The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 61


__ADS_3

Azlan kini telah sampai di lokasi yang diberikan oleh Zea tadi. Matanya terus melihat sekeliling tanpa menghentikan mobilnya dan terlihat ada seorang gadis yang melambai-lambaikan tangannya kearah mobil Azlan.


Azlan pun langsung tancap gas menghampiri gadis tersebut dan setelah sampai, gadis yang memakai hoodie hitam itu langsung masuk kedalam mobil Azlan.


"Lo siapa?" tanya Azlan pasalnya wajah gadis tersebut tertutup dengan masker, kacamata dan kepalanya tertutup Hoodie tadi.


"Gue Zea," jawabnya sembari melepas semua atribut yang ia pakai. Azlan membeo saat melihat wajah Zea.


"Lo gak bawa mobil?" tanya Azlan.


"Tadi bawa, tapi gara-gara gue tadi di hadang sama orang-orang yang gak punya kerjaan, mobil gue jadinya gue tinggalin. Semoga aja masih selamat tuh mobil," ucap Zea.


"Kenapa bisa di hadang sih?" Tanya Azlan sembari melajukan mobilnya.


"Gue juga gak tau Az," jawab Zea.


"Lo juga kenapa lewat sini? udah tau disini sepi. Lain kali kalau mau kemana-mana jangan lewat sini lagi, harus lewat jalan raya," ucap Azlan.


"Tapi gue biasanya lewat sini juga gak papa Az. Baru kali ini aja. Kalau lewat jalan raya tuh jauh belum lagi macet, kan bisa telat gue ke sekolahnya."


Azlan mendengus kesal saat Zea tak langsung mensetujui apa yang ia katakan tadi.


"Lo pilih terjebak macet apa pilih dihadang orang kayak tadi ditambah lo kalau lewat sini taruhannya nyawa? Pilih yang mana hah?"


Zea menatap wajah Azlan dari samping yang terlihat sangat sebal itu.


"Iya-iya deh. Maaf, lain kali gue lewat jalan raya," jawab Zea.


"Gak lain kali tapi mulai besok," ucap Azlan sembari melihat sekilas wajah Zea.


"Iya Azlan. Mulai besok gue lewat jalan raya."


Azlan tampak tersenyum samar kemudian tangan kirinya terulur untuk mengacak-acak rambut Zea.


"Good girl," ucap Azlan. Zea mencebikkan bibirnya.


Setelah itu tak ada lagi percakapan dari keduanya, Zea tengah sibuk mengotak-atik ponselnya guna menghubungi seseorang untuk mengambil mobilnya. Sedangkan Azlan tengah fokus menyetir.


Tak berselang lama akhirnya mobil Azlan sampai di sekolah tersebut dan setelah memarkirkan mobilnya, mereka berdua keluar dari mobil tersebut bertepatan dengan itu pula, Erland juga baru datang dengan Kayla.


Azlan kini melihat raut wajah Zea yang juga melihat keduanya tengah turun dari motor sport milik Erland.


"Lo gak papa kan?" tanya Azlan saat dirinya sudah disamping Zea.

__ADS_1


Zea mengerutkan keningnya.


"Lah emang gue kenapa? Kalau masalah di kejar-kejar tadi, Alhamdulillah gue aman," jawab Zea.


"Ck, Lo gak lihat Erland tadi boncengin wanita lain? Lo gak cemburu?" tanya Azlan.


Zea menggedikkan bahunya.


"Gak tau. Tapi gue lihat mereka berdua bermesraan hati gue gak sepanas dulu. Mungkin gue udah gak punya perasaan yang istimewa kali sama Erland, jadi lihat dia sama cewek lain, biasa aja gitu. Kalau iya emang begitu, syukurlah gue gak akan galau terus hahahaha," tutur Zea diakhiri dengan tawa renyah.


Azlan kini tersenyum kemudian mengalungkan lengannya ke leher Zea.


"Nah gitu dong. Cewek itu harus cepat move on," ucap Azlan sembari berjalan keluar dari parkiran mobil tersebut.


"Az, lepasin. Bisa end gue kalau terus lo giniin." Azlan pun melepaskan lengannya dari leher Zea.


"Gue gak teken lengan gue lho Ze. Kok bisa-bisanya lo ngomong tar jadi end kalau lama-lama gue gituin?" Zea menatap wajah Azlan yang sepertinya tak suka dengan ucapannya tadi.


"Ya gimana gak end coba kalau fans lo aja lihatin gue dengan ekspresi seakan-akan mereka semua tengah mengibarkan bendera perang," ucap Zea lirih sembari menatap siswi lainnya yang tengah menatapnya dengan garang.


"Gue bukan artis dan gue juga gak punya fans," tutur Azlan dengan dingin.


