
Disaat Vivian dan Zico tengah di landa kegalauan, juga Erland yang mati-matian mencari celah supaya dia bisa masuk kedalam sekolah. Berbeda dengan Edrea yang sekarang tengah menatap lekat wajah Leon dari samping, bahkan saking seriusnya ia memandangi wajah Leon, sampai-sampai ia tak mendengarkan penjelasan dari guru yang mengajar di depan.
Bukan tanpa alasan dirinya menatap Leon seintens saat ini, ia menatap Leon karena rasa penasaran yang sedari tadi malam ia pendam mengenai wajah Leon yang babak belur seperti saat ini dan ia juga penasaran seharian kemarin kekasihnya itu pergi kemana. Karena Edrea benar-benar sudah mencari keberadaan Leon mulai dari rumah pribadinya, tempat usahanya bahkan tempat tongkrongan, sama sekali Edrea tak menemukan keberadaan Leon saat itu. Dan karena pertanyaan yang terus memutar di otaknya itu membuat Edrea tidur tak nyenyak semalam.
Leon yang baru merasakan tatapan Edrea pun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah kekasihnya itu.
"Ada apa hmm?" tanya Leon dengan suara lirih. Dan hal tersebut membuat Edrea mengerjabkan matanya lalu setelahnya ia membuang muka. Kemudian ia menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Leon tadi.
Sedangkan Leon, ia tersenyum melihat tingkah Edrea sebelum akhirnya ia merapatkan tubuhnya.
"Pulang sekolah mampir ke rumah dulu," bisik Leon.
"Mau ngapain?" tanya Edrea penasaran.
"Ada berkas yang perlu aku ambil sekalian jemput Callie, karena tuh bocil tadi bolos sekolah dengan alasan kangen sama rumah katanya," jawab Leon yang mendapat anggukan kepala dari Edrea.
Dan setelah percakapan singkat tadi, sepasang kekasih itu kembali menatap kearah guru yang menjelaskan materi pelajaran saat ini.
Tapi beberapa saat setelahnya, ke fokusan keduanya terganggu saat terdengar suara tembakan yang berhasil menembus kaca tepat di belakang Edrea.
Suara histeris dari siswa-siswi di kelas yang sama dengan Edrea terdengar nyaring memenuhi ruangan tersebut saat suara tembakan untuk kedua kalinya kembali terdengar. Dan hal tersebut langsung membuat semua orang berhamburan untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Sedangkan Leon yang terus waspada langsung memeluk tubuh Edrea dan sebisa mungkin ia mengamankan kekasihnya itu.
"Kamu disini dulu. Aku mau lihat situasi di luar," ucap Leon sembari menyembunyikan Edrea di bawah meja pojok kelas tersebut.
"Aku mau ikut," ujar Edrea.
__ADS_1
"Di luar bahaya sayang. Turuti apa yang aku katakan!" tutur Leon dengan tegas dan dengan gesit ia menata meja-meja serta kursi yang ada di dalam kelas itu untuk menutupi tubuh Edrea.
"Tetap disini jangan kemana-mana!" ucap Leon. Dan tanpa melihat ekspresi wajah Edrea yang sedang mengerucutkan bibirnya, Leon bergegas keluar dari kelas tersebut.
Baru saja ia menampakkan tubuhnya, suara tembakan kembali terdengar dengan peluru yang hampir menusuk dadanya. Tapi untungnya ia bisa menghindari peluru tersebut dan berakhir peluru itu menancap ke pintu disampingnya.
"Shitt," umpat Leon dengan mengedarkan pandangannya keseluruhan sisi sekolahan tersebut. Hingga tatapannya terpaku dengan satu senjata yang tengah mengintip dibalik rooftop sekolah tersebut.
"Siapapun yang berani membuat keributan disini, jangan harap keluar dengan selamat," ucapnya dengan senyum smriknya.
Dan tanpa takut ia kini mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah rooftop dengan sesekali menghindari peluru orang yang sepertinya tengah mengincar nyawanya itu.
Sedangkan Edrea yang sudah tak tenang memikirkan keselamatan Leon di luar pun dengan ide yang benar-benar buntu ia mencoba menghubungi sang Daddy untuk meminta bantuan. Tapi sayangnya panggilannya itu sama sekali tak mendapat respon dari Daddy Aiden.
