The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 337


__ADS_3

Kini acara kelulusan tengah berada di akhir acara dimana disitu hanya ada persembahan dari beberapa adik kelas yang ingin menampilkan persembahan terakhir untuk Kakak kelas mereka. Sedangkan para wali murid di persilahkan untuk menuju ke aula untuk menyantap hidangan yang telah pihak sekolah persiapkan.


Dan saat semua murid disekolah tersebut mulai mengikuti alunan musik band yang tengah tampil, berbeda dengan Edrea yang tengah duduk gelisah dengan sorot mata yang terus menatap kearah loby sekolah, berharap orang yang ia tunggu sedari tadi muncul di balik loby yang hanya terisi beberapa murid kelas 10 dan 11 yang turut menyaksikan acara tersebut. Tapi sayangnya, orang yang ia tunggu itu sama sekali tak memunculkan batang hidungnya, apalagi seluruh panggilan telefon darinya tak juga mendapat jawaban dari orang itu bahkan beberapa pesan yang juga sudah ia kirimkan tak kunjung mendapat balasan. Dan hal tersebut membuat Edrea menghela nafas frustasi.


"Lo kemana si El. Jangan bikin gue khawatir gini dong. Atau jangan-jangan lo cuma ngerjain gue lagi. Lo sebenarnya udah ada disini kan? Tapi Lo hanya ngumpet aja gitu untuk menguji kepedulian gue ke Lo kan?" gumam Edrea dengan kepala yang tertunduk dan tangannya kini menggenggam erat ponselnya.


"Tapi itu gak mungkin. Kalau pun Lo udah disini kenapa saat Pak Yuswo nyebutin nama lo buat naik ke atas panggung karena lo menjadi salah satu siswa berprestasi yang masuk ke dalam 10 besar dengan nilai yang memuaskan. Tapi berkali-kali Pak Yuswo manggil nama lo, Lo sama sekali gak muncul. El, Lo ada dimana?" ucap Edrea dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ingin sekali ia menangis saat itu juga, tapi ia masih sayang dengan makeup yang bernilai ratusan ribu itu yang nantinya akan luntur saat di terjang air mata badainya itu. Dan hal tersebut membuat Edrea mengurungkan niatnya tadi dan memilih untuk kembali meneror Leon dengan berbagai pesan berderet yang ia kirimkan ke nomor kekasihnya.


Ia terus menatap kearah ponselnya tanpa peduli dengan situasi di sekitarnya. Hingga pendengarannya menangkup sebuah suara yang sangat familiar.


"Aku ada di depan kamu sekarang, sayang." Suara berat nan berwibawa itu terdengar begitu keras hingga membuat Edrea kini mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya yang justru orang itu sekarang tengah duduk di atas panggung, lurus tepat di tempat duduk Edrea saat ini. Dan lebih mengejutkan lagi, laki-laki itu yang tak lain adalah Leon tengah memegang sebuah gitar di pangkuannya, tak lupa dengan sebuah mik di depannya. Membuat dahi Edrea berkerut.


"Dia, kapan ada disini? Perasaan dari tadi gue lihat loby itu terus menerus tapi gak lihat dia lewat disana. Dan apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia harus ke atas panggung segala? Mau tebar pesona kah?" batin Edrea dengan mengedarkan pandangannya kearah sekeliling yang tengah menatap kagum kearah Leon dan hal tersebut membuat Edrea benar-benar ingin mencolok mata para kaum hawa itu.


Padahal semua orang di sekolah itu telah tau jika Leon hanya milik Edrea seorang. Tapi masih saja para cabe-cabean itu tak gentar-gentarnya mencoba mendapatkan hati Leon. Ck, menyebalkan sekali.


Leon yang berada diatas panggung dengan mata yang terus menatap kearah Edrea pun ia tersenyum saat melihat tatapan garang Edrea yang mengarah kepada para siswi di sekolah tersebut. Dan sebelum Edrea nanti mengamuk dan berakhir dirinya nanti akan kena getahnya, lebih baik ia melanjutkan niatnya itu.


"Edrea Dwyne Abhivandya. Lagu ini aku persembahkan untuk kamu seorang bukan untuk yang lainnya," ucapan Leon tadi membuat Edrea kini kambali menatap kearah Leon.


Sedangkan kedua saudara kembar Edrea yang kebetulan duduk di samping Edrea, memutar bola matanya malas.


"Ck, bucin," gumam Erland.


"Bucin gak tau tempat," kini giliran Azlan yang bersuara. Memang ya Azlan ini tak berkaca pada dirinya sendiri yang juga bucin dengan istrinya tanpa lihat tempat dan situasi.


Edrea yang mendengar gerutuan dari kedua saudara kembarnya itu melirik sinis kearah keduanya secara bergantian sebelum ia menatap kembali kearah Leon yang sudah mulai memetik sinar gitar di pangkuannya itu.


Sebuah lagu yang sekarang di bawakan oleh Leon adalah lagu yang menggambarkan perasaannya saat ini yang tengah terpesona dengan wajah cantik Edrea dan tentang pejuangnya untuk mendapatkan kembali cinta pertamanya itu walaupun segala rintangan yang harus ia lalu. Dan dengan terus menatap ke wajah Edrea, Leon mulai melantunkan sebuah lirik lagu Surat Cinta Untuk Starla.


"Kutuliskan kenangan tentang


Caraku menemukan dirimu

__ADS_1


Tentang apa yang membuatku mudah


Berikan hatiku padamu


Takkan habis sejuta lagu


Untuk menceritakan cantikmu


Kan teramat panjang puisi


Tuk menyuratkan cinta ini


Telah habis sudah cinta ini


Tak lagi tersisa untuk dunia


Karena tlah kuhabiskan


Sisa cintaku hanya untukmu."


