
Daddy Aiden yang melihat hal tersebut pun ia kini mulai mengambil benda tersebut dan melihat apa yang di maksud oleh kedua putranya itu.
Ia terus memastikan dengan jelas apa yang tengah ia lihat saat ini, hingga akhirnya tangannya itu mengepal kuat bahkan tatapannya sekarang benar-benar tajam.
"Mau apa lagi mereka kembali," geram Daddy Aiden.
"Apa mereka tidak puas dengan apa yang mereka lakukan dulu? Apa karena mereka memiliki kekuasaan yang begitu kuat jadinya mereka semena-mena dengan kita?" sambung Daddy Aiden yang membuat kedua putranya itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Mereka juga paham atas kemarahan yang tengah Daddy Aiden rasakan saat ini. Karena secara tidak langsung mereka juga mengalami hal tersebut namun jika mereka bisa mengontrolnya, mungkin kalau Daddy Aiden justru semakin membara dan tak terhentikan.
"Telepon Leon dan Adam sekarang! Suruh mereka kesini, kita akan membicarakan hal ini saat ini juga," ucap Daddy Aiden setelah ia mengusap wajahnya. Dan perkataannya tadi langsung di turuti oleh kedua anaknya tersebut.
Azlan dan Erland kini tengah disibukkan dengan ponsel mereka untuk menghubungi dua nama yang Daddy Aiden tadi ucapkan. Sedangkan Daddy Aiden mulai berusaha untuk melacak keberadaan Mommy Della.
Dan beberapa menit setelah mereka selesai menelepon kedua orang tadi, Azlan dan Erland segera bergabung dengan Daddy Aiden.
Sedangkan disisi lain, Leon yang baru mendapat telepon dari Azlan pun ia tampak mengerutkan keningnya, pasalnya Azlan hanya mengucapakan jika Daddy Aiden menyuruh mereka pulang padahal Leon tadi juga sudah meminta izin kepada Daddy Aiden dan kata beliau mereka di perbolehkan untuk menginap di rumah pribadinya. Tapi sekarang kenapa tiba-tiba berubah begitu saja. Dan hal tersebut benar-benar membuat Leon curiga.
Dan Leon kini bergerak menghampiri Edrea yang tengah berada di kamarnya.
Tok tok tok!!!
"Sayang, buka pintunya sebentar. Aku mau ngomong!" teriak Leon sembari tangannya terus mengetuk pintu didepannya itu.
Edrea yang sepertinya sudah tertidur karena kelelahan pun ia terpaksa harus bangun dan membuka pintu tersebut.
"Ck, berisik banget sih El. Apa yang mau kamu sampai itu tidak bisa di bicarakan besok saja? Aku capek tau," ujar Edrea dengan bersender di pintu.
__ADS_1
"Tidak bisa sayang. Karena aku mau ngomong kalau kita pulang sekarang. Azlan tadi telepon nyuruh kita buat pulang sekarang," ucap Leon.
"Haisss besok aja lah pulangnya El. Aku benar-benar letih, lesu, loyo ini," tutur Edrea.
Leon yang melihat tubuh Edrea yang meluruh sampai kekasihnya itu terduduk di lantai pun ia segera menghampirinya kemudian ia memberikan kecupan di keningnya.
"Ini perintah dari Daddy, sayang. Jadi kita pulang sekarang yuk. Tidurnya di sambung di mobil nanti. Bisa kan?" ucap Leon dengan lembut.
Dan hal tersebut berhasil membuat mata Edrea yang tadinya tertutup kini sedikit terbuka.
"Baiklah. Tapi gendong," ujar Edrea sembari mengulurkan kedua tangannya.
Dan hal tersebut membuat Leon tersenyum sebelum akhirnya ia mau tak mau menuruti apa yang di inginkan kekasihnya tersebut.
Tapi sebelum dirinya keluar dari rumah tersebut, ia tak lupa membawa Callie untuk ikut dengan mereka berdua.
"Mommy lagi malas jalan sayang. Apa Callie juga mau di gendong Daddy?" tanya Leon yang langsung membuat Callie menggelengkan kepalanya.
"Callie jalan saja Daddy. Kalau Callie ikut di gendong Daddy, kasihan tubuh Daddy nanti pasti lelah," ucap Callie yang membuat Leon tersenyum bangga.
"Anak yang pengertian." Leon mengusap lembut kepala Callie sebelum akhirnya mereka berjalan menuju mobil yang telah di siapkan oleh anak buah Leon. Dan setelah ketiga orang tersebut masuk kedalam mobil tersebut, Leon segera melajukan mobil tersebut menuju ke tempat tujuan mereka.
