
Kini gerombolan orang misterius itu kembali sampai di Indonesia dengan membawa tubuh Zico yang perlahan melemas karena luka di perut kembali terbuka dan tangannya mengeluarkan darah yang begitu banyak.
"Kurung dia di penjara bawah tanah. Panggil dokter untuk mengobati dirinya. Jangan biarkan dia mati terlebih dahulu sebelum menemui keluarga Abhivandya," perintah bos tersebut yang membuat ketiga orang tangan kanannya menyeret tubuh Zico yang sudah tak sadarkan diri ke tempat yang diarahkan oleh bos mereka dan 2 orang lainnya bergerak untuk menjemput dokter langganan mereka.
Sedangkan sang bos tadi, ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum nanti ia memikirkan bagaimana cara untuk mempertemukan Zico dengan keluarga Abhivandya tanpa perantara dirinya juga anak buahnya.
...****************...
Disisi lain, keluarga Abhivandya yang sejak 2 jam lalu telah sampai di kediamannya pun kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga setelah acara membersihkan tubuh mereka juga makan malam.
"Kamu nginap disini aja ya, Vi," ucap Mommy Della sembari mengelus tangan Vivian.
Vivian yang di perlakukan lembut pun tersenyum tulus kearah Mommy Della.
"Tidak usah Mom. Vivi pulang aja," tolak Vivian yang merasa tak enek dengan keluarga yang hampir dicelaki oleh adiknya itu.
"Tapi ini sudah malam lho. Gak baik kalau anak gadis pulang malam-malam begini. Besok pagi aja kalau mau pulang, ya sayang." Mommy Della masih berusaha membujuk Vivian agar anak perempuan itu mensetujui permintaannya.
"Tinggal iyain aja apa susahnya sih. Tidur disini juga gak di pungut biaya," sela Azlan yang semakin geram dengan Vivian. Apalagi ketika mengingat perempuan itu tadi melepas Zico begitu saja. Arkkhhhhhhh kalau bisa Azlan sekarang membunuh Kakak beradik itu sekalian.
Vivian yang mendengar suara ketus dari Azlan pun kini tertunduk. Sedangkan Mommy Della yang melihat kesedihan yang terpancar di diri Vivian pun, ia langsung melempar bantal sofa kearah anak pertamanya itu.
"Mulut kamu mau Mommy ulek? Suaranya juga yang sopan, jangan ketus kayak gitu!" perintah Mommy Della yang mendapat decakan sebal dari sang empu.
__ADS_1
"Jadi gimana, Vi. Mau ya tidur disini, malam ini aja kok. Mom khawatir soalnya kalau lihat anak gadis keluar malam-malam sendiri, takut diculik om-om," ujar Mommy Della.
"Heleh. Anak orang di khawatirin, anaknya sendiri kalau keluar malam di biarin. Emangnya tuh orang gak bisa bela diri buat ngelawan penculik? kalau diculik sana om-om kaya, tampan, mapan belum beristri atau duda ya sikat aja lah. Lumayan buat jaminan masa depan," ucap Edrea dengan pikiran yang ngelantur entah kemana.
"Itu mah mau kamu aja. Dapat om-om begituan. Gak ada ya, Dad gak akan setuju," tutur Daddy Aiden menanggapi ocehan dari anak perempuan satu-satunya itu.
"Kenapa gak setuju? bebet, bibit, bobot kan sudah jelas. Hmmm Rea tau pasti Daddy gak mau kalau Mommy nantinya beralih ke om-om itu kan?" Daddy Aiden mendengus karena isi pikirannya bisa di baca oleh Edrea.
"The real bapak-bapak bucin," sambung Edrea kemudian ia mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya.
"Jangan dengarkan ocehan gak penting orang-orang tadi. Yang terpenting sekarang kamu harus tidur disini malam ini dan gak ada penolakan sama sekali," final Mommy Della yang membuat Vivian menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.
"Nah gitu dong dari tadi. Oh ya kamu nanti tidur di sebelah kamar Edrea aja. Biar kamu gak perlu nunggu kamar yang akan kamu tempati dibersihkan," ucap Mommy Della yang membuat ketiga anaknya langsung menghentikan aktivitas sebelumnya dan menatap kearah Mommy Della.
