
Edrea yang sedari tadi terus memikirkan bagaimana caranya mereka berdua bisa selamat dari ancaman orang yang berniat jahat kepadanya, tiba-tiba otaknya yang tadinya buntu kini bisa berpikir jernih.
"Gue tau gimana caranya kita bisa kabur dari sini," ujar Edrea yang berhasil membuat Zea menegakkan kepalanya.
"Apa?" tanya Zea penasaran.
"Telepon Mommy," ucap Edrea dengan merogoh ponselnya. Dan setelahnya tangannya bergerak aktif diatas layar ponsel tersebut hingga beberapa saat setelahnya, ponsel tersebut ia tempelkan di telinganya.
Nada sambung telepon tersebut terus berbunyi hingga tak berselang lama, terdengar suara Mommy Della dari sebrang.
📞 : "Apaan? Ganggu aja kerjaannya. Ini juga masih jam pelajaran sekolah lho, jangan bilang kamu sekarang lagi bolos sekolah," ucap Mommy Della yang sudah menuduh Edrea begitu saja.
"Ucapin salam dulu kali Mom, baru marah-marah," tutur Edrea.
📞 : "Ck, iya Mommy lupa. Assalamualaikum," ucap Mommy Della.
"Waalaikumsalam Mommyku yang cantik tapi lebih cantikan Rea," tutur Edrea.
📞 : "Jangan banyak basa-basi, Mom gak punya banyak waktu untuk sekedar dengerin basa-basi kamu," ucap Mommy Della yang masih dalam mode galak.
"Astagfirullah Mom, sabar dikit dong," ujar Edrea.
📞 : "Haish lama, buruan ada apa?" tutur Mommy Della tak sabaran.
"Mommy sekarang ada dimana?" tanya Edrea.
📞 : "Lagi di salon. Mommy lagi perawatan biar Daddy kamu tidak berpaling ke wanita lain. Jaman sekarang banyak pelakor berterbangan soalnya," ucap Mommy Della yang membuat Edrea memutar bola matanya.
"Bertebaran kali Mom, bukan berterbangan. Mom kira pelakor itu burung yang bisa terbang," tutur Edrea.
📞 : "Mom gak terima kalau pelakor di samain sama burung. Mom terimanya kalau pelakor disamakan dengan corona, terbang kemana-mana dan nemplok sama siapa saja," tutur Mommy Della.
"Si emak bisa aja. Tapi Rea hari ini lagi gak mau bahas para pelakor. Tapi Rea sekarang lagi butuh bantuan dari Mommy," ucap Edrea.
📞 : "Mom kan tadi sudah bilang kalau Mom lagi sibuk, jadi Mom gak bisa bantu kamu. Mending cari aja orang yang mau direpotkan sama kamu," ujar Mommy Della.
"Yah kok gitu Mom. Mom sayang kan sama Rea?"
📞 : "Mom sayang sama kamu? Ya tentu saja... Tidak," ucap Mommy Della yang berhasil membuat Edrea badmood seketika.
Zea yang melihat perubahan ekspresi wajah dari Edrea pun ia kini mulai angkat suara.
"Sini, biar gue aja yang ngomong sama Mommy," ucap Zea.
"Nih, ngomong aja sama nenek lampir yang menyebalkan itu. Huh," ujar Edrea sembari menyodorkan ponselnya tepat di hadapan Zea yang langsung di terima oleh Zea.
"Gak boleh gitu Rea," ucap Zea memperingati sebelum dirinya menempelkan ponsel Edrea ditelinganya.
Dan baru saja posnel itu mendekat ke telinganya, ia bisa mendengar dengan jelas omelan Mommy Della yang ia yakini omelan itu ditujukan kepada Edrea.
"Ehemmm, Mom," ucap Zea yang berhasil membuat omelan dari ibu negara itu terhenti.
📞 : "Lho kenapa suara Edrea beda?" tutur Mommy Della.
"Maaf Mom, ini bukan Edrea tapi Zea," ujar Zea.
📞 : "Owalah Zea to. Ada apa? Kenapa telepon Mommy?" tanya Mommy Della dengan nada suara yang begitu lembut sangat berbeda jauh dengan nada suara yang Edrea tadi dengar.
