The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 34


__ADS_3

Dengan santai Edrea memasuki lobby sekolah tersebut setelah mobil Azlan pergi dari depan gerbang tadi.


Banyak siswa/siswi berbisik mengenai dirinya namun Edrea hanya diam karena menurut dirinya suaranya lebih mahal dari bacotan tak bermutu orang-orang tersebut, tapi jika dia sudah muak siap-siap saja mereka semua akan ia semprot dengan mulut pedasnya itu.


Tapi saat dirinya semakin memasuki lobby sekolah tersebut semakin dalam, langkahkan harus terhenti kala para gerombolan Puri dan para kacungnya menghalangi jalannya. Edrea mendengus malas. Ia tatap mata meremehkan dari Puri tersebut.


"Minggir!" perintah Edrea dengan dingin.


"Wow santai dong. Gue cuma mau nyapa lo doang," tutur Puri yang masih tak minggir dari hadapan Edrea.


"Oh ya, dapat berapa cuan sekali main?" tanya Puri lagi masih dengan pandangan yang meremehkan.


Edrea yang tak paham dengan ucapan dari Puri tadi pun mengerutkan keningnya.


"Maksud lo?" tanya Edrea.


"Ya ampun berlagak sok polos dan gak paham lagi padahal uangnya mungkin udah buat shopping sampai habis," timpal teman Puri yang bernama Utari.


"Hati-hati tar kena penyakit HIV lagi kalau sering gonta-ganti pasangan," ucap Puri.


Edrea sekarang tau arah pembicaraan manusia didepannya itu. Ia memutar bola matanya malas.


"Lo ngingetin buat lo sendiri ya? syukurlah kalau lo sadar akan bahayanya sering gonta-ganti pasangan apalagi sering melakukan hubungan badan kayak yang sering lo lakuin," balas Edrea.


Puri yang tadi tersenyum menang kini matanya melebar tak terima dengan ucapan Edrea tadi.


"Hey ja*lang jaga ya omongan lo!" geram Puri.


"Cih, ja*lang teriak ja*lang. Tapi maaf ya gue lebih berkelas dari pada lo. Kalau lo sering tidur satu ranjang dengan aki-aki bangkotan kalau gue sama yang masih muda dan berkelas," tutur Edrea.


"Ya gimana gak muda dan berkelas kalau laki-laki itu Abang gue sendiri," batin Edrea.


"Hahaha berarti benar kalau lo itu seorang ja*lang. Hey teman-teman semua kalian tadi dengar kan penuturan wanita ini?" teriak Puri heboh.

__ADS_1


Semua orang tadi pun mengangguk dan kembali berbisik mengenai Edrea.


"Lah lo berarti juga ngakuin dong kalau lo sering tidur sama aki-aki bangkotan? Ya ampun kalau gue jadi lo pasti malu banget sih tapi sayang urat malu lo udah putus," ucap Edrea dengan lantang.


"Lo!" geram Puri dan ketika tangannya ingin menampar pipi Edrea, tangan itu ia hentikan saat ia melihat laki-laki yang selama ini ia incar tengah berdiri di belakang Edrea dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa berhenti? tampar aja kalau mau nampar," ucap Edrea menantang.


Puri pun menurunkan tangannya dan tangan tadi ia kepalkan.


Edrea yang menatap wajah resah dari Puri tadi mulai curiga. Kini matanya mengikuti arah pandang dari Puri. Ia pun kini memutar tubuhnya dan ia menghela nafas saat tau arah pandang dari Puri itu menuju ke Zico yang berdiri di belakangnya.


"Ternyata oh ternyata," gumam Edrea. Ia sudah tau kalau Puri juga mengincar Zico dan setelah ia memutuskan untuk tak melanjutkan perjuangannya, Puri semakin gencar untuk mendapatkan hati Zico bahkan beberapa kali ia melihat kebersamaan antara dua orang itu.


"Zico," panggil Puri dengan suara manjanya. Kemudian ia mendekati tubuh Zico dan memeluk lengan Zico dengan erat.


Edrea yang melihat hal itu sempat kepo, apakah hubungan dua orang itu udah semakin dalam atau bahkan sudah berpacaran? hanya dua orang didepannya dan tuhan yang tau akan hal itu. Edrea sekarang mencoba untuk tidak peduli lagi dengan hal-hal yang bersangkutan dengan Zico walaupun itu sangat sulit.


