The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 163


__ADS_3

Saat mobil Azlan kini sudah berhenti disalah satu pantai di kota tersebut, Zea langsung keluar dari mobil tersebut dan tanpa menunggu Azlan keluar, ia segera berlari menuju ke bibir pantai.


Sedangkan Azlan yang melihat hal itu pun tersenyum tapi saat pikirannya kembali mengingat hal yang dialami oleh kekasihnya itu ditambah lebam tadi membuat dirinya menghela nafas berat.


"Bukan tanpa alasan aku ngajak kamu nikah muda, Ze. Dan andaikan kamu tau alasan dibalik setiap ajakanku itu karena aku ingin kamu keluar dari zona yang membahayakan mental kamu. Juga agar kamu tak lagi mendengar pertengkaran dari kedua orangtuamu dan siksaan yang kamu dapatkan dari mereka. Aku sudah tak bisa melihat kamu terus-menerus seperti ini, Ze. Dan mungkin dengan caraku menikahimu, beban di diri kamu sedikit berkurang dan orangtua kamu tidak akan meluapkan emosinya ke kamu," gumam Azlan sembari melihat Zea dari kejauhan dengan pencahayaan yang sangat minim itu.


"Az, kesini!" teriak Zea yang kembali membuat Azlan tersenyum kemudian ia berlari menghampiri Zea. Dan saat jarak antara kedua orang tadi semakin dekat, Azlan menambah kecepatan larinya hingga tubuhnya memeluk erat Zea dan dengan entengnya ia menjunjung badan Zea lalu memutar-mutarkan tubuh tersebut yang membuat keduanya tertawa lebar.


Setelah putaran itu berhenti dan Azlan sudah menurunkan kembali tubuh Zea, mereka berdua saling bertatapan satu sama lain dengan hidung dan kening yang saling menyatu. Bahkan kedua tangan Zea sekarang melingkar di leher Azlan dan tangan Azlan kini melingkar di pinggang ramping milik Zea.


"Thanks," ucap Zea yang tak merubah sedikitpun posisinya.


"Sudah aku katakan, kamu tak perlu berterimakasih. Karena apapun yang kamu inginkan akan aku usahakan untuk memenuhinya. Dan itu merupakan kewajiban bagiku untuk memberikan kebahagiaan ke kamu karena aku sekarang adalah kekasih kamu," tutur Azlan diakhiri dengan kecupan di hidung mancung Zea. Sebenarnya ia ingin mencium bibir mungil Zea tapi ia masih sadar untuk tak melakukan hal yang memang belum sepantasnya untuk ukuran orang yang baru pacaran.


Zea yang merasa terharu akan perlakuan lembut dari Azlan pun kini ia memeluk tubuh laki-laki didepannya itu.


"Jangan nangis. Sudah cukup air mata kamu terkuras hari ini dan saatnya kamu sekarang tersenyum lebar," tutur Azlan yang membuat Zea langsung menghapus air matanya yang lagi-lagi tumpah karena saking bahagianya memiliki seorang kekasih yang selalu ada untuknya dan mengerti keadaannya.

__ADS_1


"Nangis bahagia kan gak papa," ucap Zea sembari melepaskan pelukannya.


Azlan kini menangkup kedua pipi Zea hingga membuat bibir sang empu mengerucut lucu.


"Di pending dulu nangis bahagianya. Kasian tuh mata kamu dari tadi kamu paksa buat ngeluarin air mata. Udah ya jangan nangis lagi." Zea yang tak bisa menjawab ucapan dari Azlan tadi karena tangan Azlan masih stay menangkup kedua pipinya pun, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai perwakilannya untuk menimpali ucapan dari Azlan tadi. Dan barulah tangan Azlan kini menjauh dari pipi Zea.


Dan kini keduanya saling bergandengan tangan sembari menyusuri bibir pantai tersebut dengan bercerita masa-masa mereka dahulu sebelum saling mengenal satu sama lain dan juga pertemuan pertama mereka dulu. Tak hanya itu mereka juga sesekali melemparkan candaan yang membuat keduanya tertawa bersama dan melupakan hal yang membuat Zea sebelumnya terlihat murung.


...****************...