"Hmmmm begini Mom. Zea tidak bermaksud untuk menganggu waktu Mommy yang tengah bersantai. Tapi ini benar-benar genting Mom, kita berdua butuh pertolongan dari Mommy. Apa Mommy berkenan untuk membantu kita?" ucap Zea yang masih segan.
📞 : "Membantu tentang apa sayang? Sebisa mungkin Mommy akan bantu kamu. Katakan kamu butuh bantuan apa?" tutur Mommy Della.
__ADS_1
"Jadi gini Mom, Zea sama Rea sekarang tengah berada di cafe Cool and Hot." Belum sempat Zea melanjutkan perkataannya, suara Mommy Della lebih dulu memotongnya.
📞 : "Ngapain kalian disana? kalian bolos ya?"
"Ah tidak-tidak Mom. Kita sama sekali tidak membolos. Hanya saja kita sekarang tengah menghindari seseorang yang berniat jahat dengan kita," ucap Zea.
📞 : "Maksud kamu?"
"Pergerakan Zea dan Rea sekarang dalam pengawasan seseorang yang kita berdua sama sekali tidak tau orang itu siapa. Bahkan sebelum kita berhenti di cafe ini, kita tadi sempat diikuti oleh mereka. Dan sekarang orang-orang yang mengikuti kita itu masih berkeliaran di sekeliling kita berdua Mom. Masih mengawasi kita berdua dan sepertinya mereka menunggu saat kita berdua lengah dan barulah mereka melakukan aksinya. Tapi Mom, karena kita tidak mungkin bersembunyi di cafe ini selamanya, makanya Zea menghubungi Mommy untuk minta tolong. Siapa tau Mommy punya cara supaya kita keluar dari cafe ini tanpa ketahuan oleh orang-orang yang tengah mengawasi kita berdua. Apa Mommy punya ide untuk itu?" tanya Zea.
📞 : "Hmmmm sepertinya Mommy tidak memiliki ide cemerlang supaya kalian pergi dari cafe itu dengan selamat. Tapi Mommy ada satu cara yang mungkin ampuh untuk mengusir para orang-orang jahat itu," ucap Mommy Della.
"Kalau boleh tahu caranya gimana Mom?" tanya Zea.
📞 : "Kamu akan tau nanti. Sekarang tugas kalian adalah kirim lokasi kalian sekarang ke Mommy. Dan tunggu Mommy disana. Ingat jangan kemana-mana, kalian juga harus tetap waspada, dan jangan sampai kalian lengah. Karena kalau kalian lengah sedikit, nyawa kalian yang menjadi taruhannya," ujar Mommy Della.
"Baik Mom. Kita berdua akan menuruti semua ucapan Mommy tadi. Terimakasih sudah mau membantu kita Mom," tutur Zea.
📞: "Mommy belum bergerak untuk menghempaskan para penjahat itu, Zea. Jadi simpan dulu kata terimakasihmu itu untuk nanti setelah Mommy berhasil melumpuhkan lawan," ujar Mommy Della yang membuat Zea kini tersenyum.
"Iya Mom. Zea akan menyimpan satu perkataan tadi. Mommy hati-hati dijalan ya, jangan ngebut," ucap Zea.
📞 : "Iya nak, ya sudah Mommy tutup dulu dan tunggu Mommy disana. Assalamualaikum," pamit Mommy Della.
"Waalaikumsalam."
Zea kini menyerahkan kembali ponsel Edrea kepada sang pemilik setelah sambungan telepon tadi terputus.
"Bagaimana?" tanya Edrea.
"Mommy mau bantuin kita. Dan beliau otw kesini," jawab Zea dengan senyuman di bibirnya. Sedangkan Edrea, perempuan itu sekarang justru tengah mencebikkan bibirnya.
"Sama anak sendiri galaknya nauzubillah tapi kalau sama anak orang lain beuhhhh lembutnya ngalahin benang sutra," sebal Edrea yang berhasil membuat Zea terkekeh kecil.
Dan sesampainya ia didalam mobil, Mommy Della langsung menghubungi seseorang.
