
Azlan menggeram kesal saat orang-orang di sekitarnya itu terus saja mengoceh menyalahkan dirinya dan Zea.
"Stop!" teriak Azlan yang berhasil membungkam semua mulut teman-temannya itu.
"Bisa gak kalian ini kalau ngomong pakai jeda. Dan tolong ya, kalau kalian tidak tau apa-apa tanya dulu baik-baik bukan asal nuduh begini." Azlan tampak menghela nafas kasar, sebelum melanjutkan perkataannya.
"Gue tau kalian berpikir kita melakukan hal zina seperti yang ada di pikiran kalian masing-masing. Tapi perlu kalian tau, gue sama Zea tidak melakukan hal itu." Azlan baru juga menjeda ucapannya, Hito justru segera menimpalinya.
"Halah jangan ngelak gitu Az. Kalau lo mau bukti, buktinya sudah sangat jelas. Di leher Lo sekarang ada ****** dan kita semua juga lihat kalau lo keluar dari dalam kamar yang sama dengan Zea," ucap Hito yang diangguki oleh semua orang disana.
"Gue tadi malam juga lihat kalian masuk bareng. Gue kira Lo tadi malam cuma ngantar Zea aja tapi saat gue nungguin Lo karena gue kepo, apa yang sebenarnya kalian lakukan. Tapi lo malam tadi gak keluar-keluar dari dalam itu kamar sampai gue ngantuk sendiri dan memilih untuk ke dalam kamar," timpal Resti.
"Udah lah kalian ngaku aja kalau kalian tadi malam tidur bareng," ujar Yesi.
"Iya, emang gue tadi malam tidur sama Zea. Emang ada masalah kalau gue tidur sama bini gue sendiri? Emang salah kalau gue mau ngapa-ngapain bini gue sendiri? Emang salah kalau gue sama bini gue mau cari pahala? Emang semua yang kita berdua lakuin salah gitu hah?" geram Azlan.
Semua orang kini melongo tak percaya saat mendengar kata bini yang terucap dari bibir Azlan.
"Bentar-bentar, gue gak salah denger kan kalau Azlan nyebut Zea dengan sebutan bini?" tanya Odi.
"Gak. Lo gak salah denger. Zea sudah jadi bini gue. Gue sama dia sudah nikah." Orang-orang disana semakin melongo di buatnya.
"Hah? Lo serius?" tanya Hito memastikan.
"Kalau lo gak percaya, tanya sama Daddy dan Mommy. Dan perlu kalian tau, kita sudah nikah jauh sebelum acara Edrea sama Leon. Dan satu lagi, undangan resepsi pernikahan kita, sudah kita cetak dan sebentar lagi akan sampai di rumah kalian," ujar Azlan lalu setelahnya tanpa mau mendengar ocehan para teman-temannya itu, ia menarik tangan Zea untuk segara pergi dari hadapan mereka semua yang otaknya masih loading dan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kamu sih, tadi di suruh pakai foundation buat nutupin itu malah gak mau. Jadinya kan banyak yang salah paham dan gagal fokus. Ini aja baru keluar dari kamar sudah banyak yang bergosip. Gimana nanti kalau kita udah sampai di restoran? Pasti banyak yang lihatin kita," sebal Zea dengan kerucutan di bibirnya.
"Ya kan aku gak tau kalau efeknya bakal panjang begini. Terus mau gimana dong? Masak iya kita gak jadi pergi cari makan, aku lapar sayang," ujar Azlan sembari mengelus perutnya yang sedari tadi memberontak meminta diisi.
"Hmmmm kita kan kesini sekalian check out kan?" Azlan menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu kamu tunggu di mobil aja. Biar aku yang check out dulu dan kita gak jadi makan di restoran, makan di rumah aja," ujar Zea yang diangguki setuju oleh Azlan.
"Tunggu di mobil," ucap Zea kembali sebelum dirinya kini menuju ke arah resepsionis. Sedangkan Azlan, ia menoleh ke sekelilingnya dan dirasa hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang, Azlan segera bergegas keluar dari hotel tersebut sembari menutupi lehernya yang terdapat tanda kepemilikan dari Zea yang dibuat tadi malam.
Mengingat tadi malam, membuat Azlan kini mengembangkan senyumnya. Dan apa yang dilakukan oleh Azlan itu membuat orang-orang yang melihatnya bergidik ngeri. Mungkin mereka menganggap Azlan orang gila. Tapi mana Azlan peduli karena dirinya saat ini sangat-sangat bahagia karena sudah mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Ia sekarang sudah memiliki Zea seutuhnya.
"Baby akan segera datang," gumam Azlan sembari ia mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi tanpa melunturkan senyumannya.
