
"Lah Mommy kenapa ketawa kayak gitu sih? Gak kasihan apa sama bang Er?" tanya Edrea yang tak berhasil membuat Mommy Della berhenti tertawa.
"Iya nih. Durhaka banget sama anak sendiri," timpal Erland.
"Hahahaha mana ada emak durhaka sama anak yang ada sebaliknya. Lagian kamu juga ya Er, bisa-bisanya gak nyadar kalau gebetan kamu punya yang lain. Kalau sama musuh aja garcep tapi masalah percintaan kena kibul mulu," ujar Mommy Della yang membuat Erland mencebikkan bibirnya.
"Tapi kayaknya yang jadi selingkuhan tuh bang Er tau Mom," ucap Edrea.
"Lho kok jadi gue yang jadi selingkuhan?" tanya Erland.
"Ya karena gue tadi sempat nguping pembicaraan mereka berdua yang romantis banget pakai panggil sayang-sayangan segala. Tapi yang paling aneh, sepertinya cowok itu tau perselingkuhan kalian. Kayak udah di rencanakan gitu lho," ujar Edrea. Erland yang awalnya hanya mengabaikan cerita dari Edrea pun kini ia mulai mendengarkannya dengan seksama.
"Lo tau siapa cowok itu?" tanya Erland.
"Kalau Rea kasih tau, Abang mau apa? Mau adu jotos sama dia buat merebutkan cinta perempuan itu?" bukannya langsung menjawab Edrea justru bertanya balik.
"Gak lah. Kurang kerjaan banget gue. Gue cuma curiga aja kalau cowok itu adalah musuh dari geng motor gue yang sengaja mengorek informasi mengenai geng motor gue melalui Kayla," ujar Erland yang diangguki oleh Edrea.
"Rea sih gak tau pasti siapa cowok itu. Rea hanya lihat wajahnya aja itu pun cuma sekilas karena wajah cowok itu tadi tertutup topi. Rea awalnya juga mau foto orang itu tapi ponsel Rea kehabisan baterai," ucap Edrea sembari menaruh ponselnya di atas meja di depannya.
"Haish ngasih informasi cuma setengah-setengah," gerutu Erland sebal.
"Hey, masih mending Rea kasih informasi walaupun cuma setengah-setengah tapi setidaknya Abang tau kalau Abang itu cuma lelaki cadangan. Ciaaaaaa kasihan banget sih," tutur Edrea yang langsung mendapat tatapan tajam dari Erland. Dan saat Edrea menertawakan nasib Erland, Erland dengan cepat mengambil bantal di belakang tubuhnya lalu setalahnya, ia melempar bantal tadi tepat di wajah Edrea. Sehingga karena ulahnya itu, Edrea kini menghentikan tawanya.
"Rasain. Punya adik gak ada akhlak, gue sumpahin lo juga ngerasain apa yang gue rasain sekarang," tutur Erland.
__ADS_1
"Ya elah bang, sumpah lo udah basi. Karena sebelum lo nyumpahin gue dan sebelum lo ngerasain hal ini, gue udah lebih dulu ngerasain apa yang lo rasain," ujar Edrea yang membuat semua orang kini mengerutkan keningnya.
"Seriusan?" tanya Azlan yang diangguki oleh Edrea.
"Emang siapa yang udah nolak lo?" tanyanya lagi penasaran.
"Cowok yang berani nolak gue, cuma Jio seorang," ujar Edrea.
"Jio? Zico maksud lo?" tanya Erland yang lagi-lagi mendapatkan anggukan dari Edrea. Dan hal tersebut membuat Erland kini balik menertawakan Edrea.
"Hahahaha, lo di tolak seorang Zico. Ck Ck Ck lemah," tutur Erland.
"Bang, kita tuh sama-sama di tolak jadi diharap jangan saling mengejek satu sama lain. Dan setidaknya Rea tidak menjadi cadangan seseorang, bleee," ujar Edrea diakhiri dengan ia menjulurkan lidahnya kearah Erland.
Erland kini mendengus kesal lalu setalahnya ia kembali memeluk tubuh Mommy Della dan menyembunyikan wajahnya di balik ketiak sang Mommy.
"Hey apa-apaan kamu, main peluk-peluk istri Daddy segala? Lepas sekarang atau Daddy kasih pelajaran buat kamu!" suara bariton dari Daddy Aiden tadi membuat semua orang yang disana mengalihkan pandangannya kearah Daddy Aiden tak terkecuali dengan Erland.
