The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 350


__ADS_3

Beberapa menit setelah keluarnya Zico dari rumah keluarga Abhivandya tadi, kini pelukan dari satu keluarga yang melepaskan rindu itu pun kini saling menjauh. Dan tinggallah Mommy Della yang masih memeluk Vivian sebelum pelukannya juga terlepas dan terganti dengan ia menangkup kedua pipi Vivian.


"Anak Mommy," ucapnya dengan diakhiri ia mengecup seluruh wajah Vivian kecuali bibir anak perempuannya tadi sebelum ia kembali memeluk tubuh Vivian.


"Mommy gak nyangka kalau kamu masih di dunia ini. Kamu tau sayang, selama ini Mommy sama Daddy terus saja merasa sedih kalau ingat kamu yang kita tau adalah bayi kecil yang sudah meninggal itu. Bahkan kita juga berangan-angan jika anak pertama kita masih hidup pasti dia sangat cantik dan keluarga kita akan lengkap. Dan lihatlah, ternyata Tuhan sangat baik ke keluarga kita yang kembali menemukan dan meluruskan semua kesalahan yang dulu membuat Mommy sama Daddy hancur. Tapi tak apa, itu dulu dan sekarang Mommy seneng sekali, bahagia sekali karena anak Mommy sekarang bisa Mommy peluk, Mommy cium seperti ini. Terimakasih sayang karena kamu sudah bertahan selama ini. Dan maafkan Mommy sama Daddy yang percaya begitu saja dengan kebohongan yang dulu tercipta," ujar Mommy Della yang membuat sudut bibir Vivian terangkat.


"Oh ya, selama kamu dirawat dengan keluargamu yang dulu. Mereka baik kan sama kamu? Kamu gak di lukai sedikitpun sama mereka kan? Kamu juga gak disiksa sama mereka terlebih Mama tiri atau Mama angkat kamu itu kan?" sambung Mommy Della dengan melepaskan pelukannya bahkan tatapan matanya kini tertuju kearah tubuh Vivian dari atas sampai bawah.


Vivian yang diberi pertanyaan beruntun itu pun ia menggelengkan kepalanya tanpa melunturkan senyumannya.


"Vivian baik-baik saja Mom. Mereka memperlakukan Vivian seperti anak kandung mereka sendiri seperti yang di katakan Jio tadi. Ya walaupun yang baik sebenarnya hanya Papa saja. Tapi Mama juga baik kok, saat dulu beliau pulang dari kerja ataupun hanya sekedar jalan-jalan. Beliau selalu bawain oleh-oleh Vivian. Beliau sebenarnya baik Mom hanya saja beliau menutupi kebaikannya dengan kejahatan beliau. Tapi yakinlah semua keluarga Vivian baik semua. Vivian tidak pernah menerima kekerasan fisik sedikitpun. Percaya deh sama Vivian. Tapi kalau masih tidak percaya tanya aja sama Jio. Dia yang jadi saksi selama aku tinggal disana. Iya kan Jio?" Vivian menolehkan kepalanya ke tempat yang tadi Zico tempati namun sayang saat matanya menatap kearah tersebut, ia tak mendapatkan adanya sosok Zico disana. Bahkan ia sudah menoleh ke segala arah, ia sama sekali tak mendapati Zico di ruangan tersebut.


"Lho, Jio kemana?" bingung Vivian yang sudah mulai panik saat itu juga.


Semua orang kini ikut mengedarkan pandangannya ke segala arah dan hasil yang mereka lihat sama dengan hasil yang Vivian lihat.


"Lah iya, tuh kutu kupret kemana? Main ngilang aja kayak dedemit," ujar Erland yang cukup heran dengan Zico yang tiba-tiba menghilang begitu saja.


Sedangkan Vivian yang otaknya sudah overthinking pun ia kini menatap kearah kedua orangtuanya.


"Dad, Mom. Jio kemana?" tanya Vivian dengan menggoyang-goyangkan lengan Mommy Della.


Mommy Della yang tak tau kemana Zico kini berada pun tangannya bergerak untuk mengelus rambut lurus Vivian.


