kearah Erland dan saat kedua pasang mata itu saling bertatapan, kedua laki-laki itu tersenyum mengerikan.


...****************...


Setelah berdiskusi dengan Vivian dan anak buah mereka masing-masing, kini Azlan dan Erland sudah sampai kembali di dalam rumah mewah keluarganya tepat pada pukul 1 dini hari. Dengan langkah yang mengendap-endap mereka memasuki rumah tersebut dan mereka bisa bernafas lega setelah berhasil masuk kedalam kamar masing-masing.


Dengan mata yang sudah mulai sayu, Erland mengganti pakaiannya setelah selesai ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur king sizenya tapi saat tubuhnya sudah mendarat di kasur tersebut, tak sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang juga berada di ranjangnya itu.


"Wanjir apaan nih?" gumam Erland sembari meraba-raba sesuatu tadi. Kalau disampingnya adalah guling atau bantalnya tak mungkin karena yang ia pegang sekarang terasa sangat keras dan seperti ada rambutnya.


"Jangan-jangan mbak Kun ngikutin gue dan mau tidur bareng gue lagi," gumamnya lagi sembari bergidik ngeri.


"Tapi kalau mbak Kun beneran, berarti mbak Kun-nya dulu lonT dong sebelum meninggal. Huh udah jadi setan juga mau ngelont mbak-mbak bukannya tobat biar tenang dialamnya eh malah mau tambah dosa aja," ucap Erland. Dan karena di dalam kamar tersebut hanya remang-remang, membuat sang empu tak bisa melihat jelas apa yang tadi tak sengaja ia senggol dan dengan rasa malas ditambah dengan rasa penasaran yang tinggi ia beranjak dari ranjangnya menuju ke saklar lampu di kamar tersebut.

__ADS_1


Saat lampu di kamar tersebut menyala, mata Erland langsung menangkap sosok mbak Kun yang berada di pikiran Erland tadi.


"Wanjir kirain mbak Kun beneran ternyata mbak Kun bohongan," kesal Erland. Padahal dia sudah sangat senang bisa melihat hantu secara nyata tadinya. Dan menurut cerita mitos yang ada, ketika mbak Kun berhasil ia tancapkan paku di kepalanya, mbak Kun itu akan berubah jadi wanita cantik dan Erland awalnya akan membuktikan mitos itu. Jika benar kan lumayan bisa dia jadikan babu nantinya. Kapan lagi coba punya babu berparas cantik terlebih kalau mbak Kun-nya termasuk kedalam golongan lonT kan lumayan ia bisa jual ke kucing garong yang kelaparan. Ah dasar pikiran Erland ini sangat jauh di luar nalar.


Erland kini mendekati ranjangnya kembali dan duduk di sebelah orang yang tengah terlelap itu.


Dengan pelan ia menepuk pipi orang tersebut.


"Rea bangun. Pindah kamar sana. Demen banget lo tidur di kamar gue," ucap Erland.


Edrea yang merasa tidurnya terusik pun melenguh sembari meregangkan tubuhnya.


Tapi bukannya langsung tersadar dari tidurnya, Edrea justru semakin mengeratkan pelukannya di guling Erland.


"Rea bangun ih. Bantal gue banyak jigong kan. Jorok weh jadi cewek," geram Erland yang melihat bantalnya sudah basah kuyup.


Edrea membuka sedikit matanya dan dengan reflek ia menghapus air liurnya yang mengalir di pipinya.


"Astagfirullah jorok." Erland segera membuka laci di nakas samping ranjangnya untuk mengambil tisu basah yang selalu ia simpan disana dan sebelum Edrea mengelap air liurnya ke sembarang tempat, Erland lebih dulu meraih tangan Edrea dan segera membersihkan kedua tangan tersebut setelah itu tangannya berpindah memberikan pipi Edrea.


"Dek, bangun bentar. Pindah ke kamar lo sana. Abang juga mau tidur ini," tutur Erland dengan nada suara yang cukup lembut. Gini-gini dia juga sayang dengan si bontot.


"Mager bang. Di kamar Rea ac-nya rusak," ucap Edrea dengan suara seraknya dengan mata yang tak terbuka sama sekali.


Erland berdecak sebal. Dia tau adiknya itu cuma alasan saja.


"Ck, Lo mah kebiasaan seminggu sekali minta di keloni abang. Kalau kayak gini gimana nanti Abang punya istri, Dek. Yang ada lo terus ganggu gue tidur berduaan sama istri gue nantinya," tutur Erland tapi tak urung ia merebahkan tubuhnya disamping Edrea.


"Itu juga masih lama bang. Calon aja belum punya sok-sokan mau punya istri," cibir Edrea.


"Lo sadar gak sadar, mau dalam posisi nyawa lo kumpul semua atau belum. Tetap aja bikin emosi," geram Erland kemudian ia langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Edrea dan mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya.

__ADS_1


Jangan heran kenapa Edrea sering tidur dengan kedua Abangnya. Itu semua mungkin juga turunan dari sang Mommy yang sebelum menikah dengan Daddy Aiden, Mommy Della sering sekali bahkan hampir setiap hari akan tidur dengan Abang atau Adik laki-lakinya. Dan kebiasaan itu ia turunkan ke si bontot yang tak pernah lepas dari tidur seranjang dengan abang-abangnya walaupun tak sesering Mommy Della.


__ADS_2