
Vivian memundurkan tubuhnya beberapa langkah kebelakang saat segerombolan anak buah Zico menodong pistol kearahnya. Dan perlahan orang-orang itu bergerak membuat lingkaran yang di tengahnya berisi Vivian.
Jika ia melawan mereka tanpa bantuan orang lain mungkin, baru ia melawan satu orang nyawanya sudah melayang. Tapi jika ia memanggil keluarga Abhivandya, ia masih belum rela jika harus kehilangan Zico. Dan kedatangannya ini berniat untuk berbicara dengan Zico dan membujuk laki-laki itu untuk menyerahkan dirinya ke polisi setidaknya jika ia menyerahkan diri, hukuman yang ia dapatkan tak akan terlalu berat walaupun tidak mungkin jika mengingat kelakuan kejam Zico.
Dan mata Vivian kini menatap lekat kearah Zico yang tengah terduduk di sebuah kursi roda. Bahkan matanya itu sudah berkaca-kaca. Bohong jika ia tak rindu dengan sosok adik yang dulu sering manja dengannya. Tapi sisi manjanya sekarang entah hilang kemana dan tergantikan dengan sifat brutalnya.
"Apa kabar, Kakak?" ucap Zico dengan senyum smrik yang ia persembahkan untuk Vivian yang tengah berdiri terpaku di tempat.
"Apa-apaan ini Zico? Kenapa kamu jadi seperti ini?" teriak Vivian.
"Seperti ini, yang kamu maksud bagiamana?" bukannya menjawab Zico balik bertanya.
"Kenapa kamu berubah Zic? Kemana Zico yang Kakak kenal dulu? Zico yang selalu ada disisi Kakak, Zico yang selalu menguatkan Kakak, Zico yang selalu manja sama Kakak. Kemana Zico itu sekarang!" ucap Vivian dengan air mata yang sudah mulai menetes membasahi pipinya. Jika ia bisa mungkin sekarang ia sudah berlari menghampiri Zico dan memeluk tubuh adiknya itu.
"Kakak rindu kamu, Zic. Kakak pengen kita kumpul seperti dulu lagi. Kakak rindu canda tawa kita dulu. Kakak hanya punya kamu seorang di dunia ini. Kembalilah Zic. Kakak rindu," sambung Vivian dengan suara yang perlahan terdengar sangat lirih.
"Zico yang kamu kenal dulu sudah mati beberapa tahun lalu," ujar Zico dengan wajah datarnya. Vivian yang awalnya menunduk kini menegakkan kembali kepalanya.
"Gak. Zico yang Kakak kenal belum mati. Dia hanya tak sadar akan apa yang ia perbuat sekarang. Sadarlah Zic. Hentikan semua ini. Dan kembalilah." Zico tersenyum miring meremehkan perempuan didepannya. Tapi Vivian tak peduli dengan itu semua dan kini dengan memberanikan diri, ia melangkahkan kakinya menuju kearah Zico.
"Jika kamu mendekat, aku tidak akan segan-segan membunuh kamu saat ini juga," ucap Zico dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Bunuh Zic. Kakak gak peduli. Jika nyawa Kakak bisa membuat kamu bahagia dan menghentikkan kelakuan kamu saat ini maka lakukan. Sudah cukup Zic, kamu bermain-main dengan dunia gelap. Sudah banyak nyawa yang melayang di tanganmu. Apa kamu tidak berpikir jika orang-orang itu selalu ditunggu keluarganya untuk pulang? Dia punya keluarga Zic begitu juga dengan kamu. Kakak tau, Kakak belum bisa menjadi yang terbaik versi kamu. Tapi harta yang sangat berharga bagi Kakak saat ini hanya kamu. Kakak tidak tau salah mereka apa ke kamu sehingga kamu menghabisi nyawa mereka. Semua masalah bisa di bicarakan baik-baik, little boy. Jika tidak, masih ada keadilan di negara ini. Kakak sayang kamu, sadar dan kembali lah, little boy. Kakak selalu menunggu kamu untuk kembali," tutur Vivian tanpa menghentikan langkahnya. Dan kini Zico hanya terdiam saat panggilan itu kembali terdengar di telinganya. Zico rindu? tentu, bahkan sangat tapi kobaran api kebencian mampu mengalahkan itu semua.
Saat Vivian sudah berada di jarak yang cukup dekat dengan Zico, ia langsung berhambur kepelukan adik laki-lakinya itu.
Zico tersentak akan hal yang dilakukan Vivian itu. Untuk sementara ia menikmati setiap pelukan kerinduan itu bahkan kini tangannya bergerak untuk membalas pelukan dari Vivian tapi sebelum tangannya menyentuh tubuh Vivian, ia tersadar dan dengan kasar ia melepaskan pelukan Vivan bahkan mendorong perempuan itu hingga tubuhnya tersungkur kelantai.
"Hentikan omong kosongmu itu dan hapus air mata buayamu itu. Aku tidak butuh air mata dan perkataanmu tadi," ujar Zico.
"Satu lagi. Jangan pernah panggil laki-laki di depanmu ini dengan sebutan little boy, karena sebutan itu sudah hilang bersamaan dengan matinya Zico yang kamu kenal," sambungnya.
"Bunuh dia sekarang!" perintah Zico tanpa perasaan dan tak peduli lagi jika yang akan ia bunuh itu adalah Kakaknya sendiri. Orang yang telah merawatnya jika sang ayah tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dan kini orang itu akan ia musnahkan tepat di depan matanya.