"Kamu tenang dulu ya sayang. Jio paling lagi ke toilet atau kalau gak dia sudah ke kamarnya," ujar Mommy Della. Dan baru saja bibir Mommy Della selesai mengucapkan hal tersebut, Vivian langsung berlari kearah kamar tamu yang memang sudah di siapkan untuk Zico malam ini dengan disusul yang lainnya di belakangnya.


Tapi saat Vivian sudah berada di kamar tersebut, satu hal yang ia lihat adalah kamar itu kosong tak berpenghuni bahkan lampu di ruangan tersebut juga tidak menyala.


"Jio!" panggil Vivian dengan menyalakan lampu kamar tersebut sebelum dirinya mulai menjelajahi setiap sudut kamar tersebut. Tapi hasilnya masih sama yaitu nihil. Tak ada Zico di ruangan tersebut.


"Mom, Jio gak ada," ucap Vivian dengan memutar tubuhnya menghadap kearah orang-orang yang turut masuk kedalam kamar tersebut.


"Kamu tenang dulu. Kita cari diseluruh rumah ini. Siapa tau Jio ada di ruangan lain," ujar Daddy Aiden mencoba menenangkan Vivian.


"Tapi kalau di setiap ruangan di rumah ini gak ada Jio gimana?" tanya Vivian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Pasti ada, Kak. Jadi Kakak tenang aja. Kita bakal bantu cari Jio sampai dia ketemu," ujar Edrea dengan menyenggol lengan kedua saudara kembarnya yang kebetulan berada di samping kanan dan kirinya agar mereka berdua mensetujui apa yang di katakan oleh Edrea tadi.


Kedua orang itu yang mendapat kode dari Edrea pun keduanya langsung menganggukkan kepala mereka untuk menimpali ucapan dari Edrea tadi.

__ADS_1


"Nah, triplets sudah setuju bantu buat cari Jio. Mom juga yakin dia pasti ada disekitar sini," ucap Mommy Della yang sekarang sudah berada di samping Vivian dengan mengelus lengan anak perempuannya itu.


"Ya sudah kalau gitu, tunggu apa lagi. Kita cari Jio sekarang juga!" perintah Daddy Aiden kepada anak-anaknya. Dan hal tersebut membuat ke-lima pemuda tadi langsung berhambur keluar dari ruang kamar tersebut untuk segara melaksanakan perintah dari Daddy Aiden.


Sedangkan Vivian kini di tuntun oleh Mommy Della menuju kearah ruang keluarga lagi untuk menunggu kabar dari kelima orang tadi.


...****************...


Sedangkan disisi lain, Zico yang mengendarai mobil tak tentu arah dengan tatapan mata yang terlihat kosong pun tak sengaja saat dirinya mengendarai mobil di persimpangan jalan menabrak seseorang yang tiba-tiba saja menyebrang di hadapannya.


Zico yang sedari tadi hanya ngalamun pun ia tersadar kembali saat ia merasakan bahwa ada dentuman keras dari depan mobilnya juga mobilnya kini sudah berhenti dengan sendirinya ditambah ia juga melihat beberapa saat setelahnya banyak warga sekitar yang mengerumuni mobilnya bahkan ada yang mengetuk kaca mobil dan berteriak menyuruhnya keluar.


Zico yang belum menyadari apa yang tengah menimpa dirinya pun, dengan bingung ia keluar dari dalam mobilnya.


"Maaf ada apa ya, Pak?" tanya Zico yang terlihat seperti orang bodoh dimata semua masyarakat di sana.


"Kamu tanya ada apa? Astaga, lihat tuh. Disana ada orang yang tadi kamu tabrak. Kamu ini bisa bawa mobil atau tidak? Dia nyebrang di penyebrangan yang benar kok bisa-bisanya kamu tabrak? Mata kamu itu ditaruh dimana? Di dengkul? Bahkan bisa-bisa setelah nabrak orang, kamu malah tanya ada apa? Kamu waras?" ucap salah satu bapak-bapak yang terlihat geram dengan Zico.


"Sa---saya nabrak orang, Pak?"


"Iya lah. Lihat disana tuh orangnya sekaligus bukti kalau kamu benar-benar sudah nabrak orang," ujar bapak-bapak tadi dengan menunjuk kearah korban yang Zico tadi tabrak yang kini tengah di bopong oleh salah satu warga lainnya.


