The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 245


__ADS_3

Azlan yang sudah masuk kedalam kelas matanya melirik sekilas kearah Kayla yang tengah terduduk di kursinya dengan menampilkan wajah yang ia buat sesedih mungkin dan sesuai dengan perkataannya di rekaman suara tadi, benar saja jika mata Kayla saat ini tengah sembab.


Dan hal itu membuat Azlan tersenyum miring sebelum ia duduk di kursinya sendiri.


"Berlagak tersakiti, padahal dia yang menyakiti," ucap Odi yang sengaja ia perkeras agar Kayla mendengarnya. Namun sepertinya sindirannya tadi tak membuat Kayla tersadar karena sekarang dirinya justru mengeluarkan air matanya.


"Heleh air mata buaya," gerutu Odi yang sekarang sangat sebal dengan Kayla karena menurutnya bukan hanya Erland sendiri yang merasa di tipu karena ulah perempuan itu melainkan dirinya juga merasa hal yang sama dengan Erland.


Azlan yang mendengar gerutuan dari Odi pun kini terkekeh.


"Sudah-sudah mau lo sindir sampai mulut lo berbusa pun dia gak akan pernah merasa sindiran itu untuknya," ucap Azlan sembari menarik lengan Odi agar temannya itu segera duduk di kursinya. Walaupun masih saja Odi terus ngedumel dan mengumpati Kayla tanpa henti.


Dan hal itu membuat Azlan menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.


Disisi lain tepatnya di kelas Edrea, ia tampak menyandarkan kepalanya diatas meja sedari ia masuk kedalam kelas tersebut bahkan ia juga menutup matanya dengan sesekali merasakan perih atas luka yang ia dapatkan tadi.


Untuk Leon, jangan tanya laki-laki itu sekarang ada dimana yang jelas ia sekarang tengah berada di ruang kepala sekolah untuk mengurus tentang kepindahan sekolahnya itu yang belum selesai sepenuhnya. Hingga bunyi bel masuk berbunyi, barulah Leon menyelesaikan semua urusannya tadi. Dan setelahnya ia mulai bergegas menuju ke kelasnya yang sudah di beritahu oleh kepala sekolah tadi.


Tok tok tok!!


Leon mengetuk pintu kelas tadi saat ia sudah berada di depan kelas yang didalamnya sudah ada seorang guru yang mengajar.


Semua orang yang mendengar ketukan pintu tadi, mereka langsung menoleh kearah sumber suara.


"Masuk," ucap guru tadi. Dan tak berselang lama, Leon membuka pintu tersebut dan segera masuk kedalam kelas tadi.


Dan keberadaannya saat ini membuat para kaum hawa heboh. Tapi ada satu siswi yang sekarang justru menatap Leon dengan mulut yang terbuka lebar.


Sedangkan Leon yang tadi mengedarkan pandangannya dan pandangannya itu tertuju ke satu siswi tadi, ia kini tersenyum senang.

__ADS_1


"Diam kalian semua!" perintah guru tadi dengan memukul meja menggunakan penggaris kayunya. Dan hal itu membuat semua orang yang ada didalam kelas tersebut langsung mengatupkan mulut mereka.


Saat dirasa situasi kembali kondusif, guru tadi mengalihkan pandangannya ke arah Leon.


"Kamu anak baru itu kan?" tanya guru tadi yang membuat Leon mengalihkan pandangannya dari siswi tadi ke arah guru yang ada disampingnya.


"Benar, Bu," ucap Leon sopan.


"Baik kalau begitu perkenalkan diri kamu," perintah guru tersebut yang diangguki oleh Leon.


Leon kini kembali menatap ke arah teman-teman barunya tersebut sebelum ia mulai angkat suara.


"Hay, kenalin nama gue, Leon. Senang bertemu dengan kalian dan mohon bantuannya untuk kedepannya," ujar Leon singkat dan padat.


"Sudah?" tanya guru tersebut yang lagi-lagi mendapat anggukan kepala dari Leon.


"Ya sudah kalau begitu duduk di meja pojok belakang sebelah kanan," ujar guru tersebut.


Dan saat ia sampai di meja tadi, ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah siswi yang sedari tadi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Emang ya kalau jodoh itu gak akan kemana," ujar Leon yang membuat siswi tadi kini membuka kedua tangannya.


"Ck, lo pasti nyogok kepala sekolah kan biar bisa satu kelas sama gue?" tuduh Edrea. Ya, siswi yang membuat Leon semangat itu adalah Edrea.