"Iya emang lo bukan artis tapi lo tuh populer di sekolah ini. Bukan cuma lo doang tapi Erland pun sama," ucapnya kemudian menatap Erland dan juga Kayla yang masih bercanda gurau di tempat parkiran motor.


"Biarin lah, itu urusan mereka berdua toh kalau Kayla diganggu sama cewek lain, Erland juga akan lindungi dia. Jadi lo tenang aja. Dan kalau lo di ganggu cewek lain di sekolah ini, bilang sama gue. Gue yang akan lindungi lo," tutur Azlan.


"Wow yesss gue punya bodyguard baru," ucap Zea bercanda.


"Emang ada bodyguard seganteng gue?"


"Ada, banyak malah."


Azlan mencebikkan bibirnya yang membuat Zea kini kembali tertawa lebar. Dan tanpa sadar mereka berdua kini sudah mendekati Erland dan Kayla.


"Ehem," dehem Erland saat mereka berdua melewatinya.


Azlan dan juga Zea berhenti tepat beberapa senti di tempat Erland dan Kayla berada.


Keduanya kini mendekti mereka. Setelah sampai, Erland menatap Azlan seakan-akan ia meminta penjelasan ke Abang pertama itu dan juga mulai curiga kalau Azlan ada sesuatu sama Zea yang notabenenya temannya sendiri.


"Kalian berangkat bareng?" tanya Erland.


"Seperti yang lo lihat," jawab Zea.

__ADS_1


Erland menganggukkan kepalanya.


"Eh iya gue belum kenalan sama gebetan baru lo nih. Kenalin gue dong," sambung Zea menggoda Erland.


"Belum gebetan. Tapi doakan saja," bisik Erland tepat di telinga Zea.


Azlan yang sedari tadi hanya diam saja, kini matanya melotot saat Erland begitu dekat dengan wajah Zea. Dan dengan reflek, Azlan menarik tangan Zea agar berdiri di belakangnya.


"Santai, tenang, kalem. Gue gak akan rebut pacar lo. Gue hanya temenan sama dia doang," tutur Erland sembari nyengir melihat abangnya yang ternyata sudah tak jomblo lagi setelah 17 tahun di dunia ini. Padahal Erland pun sama dengan Azlan yang selama ini juga jomblo.


"Gue bukan pacarnya Azlan," jawab Zea sembari memunculkan kepalanya dari balik tubuh Azlan.


Azlan yang mendengarkan hal tersebut kini menolehkan wajahnya kearah Zea. Kemudian dengan cepat ia melepaskan tangannya tadi dari pergelangan tangan Zea, lalu meninggalkan mereka bertiga begitu saja. Entahlah kenapa ia merasa tak senang saat mendengarkan penyangkalan dari Zea tadi padahal kan yang diucapkan Zea memang kenyataannya.


Setelah kepergian Azlan tadi, ketiganya saling pandang.


"Dia kenapa?" tanya Zea yang terlalu tidak peka dengan Azlan.


"Ya marah sama lo lah. Gitu aja masih nanya. Kejar sana kalau dia keburu ngambek bisa bahaya," tutur Erland menakut-nakuti Zea.


"Masak sih?" Erland pun mengangguk.


"Ya udah deh gue nyusul Azlan dulu ya. Bye." Saat Zea sudah melangkahkan kakinya beberapa langkah kedepan, ia malah memutar tubuhnya dan kembali kearah Erland juga Kayla.


"Lah lo ngapain balik kesini lagi?" tanya Erland penasaran.


"Belum kenalan sama cewek lo."


"Kenalin gue Zea. Teman pacar lo, jadi kedepannya kalau dia lagi bercanda atau ngobrol sama gue, Lo gak usah cemburu oke," ucap Zea dengan senyum manisnya.


"Gue Kayla dan gue juga bukan pacar Erland," sangkal Kayla dengan senyum yang tak kalah manis dari senyum Zea tadi.


"Calon," timpal Erland.


"Calon? gak juga," jawab Kayla.


Erland melongo saat mendengar ucapan dari Kayla yang seakan-akan ia sudah di tolak terlebih dahulu sebelum menyatakan perasaannya.


"Ya udah deh mau calon atau udah resmi, gue doakan semoga lancar jaya gak ada halangan untuk hubungan kalian," tutur Zea.


Dan setelahnya ia mendekati Erland.


"Jaga dia dari para fans lo yang sudah mulai menabuh genderang perang. Kalau lo gak mau lihat dia tar kena mental dan berakhir dia menjauh dari lo," bisik Zea.

__ADS_1


"Gue duluan ya, bye," pamitnya setelah menjauhkan wajahnya dari samping telinga Erland, kemudian ia berlari kecil untuk mencari keberadaan Azlan tadi yang entah kemana ia pun tak tau.


__ADS_2