"Sudah-sudah jangan bertengkar. Keselamatan orang ini lebih penting dari perdebatan kalian. Masnya juga harus tanggungjawab dengan dia ya. Bawa dia kerumah sakit." Zico yang sudah gugup setengah mati setelah melihat korban yang ia tabrakan pun tanpa pikir panjang ia menganggukkan kepalanya bahkan dirinya kini langsung berlari kearah pintu penumpang di mobilnya untuk mempermudah warga tadi memasukkan korban kedalam mobilnya.


"Jangan biarkan masnya bawa dia sendirian. Harus ada salah satu atau kalau tidak dua orang yang menemani dia. Takut-takut masnya gak bawa dia ke rumah sakit dan malah buang dia di tengah jalan," ujar bapak-bapak yang tadi sempat memarahi Zico.


"Biar saya dan anak saya yang kawal masnya, Pak," ucap salah satu ibu-ibu yang senantiasa menawarkan dirinya tanpa paksaan.


"Ya sudah kalau gitu. Kawal dia. Kalau nanti mbaknya gak selamat, langsung laporkan ke kantor polisi saja biar di usut oleh pihak berwajib," ujar bapak-bapak tadi yang diangguki oleh sepasang ibu dan anak yang kini sudah berancang-ancang untuk masuk kedalam mobil Zico.


Sedangkan Zico yang perasaannya tadi sudah campur aduk kini ia harus mengalami hal yang semakin membuat dirinya tak karuan pun kini ia menatap keadaan sekitar yang masih sangat ramai itu.


"Terimakasih bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Maaf atas kejadian tadi. Saya berjanji akan tanggungjawab dengan beliau. Kalaupun beliau sampai merenggut nyawanya saya juga bersedia untuk menjalani hukuman saya," ujar Zico dengan membungkukkan badan sebelum dirinya bergegas masuk kedalam mobil, tanpa menunggu jawaban ataupun persetujuan dari warga masyarakat tadi. Karena yang ada di pikirannya sekarang membawa orang yang sudah ia tabrak tadi ke rumah sakit agar segera di tangani. Bahkan ia tak memperdulikan tatapan kagum dari seorang perempuan yang kini duduk di sampingnya.


Zico terus melajukan mobilnya hingga akhirnya ia menemukan rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian tadi. Dan tanpa menunggu lama lagi, setelah ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah sakit, Zico buru-buru keluar dan dengan cepat ia membawa tubuh korban kedalam gendongannya.


"Sus, suster!" Teriakan Zico menggelegar memenuhi lobby rumah sakit tersebut hingga beberapa orang langsung menatap kearah dirinya begitu juga dengan beberapa suster yang tadi sempat lalu-lalang kini dengan cepat mereka langsung menghampiri Zico saat mereka melihat ada satu orang yang berada di gendongan Zico tengah terkapar tak berdaya.


Dan tanpa di minta pun, beberapa suster datang membawa brankar menuju kearah Zico.

__ADS_1


"Selamatkan dia, apapun caranya," ucap Zico setelah dirinya menaruh tubuh seseorang keatas brankar tadi. Para suster tadi pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena mereka juga tidak tau apakah korban itu bisa selamat atau tidak mengingat luka yang di terima korban sangat parah.


Dan setelah itu brankar tadi didorong oleh para suster tadi menuju ke UGD diikuti oleh Zico dan sepasang anak dan ibu tadi.


"Maaf tuan, harap tunggu diluar," ucap salah satu suster tadi setelah brankar yang berisi korban tadi telah masuk kedalam ruang UGD.


Zico yang berniat mengikuti mereka masuk pun ia hanya bisa mengangguk pasrah saat suster tadi mencegahnya.


Dan ia sekarang hanya bisa menunggu di kursi tunggu dengan harap-harap cemas.


"Kamu tenang saja ya, nak. Dia pasti selamat kok," ujar ibu-ibu tadi dengan mengelus punggung Zico.


Zico yang tadinya menundukkan kepalanya kini ia menatap wajah ibu tadi dengan senyumannya untuk menimpali ucapannya.


"Oh ya kalau boleh tau, nama kamu siapa?" tanya ibu tadi.


"Nama saya, Jio, Bu," jawab Zico.