Azlan terus membayangkan dirinya dan Zea yang tengah kewalahan mengurus keturunan mereka berdua yang pasti akan sangat tampan dan cantik mengikuti gen keduanya. Membayangkan saja ia sudah sangat bahagia seperti ini, apalagi ia memilikinya pasti akan membuat Azlan tak pernah melunturkan senyumannya. Hingga karena hal tersebut, ia tak sadar jika Zea sudah kembali.
"Sayang," panggil Zea sembari menggerakkan tangannya di depan wajah Azlan. Tapi apa yang dilakukan oleh Zea tadi tak mendapat respon apapun dari Azlan. Laki-laki itu terus melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
"Sayang, ish. Kamu ngapain senyum-senyum gitu." Suara Zea lagi-lagi tak membuat Azlan menghentikan lamunannya.
Hingga Zea yang merasa sebal karena semua yang ia lakukan untuk menyadarkan sang suami tak membuahkan hasil, Zea dengan gemas mencubit lengan Azlan sekencang mungkin.
"Awss, sakit sayang. Kok kamu tega nyubit aku sih," ucap Azlan sembari mengelus lengannya yang sepertinya tengah membiru sekarang.
"Suruh siapa dari tadi aku panggil-panggil kamu gak jawab. Dan kamu juga kenapa malah senyum-senyum sendiri kayak orang gila tadi? Ada hal yang bikin kamu bahagia sampai kebawa dalam halusinasi kamu kah?" tanya Zea penasaran.
__ADS_1
Dan ucapan dari Zea tadi membuat Azlan kembali mengembangkan senyumnya.
"Tuh kan mulai lagi. Kamu tuh kenapa sih sayang? Habis kejedot dimana?" heran Zea yang kini dibalas dengan gelengan kepala oleh Azlan.
"Lha terus kenapa kamu malah senyum-senyum gitu bukannya jawab pertanyaan aku tadi. Sumpah ya, lama-lama aku jadi takut sama kamu," ujar Zea dengan memepetkan tubuhnya hingga mepet ke pintu mobil.
"Ck, kok malah jadi takut sih. Aku ini lagi bahagian tau sayang. Dan kamu tau alasan aku bahagia karena apa?" Zea memincingkan sebelah alisnya.
"Apa?"
"Karena aku sedang membayangkan kecebong-kecebong aku tadi malam sekarang sudah ada yang berhasil menembus sel telur kamu. Dan jadilah baby pertama kita yang akan tumbuh dan berkembang di dalam sini sebelum keluar ke dunia," ucap Azlan sembari mengelus perut Zea.
Zea kini memutar bola matanya.
"Belum tentu jadi juga sayang," ucap Zea.
"Kok kamu malah ngomong gitu?"
"Ya gimana aku gak ngomong gini. Orang tadi malam kamu brutal banget. Mungkin satu ronde atau kalau gak ya sampai tiga ronde masih bisa lah kecebong-kecebong kamu itu jadi baby. Lah tadi malam kamu gempur aku sampai jam 4 pagi. Yang ada kecebong-kecebong kamu bukannya fokus ke tujuan utama, tapi malah fokus ke kecebong lainnya yang nantinya akan bertengkar dan berakhir semuanya mati sebelum sampai di tempat yang seharusnya," ujar Zea.
"Iya kah? Tapi aku rasa gak juga tuh sayang. Kalaupun aku ngelakuinnya sampai beronde-ronde, justru peluang kecebong jadi baby-nya banyak lah. Tapi jika memang apa yang kamu katakan tadi benar, hmmm baiklah nanti malam kita coba lagi." Zea melebarkan matanya saat mendengar perkataan dari Azlan tadi. Yang benar saja dia mau melakukannya lagi saat Zea masih merasakan nyeri di **** *************, tapi kalau dia menolak, nanti dia dosa bagaimana? Zea menggelengkan kepalanya untuk menyangkal otaknya yang tengah berpikir yang tidak-tidak itu.
Sedangkan Azlan yang melihat wajah istrinya yang tampak tertekan itu pun ia kini terkekeh.
"Bercanda sayang. Aku gak akan ngelakuin disaat kamu masih sakit seperti ini. Dan terimakasih untuk tadi malam," ucap Azlan dengan memberikan kecupan di pipi Zea.
__ADS_1
Zea yang mendengar hal tersebut kini ia bisa menghela nafas lega dan ia dengan rona wajah malu kini ia menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari Azlan tadi. Dan untungnya Azlan hanya bercanda tentang hal tersebut kalau tidak, sudah di pastikan dirinya besok pagi tidak akan kuat beraktivitas karena kelelahan gara-gara menuruti suaminya itu.
Azlan membalas anggukan dari Zea tadi dengan senyuman dan tangannya bergerak untuk mengacak rambut Zea sebelum dirinya kini menjalankan mobilnya menuju ke rumah keluarga Abhivandya.