"Astaga kebiasaan ih Daddy mah. Kalau situasi genting gini selalu saja tidak bisa dihubungi," geram Edrea. Lalu setelahnya ia beralih untuk menghubungi Mommy Della hingga berulang kali. Tapi hasilnya sama saja nihil dan hal tersebut membuat Edrea benar-benar emosi sendiri.
"Ini orang pada kemana sih! Menyebalkan sekali, arkkhhhhhhh!"
📞 : "Lo ada dimana sekarang? Dan lo baik-baik aja kan?" tanya Erland to the point.
"Gue baik-baik aja bang dan gue sekarang masih didalam kelas. Gak boleh keluar sama kesayangan," jawab Edrea.
📞 : "Hufttt syukurlah kalau begitu. Terus Leonnya kemana sekarang?" tanya Erland kepo.
"Dia lagi lihat situasi di luar bang. Abang sekarang dimana? Bantu gue keluar dari sini sekaligus bantu El buat lawan mereka," ujar Edrea dengan menutup satu telinganya yang mulai berdengung karena suara tembakan kali ini semakin membabi buta.
📞 : "Gue masih di luar, gue mau masuk gak bisa. Gerbang depan sudah di blok sama satpam, gerbang belakang di tutup rapat. Tapi Abang usahakan buat masuk. Lo tetap disitu jangan kemana-mana sebelum gue datang," ucap Erland.
__ADS_1
"Iya bang, jangan lupa minta bantuan sama siapapun yang berani dengan senjata api. Anak buah Abang misalnya. Dan kalau bisa suruh mereka bawa senjata sekalian," tutur Edrea.
📞 : "Iya, gue usahain buat minta bantuan sama semua anak buah gue. Gue tutup dulu. Ingat jangan kemana-mana apalagi sampai keluar dari kelas lo," ujar Erland lalu setelahnya ia menutup sambungan telepon tersebut. Lalu tangannya kembali bergerak mencari nomor telepon milik salah satu anak buah kepercayaannya.
Dan beberapa detik setelahnya, terdengar suara seseorang menyaut sambungan telepon tersebut.
📞 : "Ya Bos. Ada tugas buat kita?" tanya anak buah Erland.
"Cepat ke SMA Balerix bawa semua pasukan jangan lupa bawa senjata kalian dan senjata cadangan!" perintah Erland.
📞 : "Baik Bos, laksanakan," ucap anak buah Erland.
Dan setelah sambungan telepon tersebut terputus, Erland bergegas mendekati mobil milik Sabrina yang ia bawa tadi, ketika ia ingat jika Sabrina bukanlah perempuan sembarangan dan kemungkinan didalam mobil perempuan itu tersimpan senjata, entah apapun yang Erland temukan didalam mobil itu, akan ia gunakan untuk melindungi dirinya dan Edrea nanti.
Ia terus mengitari mobil tersebut, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Dan saat dirinya membuka bagasi mobil tersebut, senyumnya langsung terbit seketika.
"Dewa Fortuna masih berpihak sama gue. Dan untungnya gue tadi bawa nih mobil kabur kalau gak, entah apa yang akan gue gunakan untuk melawan orang-orang kurang kerjaan di dalam," ucap Erland sembari tangannya bergerak untuk mengambil senapan dan juga pistol di dalam bagasi tadi.
Lalu setelahnya tanpa menunggu pasukannya tiba, Erland berniat menelusup masuk kedalam sekolah. Tapi belum sempat ia masuk, lengannya ditarik paksa oleh seseorang dari belakang.
"Kasih satu pistol buat gue," ucap orang tadi yang ternyata adalah Azlan.
Erland yang tak mau mengulur waktu karena masih ada Edrea didalam pun dengan cepat ia menyerahkan satu pistol kearah Azlan. Kemudian kedua laki-laki itu segera masuk kedalam, walaupun sebelumnya mereka harus menguras tenaganya terlebih dahulu untuk melawan satpam penjaga sekolah tersebut yang terus saja kekeuh tak mengizinkan mereka berdua masuk kedalam area berbahaya itu.
...****************...
Bagiamana hari ini? Apakah kalian sudah senang dengan triple up? Author sih sudah bisa menebak kalau kalian sekarang lagi senyum-senyum kesenangan kan. Padahal eps tadi belum ada 500 like, hiks mengsedih. Tapi kalau kali ini gak nyampe target kebangetan sih. Buat aku menangis nanti ðŸ˜
__ADS_1
Dan ayolah semangat VOTE dan KASIH HADIAH-nya biar author juga semangat buat update eps selanjutnya. Like dan komen juga jangan lupa...
See you next eps bye 👋