"Aku butuh bantuan kalian. Kita bertemu di perempatan jalan Kusuma," ucap Mommy Della saat sambung telepon itu terhubung. Dan tanpa menunggu persetujuan dari lawan bicaranya, Mommy Della langsung menutup telepon tersebut begitu saja. Kemudian ia bergegas melajukan mobilnya pergi dari tempat yang ia singgahi.
Dan setelah beberapa menit perjalanan dan setelah bertemu dengan lawan bicaranya tadi, Mommy Della dan pasukannya kini telah sampai di lokasi yang disebutkan oleh Zea tadi.
Tapi karena ia tak tau mobil mana yang telah mengikuti Edrea dan Zea tadi, Mommy Della kembali menghubungi putrinya untuk sekedar memastikan sebelum dirinya bertindak.
Edrea dan Zea yang sedari tadi terus mengawasi pergerakan dari mobil penjahat tadi, perhatian mereka terpaksa harus teralihkan saat dering ponsel milik Edrea berbunyi yang langsung diangkat oleh Edrea setelah ia melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya tersebut.
"As---" belum sempat Edrea menyelesaikan salamnya, suara Mommy Della langsung menyambar begitu saja.
📞 : "Waalaikumsalam. Katakan dimana mobil sialan itu sekarang?" tanya Mommy Della yang membuat Edrea kini menghela nafas panjang sembari mengelus dadanya.
"Memangnya Mommy sekarang sudah sampai?" tanya Edrea dengan melihat area luar cafe.
📞 : "Ck, kalau Mommy tanya begitu berarti Mommy sudah sampai. Kamu itu bagaimana sih," omel Mommy Della.
"Ya elah Mom kan Rea cuma tanya doang," tutur Edrea.
📞 : "Terserah kamu lah. Sekarang buruan kasih tau dimana mobilnya, sebelum Mommy berubah pikiran lho ini," ujar Mommy Della.
"Mobil yang ngikutin Rea sama Zea ada di sebrang cafe Cool and Hot. Mobil itu berwarna hitam dengan plat nomor B 1230 HZ," ucap Edrea.
Mommy Della yang mendengar ciri-ciri mobil tersebut pun langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan mobil dengan plat nomor tersebut.
📞 : "Oh itu rupanya. Oke Mommy sudah lihat mobilnya. Kalian tetap didalam dan jangan keluar, biar Mommy yang menangani curut-curut sialan itu," ujar Mommy Della.
__ADS_1
"Mommy yakin gak butuh bantuan Rea sama Zea?" tanya Edrea dengan khawatir jika sang Mommy akan terluka nantinya.
📞 : "Tenang saja. Mommy sudah membawa pasukan. Dan Mommy jamin mereka nanti akan kita taklukan," ujar Mommy Della penuh percaya diri.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika Rea melihat situasinya sudah tak bisa Mommy kendalikan, Edrea dan Zea nanti akan bantu," ucap Edrea.
📞 : "Iya-iya terserah kamu. Mommy tutup teleponnya. Soalnya Mommy udah gak sabar buat hajar mereka. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati Mom, jangan sampai terlu---" Lagi-lagi Edrea sepertinya harus mempunyai stok kesabaran yang tinggi saat menghadapi sang Mommy yang seenaknya sendiri selalu memutus perkataannya.
"Oke baik, Edrea harus sabar, tenang. Ambil nafas, keluarkan," ucap Edrea untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Astaga," kaget Zea saat ia melihat Mommy Della tengah mendekati mobil tersangka.
"Rea lihat!" sambungnya dengan menunjuk kearah Mommy Della berada.
Edrea yang tadinya menutup matanya, perlahan mata itu terbukanya dan langsung ia arahkan sesuai dengan tunjukkan jari dari Zea tadi.
Dan saat ia melihatnya, dirinya dibuat melongo tak percaya.
"Ya ampun pasukan para emak-emak," ucap Edrea yang mampu membuat pengunjung lain menatap kearah dirinya sebelum mereka juga mengikuti arah pandang Edrea. Dan disitulah bisikan-bisikan manja mulai ramai didalam cafe tersebut. Tapi Edrea tak peduli, karena tatapan matanya harus terus menatap kearah Mommynya tersebut, sekaligus ia menunggu aksi para emak-emak komplotan Mommy Della beraksi.
