The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 81


__ADS_3

Kini saatnya Edrea, Leon juga anak band sekolah tersebut telah bersiap di atas panggung untuk menampilkan satu buah lagu yang mereka persembahkan untuk Kakak kelas mereka.


Saat Edrea menunggu yang lainnya untuk mempersiapkan diri dengan alat musiknya. Ia mengedarkan pandangannya ke depan, menatap setiap siswa/siswi yang tengah berkumpul di bawah panggung, tempat dimana dirinya berada sekarang. Tapi ia menghela nafasnya saat ia tak menemukan seseorang yang sedari tadi pagi tak ia lihat batang hidungnya. Seseorang itu siapa lagi kalau bukan Zico. Bahkan ia telah menghubunginya beberapa kali, tapi sang empu tak kunjung membalas pesan teks ataupun telepon darinya.


Saat dirinya terbengong dengan beberapa pertanyaan yang memutar di otaknya, Leon menepuk bahunya pelan.


"Kenapa?" tanya Leon. Edrea kini menolehkan kepalanya kearah Leon. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sembari menunduk.


"Lo gugup?" tanyanya lagi.


"Sedikit," jawab Edrea yang membuat Leon tersenyum. Kemudian ia mengacak rambut Edrea dengan gemas.


"Gak usah gugup. Ada gue disamping lo," ucap Leon.


Edrea menatap wajah Leon kemudian ia ikut tersenyum kearah pria tampan itu.


"Gue tau apa yang sebenarnya buat lo gelisah kayak gini Edne," batin Leon.


Beberapa saat setelahnya teman Leon menghampiri dirinya untuk memberitahu bahwa semuanya telah siap. Leon pun menganggukkan kepalanya.


"Kita mulai sekarang," bisik Leon kepada Edrea setelah itu ia menatap kedepan.


"Selamat pagi menjelang siang semuanya," salam Leon lantang lewat mikrofon di hadapannya yang langsung disambut oleh semua orang yang menyaksikan dan mendengarkan salam dari Leon.


"Sebelumnya saya sebagai perwakilan dari teman-teman yang lain ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan Kakak-kakak kelas 12 dalam melaksanakan ujian Nasional. Dan berakhir tepat hari ini dengan suka cita Kakak kelas 12 semuanya dinyatakan lulus. Disini izinkan saya dan juga teman-teman yang lainnya memberikan sebuah kenang-kenangan yang mungkin tak berarti buat kakak-kakak semua, tapi setidaknya lagu ini bisa membuat kalian semua ingat dengan sekolah ini. Sekolah yang telah kalian jadikan sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Selamat menyaksikan dan terhanyut dalam suasana," ucap Leon yang langsung mendapat sorak sorai orang-orang di hadapannya.


Kini petikan gitar dari Leon telah terdengar, kemudian ia menatap Edrea sembari tersenyum.


"Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau t'lah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu."


Suara Leon terdengar merdu di telinga pendengarannya dan setelahnya masuklah dibagian Edrea bernyanyi.


"Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia."


Suara yang awalnya sangat diragukan oleh semua orang disana, kini suara itu telah menghipnotis semua pendengarannya. Mereka semua melongo mendengar keindahan dari suara yang bisanya terdengar cempreng itu. Bahkan mereka yang tadinya meremehkan Edrea kini berdecak kagum dan ada juga beberapa orang yang membandingkan suara Edrea juga suara Sifa, sang diva sekolah tersebut.

__ADS_1


Mereka terus melantunkan lagu tersebut hingga part terakhir yang langsung diisi oleh suara keduanya yang semakin membuat semua orang tenggelam dalam suara yang teramat merdu itu.


"Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia."


Suara tepuk tangan dan sorak sorai para penikmat lagu tadi mengiring selesainya satu lagu yang dipersembahkan oleh Leon, Edrea juga anak band tadi.


Edrea kini merekahkan senyumnya saat melihat orang lain sangat puas dengan suara yang sebelumnya sangat ia ragukan itu.


Dan karena kesepakatan hanya satu lagu yang akan mereka nyanyikan, Edrea kini berdiri dari duduknya dan menundukkan tubuhnya sebelum berencana ingin turun dari panggung tersebut. Tapi saat dirinya ingin melangkahkan kakinya, tangannya lebih dulu dicekal oleh Leon.