"Ck, istri Daddy ini, Mommy Erland juga. Erland juga berhak atas Mommy bukan cuma Daddy doang," ujar Erland tanpa melepaskan pelukannya dari Mommy Della.
"Kamu tidak ada hak sama sekali. Status kamu tuh cuma anak doang bukan suami. Dan hak atas Mommy kamu itu sepenuhnya punya Daddy. Kalau kamu mau hak yang lebih, nikah sana," tutur Daddy Aiden.
"Nikahin Mommy gitu? Emang boleh?" tanya Erland dengan muka sok polosnya.
Daddy Aiden yang mendengar hal itu pun dengan cepat ia mendekati Erland lalu menepuk jidat anak keduanya itu.
__ADS_1
"Kalau bodoh itu jangan terlalu di pelihara Er. Mana ada seorang anak nikahin ibunya sendiri. Kalau sampai ada orang yang begitu, berarti kewarasan dia perlu di pertanyakan. Dan satu lagi kalaupun di perbolehkan dalam hukum negara ataupun hukum agama. Daddy tidak akan mengizinkan siapapun merebut Mommy dari Daddy. Mau itu kamu dan Azlan sekalipun. Mommy hanya punya Daddy, bukan punya kamu atau yang lainnya," tutur Daddy Aiden dan setalahnya ia berusaha untuk melepaskan pelukan Erland dari tubuh sang istri.
"Minggir. Jauh-jauh dari istri Daddy. Jangan sentuh dia lagi," ucap Daddy Aiden setelah dia berhasil melepaskan pelukan Erland tadi dan kini ia menggeser posisi Erland. Hingga ia berhasil duduk di samping Mommy Della dan setalahnya tangannya kini melingkar indah di pinggang Mommy Della.
Mommy Della yang sedari tadi di perebutkan oleh kedua laki-laki itu pun ia hanya terdiam tanpa berniat memisahkan keramaian yang tercipta antara anak dan ayah itu. Biarkan saja, kalau mereka sudah capek juga akan berhenti sendiri, pikir Mommy Della yang sudah benar-benar hafal dengan situasi seperti saat ini.
Sedangkan Erland yang kalah telak dengan Daddy Aiden, dengan cepat ia berpindah tempat disamping Edrea. Dan saat dirinya sudah duduk di samping sang adik, Erland langsung menghadap kearah Edrea. Lalu setalahnya kedua tangannya kini ia rentangkan.
"Mau apa?" tanya Edrea.
"Peluk," jawab manja Erland.
"Ya elah, tadi aja di tawarin gak mau. Katanya puk-pukan Mommy lebih enak dari puk-pukan Rea. Lah sekarang, udah berubah pikiran anda, bang?" ejek Edrea.
"Ck, sebenarnya sih belum berubah pikiran. Tapi kan Mommy udah ada pawangnya yang gak mau ngalah sama anak sendiri. Dan berhubung di sini cuma ada lo doang yang berjenis kelamin perempuan, alhasil dengan terpaksa gue sekarang larinya ke lo buat dapatin pelukan," ujar Erland.
"Kata siapa Rea doang yang berjenis kelamin perempuan disini. Lihat noh, masih ada pacarnya bang Az yang juga berjenis kelamin perempuan," tutur Edrea yang membuat Erland menatap kearah Zea.
"Ck, Lo mau bikin gue mati? Dia juga udah ada pawang. Disini yang gak punya pawang cuma lo doang," ucap Erland.
"Gak juga. Ada beberapa mbak yang kerja disini juga masih ada yang belum punya pawang lho, bang. Mau Rea panggilin?" goda Edrea.
"Rea!" tutur Erland dengan suara rendahnya.
"Apa sih bang pakai panggil-panggil segala," ujar Edrea.
__ADS_1
"Haish udah lah. Erland mau ke kamar dulu," nyerah Erland. Dan saat dirinya ingin berdiri dari duduknya, tubuhnya lebih dulu di peluk dari belakang oleh Edrea.
"Uluh uluh uluh, Abang Rea ngambek nih. Sini-sini Rea puk-puk biar tenang," ujar Edrea yang membuat Erland mengurungkan niatnya lalu setalahnya ia memutar tubuhnya dan membalas pelukan dari Edrea tadi.