Vivian yang mendengar itu pun menggelengkan kepalanya. Tapi saat melihat para anak buah Zico telah menarik pelatuk pistol ditangan mereka masing-masing, Vivian hanya bisa pasrah karena ia tak bisa melukai adiknya saat ini dan tak mungkin melawan mereka. Dan kini ia hanya terdiam di tempat sembari menatap lekat wajah Zico, mengingat untuk terakhir kali wajah adiknya itu agar ia bisa mengingatnya sampai ia mati. Dan sebelum ia menutup matanya, Vivian sempat beradu pandang dengan Zico dan ia melemparkan senyuman manisnya.
Zico menatap nanar wajah Vivian yang tengah menutup matanya dengan air mata yang semakin deras membasahi pipi perempuan itu tapi senyum di bibirnya tak pernah luntur. Hal itu mampu menyentil hati kecil Zico. Haruskan ia melakukan hal itu dengan Vivian? Tapi jika mengingat kenyataan yang ada, sifat iblisnya selalu mendominasi dan mengontrol dirinya.
"Lakukan!" perintah Zico. Tapi belum sempat peluru itu keluar dari pistol-pistol yang mengarah ke Vivian, teriakan seseorang mengalihkan perhatian mereka semua bahkan Vivian sudah kembali membuka matanya.
"Bos, keluarga Abhivandya sudah mulai masuk kedalam mansion ini!" teriak orang tersebut. Bukannya takut, Zico justru tersenyum devil.
"Bagus. Satu orang yang terperangkap, tapi banyak nyawa yang akan berada di genggaman kita," tutur Zico. Setelah itu ia mengkode anak buahnya itu. Dan tak berselang lama semua anak buahnya bergerak menuju kearah yang mereka tuju. Sedangkan Zico kursi roda yang ia gunakan didorong oleh salah satu anak buahnya dengan beberapa anak buahnya yang lain melindungi dirinya di samping bahkan belakangan Zico. Vivian yang akan bergerak mencegah Zico untuk keluar dari ruangan itu pun harus terhenti saat anak buah Zico yang berada di belakang bosnya itu kembali menodongkan pistol kearahnya. Tapi dengan konsekuensi yang akan ia dapat dan juga kehati-hatian agar pelurunya tak mengenai Zico, Vivian dengan sigap meraih pistolnya dan dengan cepat ia menembakkan peluru-peluru di dalam pistol itu kearah anak buah Zico yang berhasil memancing orang-orang itu bergerak membalas serangan Vivian.
__ADS_1
"Antar bos terlebih dahulu. Pastikan helikopter yang ditumpangi bos telah pergi dari tempat ini!" perintah salah satu orang yang kemungkinan orang itu merupakan tangan kanan Zico. Beberapa anak buah tadi melanjutkan langkahnya membawa Zico kearah helikopter yang sudah menunggu mereka di rooftop rumah itu. Sedangkan sebagaiman lainnya berusaha melumpuhkan Vivian yang dengan hebatnya bisa menghindari peluru-peluru mereka.
"Kita perlahan mundur dan pergi dari rumah ini. Waktu yang tersisa tinggal beberapa menit lagi dan keluarga Abhivandya---" ucapannya menggantung saat melihat segerombolan orang dari keluarga Abhivandya bergabung dengan Vivian.
"Mundur sekarang!" perintah orang itu dan mereka semua satu persatu berlari meninggalkan rumah tersebut tapi tembak itu terus mereka arahkan ke gerombolan orang-orang keluarga Abhivandya yang berhasil melumpuhkan mereka semua dan hanya tersisa seseorang yang merupakan tangan kanan Zico yang berhasil lolos dari serangan orang-orang keluarga Abhivandya.
Vivian kembali meneteskan air matanya saat wajah Zico tak ia lihat lagi.
"Kemana bajingan sialan itu?" tanya Erland menggebu-gebu.
"Hiks dia---dia sudah pergi," jawab Vivian.
"Arkhhhh. Sia-sia kita kesini. Dan kamu kenapa tadi tidak langsung bunuh dia!" teriak Azlan yang emosinya sudah berada di puncak kepala.
"Dia adikku, Az. Kakak mana yang bisa bunuh adik sendiri!" balas Vivian dengan nada suara yang meninggi.
"Sudah cukup. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan!" Geram Edrea. Dan saat Azlan ingin kembali angkat suara, Erland lebih dulu menyela pembicaraan itu sembari memperhatikan jam tangannya yang tengah berbunyi.
"Lari! selamatkan diri kalian. Rumah ini sudah di pasang bom!" teriak Erland. Saat mengetahui tanda dari jam tangannya itu adalah tanda bahaya dari senjata mengerikan itu. Dan jika ia memerintahkan anak buahnya untuk segera mencari bom itu dan menjinakkannya, ia yakini waktu mereka tak akan cukup dan satu-satunya cara yaitu keluar dari rumah ini secepatnya.
Tapi saat anak buah Erland ingin membuka pintu ruangan yang mereka tempati, pintu ruangan itu telah terkunci.
__ADS_1
"Pintunya terkunci otomatis bos dan kita tidak bisa membuka pintu ini walaupun dengan senjata apapun bahkan dengan dobrakan kita," ucap anak buah Erland itu.