"Gue kali ini gak bermain kotor. Gak ada acara pakai nyogok-menyogok segala. Dan kepala sekolah sendiri tadi yang milihin kelas buat gue karena di kelas lo ini kan baru ada murid yang keluar, jadilah gue yang gantiin posisi dia buat pelengkap murid disini," jawab Leon dengan suara yang berbisik agar guru didepan tak mendengar percakapan mereka berdua.


"Hah? Siapa yang keluar? Jangan bilang perempuan yang waktu itu gue tolong lagi karena dia sekarang gak masuk. Tapi kalau dia keluar, alasannya kenapa?" ucap Edrea dengan penasaran.


"Mana gue gak tau nama dia dan alamat rumahnya lagi. Kalau sampai tau kan gue bisa nyamperin dia dan tanya langsung ke dia alasan mengenai keluarnya dia dari sekolah ini," sambung Edrea yang merasa kecewa dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Leon yang melihat kekecewaan diwajah perempuan tersayangnya itu, tangannya kini bergerak untuk mengelus tangan Edrea.


"Sudah, gak usah di pikiran lagi. Mungkin perempuan yang lo maksud tadi, keluar dari sekolahan ini karena dia mau pindah sekolah ke luar kota atau ketempat lain yang menurut dia nyaman," ujar Leon mencoba untuk menenangkan Edrea.


"Hufttt, ada benarnya juga sih. Kalau sudah begini, gue juga gak bisa ngapa-ngapain. Cuma bisa doain yang terbaik buat dia," ucap Edrea yang diangguki oleh Leon.


Dan setelah percakapan tadi, tak ada percakapan lain diantara mereka berdua karena mereka sekarang tengah fokus kepada guru yang tengah menerangkan materi pembelajaran saat itu.


...****************...


Waktu terus saja bergulir, hingga tak terasa aktivitas belajar mengajar telah usai. Dan hal itu membuat Azlan dan Erland juga teman-temannya, bergerak menuju ke parkiran di sekolah tersebut.


"Pakai mobil gue. Motor lo suruh bawa Hito aja," ucap Azlan yang membuat Erland menganggukkan kepalanya lalu setelahnya ia merogoh saku celana sekolahnya tersebut untuk mengambil kunci motornya. Kemudian ia melempar kunci motor tadi ke arah Hito yang untungnya pada saat itu juga, Hito dengan sigap menangkap lemparan kunci tadi.


Dan saat mereka semua sudah sampai di area parkir dan ingin segera naik ke kendaraan mereka, Azlan justru berbalik arah menuju ke Zea yang tengah berjalan menuju gerbang sekolah tersebut. Karena ia tau Azlan untuk saat ini tidak bisa mengantar dirinya pulang, alhasil ia berniat untuk memesan ojek online saja. Tapi saat dirinya ingin membuka aplikasi khusus ojek online tadi, teriakan Azlan menghentikan tangannya.


"Sayang! tunggu sebentar," teriak Azlan.


Zea kini menghentikan langkahnya lalu menatap kearah Azlan dengan kerutan di dahinya.


"Lah belum berangkat?" tanya Zea heran.


"Belum, orang yang mau kita ikuti masih di dalam sekolah ini soalnya," jawab Azlan.


"Owh begitu. Terus ngapain kamu tadi panggil aku dan malah kesini, gak tau apa kalau kamu sekarang lagi ditunggu tuh sama teman-teman kamu," omel Zea.


"Iya aku tau. Aku kesini mau bilang kalau kamu pulangnya hari ini diantar sama sopir. Tuh orangnya udah nunggu," ujar Azlan sembari menunjuk kearah sebuah mobil yang disampingnya ada sopir pribadi Azlan yang sering mengantar dan menjemput Zea saat dirinya tak bisa melakukannya dengan sendirinya.


"Hati-hati dijalan. Kalau sudah sampai kabarin aku. Dan selalu waspada dengan siapapun dan dengan sekeliling kamu. Jangan sampai lengah dan terluka. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku. Aku pergi dulu, Love you," ucap Azlan dengan tangan yang mengelus kepala Zea sesaat sebelum dirinya bergegas kembali kearah teman-temannya yang tengah menunggunya dengan jenuh.

__ADS_1


"Take care, sayang! Semoga berhasil, Love you too!" balas Zea yang mendapat acungan jempol dari Azlan.


Dan kebucinan dari dua oknum itu pun membuat Erland dan teman-temannya yang sedari tadi menyaksikan drama percintaan tersebut tampak menghela nafas frustasi.


__ADS_2