
Mommy Della yang kebetulan berada di samping Vivian pun langsung merengkuh tubuh perempuan tersebut kedalam pelukannya. Hatinya tiba-tiba sakit saat melihat Vivian hari ini terus saja mengeluarkan air matanya walaupun bukan dia yang menjadi alasan Vivian menangis.
"Jika kamu tau semuanya dan tau Zico hidup dengan dendam kenapa kamu tidak lebih dulu mencegahnya?" tanya Azlan yang diam-diam ia mengepalkan tangannya.
Vivian melepaskan pelukan dari Mommy Della kemudian ia menatap Azlan dengan tatapan sendu.
"Bagaimana aku bisa cegah dia kalau pada saat itu aku baru pulang dan ingin menemui dia buat melanjutkan ceritanya, dia sudah pergi dari rumah," jawab Vivian.
"Bukankah Papamu itu kaya dan aku yakin dia juga banyak anak buahnya kenapa gak mencari keberadaan dia dengan bantuan anak buah Papamu itu?" kini Erland yang angkat suara tapi dia bisa lebih tenang dibandingkan Azlan yang entah sampai kapan ia bisa mengontrol emosinya itu.
Vivian menghela nafas kemudian mengusap air matanya dengan kasar.
"Papa dan aku sudah mencoba hal itu tapi saat anak buah Papa mencoba mencari keberadaan Zico, mereka perlahan juga ikut hilang entah kemana. Hingga akhirnya Papa dan aku menyerah buat cari Zico karena anak buah Papa semakin menipis bahkan hanya tersisa 10 orang dari ratusan orang," ucap Vivian.
Semua orang terdiam menunggu kelanjutan cerita dari Vivian.
"Papa juga orang yang kaya pada waktu itu hingga ada seseorang yang meretas dan mencuri aset perusahaan dan hal itu membuat perusahaan Papa jatuh sejatuh-jatuhnya hingga Papa mulai depresi dan berakhir sakit-sakitan sampai meninggal," sambung Vivian.
"Kita semua tidak ada yang tau siapa yang melakukan hal itu hingga hari ini bisa Vivian simpulkan jika yang melakukan hal itu adalah Zico. Kenapa Vivian bisa menyimpulkan hal itu? karena tidak mungkin saja Zico bisa memiliki rumah sebesar ini dan kehidupannya bisa dibilang sangat layak sedangkan saat Zico tak bisa ditemukan Papa sudah menghentikan semua kartu kredit dan lain sebagainya yang Zico bawa. Anak itu memang sangat pintar untuk meretas segala situs sehingga tak bisa dipungkiri jika memang dirinya lah yang menghancurkan perusahaan Papa saat itu. Dan mungkin hidupnya juga terjamin dengan dia melakukan penjualan organ manusia yang semakin membuat perekonomian dia stabil juga dari penghasilan itu lah dia bisa menyewa atau membayar orang-orang profesional untuk menghancurkan semua orang yang telah mengusik hidupnya dan selain itu tujuan utamanya adalah menghancurkan keluarga kalian," lanjutnya lagi.
Azlan mengusap wajahnya dengan kasar saat mendengar kelanjutan cerita-cerita Vivian yang mungkin ada benarnya juga, sedangkan Erland dan Edrea menghela nafas kasar. Ribet, ruwet dan sulit sekali kasus yang harus mereka pecahkan ini sampai keheningan melanda ruangan tersebut sebelum akhirnya Edrea angkat suara.
"Jika Zico memiliki dendam dengan keluarga ini, apa kamu juga sama dengan dia?" tanya Edrea dengan tatapan menghunus tepat di kedua mata Vivian yang juga tengah menatapnya.
Vivian menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak sejahat itu untuk melakukan balas dendam dengan orang yang menurutku tak bersalah. Apa yang di lakukan Daddy itu benar. Jika aku berada di posisi Daddy pada waktu itu, aku juga akan melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan Daddy karena banyak nyawa yang harus dilindungi. 1 nyawa Mommy dan 3 nyawa lagi di dalam perut Mommy yaitu kalian bertiga. Dan jika Daddy tak melakukan hal itu mungkin kalian berempat sudah tak ada di dunia ini. Aku bukan orang munafik yang akan membela kesalahan orang lain walaupun itu keluarga bahkan orangtuaku sendiri. Jika dia salah maka dia pantas mendapatkan hukuman jika dia tidak bersalah maka bebaskan. Itu salah satu yang diajarkan oleh Papa untuk pegangan hidupku," tutur Vivian.
__ADS_1
Mommy Della dan Daddy Aiden yang mendengar hal itu pun tersenyum. Sedangkan triplets tetap terdiam. Walaupun ucapan Vivian tadi sangat meyakinkan tapi tak ada salahnya bukan jika mereka tetap waspada dengan Vivian yang notabenenya Kakak dari Zico dan anak dari wanita yang dibunuh oleh Daddy mereka.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? identitas Zico sudah terkuak semua tanpa mencari bukti identitas itu secara tertulis," ucap Erland.
"Cari dia sampai ketemu," usul Edrea.
"Bagimana kalian bisa mencari dia sedangkan kita disini tidak ada yang tau dimana dia sekarang?" tanya Mommy Della.
"Kita tanya ke salah satu anak buah Zico yang masih di rumah ini. Aku yakin salah satu dari mereka tau keberadaan Zico saat ini." Bukan triplets yang menjawab pertanyaan dari Mommy Della tadi melainkan Vivian. Ia juga ingin bertemu dengan Zico entah karena rasa kesalnya saat mengetahui semua yang dilakukan oleh adiknya itu atau rasa rindu yang membuncah di dirinya?
