
Setelah kejadian tadi, Azlan dan Erland langsung pergi ke kamar mereka masing-masing untuk meredam emosi mereka yang tadi sempat terpancing. Untung saja mereka berdua masih bisa mengontrolnya. Jika tidak, sudah di pastikan mungkin kamar Edrea akan berubah menjadi kapal pecah gara-gara menjadi sasaran emosi mereka.
Dan pagi ini dengan wajah murung dan merasa bersalah, Edrea membuka pintu kamarnya dan sebelum turun kebawah untuk sarapan bersama, dirinya menoleh kearah dua pintu disamping kamarnya. Dua pintu itu masih tertutup rapat. Edrea ingin sekali mengetuk pintu tersebut tapi ia langsung mengurungkan niatnya. Alhasil pagi ini ia langsung turun kebawah tanpa mengganggu kedua saudara kembarnya terlebih dahulu seperti pagi-pagi sebelumnya.
"Pagi Mom, Dad," sapa Edrea saat dirinya sudah mendapati kedua orangtuanya di ruang makan.
"Pagi juga sayang," balas Daddy Aiden yang kebetulan tengah bersantai dengan koran di tangannya sedangkan Mommy Della, ia tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya di bantu art disana.
Edrea mendaratkan kecupannya di pipi sang Daddy sebelum ia duduk di kursinya.
"Bang Az sama bang Er belum bangun Re?" tanya Mommy Della dengan membawa dua gelas susu terakhir yang ia sajikan di meja makan untuk kedua jagoannya.
Edrea mendengus saat Mommy Della membahas kedua saudara kembarnya itu.
Di rasa tak ada jawaban yang terlontar dari mulut Edrea, Mommy Della menghela nafas kemudian duduk di meja samping Edrea lalu ia mengelus rambut anak perempuannya itu.
"Ada apa sih sebenarnya? kenapa Mommy lihat-lihat kamu seakan menjauh gitu sama bang Az ataupun bang Er. Ada masalah apa emangnya? Cerita dong sama Mommy," ucap Mommy Della dengan suara lembutnya.
Saat Edrea ingin ambil suara, bibirnya kembali terkatup saat terdengar suara Erland yang menjawab ucapan dari Mommy Della.
"Gak ada masalah apa-apa Mom. Gak usah di pikirin." Edrea kini tambah menundukkan kepalanya. Ia masih takut walaupun hanya sekedar bertatap mata dengan kedua Abangnya itu.
Bahkan melirik sekilas saat Erland mencium pipi Mommy Della pun ia masih tak berani.
"Beneran ini, kalian gak ada masalah apa-apa?" Erland menatap sekilas kearah Edrea kemudian menggelengkan kepalanya, untuk menjawab pertanyaan dari Mommy Della.
"Syukurlah kalau memang begitu. Oh ya bang Az belum bangun?" tanyanya lagi.
"Udah. Bentar lagi paling juga kesini." Benar saja kini terlihat tubuh Azlan berjalan memasuki ruang makan.
__ADS_1
"Pagi Mom, Dad," sapa Azlan diakhiri dengan kecupan di pipi Mommy Della dan melewati Edrea begitu saja.
"Pagi juga sayang," balas Mommy Della dan Daddy Aiden secara kompak.
Setelah semua anggota keluarga berkumpul barulah mereka menikmati sarapan pagi tanpa ada salah satu orang pun yang berbicara selama acara makan itu berlangsung.
Tak berselang lama, Azlan dan Erland telah selesai dengan sarapan pagi mereka.
"Mom, Dad. Erland pamit berangkat dulu."
"Azlan juga." Kedua laki-laki tampan itu kini beranjak dari duduknya dan mulai menghampiri Daddy Aiden untuk ia cium telapak tangannya setelah itu mereka beralih menuju kearah Mommy Della yang masih setia di kursi makan di samping Edrea.
Mereka mencium telapak tangan dan pipi sang Mommy.
"Ini masih pagi banget lho bang, masak udah mau berangkat sekarang. Di sekolah bukannya juga udah gak ada pelajaran?"
"Erland mau mampir ke restauran dulu Mom," ucap Erland dan diangguki oleh Mommy Della.
"Azlan ada urusan. Makanya Azlan juga harus berangkat lebih awal."
"Ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hati dijalan, jangan kebut-kebutan." Azlan dan Erland menganggukkan kepalanya setelah itu mereka berdua beranjak meninggalkan ruang makan tanpa mencium Edrea atau sekedar menyapa saja mereka tidak melakukan hal itu.
Edrea yang di perlakukan seperti tadi pun hatinya benar-benar merasa sakit. Padahal saat dirinya berniat mendiami kedua Abangnya sejak pulang dari mall tempo hari lalu, ia akan meninggalkan sebuah kecupan di pipi mereka saat dirinya akan pergi kemanapun. Sedangkan mereka saat ini tak menganggap Edrea ada di sekitarnya. Gak bisa, Edrea gak bisa di perlakukan seperti ini oleh kedua Abangnya.
"Mom, Dad. Rea juga berangkat. Assalamualaikum." Edrea mencium pipi Mommy Della dan menyalami tangannya kemudian dengan gesit ia berpindah ke sang Daddy dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Setelah itu ia berlari meninggalkan kedua orangtuanya yang menatap kepergiannya dengan melongo.
"Waalaikumsalam," jawab mereka berdua secara kompak.
Edrea terus berlari hingga dirinya sampai di garasi rumah tersebut dan disana masih terlihat kedua Abangnya tengah sibuk bersiap. Edrea mengernyitkan dahinya saat melihat Azlan kini telah memakai helm full face dan menghampiri sebuah motor sport yang hampir sama persis dengan motor kesayangannya Erland.
__ADS_1
"Bang Az mau pakai motor? tumben-tumbenan," gumam Edrea dengan suara lirih.
Dirinya kini terperanjat kaget saat mendengar suara mesin motor mulai dinyalakan oleh kedua laki-laki yang sekarang tampak terlihat lebih tampan walaupun wajahnya itu tersembunyi di balik helm full face mereka. Bahkan keduanya kini sudah berada diatas motor mereka masing-masing.
Saat kedua motor itu hendak di jalankan, hadangan Edrea menghentikkan mereka.
"Minggir!" perintah Erland dengan suara dinginnya.
"Bang, Rea nebeng ya," ucapnya tak menghiraukan perkataan Erland tadi.
Hening, hanya ada suara kedua motor tadi karena kedua laki-laki tampan tersebut sangat enggan untuk menimpali ucapan Edrea tadi.
"Abang," rengek Edrea dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Minggir! kalau lo gak mau minggir jangan salahin gue kalau tubuh lo, gue tabrak," suara rendah yang terdengar mengerikan itu keluar dari bibir Azlan. Edrea menatap tak percaya kearah Azlan.
"Kalau Abang tega sama Rea. Tabrak aja bang tabrak," ucap Edrea dengan air mata yang sudah menetes.
"Oke." Azlan kini menutup kembali kaca helm full faca yang tadi sempat terbuka dan tangannya mulai memutar gas motor tersebut.
Edrea kini memejamkan matanya. Sedangkan Erland di buat khawatir dengan tindakan yang akan di lakukan Azlan saat ini. Walaupun ia yakin Azlan tak akan benar-benar menabrak tubuh Edrea tapi tetap saja dada Erland terasa sesak.
"Bang jangan aneh-aneh," ucap Erland yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri juga Azlan. Tapi Azlan tak peduli dengan ucapan Erland tadi hingga motor yang dikendalikan oleh Azlan melaju dengan kecepatan sedang dan melewati tubuh Edrea yang masih mematung di tempatnya.
Erland yang melihat hal itu pun bisa bernafas lega, setidaknya abangnya itu masih punya otak yang dingin untuk ia gunakan dalam keadaan emosi yang masih naik turun itu.
Edrea yang tak merasakan sakit sedikitpun setelah mobil Azlan berjalan melewatinya, akhirnya ia membuka matanya dan ia menatap ke tubuhnya yang tak bergeser sedikitpun dari sebelumnya.
Saat Edrea ingin mengangkat suaranya agar Erland bersedia untuk mengantarnya ke sekolah, sang empu sudah mulai menjalankan motornya tanpa meninggalkan sepatah katapun untuk Edrea.
__ADS_1
Edrea kini tertunduk lesu, ia merasa bersalah sekarang atas keegoisannya dan juga pikiran negatif kepada kedua Abangnya itu. Andaikan saja dirinya bisa mengerti dengan sikap posesif Azlan dan Erland, pasti mereka berdua sekarang tidak akan bersikap acuh tak acuh kepadanya.