Saat sepasang sejoli itu tengah menghabiskan waktu berdua, berbeda dengan Edrea yang masih asik menonton sebuah drama di dalam kamarnya yang terpaksa harus terganggu karena dering ponselnya itu yang terus berbunyi dan mau tak mau ia harus mengangkat telepon tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya terlebih dahulu.


Dan saat dirinya kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya, suara nyaring dari sebrang membuat dirinya terperanjat kaget.


📞 : "Edrea!" seru seseorang yang berada di sebrang telepon dan hal itu membuat ponselnya hampir saja masuk kedalam gelas yang berisi coklat panas.


"Astagfirullah. Santai kali Mom, untung aja hp Rea gak jadi nyebur ke air tadi," ucap Edrea setelah menempelkan ponselnya tadi.

__ADS_1


📞 : "Bodoamat, Mom gak peduli. Mau sekalian kamunya yang nyebur dan kelelep di kolam pun bodoamat. Dan mungkin Mom sangat bersyukur jika hal itu terjadi. Buat apa juga Mom punya anak gak ada sopan santunnya seperti kamu. Padahal Mom sama Dad gak ada habisnya buat kasih kamu pelajaran tentang kesopan santunan sejak kamu kecil. Tapi sepertinya pelajaran itu sama sekali gak kamu terapkan atau mungkin kamu sedari dulu hanya menganggap pelajaran itu sebagai main-main saja. Jadi kamu sekarang bisa seenak jidat bersuara seperti itu sama orang yang lebih tua dari kamu," tutur Mommy Della yang sepertinya tengah marah dengan sikap Edrea tadi.


"Mom, bukan begitu," ujar Edrea was-was.


📞 : "Bukan apa hmmm? mau buat alasan apa lagi kamu? Percuma Rea, Mom udah dengar suara kamu tadi."


"Tapi Mom, aku tadi gak tau kalau yang telepon ternyata Mommy. Maaf Mom," tutur Edrea sembari mengigit kukunya.


📞 : "Halah terus aja alasan kamu. Padahal udah jelas-jelas nomor Mom udah kamu simpan dan kamu namai. Otomatis kalau Mom telepon kamu, nama Mom juga akan muncul di layar ponsel kamu. Dan jika itu tadi bukan Mom, suara kamu tadi juga tidak baik buat orang lain. Mom selama ini gak pernah ngajarin kamu kayak gitu Rea. Mom kecewa sama kamu." Mata Edrea kini berkaca-kaca saat mendengar ucapan Mommy Della diakhir kalimat.


"Maaf Mom. Rea salah. Maaf," ucap Edrea dengan suara bergetar. Tapi setelah perkataannya tadi, sambungan telepon tersebut diputus oleh Mommy Della yang membuat Edrea kini menangis.


"Hiks, maaf Mom," tutur Edrea sembari menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.


Dan semakin lama tangisan Edrea semakin menjadi. Menyesal? tentu saja. Ia sangat menyesal dan juga merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri yang sudah tak sengaja melukai hati Mommynya sendiri. Jika saja dirinya tadi tak gegabah untuk langsung mengangkat telepon tadi dan ia sempatkan untuk melihat nama penelepon, mungkin sekarang ia tengah berbincang-bincang dengan Mommynya tanpa menyakiti hati Mommy Della.


Saat dirinya tengah merenungkan kesalahannya tiba-tiba pintu kamarnya terketuk dan sebelum dirinya bersuara, pintu tersebut lebih dulu terbuka dan menampilkan seseorang dari balik pintu tersebut yang orang itu tak lain dan tak bukan adalah Adam.

__ADS_1


Edrea yang tadi sempat menghapus air matanya karena ia pikir orang yang mengetuk tadi adalah Vivian bukan Adam. Kini setelah mengetahui jika orang itu Adam, ia kembali mengerucutkan bibir bawahnya dan langsung berlari, berhambur kepelukan Abang angkatnya itu.


"Abang hiks," rengeknya. Adam yang tak tau menahu sebab dan akibat menangisnya Edrea pun ia membalas pelukan tadi dan segera membawa tubuh Edrea masuk ke kamar tersebut agar orang lain tak mengetahui kesedihan dari adik bontotnya itu. Ia sangat paham betul jika Edrea tengah mendapat masalah dan menangis seperti sekarang ini, adiknya itu sebisa mungkin menyembunyikannya dari orang lain kecuali keluarganya sendiri.


__ADS_2