
Setelah memberikan nasehat dan juga paksaan dari Azlan agar Zea mau kembali pulang malam itu juga, akhirnya Zea mensetujuinya dan kini mereka berdua sudah berada di depan rumah Zea.
"Lo mau lewat mana? gak lewat gerbang aja yang lebih jelas?" tanya Azlan saat Zea keluar dari mobil tersebut.
"Kalau gue masuk lewat gerbang yang ada nanti orangtua gue semakin marah sama gue. Jadi lebih baik gue lewat pintu rahasia yang hanya gue aja yang tau," tutur Zea.
"Btw thanks ya Az, lo udah nguatin gue, udah mau gue susahin malam-malam gini. Dan gue berharap walaupun gue menyebalkan dan selalu merepotkan lo, Lo gak akan pernah bosen temenan sama gue. Karena di dunia ini hanya lo dan Erland yang tau kondisi gue dan kalian berdua semoga masih bisa nasehatin gue saat gue terpuruk dan memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup. Thanks untuk semuanya Az," sambungnya, kemudian ia memeluk sekilas tubuh Azlan sebagai tanda terimakasihnya.
"Lo gak perlu berterimakasih ke gue. Gak ada yang merasa direpotkan sama lo. Selagi gue bisa bantu lo walaupun gak sepenuhnya. Buruan masuk sana gih, gue rasa di dalam udah tenang dan mungkin kedua orangtua lo juga udah tidur. Dan jangan lupa besok Lo harus sekolah." Zea melepaskan pelukannya.
"Lo juga besok sekolah kali. Sekali lagi thanks ya Az. Gue masuk dulu, kalau lo mau pulang hati-hati kalau ngantuk makan ini." Zea memberikan permen kopi yang selalu ia bawa kemanapun ke tangan Azlan.
"Kalau cuma satu mah kurang," ucap Azlan.
"Bentar." Zea membuka tas kecilnya kemudian mengambil semua permen yang tersisa disana.
"Tinggal itu doang. Besok gue beliin 10 bungkus deh."
"Oke, gue tunggu permen 10 bungkus yang tadi lo ucapin itu," tutur Azlan sembari mengacak rambut Zea.
"Iya-iya. Udah dulu ya bye." Zea melambaikan tangannya sesaat sebelum dia menghilang di samping rumah tersebut.
Sedangkan Azlan yang sudah tak melihat Zea lagi, kini ia segera masuk kedalam mobilnya dan saat ingin menaruh permen yang di berikan oleh Zea tadi tampak semburat senyum terangkat dari bibirnya.
"Semoga masalah lo cepat terselesaikan Ze," gumam Azlan kemudian ia membuka salah satu permen tadi dan memakannya sebelum ia menjalankan mobilnya meninggalkan depan rumah Zea yang sudah tampak sepi.
Hanya butuh beberapa menit saja Azlan sudah sampai dirumahnya.
Ia tampak mengendap-endap saat masuk kedalam rumah yang pencahayaannya sudah di matikan. Tapi saat dirinya baru ingin menginjakkan kakinya ke anak tangga pertama, lampu di rumah tersebut menyala yang membuat Azlan menghentikan langkahnya.
Belum sempat ia memutar tubuhnya, pukulan cukup keras mendarat di kepalanya.
Doenggggg!!
"Aw," ringis Azlan sembari menghindari pukulan untuk kedua kalinya dengan cara menangkap benda tadi agar tak mengenai kepalanya.
"Lo apa-apa sih Rea," geram Azlan sembari menatap tajam kearah sang adik perempuan.
__ADS_1
"Ya ampun Abang. Kirain maling tadi," teriak Edrea yang tadinya sudah waspada dengan cosplay menjadi hiro kesiangan dengan senjata panci ditangannya.
Azlan membelalakkan matanya saat suara nyaring Edrea keluar dan dengan seketika ia langsung membungkam mulut Edrea.
"Astaga, mulut lo toa banget sih. Bisa di kecilin gak volumenya," ucap Azlan tepat di telinga Edrea.
"Emmmm emmmm emmmm." Azlan kini menjauhkan telapak tangannya tadi.
"Tangan lo bau banget sih bang," cerocos Edrea sembari mengusap-usap mulutnya.
Azlan mengendus telapak tangannya, memastikan jika ucapan Edrea memang benar adanya.
"Ini mah bau jigong lo. Astagfirullah."
"Iya kah? masak sih?" tanya Edrea seperti orang bodoh.
Azlan menarik tangan Edrea menuju kaca yang kebetulan terpajang di ruang tamu.
"Coba lo ngaca tuh. Pipi lo udah kayak peta negara."