Setelah mengatakan hal itu ia segera beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut tanpa mendapat persetujuan mereka semua.
"Ikuti dia!" lagi-lagi perintah Daddy Aiden membuat keempat orang itu segera bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Vivian yang sedang menuju ke lantai satu rumah tersebut.
Saat sudah berada di lantai yang mereka tuju, Vivian langsung memanggil salah satu anak buah Erland yang masih istirahat disekitar ruangan tersebut.
Orang tersebut tampak terdiam sembari menatap kearah Erland untuk meminta persetujuan dari bosnya itu. Erland yang peka akan tatapan anak buahnya pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Mereka disekap diruang bawah tanah," jawab orang tersebut yang membuat triplets dan Vivian mengerutkan keningnya. Ruang bawah tanah mana lagi? banyak sekali ruangan tersembunyi di rumah itu.
"Tolong tunjukkan jalannya," tutur Vivian yang langsung diangguki oleh orang tersebut kemudian mereka mulai melangkahkan kaki menuju ruangan yang dimaksud oleh anak buah Erland.
Saat mereka masuk kedalam salah satu pintu, mereka langsung disuguhkan sebuah lorong gelap yang diterangi oleh cahaya dari obor yang tertempel di dinding-dinding lorong tersebut dan setiap jarak antara obor satu dan lainnya di pisahkan oleh pintu yang entah dibalik pintu itu isinya apa. Mereka tak ingin tau untuk saat ini karena tujuan utama mereka segera mengetahui lokasi Zico.
Langkah mereka terhenti saat anak buah Erland juga berhenti disalah satu pintu paling ujung di lorong tersebut. Dan saat pintu itu terbuka bau anyir darah menyeruak masuk kedalam indra penciuman mereka. Bukan darah dari penghuni rumah tersebut yang disiksa oleh anak buah Erland melainkan darah dari korban Zico yang kemungkinan sebelum Zico dihabisi oleh Edrea dia baru melakukan aksinya itu.
"Apakah disini ada yang bawa masker?" tanya Edrea kepada anak buah Erland yang menunggu ruangan itu di depan pintu. Salah satu dari orang tersebut langsung menyerahkan satu box masker yang mereka sediakan karena mereka juga sudah tak kuat menahan bau di ruangan tersebut. Edrea menerimanya tapi sebelumnya ia mengucapkan terimakasih kepada orang yang memberinya masker tadi.
__ADS_1
Dan setelah semua orang disana memakai masker, mereka langsung masuk kedalam ruangan tersebut yang sudah dipenuhi beberapa penghuni rumah tersebut, dengan tatapan dan aura yang mencekam yang mereka keluarkan bahkan aura Vivian lebih kuat dari aura kelima orang lainnya.
Saat Vivian dan kedua orangtua itu tengah mendekati orang-orang yang tengah disekap dengan tangan dan kaki memakai borgol dan tubuh mereka disatukan menggunakan rantai di tengah-tengah ruangan tersebut, berbeda dengan triplets yang sekarang tengah memutari ruangan itu karena rasa kepo akan bau yang mereka cium tadi. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat cairan merah yang mereka yakini itu adalah kumpulan darah dari korban-korban Zico yang dengan sengaja di taruh disebuah wadah besar yang terbuat dari kaca.
"Pusing gue pusing. Otak gue penuh dengan kenyataan yang gue dapatkan hari ini," ucap Edrea sembari memijit pelipisnya.
"Gue sekarang lagi bayangin kalau darah lo juga ada di tempat ini, bercampur dengan darah orang lain," tutur Erland yang mendapat pelototan mata dari sang empu.
"Emang kenapa kalau bercampur?" tanya Azlan.
"Ya gak papa sih. Cuma kalau udah bercampur disini berarti dia udah end dan kita gak perlu kasih uang bulanan lagi buat dia. Lumayan lah ya uangnya bisa buat modal kita nikah nanti," jawab Erland.
"Hmmmm bener juga apa yang lo katakan itu," ucap Azlan mensetujui perkataan dari Erland tadi.
"Anjing, keparat lo berdua. Laknat," umpat Edrea yang langsung mendapat tatapan tajam dari keduanya. Bahkan tangan Erland sudah melayang dan mendarat dibibir Edrea dengan pelan.
"Mulut lo mau gue sobek sekarang juga?" ancam Azlan yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya kemudian ia pergi dari samping kedua Abangnya itu dengan menghentak-hentakkan kakinya.
...****************...
Eps ini masih penjelasan ya. Biar nanti gak ada yang tanya kenapa Zico bisa kaya sedangkan dia pergi dari rumah dan lain sebagainya. Semuanya sudah terjawab di eps ini ya.
Dan untuk eps setelahnya mari kita berpetualang untuk menemukan keberadaan Zico yang masih bersembunyi atau malah sudah mati. Entahlah ya... kalau kepo tetap ikutin dong ahhh sampai cerita absurd ini tamat.
Oh ya jangan lupa Like, Komen, Vote dan Kasih hadiah. Kalau kalian gak ngelakuin itu dah ah author ngambek gak mau up lagi🤠gak deng canda.
Dah ah gitu aja infonya dari author absurd ini... Bye sayang, see you next eps 👋
__ADS_1