...****************...
Dan disaat keluarga Daddy Aiden tengah berharap-harap cemas agar Mommy Della segera ditemukan, berbeda dengan gerombolan orang-orang yang sebelumnya menyerang sekolahan triplets. Baru saja mereka sampai dan menghadap ke tuan besar mereka, mereka semua yang tadi ditugaskan untuk membawa Leon kembali pun satu persatu dari mereka kini tengah mendapat hukuman mereka yaitu hukum cambuk. Dan tuan mereka hanya melihat mereka tanpa rasa kasihan sedikitpun bahkan sampai ada beberapa orang yang sudah tak sadarkan diri numun ia tetap menyuruh algojo meneruskan hukuman tersebut, tak peduli jika orang itu pada akhirnya akan mati di tangan algojo.
__ADS_1
Dan perhatiannya kini teralihkan saat salah satu anak buahnya mendekati dirinya dan membisikkan sesuatu kepadanya.
"Damn! Katakan dimana tubuh Jaden?" tanya orang tersebut yang langsung di arahkan oleh anak buahnya tadi menuju ke tempat dimana ada tubuh seorang laki-laki yang sudah tak bernyawa bahkan sudah terlihat kaku.
"Katakan! Siapa yang membunuh Jaden?" ucap orang tersebut kepada orang-orang yang sudah terkulai lemas dengan darah yang mulai mengalir dari punggung mereka.
Namun pertanyaannya tadi tak kunjung mendapat jawaban dari salah satu orang-orang yang tengah di hukum tersebut. Hingga salah satu algojo bertindak, ia menjambak rambut salah satu orang yang ia yakini kesadaran masih lumayan banyak itu.
"Arkhhhh," teriak orang tersebut saat merasakan sakitnya jambakan itu dan luka yang ada di punggungnya tersebut menjadi satu.
"Apa kamu tadi tidak mendengar apa yang dikatakan oleh tuan? Jika mendengar, katakan sekarang siapa yang telah membunuh Jaden!" ucap algojo tersebut.
"Prin---" ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tu---an Elsworth yang melakukannya. Beliau juga berpesan jika tuan masih mengusik kehidupannya yang sekarang, perlahan dan satu persatu anak buah kesayangan tuan akan tuan Elsworth lenyapkan. Beliau juga berpesan jika tuan tidak kunjung menghentikan aksi tuan ini, maka beliau yang akan turun tangan sendiri untuk melenyapkan tuan," sambung orang tersebut.
Dan ucapan dari orang tersebut membuat tuan besar mereka menampilkan senyum miringnya.
"Heh, dia benar-benar sudah besar bahkan sudah bisa melawan orangtuanya sendiri. Apa dia tidak tau terimakasih dengan orangtuanya yang sudah menjaganya sedari dia kecil? Bahkan apa yang dia inginkan selalu terpenuhi. Tapi saat dia sudah besar, seakan-akan dia melupakan jasa orangtuanya sendiri dan memilih untuk melindungi orang lain yang tak memiliki ikatan apapun dengannya," ujar orang tersebut.
"Dan apa dia pikir dengan mengancam saya, saya akan takut dan mundur begitu saja? oh tentu saja tidak. Toh saya juga yakin dia tidak mungkin bisa melukai saya seperti yang dia ucapkan tadi. Melukai saja tidak bisa apalagi membunuh saya. Hahaha," sambungannya diakhiri dengan tawa yang menggema di ruangan yang hanya memiliki pencahayaan yang sangat minim.
Namun tawa itu tiba-tiba saja berhenti bahkan ekspresi wajahnya juga sudah berubah menjadi garang kembali.
"Kalian boleh kalah melawan Elsworth, tapi coba kita lihat hasil kerja dari orang yang telah Jaden temukan dan berhasil membuat kerjasama dengan kita. Apa dia sudah bergerak sekarang? Atau justru tak menemukan ide sama sekali dan hanya stuck di situ-situ saja tanpa melakukan penyerangan kepada keluarga itu?" ujar orang tersebut dengan tangan yang terkepal di udara. Membayangkan jika yang ada di dalam genggamannya itu adalah keluarga Abhivandya yang tengah ia incar itu.
__ADS_1
"Telepon dia sekarang juga!" perintahnya yang langsung membuat salah satu dari anak buahnya bergerak untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh tuannya itu.