"Wahhhhh namanya bagus, pantesan saja orangnya ganteng," tutur ibu tadi dengan melirik kearah anaknya. Sedangkan Zico, ia hanya mengulas senyumannya tanpa berniat membalas ucapan dari ibu-ibu tadi yang mungkin untuk menghiburnya agar tak terlalu tegang seperti saat ini.


"Oh ya kenalin nama ibu, Jamila. Dan ini anak saya namanya Riska. Anak ibu cantik kan?" Zico melirik sekilas kearah seorang gadis yang duduk dia samping ibu-ibu tadi yang kini tengah menunduk malu atau lebih tepatnya salah tingkah.


"Cantik kan?" tanya ulang ibu tadi yang kini membuat Zico menganggukkan kepalanya sembari mengalihkan pandangannya kembali kearah lantai rumah sakit di bawahnya saat ini.


"Nah kan, memang anak ibu ini kecantikannya tak ada duanya. Dia benar-benar cantik, baik, bla bla bla bla---" Cerocos dari ibu-ibu tadi hanya dianggap angin lalu oleh Zico saja. Karena itu benar-benar tak penting baginya. Bahkan awalnya ia mengira bahwa ibu-ibu tadi berniat menghiburnya, tapi makin lama, ia makin tau niat terselubung ibu tadi yang kemungkinan akan menjodohkan anak gadisnya dengan Zico. Dan hal tersebut benar-benar membuat Zico tak habis pikir dengan orang disampingnya itu, bukannya menenangkan dirinya, eh justru dia membuat pikiran Zico semakin runyam saja.


Zico kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kak Vi, Jio butuh Kak Vi disamping Jio sekarang," jerit Zico didalam hatinya.


Saat-saat seperti ini memang sosok Vivian yang Zico perlukan. Sosok Kakak yang selalu membuat hatinya yang semula berantakan akan kembali tertata dengan kata-kata yang cukup menenangkan dirinya. Tapi kali ini ia sudah benar-benar kehilangan sosok itu. Ingin sekali ia menelepon Vivian, tapi ia tak ingin menghancurkan kebahagiaan yang tengah Kakaknya itu dapatkan.


Zico mengusap wajahnya kasar, lalu kemudian ia berdiri dari duduknya.


"Saya mau parkir mobil dulu," ucap Zico kepada ibu-ibu tadi yang baru saja berhenti mengoceh membanggakan anaknya tadi. Dan tanpa persetujuan dari dua perempuan itu, ia langsung pergi begitu saja menuju ke arah pintu keluar rumah sakit tersebut. Sebenarnya ia bisa menyuruh satpam di rumah sakit untuk memarkirkan mobilnya dan dia bisa menunggu korban yang ia tabrak tadi sampai selesai di tangani. Tapi berhubung ibu-ibu disampingnya itu terus mengoceh yang membuat kuping Zico panas, akhirnya Zico memilih untuk pergi saja sebelum dirinya nanti emosi dan berakhir menyakiti hati ibu-ibu tadi.


...****************...


Sedangkan di rumah keluarga Abhivandya, Vivian semakin kalut saat semua orang yang berada di rumah tersebut tak menemukan Zico di sekitar rumah itu.

__ADS_1


"Ya Allah Jio. Kamu dimana?" gumam Vivian dengan berusaha mencoba menelepon Zico namun hanya ada suara operator yang selalu menyaut teleponnya tadi yang berarti ponsel Zico sekarang dalam keadaan mati dan hal tersebut benar-benar membuat Vivian frustasi. Bahkan ia sampai merutuki dirinya sendiri yang tak memperhatikan Zico, padahal ia yakin saat ini Zico butuh dukungan seseorang terdekatnya terutama dirinya. Tapi apa yang ia lakukan tadi? Hanya karena kebahagiaan saat ia sudah mengetahui orangtua dan keluarga kandungannya, ia sampai melupakan sosok Zico yang selalu bersamanya selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan Zico juga alasannya untuk tetap bertahan saat kedua orangtuanya yang dulu telah meninggal. Tapi sekarang, lihatlah, adiknya pergi pun ia sampai tak tau. Dan hal tersebut benar-benar membuat Vivian sangat menyesal dan merasa bersalah dengan Zico.


__ADS_2