
Zea kini bisa menghela nafas lega saat ia mengintip dari balik pintu bangunan tadi untuk melihat orang-orang itu sudah menjauh darinya. Dan dengan nafas yang tersengal-sengal Zea mendudukkan tubuhnya dengan bersandar di tembok bangunan tersebut dengan merasakan rasa perih dan sakit di sekujur tubuhnya.
"Setelah ini gue harus kemana? Gue gak tau gue sekarang ada dimana? Gue gak tau dimana arah untuk pulang?" ucap Zea dengan mengusap wajahnya yang sedari tadi mengeluarkan keringat itu. Tapi saat dirinya mengangkat tangannya, ia melihat jika di tangannya terdapat sebuah gelang pemberian Azlan. Dan ia juga baru ingat kegunaan dari gelang itu hingga tangan yang awalnya ia gerakkan untuk mengusap wajahnya beralih untuk menepuk keningnya sendiri.
"Gue baru percaya sama perkataan orang yang pernah gue dengar dan perkataan itu mengenai tentang saat kita sedang gugup dan merasa terancam maka kita tidak bisa memikirkan apapun lagi selain memikirkan diri kita sendiri. Dan ucapan itu saat ini baru gue rasakan. Karena gugup dan merasa terancam sampai gue gak sadar jika ada benda yang selalu melekat di tubuh gue yang bisa memberikan bantuan ke gue. Huh, tapi syukurnya gue sekarang ingat hal ini walaupun sudah lumayan terlambat tapi tidak apa, gue harus kasih sinyal ke Azlan biar dia kesini buat bantu gue keluar dari sini terutama buat menyelamatkan Mommy Della," ucap Zea dan dengan cepat tangannya yang sepertinya sudah mati rasa karena di kedua tangan itu sudah mengeluarkan darah sedari tadi pun perlahan ia gerakkan dan segera menekan tombol kecil di gelang tersebut yang nantinya akan memberikan sinyal untuk Azlan.
Setelah melakukan hal tersebut, Zea kini beralih menatap beberapa luka di tubuhnya terutama di lengannya yang terkena tembakan tadi.
"Sepertinya gue harus melakukan sesuatu supaya darah-darah ini berhenti mengalir. Gak lucu juga kan kalau Azlan nanti sampai disini nemuin gue udah gak sadarkan diri karena kehabisan darah. Yang ada dia nanti gak menyelamatkan Mommy Della tapi malah sibuk sama gue," gumam Zea. Lalu setelahnya matanya kini menatap dirinya sendiri lebih tepatnya ke pakaiannya. Dan untungnya ia sekarang tengah memakai dress di bawah lutut karena sebelum kejadian penculikan itu terjadi, Zea berniat untuk keluar hanya sekedar membeli buku bacaan saja. Tapi belum juga ia selesai merias wajahnya, kejadian itu sudah lebih dulu terjadi. Alhasil penampilannya sekarang benar-benar berantakan. Namun Zea tak memikirkan hal tersebut bahkan tangannya kini bergerak untuk merobek dress bagian bawahnya itu dibantu dengan pisau yang ia bawa dari gedung tadi. Dan setelah berhasil merobek dress itu hingga membuat panjang dress itu berada beberapa cm diatas lutut, Zea langsung membalut lengannya dan sisa sobekan itu ia gunakan untuk memperban luka di telapak kakinya.
...****************...
Disisi lain, triplets ditambah dengan Leon dan Daddy Aiden masih tidak menyerah untuk melacak keberadaan orang-orang di rumah itu hingga suara ponsel dan laptop Azlan berbunyi nyaring membuat semua orang yang tadinya fokus dengan laptop di hadapan Daddy Aiden kini beralih kearah dua benda tersebut.
Azlan selaku pemilik benda tersebut ia langsung bergerak cepat untuk membuka ponselnya yang sudah menampilkan sebuah nama juga foto Zea disana. Lalu untuk memastikan lebih lanjut Azlan langsung membuka laptopnya dan menuju ke sebuah notifikasi yang masuk disana.
Ia yang melihat sinyal yang dikirim oleh Zea, wajahnya langsung berseri kemudian ia menengadahkan kepalanya itu untuk menatap keatas dengan helaan nafas berkali-kali. Bersyukur? tentu saja. Siapa yang tidak bersyukur jika salah satu orang yang ia khawatirkan sedari tadi sudah menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Erland yang penasaran dengan suara yang di timbulkan dari benda tadi. Dan pertanyaan dari Erland tadi membuat kepala Azlan perlahan menunduk.
