
Hari weekend yang biasa Edrea gunakan untuk berkumpul dengan teman-temannya atau hanya sekedar menemani kasurnya seharian. Hari ini sangat berbeda karena ia harus berlatih dengan para anggota band lainnya disalah satu studio musik di kota tersebut.
"Abang!" teriak Edrea sembari menggedor-gedor pintu kamar Azlan.
"Bang bukain pintunya!" teriaknya lagi tapi sayang tak ada balasan dari sang empu yang membuatnya berdecak sebal kemudian ia beralih ke pintu kamar Erland.
"Bang Er. Bangun udah siang!"
"Abang!!!"
Pintu kamar Erland kini terbuka dan langsung memperlihatkan Erland dengan muka bantalnya.
"Lo bisa gak sih seharian gak cerewet? Ini juga masih jam 9. Please jangan ganggu gue tidur," ucap Erland kemudian ia ingin menutup kembali pintu tersebut tapi langsung dicegah oleh Edrea.
"Eh eh eh bentar bang bentar."
"Ck apa lagi sih?"
"Anterin Rea ke studio musik Faleto dong. Soalnya mobil Rea bannya bocor," pinta Edrea sembari mengeluarkan jurus puppy eyesnya.
"Gak. Gue gak bisa. Suruh nganterin Azlan sana. Jangan ganggu gue lagi," usir Erland.
"Ck, bang Azlan kayaknya udah pergi deh. Dari tadi Rea udah gedor-gedor pintu kamarnya gak kebuka-buka dan mobilnya juga udah gak ada di garasi," ucap Edrea.
"Suruh Mommy atau Daddy sana buat anterin lo."
"Rea gak berani ganggu mereka berduaan." Erland kini memutar bola matanya malas.
"Ck ya udah pakai mobil yang lain kan juga ada. Pakai mobil Abang juga nganggur tuh," ujar Erland.
"Rea malas nyetirnya hehehe."
"Astaga. Lo mah cuma mau ganggu hari tenang gue aja," geram Erland.
"Gak gitu bang. Ayo lah please kali ini aja. Kalau Abang gak mau nganterin Rea, Rea bakal aduin ke Mommy sama Daddy kalau Rea pernah lihat Abang ngerokok," ancam Edrea.
"Mereka udah tau sebelum lo tau duluan. Toh itu juga udah beberapa bulan yang lalu. Jadi ancaman lo tadi basi banget." Edrea kini mengerucutkan bibirnya beberapa senti kedepan.
__ADS_1
"Bang please lah. Sekali-kali nurutin adek sendiri apa susahnya sih."
"Sekali-kali mata lo dua. Setiap hari gue nurutin apa mau lo. Masih berani-beraninya lo ngomong kayak tadi, dasar adek gak punya rasa terimakasih sama sekali. Dah sana pergi, jangan ganggu gue." Erland kini menutup pintu kamar tersebut dengan cukup keras.
"Huh pelit. Lihat aja, motor kesayangan lo nanti gue hancurin. Gue coret-coret pakai pilok, dua ban motor itu gue kempesin semua, tangki motor lo, gue masukin air satu galon. Biar tau rasa lo," teriak Edrea kemudian ia menendang pintu kamar tersebut sebelum akhirnya beranjak dari depan kamar Erland ke arah kamarnya untuk mengambil beberapa pilok untuk aksinya nanti.
Saat dirinya melewati kamar Erland, ia sengaja menggoyangkan pilok tersebut agar terdengar hingga di dalam kamar Erland.
Dan setelah menuruni anak tangga dan keluar dari rumah tersebut, kini Edrea telah berdiri tepat di depan motor sport milik Erland.
"Lihat aja. Motor lo bakal hancur di tangan gue," tutur Edrea sembari melihat-lihat body motor tersebut sebelum memulai aksinya.
Sedangkan Erland kini membelalakkan matanya saat melihat beberapa pilok di tangan Edrea tadi dan kini ia berlari terbirit-birit menuju motor kesayangannya sebelum Edrea melancarkan aksinya.
Dan setelah sampai ia langsung merebut pilok tadi dari tangan Edrea.
"Balikin gak," ucap Edrea sembari berusaha meraih pilok tadi dari tangan Erland.