Sedangkan situasi di dalam mobil tersangka tampak hening seketika saat melihat gerombolan emak-emak tadi mendekati mereka.
"Bos, mereka berjalan kearah kita," ucap pengemudi mobil tersebut.
"Kamu tenang dulu. Siapa tau mereka lagi mau mampir ke toko sebelah," tutur orang yang dipanggil bos oleh pengemudi tadi sekaligus untuk menenangkan dirinya sendiri.
Tapi sayangnya ucapannya tadi tak benar sama sekali saat ia melihat pasukan emak-emak tersebut tengah berjejer rapi hingga membuat lingkaran hingga memblok jalan mobil tersebut.
"Bos ini gimana?" tanya salah satu orang didalam mobil tersebut.
"Tenang dulu, kita tanya baik-baik sama mereka," ucap bos tersebut.
"Jadi kita akan turun bos?" tanya anak buahnya.
"Ya iya lah. Kita kan mau diskusi."
"Tapi mereka bawa alat tempur mereka. Mantap juga kalau tuh teflon menghantam muka," tuturnya.
"Bisa tidak kalian ini jangan takut terlebih dahulu. Kalau kalian seperti ini, kalian sama saja cemen, gak ada nyali sama sekali. Kita ini pembunuh bayaran yang tidak akan takut sama siapapun. Termasuk mereka semua. Jadi sekarang kita turun!" ucap bos tersebut tanpa bantahan.
Dan setelah ucapannya itu, semua orang yang berada dia dalam mobil tersebut mulai keluar dari persembunyiannya satu persatu.
Mommy Della yang melihat hal tersebut pun, ia langsung berjalan mendekati keempat laki-laki yang sudah berjejer rapi di hadapan para emak-emak tadi.
"Heh kalian!" ucap Mommy Della saat dirinya sudah berdiri tepat di depan keempat laki-laki tersebut.
Dan ucapannya tadi mampu mengalihkan pandangan mereka yang langsung tertuju kearah dirinya.
"Maaf sebelumnya, tapi ini ada apa ya? Kenapa kalian semua tiba-tiba mengepung kita?" tanya bos tersebut.
"Halah banyak tanya lo! Banyak bacot pula. Kalau kalian mau tau alasan kita, gue akan jawab nanti setelah muka kalian penyot," ucap Mommy Della.
"Girls, bergerak sekarang dan hancurkan mereka. Serang!" teriak Mommy Della yang memberikan instruksi kepada pasukannya tersebut.
"Serang!" teriak para emak-emak tadi sembari berlari kearah keempat laki-laki tersebut dengan mengacungkan alat tempur mereka keudara.
"Apa ini? Tolong hentikan!" teriak salah satu dari laki-laki tersebut dengan berusaha untuk membebaskan dirinya dari penyerangan tersebut.
"Oh tidak semudah itu Ferguson. Lawan kita dulu. Dan rasakan ini!" tutur salah satu ibu-ibu dengan mengayunkan teflon yang berada di tangannya dan berakhir teflon itu mendarat tepat di kepala laki-laki tersebut dengan sangat kencang. Dan hal tersebut mampu membuat laki-laki tadi terduduk dengan kepala yang terasa nyut-nyutan. Bahkan ia sudah pasrah dengan apa yang akan para emak-emak itu lakukan selanjutnya kepada dirinya.
__ADS_1
Disaat pasukannya itu beraksi untuk melawan penjahat tersebut, Mommy Della yang sudah tak kebagian tempat untuk ikut menyerang pun ia hanya berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya bahkan senyum kepuasan terbit di bibirnya saat ia menatap pasukannya itu beraksi.
Lalu setelahnya pandangannya ia alihkan ke arah cafe yang dijadikan tempat persembunyian kedua gadisnya tadi. Dan saat Mommy Della melihat Edrea dan Zea tengah menatap kearah dirinya, dengan santainya Mommy Della menggerakkan tangannya kemudian ia memberikan jari jempolnya kearah dua gadisnya tersebut yang langsung dibalas senyuman oleh keduanya.