"Aku pernah berpikir tentang


Hidupku tanpa ada dirimu


Dapatkah lebih indah dari


Yang kujalani sampai kini


Aku slalu bermimpi tentang


Indah hari tua bersamamu


Tetap cantik rambut panjangmu

__ADS_1


Meskipun nanti tak hitam lagi."


Lanjutan lirik itu membuat memori di otak Edrea kembali memutar tentang kejadian di masa lalunya yang dengan terpaksa harus dipisahkan dengan seseorang yang hampir ia lupakan keberadaan karena sakit dan trauma yang ia alami. Tapi untungnya orang itu telah kembali dengan senyuman kebahagiaan yang terus terpatri di bibirnya.


Bahkan karena hal tersebut membuat Edrea membayangkan betapa kerasnya perjuangan seorang Leon yang ingin kembali disampingnya dengan melawan ayahnya sendiri, kehilangan tahta kerajaannya yang sejak lahir ia sandang, kehilangan semua hingar bingar kekayaan yang dulu menyelimuti laki-laki itu hanya demi seorang Edrea, perempuan yang tak memiliki darah keturunan kerajaan, jauh dari kata sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Dan untuk saat ini bolehkah Edrea berbangga diri dengan dirinya sendiri yang telah berhasil meluluhkan hati seorang pangeran yang didambakan semua orang? Bahkan di perjuangkan dengan bertaruh nyawa. Sungguh Edrea harus bersyukur dengan cara apa lagi untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada yang maha kuasa karena telah mengirimkannya seorang pasangan seperti Leon. Laki-laki paket komplit tanpa kekurangan sedikit apapun.


Rasa haru terus menerus melanda Edrea saat Leon terus menyanyikan lagu itu. Bahkan tak terasa air matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya meleleh membasahi pipinya. Ia sudah tak peduli lagi dengan makeup berharga ratusan ribu itu. Biarkan dia luntur karena tangis bahagianya itu.


"Karena tlah kuhabiskan


Sisa cintaku hanya untukmu."


Bait terakhir dalam lagu itu berhasil membuat semua orang bertepuk tangan untuk mengapresiasi suara indah yang Leon persembahan itu. Tapi mereka kembali terdiam saat alunan musik justru tak kunjung berhenti hingga membuat semua orang bingung karena hal tersebut. Apalagi saat melihat Leon juga beranjak dari duduknya dan meninggalkan area panggung juga teman-temannya yang sedari tadi menemani dirinya perform.


Tapi beberapa saat setelahnya mereka terkesiap ketika melihat Leon yang tadi hanya menggenakan Hoodie dan celana jeans kini telah berganti dengan pakaian formalnya yang membuat tingkat ketampanannya meningkatkan. Apalagi dengan tangan yang sekarang membawa buket bunga cukup besar yang membuat kaum hawa ingin memiliki buket tersebut.


Leon terus berjalan hingga ia berdiri tepat di depan Edrea.


"Congratulation sayang," ucap Leon dengan menyerahkan buket bunga tadi ke hadapan Edrea yang masih terisak dalam tangisnya. Dan bunga tadi bukannya di terima oleh Edrea, perempuan itu sekarang justru berdiri dari duduknya dan langsung memeluk tubuh Leon yang sempat ia khawatirkan tadi.


"Beginikah cara kamu ngasih aku surprise? Harus buat gundah gulana dulu, gitu? Gak lucu tau El. Hiks," ucap Edrea dalam pelukan Leon yang justru membuat kekasihnya itu tersenyum gemas.


"Maaf sayang. Bukannya aku mau bikin kamu khawatir. Aku tadi memang telat saat datang kesini karena jalanan macet di tambah Callie rewel di jalan tadi," ucap Leon memberikan penjelasan kepada Edrea walaupun suara mereka sedikit samar karena alunan musik dari lagu Surat Cinta Untuk Starla itu terus mengalun.


Edrea yang tadi memeluk tubuh Leon kini pelukan itu ia lepaskan dan dengan kerucutan di bibirnya ia merebut buket bunga tadi dari tangan Leon.


"Oke aku maafin tapi kalau kamu ulangi lagi, aku pites kamu," ancam Edrea dengan menatap wajah kekasihnya yang justru terkekeh menertawakan dirinya. Dan saat dirinya ingin protes karena Leon justru menertawakannya, bibirnya di buat terkatup kembali saat melihat tubuh Leon justru berjongkok didepannya dibarengi dengan seseorang yang membawa mik kearah Leon. Entah apa yang akan Leon lakukan selanjutnya hingga mata Edrea terbuka lebar saat melihat tangan Leon yang tadi bergerak untuk mengambil sesuatu di balik jas yang ia pakai kini terpampang di hadapannya.


Sebuah kotak kecil yang didalamnya terdapat sebuah cincin diamond yang begitu cantik di mata para kaum hawa tak terkecuali di mata Edrea.


Namun beberapa detik setelahnya fokus semua orang kembali kearah Leon saat laki-laki itu kembali angkat suara.


"Edrea Dwyne Abhivandya!"

__ADS_1


"Will you marry me?" ucap Leon dengan sangat lantang tanpa rasa ragu sedikitpun dan hal tersebut membuat tubuh Edrea terpaku di tempat dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca menatap kearah laki-laki pujaannya yang sekarang tengah melamarnya di tengah-tengah para warga sekolah yang akan menjadi saksi bukti cinta dari Leon itu. Tapi Edrea sekarang justru terdiam, entah apa yang tiba-tiba merasuki pikirannya hingga membuat dirinya kini bimbang atas pernyataan dari Leon tadi.


__ADS_2