
Vivian yang melihat raut wajah kerinduan dari Zico pun ia tak bisa menahan air matanya. Dan saat dirinya mulai meneteskan air mata, ponsel yang ia pegang langsung ia serahkan kepada Erland yang dengan wajah kebingungannya terpaksa menerima ponsel tersebut.
"Kakak ke kamar mandi sebentar. Kamu ngobrol sama Erland dulu," teriak Vivian lalu setelahnya ia berlari kearah kamar mandi meninggalkan Erland yang tengah melongo menatap kepergiannya.
"Sialan si Vivian, main pergi gitu aja. Gak tau apa kalau gue masih canggung sama Zico," batin Erland sembari melirik kearah layar ponsel yang ia pegang.
Namun sesaat setelahnya Erland berdehem sebelum ia mengarahkan layar ponsel tersebut tepat di hadapannya.
"Gimana kabar lo?" tanya Erland.
📞 : "Apakah tidak ada kata lain untuk basa-basi selain bertanya kabar gue? Padahal Kak Vi tadi sudah bertanya tentang hal itu dan gue juga sudah menjawab. Gue rasa saat gue jawab tadi lo juga dengar, terlebih lo dalam satu ruangan yang sama dengan Kak Vi. Tapi jika lo gak dengar jawaban gue tadi, telinga lo perlu di periksa," ujar Zico yang membuat Erland mencebikkan bibirnya.
"Jawab aja kali apa susahnya sih. Lagi gue udah kehabisan kata-kata buat bicara sama lo," ucap Erland.
📞 : "Gue gak mau jawab pertanyaan yang sama. Kalau pun lo kehabisan kata-kata, maka jangan bicara," tutur Zico.
"Oh oke gue gak akan bicara lagi sama lo," ucap Erland yang hanya di respon dengan gedikkan bahu oleh Zico.
Tapi beberapa saat setelah kesunyian yang melanda dua orang itu, Zico kini mulai angkat suara kembali.
📞 : "Btw lo ngapain di kamar Kakak gue? Mana tadi main peluk-peluk segala lagi," tutur Zico yang hanya mendapat lirikan mata dari Erland tanpa mendengar jawaban dari seseorang yang ia tanyai itu.
📞 : "Oyyyy, gue tanya, jawab dong. Malah diam mulu dari tadi," geram Zico yang lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Erland.
📞 : "Njir, kalau gue ada di dekat lo, gue gampar dari tadi tuh mulut bisu lo!" tutur Zico kembali.
Semua gerutuan dari Zico tadi sama sekali tak mendapat respon apapun dari Erland hingga Vivian yang baru keluar dari kamar mandi menatap heran kearah Erland dan ponsel di depannya itu. Sebenarnya ia ingin sekali tertawa saat itu juga ketika melihat ekspresi wajah Erland yang tampak seperti seorang kekasih yang tengah ngambek sama pacarnya ditambah dengan omelan Zico yang mendukung situasi saat ini.
"Hey hey hey ini kenapa sih kok kayak orang marahan. Padahal cuma aku tinggal sebentar lo ini," ucap Vivian sembari mendekati Erland. Lalu setelah ia duduk disamping laki-laki tersebut, Erland dengan cepat memberikan ponsel Vivian kepada sang pemilik. Kemudian setelahnya ia merebahkan tubuhnya di ranjang milik Vivian.
📞 : "Dia duluan Kak. Masak Jio tanya dia, dia gak jawab sama sekali malah diam saja dari tadi," adu Zico yang membuat Vivian kini mengalihkan pandangannya kearah Erland berada.
__ADS_1
"Kenapa gak jawab hmm?" tanya Vivian yang ia tujukan kepada Erland.
"Lah kata dia tadi Erland gak boleh bicara. Jadi dia tanya, ya Erland abaikan lah," tutur Erland.
📞 : "Maksud gue tuh kalau lo gak ada topik pembicaraan sama gue. Jangan basa-basi mulu. Gue bosen dengan kata-kata itu mulu buat basa-basinya. Lagian gue tadi tanya seharusnya lo jawab lah, kan topik pembicaraan sudah ada," ucap Zico tak mau kalah.
"Ya apa salahnya coba basa-basi dikit. Lo juga tinggal jawab aja susah banget mana pakai acara ceramah pula tadi. Menyebalkan," ujar Erland.
"Haishhhhh, stop. Jangan bertengkar mulu. Pusing Kakak dengarnya. Lagian kalian kalau kayak gini tuh kelihatan seperti sepasang kekasih tau gak," tutur Vivian.
"Enak aja. Gue masih normal ya. Kalaupun gue udah gak normal dan suka sesama pisang, gue juga pilih-pilih kali. Mana sudi gue sama dia. Amit-amit deh," ucap Erland.
📞 : "Gue juga gak sudi kali punya pasangan kayak lo. Kalau gue mau makan pisang, disini pisangnya lebih berkualitas daripada lo," timpal Zico.
"Kurang ajar. Lo secara gak langsung udah ngremehin pisang gue. Apa perlu gue buktiin kualitas pisang gue lebih dari pisang yang lo punya. Atau apa perlu kita unjuk pisang kita masing-masing dan buktikan pisang mana yang lebih berkualitas," ucap Erland tak terima.
Dan saat pertengkaran itu terjadi benar-benar membuat Vivian pusing tujuh keliling. Tak bisa terbayangkan oleh-nya jika dua orang itu sekarang tengah berada di ruang yang sama, pasti sekarang kamarnya itu sudah di buat seperti kapal pecah sama mereka. Dan yang pasti akan menambah darahnya naik seketika.