"Hehehehe, ya maaf bang kan gue gak tau kalau gue tidur buat peta baru di pipi," ucap Edrea.
"Terserah lah." Saat Azlan ingin beranjak, Edrea lebih dulu menarik topi hoodienya.
"Ets ets ets, mau kemana? gue belum interogasi lo ini," tutur Edrea yang terus menarik topi hoodie tadi hingga sampai di sofa ruang tamu setelah itu ia mendudukkan tubuh Azlan secara paksa.
"Duduk, diam disini sebelum interogasi dari gue selesai. Paham." Azlan memutar bola matanya malas tanpa menjawab ucapan dari Edrea.
"Abang dari mana? kenapa jam segini baru pulang?"
"Kepo," jawab Azlan dengan cueknya.
"Jawab yang bener ih," protes Edrea.
"Bantu temen," jawab Azlan ogah-ogahan.
"Namanya siapa? Umurnya berapa? rumahnya dimana? bantu masalah apa? dimana? sama siapa? semalam berbuat apa? eh lah kok nyanyi," tutur Edrea.
__ADS_1
"Sarap, gila, gak jelas lo," ucap Azlan sembari berdiri dari duduknya.
"Abang! duduk lagi gak, kalau gak gue bakal lempar panci ini ke kepala lo!" teriak Edrea. Sedangkan Azlan, ia tak memperdulikan teriakan dan ancaman dari Edrea tadi. Bodoamat kalau seluruh penghuni rumah itu bakal bangun dari tidur indah mereka nantinya. Tapi sepertinya aman-aman saja karena seluruh warga rumah tersebut tak ada yang bangun hingga dirinya berhasil masuk kembali ke kamarnya. Ya mau bangun bagaimana jika keluarganya kebanyakan memiliki tipe tidur seperti kebo apalagi sang ibu negara. Mungkin ratusan petasan secara bersamaan dinyalakan disampingnya tak akan pernah berhasil mengusik tidurnya.
Azlan kini melepas pakaiannya dan kembali mengganti dengan pakaian santai sebelum melanjutkan tidurnya tadi yang sempat terjeda beberapa 2 jam.
Sedangkan Edrea, ia masih setia mengerutu dan sesekali mengumpati Azlan. Tapi langkah kakinya kini beranjak menuju kamarnya menggunakan senter ponselnya dan saat dirinya sudah di dalam kamar, tiba-tiba saluran listrik dirumah tersebut padam dan membuat Edrea panik setengah mati.
"Mommy!" teriak Edrea sembari berlari ke sembarang arah tanpa ada penerangan.
Gedubrak!!
Edrea terjatuh saat ia memasuki salah satu kamar yang memiliki sedikit penerangan. Dan betapa bersyukurnya dia saat mengetahui bahwa dirinya sekarang tengah berada di kamar Azlan yang memang menggunakan lampu otomatis yang hanya akan menyala saat terjadi mati listrik.
Edrea melirik sekilas kearah luar kamar Azlan dengan gidikan bahunya dan setelah itu ia menutup pintu tersebut cukup keras kemudian ia berlari dan segera masuk kedalam selimut di atas kasur king size milik Azlan.
Azlan yang merasa terganggu pun berdecak dan segera membuka selimutnya.
"Astaga. Lo ngapain dikamar gue?" Edrea melirik sekilas kearah Azlan.
"Semua lampu dirumah ini mati bang dan di kamar lo aja yang punya lampu cadangan otomatis. Jadi malam ini izinin gue tidur sama lo ya, please dari pada gue tar mati gara-gara sesak nafas. Emang Abang mau kehilangan adik Abang yang cantiknya ngalahin Selena Gomez, Jisoo blackpink, Gigi Hadid, Kendall Jenner, Tzuyu Twice, Ariana Gra---" Mulut Edrea kini dibungkam oleh Azlan.
"Diam dan tidur sekarang!" tutur Azlan.
Edrea tersenyum.
"Thank you abang gue yang paling ganteng." Edrea mencium pipi Azlan.
"Lo bau jigong anjrit. Jauh-jauh sana," ucap Azlan sembari mendorong tubuh Edrea agar berjarak dengannya.
Edrea mencebikkan bibirnya kemudian ia beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi di kamar Azlan yang kebetulan juga tak padam lampunya.
Untuk beberapa saat dirinya kembali dengan muka yang masih basah.
"Gue udah cuci muka nih. Jadi gak ada jigong lagi," tutur Edrea dan kembali berbaring disamping Azlan yang sudah menutup matanya.
"Ck, dah tidur aja ah elah," gerutu Edrea dan setelahnya ia memeluk tubuh Azlan, menjadikan tubuh itu menjadi gulingnya.
__ADS_1