"Zico, aku tadi sebenarnya gak bermaksud untuk melakukan hal itu kepada Edrea, tapi dia tadi yang mulai duluan. Aku tadi hanya lewat dan berpapasan dengannya eh malah dia menghadang jalanku dan teman-temanku dan mulai ngatain aku cewek yang gak benar, Ja*lang dan katanya aku rebut kamu dari dia. Padahal dia sendiri yang udah gak mau deketin kamu dan dia juga nampar aku makanya aku tadi mau balas dia. Kata kamu kan kalau cewek gak boleh lemah dan jangan mudah untuk ditindas," adu Puri.


"Iya Zic, gue saksinya bahkan orang-orang disini juga ikut lihat apa yang dilakukan oleh Edrea ke Puri tadi," bela Utari.


Zico masih menatap lekat wajah Edrea tanpa beralih sedikitpun.


Sedangkan Edrea yang sadar akan mata Zico itu kini dirinya merasa risih. Sudahlah mungkin ini saatnya dirinya mengakhiri drama yang dibuat oleh Puri dan teman-temannya itu.


Edrea kini mendekati Puri yang masih menggandeng tangan Zico. Saat dirinya sudah berada di depan Puri dan Zico, Ia menarik tubuh Puri agar terlepas dari lengan Zico setelah lepas ia langsung melayangkan tangan kanannya untuk menampar pipi Puri namun sayang tangannya lebih dulu dicekal oleh Zico sebelum mendarat di pipi Puri.


Ia kini menatap Zico kemudian ia tersenyum miring. Ia bisa menyimpulkan sekarang bahwa mereka berdua mungkin benar sudah memiliki hubungan spesial seperti tebakkannya tadi terbukti Zico sekarang melindungi Puri dari tamparannya.


Dengan sekali sentakan tangan Edrea terlepas dari genggaman Zico. Ia kini menatap tajam kearah Zico dan Puri secara bergantian.


"Urus pacar lo. Kalau perlu ajarin sopan santun dan tak menghakimi orang lain seenak jidatnya," ujar Edrea kepada Zico setelah itu ia meninggalkan lobby sekolah tersebut bukan untuk menuju kelasnya melainkan ke rooftop sekolah tersebut.

__ADS_1


Saat sudah berada di rooftop tersebut, Edrea langsung mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang berada disana. Ia menatap lurus kedepan dengan rasa sakit dihatinya yang tiba-tiba menyerangnya.


"Hiks, gue kan udah bilang gue gak suka lagi sama dia hiks kenapa lo masih aja sakit hati sih Rea," gumamnya pada diri sendiri sembari memukul-mukul pelan dadanya.


"Sakit hati itu wajar yang gak wajar tuh kalau lo masih mau berjuang lagi untuk orang yang selalu buat lo sedih dan sakit," ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Edrea.


Edrea yang tadinya menenggelamkan wajahnya dibalik lipatan tangannya pun langsung menoleh kesumber suara.


"Joni," tutur Edrea lirih. Joni pun tersenyum dan mengulurkan sapu tangannya kearah Edrea.


"Hapus air mata lo." Tangan Edrea pun terulur untuk mengambil sapu tangan milik Joni tersebut dan ia langsung menghapus air matanya.


"Udah jangan nangis lagi, laki-laki kayak gitu gak perlu ditangisi. Mubasir air mata lo nanti," tutur Joni.


"Tapi sakit banget tau Jon hiks," ucap Edrea dengan sesegukan.


"Gue juga tau, Rea. Bahkan gue dulu juga pernah ngerasain diposisi lo tapi bedanya kalau lo bisa secara terbuka mengungkapkan apa yang ada di hati lo sedangkan kalau gue gak berani mengungkapkan hal itu dan memilih untuk melihatnya dari jauh. Melihat dia tersenyum bahagia walaupun gak sama gue," tutur Joni.


Kini tangis Edrea mulai berhenti. Dan sepertinya ia mulai tertarik dengan cerita Joni itu.


"Terus?" tanya Edrea kepo.


"Gak ada terusanya. Cuma gitu doang," jawab Joni yang membuat Edrea melongo. Sia-sia sekali dia memasang telinganya hanya untuk mendengarkan curhatan tak jelas dari laki-laki di sampingnya itu.


"Gak jelas banget sih lo," geram Edrea sembari melempar sapu tangan tadi kearah Joni.


"Ih jorok. Cuci dulu lah baru dibalikin," ucap Joni sembari menyerahkan sapu tangan tadi kearah Ciara dengan jijik.


"Biasa aja kali tangannya gak usah sampai kayak gitu. Ingat ya kalau ingus gue tuh juga berharga," tutur Edrea sembari merebutnya kembali.


...*****...


Yuk bisa yuk 300 like 💪 dan jangan lupa juga kasih Vote, hadiah dan tips ya biar author semakin semangat nulisnya nih🤭

__ADS_1


Stay safe, stay healthy and stay with me 🤗 See you next eps bye 👋


__ADS_2