"Gue dapat sinyal dari Zea," jawab Azlan.
"Yang benar lo?" ucap Erland yang masih tak percaya.
Agar semua orang percaya dengan ucapannya tadi, Azlan kini memutar laptopnya itu kearah orang-orang disekelilingnya.
Dan hal tersebut membuat Leon langsung berdiri dari duduknya.
Penuturan dari Leon tadi langsung mendapat anggukan kepala dari semua orang di sana. Lalu setelahnya semua orang itu kini bergerak untuk menyiapkan segala keperluan yang akan mereka bawa itu. Sedangkan Leon, laki-laki itu justru tengah sibuk mengotak-atik ponselnya, entah apa yang tengah laki-laki itu lakukan hanya dirinya dan tuhan yang tau.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sudah siap untuk menuju ke tempat dimana sinyal yang Zea berikan berada. Tapi baru saja mereka ingin masuk kedalam mobil masing-masing, terlihat ada sebuah mobil yang baru memasuki pekarangan rumah tersebut.
"Daddy," ucap orang yang baru keluar dari mobilnya itu dan kini orang itu tengah berlari kearah Daddy Aiden, orang itu tak lain adalah Adam yang baru selesai menyelesaikan pekerjaannya.
"Daddy ada apa? Kenapa tadi menghubungi Adam? Kalian semua baik-baik saja kan? Tidak ada apa-apa kan? Terus kalian mau kemana malam-malam begini? Mana Mommy?" Adam membombardir pertanyaan tanpa mengizinkan Daddy Aiden menjawabnya satu-persatu pertanyaannya itu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ya elah bang, kalau tanya itu satu-satu. Daddy sampai gak bisa jawab tuh," celetuk Erland.
"Maaf-maaf, aku terlalu khawatir. Soalnya dari tadi perasaan aku benar-benar tidak karuan," ujar Adam.
Daddy Aiden yang merasakan aura kekhawatiran di tubuh Adam itu pun kini ia mengelus lengan anaknya itu.
"Jika kamu bertanya apa semua baik-baik saja, Daddy akan jawab jika saat ini kita semua tidak baik-baik saja. Karena beberapa jam yang lalu, rumah ini terjadi penculikan yang berhasil meringkus Mommy, Zea dan semua orang di rumah ini termasuk bodyguard Daddy," jawab Daddy Aiden yang berhasil membuat mata Adam kini terbuka lebar.
"Tapi Daddy yakin semuanya akan baik-baik saja entah itu Mommy ataupun yang lainnya. Jadi kamu tidak usah khawatir," sambung Daddy Aiden hanya untuk membuat anak-anaknya itu sedikit tenang walaupun dirinya sendiri jauh lebih khawatir daripada mereka semua. Bahkan otaknya itu sedari tadi sudah memikirkan bahaya yang tengah orang-orang rumahnya itu alami saat ini. Tapi Daddy Aiden tidak akan memperlihatkan kekhawatirannya itu dihadapan anak-anaknya jika ia tak ingin melihat mereka semua justru semakin down karena melihat dirinya yang khawatir setengah mati itu.
"Dan kita sekarang juga sudah menemukan sinyal yang kemungkinan sinyal itu mengarah ketempat penyekapan mereka," ucap Daddy Aiden sembari menepuk-nepuk lengan Adam.
"Di daerah mana sinyal itu mengarah sekarang?" tanya Adam yang sudah merubah ekspresi wajahnya menjadi garang saat mengetahui Mommy Della tengah di culik seseorang.
Azlan yang sedari tadi memantau sinyal itu pun kini ia mulai angkat suara, "Sinyalnya mengarah ke sebuah perumahan terbengkalai di jalan Flamboyan raya," jawabnya.
"Adam tau tempat itu. Kita kesana sekarang," ujar Adam. Lalu setelahnya ia bergegas masuk kedalam mobilnya kembali. Kemudian dengan gesit dan cekatan Adam memutar arah mobilnya. Setelah ia melihat para orang-orang itu juga sudah masuk kedalam mobilnya masing-masing, Adam langsung menginjak gas mobilnya menuju ke tempat yang paling ujung kota yang tengah mereka tinggali saat ini.
__ADS_1