"Gak akan. Enak aja motor gue mau di coret-coret."
"Siapa suruh gak mau nganterin Rea. Padahal jaraknya juga dekat dari rumah gak nyampe 1 jam," gerutu Edrea sembari menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang tengah merajuk.
"Tar kalau mereka jemput Rea, mereka akan tau yang sebenarnya dong. Abang juga pelit banget cuma nganterin aja." Mereka berdua terus saja bertengkar hingga ada satu mobil yang berhenti tak jauh dari mereka.
"Mobil siapa tuh?" tanya Edrea.
"Teman Abang kayaknya," jawab Erland kemudian ia mendekati mobil tersebut diikuti Edrea yang tengah penasaran dengan orang yang mengendarai mobil tersebut.
Perlahan pintu mobil disebelah kemudi terbuka dan terlihatlah seseorang yang Erland juga Edrea kenal.
"Hay bro," sapa Erland sembari bersalaman dengan orang tersebut ala laki-laki.
"Tumben pagi-pagi udah kesini lo," sambung Erland.
"Dompet gue hilang anjir. Siapa tau jatuh di rumah lo jadinya gue cari disini," ucapnya.
"Oh dompet lo. Ada kok, kemarin di temuin Mommy di sebelah kolam renang. Rencananya gue nanti sore mau nganterin ke lo eh taunya lo sendiri yang kesini. Masuk dulu gih, gue ambilin bentar."
__ADS_1
"Gue nunggu disini aja. Gue nanti juga langsung cabut," ucapnya.
"Oke. Kalau gitu gue ambil sebentar." Kini Erland bergegas masuk kedalam rumah kembali.
"Kedip kali Re. Gue tau kalau gue ganteng," ucapnya penuh percaya diri yang membuat Edrea memutar bola matanya malas.
"Mau bantah tapi itu fakta," batin Edrea. Kemudian ia menggelengkan kepalanya cepat.
"Oh ya lo mau ke studio musik Faleto juga kan, On?" tanya Edrea. Orang tadi yang ternyata adalah Leon kini mengerut keningnya.
"On? Lo manggil gue On?"
"Iya, emang kenapa? kan nama lo Leon, jadi gue panggil dengan sebutan On gak papa kan?"
"Please ya Rea, jangan panggil gue dengan sebutan On. Yang lain kek, tar kalau lo panggil gue kayak gitu di depan umum, kan orang lain sangka lo ngatain gue oon lagi. Lo mau di cap jelek?"
"Iya juga sih, ya udah kalau gitu Eo aja gimana?"
"Eo? mending kamu panggil gue biasa aja deh Re," pinta Leon.
"Tapi---" belum sempat Edrea mengakhiri ucapannya, Erland lebih dahulu kembali kehadapan mereka berdua.
"Ini dompet lo. Cek dulu siapa tau ada yang ilang." Leon menerima dompet tadi dari tangan Erland kemudian langsung memasukkannya kesaku celananya tanpa meneliti terlebih dahulu.
"Thanks. Gue cabut dulu. assalamualaikum," pamit Leon.
"Waalaikumsalam," jawab Erland. Dan ketika Leon ingin masuk kedalam mobilnya kembali, teriakan Edrea menghentikkannya.
"Eh Leon tunggu bentar. Gue nebeng lo ya, soalnya mobil gue bannya lagi bocor dan gue juga punya Abang kayak kampret semua, gak ada yang mau nganterin satu pun. Toh kita punya tujuan yang sama kan, jadi boleh ya gue nebeng hari ini," ucap Edrea dengan cengiran di bibirnya.
"Ya udah masuk gih," tutur Leon setelah itu ia masuk kedalam mobilnya.
Edrea kini tersenyum lebar, kemudian ia menjulurkan lidahnya kearah Erland, tapi dalam keadaan apapun Edrea tak melupakan untuk mencium Erland saat dirinya ingin berpisah dengan saudara kembarnya itu.
"Assalamualaikum," salam Edrea sembari membuka pintu mobil tersebut dan masuk kedalam mobil.
"Waalaikumsalam," jawab Erland.
__ADS_1
Mobil tadi perlahan meninggalkan pekarangan rumah tersebut menuju studio musik yang akan mereka gunakan nanti.