Dan bentakan dari Vivian tadi membuat keduanya terdiam seketika.
"Kalian ini seperti anak kecil saja. Bertengkar terus gak ada habis-habisnya. Dan kalau kalian ingin unjuk pisang, tunjukkan sekarang di depan Kakak!" ucap Vivian yang benar-benar sudah geram.
Dua laki-laki yang sudah terdiam itu sekarang malah menundukkan kepalanya, persis seperti anak kecil yang tengah dimarahi oleh ibunya.
"Nah kan kalian gak berani. Makanya kalau mau bertengkar tuh cari topik yang berbobot bukan topik yang ngelantur gak jelas seperti tadi. Paham kan kalian!" ujar Vivian yang membuat keduanya menganggukkan kepalanya.
Dan hal tersebut membuat Vivian kini menghela nafas panjang sekaligus meredam emosinya. Lalu setelahnya ia mulai angkat suara kembali.
"Coba ulang pertanyaan kamu tadi yang tidak dijawab oleh Erland," perintah Vivian.
Zico yang merasa ucapan Vivian ditujukan untuknya dengan perlahan ia menegakkan kembali kepalanya tadi.
__ADS_1
"Jio tadi tanya. Kenapa dia bisa di kamar Kakak? Apa kalian tadi tengah membicarakan sesuatu yang penting sebelum aku telepon tadi?" tanya Zico dengan menambah pertanyaannya sebelumnya.
"Kepo lo." Bukan, bukan Vivian yang menjawab pertanyaan dari Zico tadi. Melainkan Erland lah yang menjawabnya. Dan ucapannya tadi langsung mendapat tatapan tajam dari Vivian yang lagi-lagi membuat dirinya mengatupkan bibirnya seketika.
"Kalau kamu gak bisa diam, aku gak akan segan-segan buat potong lidah kamu," ancam Vivian. Dan tanpa mempedulikan respon dari Erland, ia mengalihkan pandangannya kembali kearah Zico.
"Kita gak ada topik pembicaraan penting sebelum kamu telepon tadi. Dia hanya butuh ketenangan saja jadinya ke kamar Kakak buat meredam kegalauan hatinya," jawab Vivian.
📞 : "Benarkah?" tanya Zico memastikan. Dan hal tersebut di balas anggukan kepala oleh Vivian. Tapi untuk Erland, ia sekarang justru angkat suara dan menyangkal jawaban dari Vivian tadi.
"Jangan percaya sama dia, karena apa yang dia katakan tadi merupakan kebohongan besar," timpal Erland.
📞 : "Maksud lo?" tanya Zico tak mengerti.
"Ck, masak lo gak tau maksud gue sih. Kalau gue bilang bohong berarti apa yang lo dengar dari dia tadi tuh salah besar," jelas Erland.
📞 : "Ck, iya gue paham kalau itu. Maksud gue tuh, kalau jawaban dari kak Vi tadi salah terus yang benar yang mana?" tanya Zico. Sedangkan Vivian yang sudah jengah dan capek dengan ulah keduanya pun kini ia hanya memperhatikan sampai mana mereka akan bertengkar lagi nanti.
"Yang benar tuh, kita tadi lagi ngomongin sesuatu yang penting, bahkan sangat penting. Lo mau tau hal apa yang kita bicarakan tadi?" tawar Erland yang berhasil membuat Zico menganggukkan kepalanya.
"Oke baiklah gue akan kasih tau ke lo. Rencananya sih kita berdua mau merahasiakan ini sampai kita siap memberitahu kesemua orang. Tapi berhubungan lo udah nangkap basah kita berdua dan berujung lo curiga, mending gue kasih tau sekarang aja deh. Tapi ingat jangan kasih tau siapa-siapa dulu dan biarkan kita berdua yang kasih tau sendiri," ujar Erland.
📞 : "Ck, iya-iya gue gak akan bocorin rahasia kalian berdua. Buruan kasih tau gue sekarang!" ujar Zico tak sabaran.
"Njir sabar kali. Gue lagi merangkai kata-kata ini," ucap Erland.
"Oke kata-katanya sudah tersusun dengan rapi. Dan gue akan kasih tau lo, kalau pembicaraan kita berdua sebelumnya mengenai tanggal pernikahan kita. Kita akan menikah secepatnya," ujar Erland yang langsung membuat Vivian yang sedari tadi menyimak percakapan mereka berdua pun kini tersedak oleh salivanya sendiri. Sedangkan Zico tampak mematung, tak percaya.
"Er, kamu apa-apaan sih. Jangan membual jadi orang tuh," tutur Vivian.
"Lah membual dimananya sih? Orang niat gue kesini tadi emang ngajakin lo nikah. Apa salahnya coba? Toh lo dan gue sama-sama jomblo jadi gak ada yang larang dan gak ada yang menghalangi kita untuk bersama," ujar Erland.
__ADS_1
📞 : "Tidak! Hal itu tidak boleh terjadi! Kalian berdua tidak boleh menikah! sampai kapan pun kalian tidak boleh dan tidak akan bisa menikah dan bersatu selamanya!" teriak Zico tiba-tiba. Dan hal tersebut membuat kedua orang tadi tampak terperanjat kaget dan dengan kerutan di dahi mereka, keduanya langsung menatap kearah Zico yang sekarang tengah mengigit bibir bawahnya.