Mommy Della melototkan matanya dan belum sempat ia membalas perkataan dari Azlan tadi, suara Erland terdengar.
"Bukan cuma bang Az yang gak setuju. Tapi Erland juga gak akan pernah setuju," tutur Erland dengan suara rendahnya dan suara itu menandakan jika dirinya benar-benar sudah tersulut emosi. Bahkan setelah mengucapkan hal itu, Erland berdiri dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut. Disusul Azlan di belakangnya. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, Azlan sempat berteriak memanggil art disana.
"Mbak Ti!" Teriak Azlan menggema di seluruh rumah tersebut dan tak berselang lama, satu art yang namanya terpanggil tadi menghampiri Azlan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" tanyanya.
"Ambilkan semua kunci ruangan yang berada disebelah kamar Edrea. Mau itu kunci utama atau cadangan. Pokoknya ambil semuanya dan kasih saya sekarang juga," perintahnya yang langsung membuat art tadi bergerak cepat untuk mengambilkan kunci yang dimaksud oleh tuan mudanya itu.
__ADS_1
Semua orang yang ada disana tak ada yang bisa menghentikan kemauan dari Azlan tadi. Jika mereka mencegahnya bisa-bisa si singa muda itu akan mengamuk saat itu juga. Bahkan Daddy Aiden yang notabenenya punya kuasa di rumah tersebut tak berani jika menyinggung Azlan saat anaknya itu tengah emosi seperti ini.
Tak berselang lama, art tadi kembali dengan membawa dua kunci dan menyerahkan ke Azlan.
"Terimakasih," tutur Azlan setelah itu ia benar-benar pergi dari ruangan tersebut menuju kamarnya.
"Kunci sudah ditangan bang Az. Mom dan Dad gak akan pernah bisa merebut itu dari dia. Dan Edrea pun gak setuju, sama seperti bang Az dan bang Er. Sampai kapanpun kamar itu tetap menjadi kamar Kak Aila, gak ada yang boleh nempatin kamar itu walaupun hanya semalam, selain kita bertiga. Apalagi orang itu adalah orang asing di keluarga ini. Sampai kapan pun kita bertiga gak akan biarkan hal yang dikatakan Mommy tadi terjadi," kini giliran Edrea yang bersuara. Lalu ia juga ikut meninggalkan ruangan tersebut menyusul kedua saudara kembarnya.
Vivian menatap satu-persatu kepergian tiga orang tadi dan kini ia beralih mantap kearah Mommy Della dan mengelus lembut telapak tangan wanita paruh baya itu.
"Mom, biarkan Vivi tidur di kamar tamu saja. Tak masalah jika kamar itu kotor. Vivian bisa bersihkan sendiri," ujar Vivian.
"Tapi---"
"Jangan tentang keputusan mereka, Mom. Mereka seperti itu pasti gak mau kalau privasi Kakak mereka di ketahui oleh orang luar. Jadi Vivi mohon biarkan Vivi tidur di kamar tamu saja," ucap Vivian.
"Huh ya sudah lah kalau gitu. Biar Mom nanti nyuruh mbak buat bersihin kamar tamu buat kamu nanti. Dan Mom minta maaf atas kelakuan triplets tadi ya." Vivian tersenyum kemudian mengangguk.
"Tidak apa-apa Mom. Vivi tau kok perasaan mereka bertiga saat ini seperti apa. Jadi Mom gak perlu minta maaf ya. Karena Mommy, Daddy ataupun triplets gak ada yang salah sama Vivi. Dan Vivi ucapkan terimakasih karena sudah mengizinkan Vivi untuk menginap disini," tutur Vivian yang membuat Mommy Della langsung memeluk tubuh ramping Vivian.
"Sama-sama sayang. Kalau bisa sering-sering tidur disini ya. Mom dan Dad akan selalu menerima Vivian dengan tangan terbuka dan anggap saja ini rumah Vivian juga," ucap Mommy Della.
"Terimakasih Mom, Dad," ujar Vivian sembari mengeratkan pelukannya.
__ADS_1