Edrea menatap tangan Leon sesaat sebelum ia menatap sang pemilik tangan itu sembari mengerutkan keningnya.


"Duduk dulu," ucap Leon lirih.


"Kenapa? bukannya kita udah selesai?" tanya Edrea penasaran tapi tak urung ia mendudukkan tubuhnya lagi di kursinya tadi.


"Hah? satu lagi? tapi kan kita sepakat hanya satu lagu dan kita juga dari awal hanya latihan lagu melukis senja aja. Gak ada lainnya," ucap Edrea.


"Iya emang, tapi kita coba aja dulu. Dan lagu ini juga sangat terkenal di kalangan banyak orang. Mungkin lo juga tau lagu ini bahkan mungkin udah hafal."


"Huh, tapi kalau gue gak tau lagunya, lo aja sendiri yang nyanyi dan gue akan turun," tutur Edrea.


"Gue yakin Lo tau."


"Emang apa judulnya?"


"Seluruh nafas ini dari Last Childs feat Giselle," ucap Leon.


"Gimana lo tau lagu itu kan?" sambungnya.


"Gue tau kok. Ya udah kita coba aja," tutur Edrea.


Lagi-lagi Leon tersenyum kemudian memberikan arahan kepada anak band lainnya untuk segera memulai lagu kedua mereka. Hingga terdengar iringan musik lagu yang sebenarnya telah Leon dan anak band lainnya rencanakan di belakang Edrea.


Tapi kali ini Leon tak memainkan alat musik seperti tadi, ia lebih memilih untuk fokus bernyanyi.


"Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi


Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu


Aku tak akan lupa


Tak akan pernah bisa


Tentang apa yang harus memisahkan kita

__ADS_1


Di saat ku tertatih


Tanpa kau disini


Kau tetap ku nanti


Demi keyakinan ini


Jika memang dirimulah tulang rusukku


Kau akan kembali


Pada tubuh ini


Ku akan tua dan mati


Dalam pelukmu


Untukmu seluruh nafas ini."


Setelah bait lagu bagian Leon terhenti beberapa saat kemudian di sambung dengan suara Edrea.


"Kita telah lewati


Rasa yang pernah mati


Bukan hal baru


Bila kau tinggalkan aku


Tanpa kita mencari


Jalan untuk kembali


Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku


Di saat ku tertatih (saat ku tertatih)


Tanpa kau disini (tanpa kau di sini)


Kau tetap ku nanti


Demi keyakinan ini


Jika memang kau terlahir


Hanya untukku


Bawalah hatiku dan lekas kembali


Ku nikmati rindu yang datang membunuhku


Untukmu seluruh nafas ini."


Kini mereka saling berhadapan satu sama lain dan tanpa Edrea sangka, Leon kini meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Awalnya Edrea sangat terkejut untuk beberapa saat tapi setelahnya ia merilekskan dirinya hingga menyelesaikan bait lagu tersebut hingga akhir dengan sesekali ia beradu pandang dan tersenyum kearah Leon. Begitupun dengan Leon yang juga melakukan hal sama seperti Edrea tadi. Rasa canggung diawal sudah mereka kikis perlahan hingga rasa canggung itu sekarang telah hilang. Dan menyisakan chemistry yang luar biasa terpancar dari keduanya.


Bahkan saking kuatnya chemistry tersebut banyak orang yang asumsi bawa Edrea juga Leon tengah menjalin kasih. Apalagi suasana lagu tersebut seperti menggambarkan mereka berdua yang awalnya saling terpisahkan tapi sekarang di persatukan kembali.


"Untukmu seluruh nafas ini."


Bait terakhir berhasil mereka berdua selesaikan tanpa melepaskan genggaman tangan tadi juga tatapan mata keduanya yang sedari tadi terkunci satu sama lain.


Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam sampai akhirnya mereka disadarkan oleh tepuk tangan dan hiruk-pikuk orang-orang disana. Dan hal tersebut membuat Edrea segera memutus tatapannya kemudian melepaskan genggaman tangan Leon.

__ADS_1


Setelah itu ia membungkukkan badannya untuk memberikan hormat kepada orang di depannya sebelum akhirnya turun dari panggung tersebut meninggalkan Leon juga anak band lainnya yang masih di atas panggung tersebut.


__ADS_2